
Saat itu aku sudah merasa sangat tegang dan sama sekali tidak bisa berbuat apapun, sampai beberapa menit berlalu akhirnya aku kembali melihat Bu Yati masuk dengan seorang wanita yang sangat jelek dengan riasan tebal di wajahnya, memakai gamis hitam panjang dan tangannya yang keriting, cara bicaranya sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal tapi aku sama sekali tidak mengenali wajahnya dan tidak bisa melihat orang itu dengan jelas sebab aku hanya mengintip dengan membuka mataku sedikit karena masih berpura-pura tertidur saat itu.
Sampai ketika Bu Yati kembali membawa keluar semua anak buahnya sebab aku akan mulai di rias oleh wanita jelek itu, dokter Sendi bergerak dengan cepat dia langsung menjepit leher wanita dengan gamis hitam itu menggunakan tangannya dan menahan kedua tangan wanita itu ke belakang tubuhnya sekalipun menempelkan badannya ke samping pintu.
"Aaa.....AA..HH..hei..lepaskan aku, aduduh...hei..ini aku Aldi." Ucap wanita dengan gamis hitam tersebut.
Aku langsung membelalakkan mata sangat lebar dan saling tatap dengan dokter Sendi, memang dari suaranya yang berubah menjadi maco dan sedikit berat membuat aku merasa suaranya memang milik Aldi tetapi penampilannya ini sangat jauh sekali dari Aldi.
"Jangan berbohong kau, mana mungkin Aldi memakai pakaian wanita dan menggunakan riasan seperti ini!" Bentakku masih tidak mempercayainya.
Hingga tidak lama dia langsung berbalik dan berhasil melumpuhkan dokter Sendi, dari gerakan cepat dan cara dia melepaskan diri aku sangat yakin itu adalah Aldi karena hanya dia orang yang ahli dalam hal meloloskan diri dengan cara uniknya seperti itu.
Aku membuka mataku sangat lebar dan langsung memeluk dia dengan perasaan sangat senang dan bahagia, aku tidak menduga ternyata itu sungguh Aldi yang telah menyamar menjadi seperti ini hanya untuk menolong aku.
"Aldi? Aahh.... terimakasih banyak Aldi." Ucapku memeluknya dan langsung saja dokter Sendi menarik aku, dan menjauhkan aku dari Aldi secepatnya.
"Kau sudah mengenali aku kan sekarang, aishh... memalukan sekali harus memakai pakaian begini, aku akan melepaskannya, semua ini aku lakukan hanya untuk menyelamat kau Tiktik, beruntunglah kau memiliki teman yang mau berkorban sepertiku." Ucap dia sambil terus melepaskan gamis dan kerudung yang dia kenakan.
Namun sepertinya Aldi memang cukup kesulitan untuk menghapus make up di wajahnya yang mana meski dia sudah menggosoknya beberapa kali, tetap saja tidak ada perubahan yang terjadi make up yang dia kenakan masih sama persis seperti semula dan dia malah menjadi frustasi dibuatnya karena terus saja merasa emosi, sebab tidak bisa menghapus seluruh make up di wajahnya yang begitu tebal seperti topeng.
"Aaarrghhhh... Sialan, apa yang sudah di pakaikan umi Salma sih, sampai wajahku di dempul begini!" Bentak Aldi dengan kesal.
Dokter Sendi hanya bisa menahan tawa karena sebenarnya sejak awal dia juga sudah tahu itu Aldi namun sebelumnya karena terlalu panik dan dia tidak melihat wajah Aldi dia malah melupakannya.
"Kau juga dokter Sendi, kau kan tahu aku menyamar kenapa kau masih mendesak aku?" Bentak dia mulai memarahi dokter Sendi.
"Ya..maaf aku kan lupa, lagian tadi itu aku pikir kau orang lain, wajahmu sangat menyeramkan sih." Balas dokter Sendi kepadanya.
Hingga tiba-tiba Omi masuk ke dalam sana dan dia melihat ada dokter Sendi di samping kakaknya, langsung saja Omi menarik tanganku dan dia mengajak aku untuk pergi secepatnya dari tempat tersebut, sebelum Ubay akan mengetahui keberadaan mereka yang menyusup secara diam-diam ke tempat ini.
"Kak... Syukurlah kau selamat, ayo cepat kita harus pergi dari sini secepatnya, bang Arif dan yang lain tidak akan sanggup menahan mereka lebih lama lagi." Ucap Omi kepadaku juga pada dokter Sendi dan Aldi yang ada disana.
Aku mengangguk dan segera pergi dari sana, namun saat kami baru keluar dari sebuah rak buku aneh yang sebelumnya sama sekali tidak aku ketahui, justru sudah ada Ubay disana, dia membawa Baim dalam dekapannya dan mengarahkan sebuah pisau pada leher Baim saat itu, dia menjadikan Baik sebagai sandra agar aku tidak kabur dari sana.
"Baim... Hei lepaskan dia!" Bentak Aldi dengan kencang.
Dokter Sendi sangat kaget melihat wajah Baim yang sudah babak belur begitu juga dengan wajah Ubay, karena mereka sempat bertarung sebelumnya, namun Baim harus kalah sebab dia tidak di serang oleh beberapa anak buah Ubay yang lain, hingga dia terdesak, lalu Ubay menjadikannya sandra'an sebab dia tahu bahwa akan ada orang yang menyelamatkan Tiktik di dalam sana.
__ADS_1
"Ahahaha.. ternyata benar dugaanku, kalian... Beraninya kalian mengambil calon istriku!" Teriak Ubay yang awalnya tertawa langsung berubah menjadi sangat ganas dan memberikan tatapan sangat tajam saat itu.
Aku sendiri sangat kaget dan terus merasa lemas aku sangat takut Ubay akan melakukan hal yang buruk dan berbahaya kepada Baim, meski aku seorang petarung tapi aku tahu tidak ada yang bisa berbuat ceroboh dalam keadaan yang sangat menegangkan seperti ini. Disaat Aldi dan dokter Sendi maju hendak melawan Ubay dengan cepat aku menahan keduanya karena aku tahu dia bisa saja memb*Nuh Baim sebelum mereka sempat menyelamatkannya dahulu.
"Kau keterlaluan, lepaskan dia Ubay!" Teriak Aldi sambil hendak melangkah maju tanpa pikir panjang.
"Berhenti.. Aldi jangan lakukan itu, jika kau maju ke sana, kau tahu apa yang akan dilakukan Ubay? Dia bisa saja m*nusuk Baim kapan saja, kita tidak boleh ceroboh. Dan harus terus berhati-hati." Ucapku kepadanya.
Dengan wajah kecewa Aldi menghempaskan tangannya dan dia kembali memegangi kepalanya sangat emosi.
"Ahahaha... Jika kalian berani melangkah sedikit saja apalagi menyerangku, aku bisa membunuhmu temanmu ini dalam satu detik sejak kaki itu kalian langkahkan." Ucap Ubay yang sudah aku duga dia akan mengatakannya sebagai ancaman kepada kami semua, agar kami tidak bisa melawannya.
"Ubay.. tolong jangan lakukan itu, aku tahu kau sebenarnya orang yang baik, tolong jangan seperti ini, Ubay. Tidakkah kamu ingat Baim orang yang pernah menyelamatkan kamu saat tenggelam di kolam, ketika kamu kecil, aku dan Baim selalu ada di sampingmu dan mendukung apapun yang kau mau, Aldi juga sangat setiap padamu, bahkan dia rela mengkhianati aku hanya demi kesetiaan dia padamu, kamu di kelilingi oleh orang-orang baik selama ini, tolong jangan jadi seperti ini." Ucapku mencoba untuk menyadarkan dia dan membujuknya dengan cara yang lembut.
Dia mulai menatap tajam kepadaku dan aku pikir dia akan berubah pikiran saat itu, namun nyatanya aku benar-benar telah salah sangka karena menggunakan cara seperti itu pun sama sekali tidak mempan untuk Ubay, dia masih saja keras kepala dan menyuruh aku untuk menyerahkan diri kepadanya, barulah setelah itu dia akan melepaskan Baim dari genggamannya.
"Ahaha...tidak... Aku tidak akan pernah melepaskan dia, kecuali kau menyerahkan diri padaku dan bersedia menggantikan posisinya." Ucap Ubay kepadaku.
Dengan cepat Omi dan dokter Sendi berteriak kencang menahanku begitu pun dengan Aldi yang langsung menarik tanganku.
"Tidak... Kau tidak boleh pergi kesana Tiktik, ini mungkin saja hanya akal-akalan dia saja, kita tidak bisa membiarkan kamu pergi kesana." Ucap dokter Sendi kepadaku.
"Apa yang dikatakan dokter Sendi benar kak, jangan mengambil resiko yang lebih besar lagi, tetaplah tenang, aku yakin pasti akan ada jalan keluar yang lebih baik dibandingkan harus menyerahkan dirimu kepada manusia sepertinya." ucap Omi ikut menahanku saat itu.
"Aku punya cara, biar aku yang melawannya, polisi akan segera datang semuanya akan baik-baik saja, ketika ada polisi di tempat ini, jadi kalian jangan menahanku." Ucap Aldi membuat aku tidak bisa diam saja.
Tidak mungkin aku membiarkan Aldi mengambil resiko besar untuk keselamatan dirinya sekaligus keselamatan Baim yang sudah sangat terancam.
"Jangan Aldi, kau kan dengar sendiri di bisa men*suk kan pisau itu pada Baim hanya dengan satu detik sejak kita melangkahkan kaki melawannya, tolong jangan lakukan itu, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Baim, dia satu-satunya orang yang selalu mempercayai aku apapun keadaannya, tolong aku tidak ingin kehilangan sosok yang baik seperti dia, aku tidak mau Aldi." Bentakku menahan dia dengan kuat.
"Tapi Tiktik, jika bukan dengan cara ini, lantas harus bagaimana lagi, tidak ada cara lain?" Balas dia kepadaku.
Aku tetap menggelengkan kepala padanya namun tiba-tiba saja Aldi mendorongku hingga aku jatuh dalam pangkuan dokter Sendi dan di tahan oleh Omi, sedangkan Aldi langsung bergerak dengan cepat tanpa aba-aba sama sekali.
Dia terbang dan berhasil mendapatkan baru Ubay, juga menjatuhkan pisau yang di pegang ya saat itu, Baim langsung jatuh tergeletak dengan lemas, tapi untungnya Ubay belum sempat melakukan apapun pada Baim jadi dia masih bisa di selamatkan saat itu, dengan cepat aku membantu Baim dan kami segera membawa Baim ke tempat yang lebih aman, sedangkan di dalam sana Aldi harus bertarung melawan Ubay yang membawa sebuah pas bunga di tangannya, aku sangat cemas dan tidak bisa membiarkan Aldi bertarung seorang diri, melawan Ubay yang bisa menggunakan cara apapun untuk mencelakai dia.
"Kalian tolong bawa Baim pergi aku harus masuk ke dalam lagi untuk membantu Aldi." Ucapku kepada dokter Sendi dan Omi saat itu.
__ADS_1
Saat hendak pergi dokter Sendi menahan tanganku, dia tidak mengijinkan aku untuk pergi.
"Jangan pergi, kau sebaiknya bawa Baim ke mobil yang ada di ujung sana, ada umi Salma yang menunggu, Baim harus segera di bawa ke rumah sakit dan kau adalah sandra'an utamanya, kau harus diamankan lebih dulu Tiktik, biar aku yang membantu Aldi." Ucap dokter Sendi menepuk pundakku sekilas dan dia pergi berlari ke dalam dengan cepat.
Aku sungguh merasa cemas, mana mungkin aku membiarkan seorang dokter yang tidak pernah terlihat berkelahi seperti dia harus bertarung melawan Ubay dan anak buahnya yang memang sudah di latih secara khusus.
"Tidak... Dokter Sendi jangan.... Hei..." Teriakku gagal untuk menahannya.
"Kak sudah kak, ayo kita harus pergi dari sini, jangan sampai perjuangan kak Aldi dan dokter Sendi sia-sia, mereka benar-benar sangat menyayangimu." Ucap Omi kepadaku.
Dengan berat hati aku terpaksa harus tetap melanjutkan jalanku dan tetap pergi dari sana, menuju ke mobil umi Salma, aku membawa Baim masuk dan bertemu umi Salma yang sudah merasa cemas sejak awal, dia sangat kaget ketika melihat Baim yang habis babak belur seperti itu, aku menyuruh umi Salma untuk pergi membawa Omi ke rumah sakit terdekat saat itu juga, namun aku tidak bisa ikut bersama mereka, aku masih ingin disini menunggu Aldi, bang Arif dan dokter Sendi yang masih tertahan di dalam sana.
"Kak kenapa kamu tidak ikut?" Tanya Omi kepadaku saat itu.
"Pergilah Omi aku titip Baim dan umi Salma padamu, kalian harus pergi secepatnya sebelum mereka mengetahui kepergian kalian, aku akan tetap disini menunggumu sampai polisi datang dan bisa membantu yang lainnya." Ucapku kepada dia.
Meski Omi tidak mengijinkan aku tetapi umi Salma memahami diriku dia juga paham akan kondisinya yang sangat keruh seperti sekarang. Jadi umi Salma tetap melajukan mobilnya dan berhasil membawa Omi dan Baim pergi dari sana.
Segera aku kembali dan membantu bang Arif melawan anak buah di depan hingga berhasil kami lumpuhkan bersama dan aku langsung memberitahu bang Arif bahwa di dalam masih ada Aldi juga dokter Sendi yang bertarung di kepung anak buah Ubay.
Aku ingin ikut masuk ke dalam tetapi bang Arif melarangku karena terlalu bahaya untuk aku saat itu.
Terpaksa aku harus menunggu di luar sambil terus berjaga-jaga dan menunggu polisi saat itu, sedangkan bang Arif masuk ke dalam di ikuti beberapa anak buahnya, sayangnya bang Arif sudah terlambat saat dia masuk dia menyaksikan Ubay yang berhasil menus*k dokter Sendi, dimana saat itu dokter Sendi mendorong Aldi yang sebelumnya hampir terkena tusukkan tersebut.
"Aldi awas!" Teriak dokter Sendi mendorongnya.
Namun dia keliru, bahwa jika dia mendorong Aldi malah dirinya yang terkena p*sau itu.
Bang Arif dan yang lain membelalak kan mata dengan lebar, mereka segera bergegas menangkap Ubay yang terlihat tertawa dengan puas karena dia berhasil m*nusuk kan benda itu pada orang yang dia pikir telah merebut Tiktik darinya.
Di waktu bersama polisi datang dan mereka berhasil meringkus semua anak buah Bu Yati termasuk dengan Bu Yati juga Ubay saat itu.
Namun aku sangat kaget dan langsung merasa lemas ketika melihat dokter Sendi yang berlumuran darah dan dia di gendong oleh bang Arif dan anak buahnya, ada juga Aldi yang tak kalah memperihatinkan karena dia juga mendapatkan luka di kepalanya sebab sempat di p*kul oleh pas bunga dari keramik oleh Ubay.
Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit dan sejak saat itu aku membenci Ubay sangat membencinya. Polisi membawa mereka langsung ke sel tahanan karena sekaligus dinyatakan bersalah atas rencana penyekapan juga p*mbun*han.
"A....AA..ahh.. Dokter Sendi? Dia..." ucapku tertahan menelan salivaku dengan susah payah dan menutup mulut dengan kedua tanganku begitu erat.
__ADS_1
Air mata mulai mengalir di wajahku dan aku tidak sanggup berkata apapun lagi.
Segera aku berlari mengejar mereka dan masuk ke dalam mobil ambulans bersama dokter Sendi di dalamnya sedangkan Aldi yang masih bisa berjalan walah darah mengalir di kepalanya dia segera di bawa oleh bang Arif dan pergi ke rumah sakit yang sama. Sepanjang perjalanan aku tidak bisa berhenti terus menangis melihat kondisi dokter Sendi yang seperti ini, tapi dia masih saja bisa tersenyum kepadaku dan aku terus memegangi tangannya dengan erat, berusaha untuk memberikan kekuatan apapun bentuknya bagi dia agar terus bertahan.