Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Menguping


__ADS_3

Hingga jam 06:00 aku segera pergi ke puskesmas, aku tahu jam segini dokter Sendi pasti akan pulang karena ini adalah Sabtu, kecuali hari Sabtu dan Minggu baru dia pulang dan bisa istirahat lebih awal, aku segera menunggu dia di luar puskesmas, berniat untuk mengantarkan dia sebagai salah satu bentu terimakasih dariku sebab dia yang sudah memberikan motor ini, terhadapku.


Karena aku tidak bisa membayar banyaknya uang yang sudah dia keluarkan untuk membayar motor ini kembali, jadi aku sudah memutuskan untuk menjadi ojek pribadinya mulai sekarang.


Hingga ketika aku sudah beberapa menit duduk diatas motor depan puskesmas, aku tidak sengaja melihat sosok Bu Yati yang berboncengan dengan Ubay, dia terlihat berjalan menghampiri seseorang pria di samping gedung puskesmas yang sunyi dan tidak banyak di datangi orang, disana juga tidak ada lampu jadi cukup gelap, aku merasa aneh dengan kemunculan dia disana.


"Ehh...kenapa mereka pergi ke samping gedung puskesmas, bukannya di sebelah sana sawah dan ladang petani, untuk apa malam-malam begini ke tempat seperti itu, mencurigakan." Gerutuku sambil segera bergegas pergi untuk mencari tahu.


Aku berjalan mengendap-endap karena tidak ingin ketahuan oleh mereka saat itu, hingga ketika sudah dirasa dekat dengan tempat mereka berdua berdiri aku langsung saja berhenti dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


"Bu, kenapa kita kemari, sebenarnya ibu mau mempertemukan aku dengan siapa sih?" Ucap Ubay terdengar bertanya pada ibunya.


"Sudah diam saja, nanti bahaya jika ada orang yang sangat suara kerasmu itu." Balas bu Yati kepadanya.


Jawaban yang dilontarkan Bu Yati kepada Ubay membuat aku semakin penasaran dengan apa yang dilakukan mereka saat itu, hingga tidak lama seorang pria yang aku kenal datang kesana dengan mengenakan hoodie berwarna hitam tapi meski dia memakai kupluk di kepalanya aku masih sempat melihat wajahnya bahkan dari postur tubuhnya aku bisa menebak siapa orang itu.


Ya dia adalah Aldi, teman dekatku dan Baim selama ini, aku sudah sangat lama tidak pernah bertemu ataupun melihat dia lagi semenjak kejadian dia memutuskan untuk keluar dari anggota pasar sebelumnya, aku pikir dia mungkin peri merantau ke kota dengan suaminya Bu Yati, sebab sebagian besar anak buahku memang pindah bekerja ke kota, tapi sekarang tiba-tiba saja melihat Aldi aku cukup dibuat kaget.


"Aldi? Ternyata dia masih berada di kampung ini, kenapa aku tidak pernah melihatnya, dimana dia selama ini?" Gerutuku semakin berpikir banyak.


Aku sangat penasaran hingga terus berusaha untuk mendengarkan pembicaraan yang dilakukan oleh Bu Yati, Ubay juga Aldi di tempat itu.


"Jadi dia? Kenapa kita harus ketemu dia lagi Bu?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Ubay, dia terlihat seperti marah dengan menunjuk Aldi menggunakan jari tangannya.


"Aishh..kamu ini santai sedikit dong, bagaimana pun dia ini orang yang sudah membantu kita, kau jangan macam-macam dengannya." Ucap Bu Yati sambil menarik tangan Ubay dengan cepat menurunkannya sekaligus menjauhkan Ubay dari Aldi.


"Jangan banyak drama atau basa basi lagi, berikan uangnya atau aku akan memberitahu Tiktik dan semua orang tentang kejahatan kalian berdua dan semua yang kalian rencanakan." Ucap Aldi mengancam ibu Yati.


Yang membuat aku sangat kaget, Bu Yati terlihat menuruti ucapan Aldi dengan begitu mudah, dia langsung memberikan sejumlah uang yang cukup banyak dari amplop berwarna coklat yang besar, Aldi juga langsung merampas amplop coklat berisi uang itu lalu memasukkannya ke dalam Hoodie hitam yang dia kenakan, segera pergi tanpa basa basi lagi dan dengan cepat aku segera pergi dari sana sebelum mereka mengetahui keberadaan aku yang sudah menguping semua pembiayaan mereka saat itu.


Berlari dengan cepat kembali ke tempat yang terang dan segera masuk ke dalam puskesmas agar Aldi tidak menyadari keberadaan aku disana, nafasku sudah sangat menderu karena kelelahan dan terus saja memikirkan semua yang aku dengar dari mereka.


"Hah....hah...hah..apa yang mereka maksud sebetulnya, kenapa Bu Yati terlihat takut pada Aldi, bukankah selama ini Bu Yati tidak tertandingi dia selalu kasar, dan berani untuk melawan siapapun, terlebih Aldi memiliki banyak hutang padanya, mana mungkin jadi terbalik seperti ini?" Gerutuku bicara sendiri sambil menunduk dan memegangi lututku yang terasa sangat lelah sebab berlari begitu kencang sebelumnya.


Hingga tiba-tiba saja seseorang menepuk pundakku dari belakang, membuat aku kaget dan refleks terperanjat sampai jatuh terpeleset di lantai puskesmas saat itu.


"Tiktik." Ucap dokter Sendi menepuk pundakku secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Astaga ..aaaaahh...bruk!" Suaraku yang jatuh tergeletak di lantai puskesmas tersebut sambil meringis kesakitan dan memegangi pinggulku sendiri.


"Aduhh....dokter kenapa kau muncul tiba-tiba seperti itu sih, membuat aku kaget saja." Ucapku padanya dengan terus saja berusaha bangkit berdiri walau pinggangku terasa begitu ngilu dan kakiku sakit.


"Ya ampun, maafkan aku Tiktik, ayo aku bantu kamu berdiri." Balasnya segera membantu aku dan mendudukkan aku duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di samping dinding tersebut.


Aku duduk sambil menjulurkan kakiku ke depan sambil terus saja mengurut pelan dengan kedua tanganku sendiri, aku terus menggerutu sendiri karena merasa konyol bisa sampai jatuh terpeleset seperti sebelumnya dihadapan dokter Sendi juga beberapa perawat yang ada di sana, itu sangat memalukan untuk aku yang memiliki gaya swag, pakaian serba hitam dan memakai ikat kepala, bak seperti preman wanita pada umumnya, tapi malah jatuh dengan posisi konyol dan hampir nyungsep ke kolong kursi disana.


Untung saja dokter Sendi dengan cepat membantuku kembali berdiri sehingga dengan adanya dia yang membantuku dan respect terhadap aku, rasa membalikkan itu sedikit berkurang, walau pada dasarnya tetap saja masih memalukan.


"Aaahh.. ada-ada saja, kenapa harus jatuh seperti itu sih, biasanya juga aman-aman aja, apa sepatuku yang jelek atau memang kakiku saja yang sudah tidak segesit dulu, aishh...." Gerutuku terus saja menyalahkan diri sendiri.


Sampai dokter Sendi hanya menanggapi semuanya celetukan ku dengan tawa kecil dan tersenyum lebar, hingga tidak lama dia malah turun dari kursi yang dia duduki, malah berjongkok dihadapan aku lalu mulai memegangi kakiku begitu saja.


"Loh, dokter kenapa kamu memegangi kakiku, astaga ayo cepat berdiri pak dokter, apa kamu mau merendahkan harga dirimu sendiri ya, ya ampun kepada kau tidak mendengarkan ucapanku?" Tanyaku panik dengan perasaan gemas padanya.


Tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan agar membuat dokter Sendi segera beranjak dari hadapanku saat itu, sebab ada banyak orang yang bekerja di puskesmas dan mereka malah menatap sambil berbisik satu sama lain ketika melihat apa yang dilakukan oleh dokter Sendi kepadaku malam itu.


"Pak dokter asal apa denganmu, aaaww..kenapa kau memegangi kakiku, hei..." Ucapku kepadanya dengan penuh pertanyaan di kepalaku termasuk sedikit emosi karena dia mengabaikan semua ucapan dariku.


Memang awalnya agar nyeri dan ngilu, namun setelah beberapa saat dan ada suara yang dihasilkan dari pijatannya itu, barulah aku merasa jauh lebih baik dan sudah bisa menggerakkan kakiku dengan sebagai mana mestinya lagi, tapi pertama dia tentang aku yang menabrak sesuatu memang benar, sebelum aku benar-benar masuk ke dalam puskesmas, kakiku sudah mengandung akar pohon saat hendak kabur saat itu, namun karena tidak ingin menimbulkan suara apalagi sampai membuat ketiga orang yang aku intip mengetahui keberadaanku disana, jadi aku diam dan menutup mulutku sendiri agar tidak mengeluarkan suara apalagi menjerit saat merasakan sakitnya tersandung pada akar pohon yang hampir membuat aku jatuh ke sawah sebelumnya.


Jadi sebelum dokter Sendi mengagetkan aku dan membuat aku jatuh terpeleset, sebenarnya kakiku sudah terkilir, hanya saja itu bentuknya ringan aku juga tidak manja, jadi hanya mengabaikan rasa sakitnya, hingga di puskesmas malah terpeleset lagi dan malah jadi lebih sakit dibandingkan sebelumnya, baru deh aku memperlihatkan rasa sakit itu, karena sudah tidak bisa aku tahan lagi.


Untunglah dokter Sendi mau mengobatinya, jadi saat dia mengatakan itu aku hanya bisa tersenyum kecil dan mengangguk kepadanya.


Mengakui bahwa apa yang dia ucapkan benar terjadi.


"Ahaha..iya sebelumnya aku tersandung ajar pohon, tapi tidak sampai jatuh, kakiku juga hanya sedikit terjepit saja, jadi aku baik-baik saja." Balasku kepadanya saat itu.


Ketika aku menjawab begitu dokter Sendi dengan keusilannya malah menekan bagian ngilu di kakiku membuat aku menjerit cukup kencang disana dan sialnya dia malah menertawakan aku dengan puas.


"Aaarrkkkk...astaga..astaga...dokter apa kau sengaja melakukan itu padaku?" Ucapku sambil terus memegangi kakiku yang terasa semakin sakit saja.


"Ahaha...tidak tidak, aku hanya mengecek saja, tadi kan kau bilang baik-baik saja dan tidak sakit, makanya aku tes, rupanya kau juga masih bisa merasakan sakit, artinya itu normal." Balas dia kepadaku.


Padahal aku sudah tahu dia pasti sengaja melakukan itu, sebab sebelumnya dia juga suda tahu aku sudah pernah meringis kesakitan ketika aku terpeleset sebelumnya, membuat aku semakin kepala saja saat itu.

__ADS_1


"Aaahh... sudahlah, ini terlalu malam jika aku terus disini, kau mau pulang atau tidak aku datang kesini untuk menjemputmu, ayo pulang dokter." Ujarku kepada dia dengan langsung.


Dokternya Sendi terlihat membelalakkan matanya cukup lebar dan dia segera bangkit berdiri hingga mendekatkan wajahnya ke wajahku saat itu, hingga aku terdesak dan kepalaku mengenai dinding puskesmas.


Rasa gugup menghampiriku dan aku tidak tahu apa yang tengah dilakukan oleh dokter Sendi, di tempat umum dan masih banyak orang yang berlalu lalang disekitar sana.


"Pak ..pak..pak dokter apa yang mau kau lakukan, kenapa berdiri terlalu dekat padaku?" Ucapku padanya dengan gugup.


"Kenapa kau datang untuk menjemputku, aku kan tidak memintamu untuk datang?" Tanya dia terus semakin dekat mendesakku.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan darinya dengan benar, jika dia terus mendesak aku seperti ini dan membuat aku terdesak juga tidak nyaman, yang ada ucapanku akan tidak jelas ataupun gugup, kakiku saja sudah gemetaran saat itu, saking gugupnya dan jantungku terus saja berdekat sangat kencang bak seperti irama musik DJ jedag jedug terus menerus, sulit untuk aku mengendalikan diriku sendiri.


Hingga tidak lama saat aku mulai menelan salivaku susah payah, dokter Sendi malah tertawa lagi dengan lebar sambil menjauh sekaligus dan duduk di sampingku begitu saja.


Aku merasa sangat tidak terima dengan apa yang dia lakukan, merasa di tipu dengan apa yang dia berikan dan benar-benar masuk dalam kejahilan dirinya.


"Ahahaha...kau kenapa sangat tegang begitu, apa kau pikir aku akan mencium mu di tempat seperti ini?" Ucapnya terus saja menertawakan aku sangat puas.


"Astaga.....kau... benar-benar ya, rasakan ini." Ucapku sambil langsung saja menggelitik dokter Sendi sekuat yang aku bisa hingga dia tertawa semakin besar dan meminta ampun padaku agar aku menghentikan semuanya.


Tapi sayangnya balas dendam ku tidak akan terselesaikan jika aku belum memberikan pelajaran yang setimpal padanya, dia juga sudah mempermainkan aku seenaknya dan terus saja membuat aku baper sendiri dan berpikir hal aneh sebelumnya, jadi aku tidak bisa berhenti dengan mudah meski dia terus meminta ampun padaku.


Sampai Ubay muncul dan menarik tanganku dengan kasar hingga aku terseret oleh nya, langsung berdiri di samping Ubay.


"Hei. Apa yang kalian lakukan, Tiktik kenapa kau sangat dekat dengannya sampai bercanda seperti ini?" Ucap Ubay dengan nada yang begitu tinggi padaku.


"Ubay? Sejak kapan kau ada disini, dan kenapa kau kemari?" Tanyaku kepadanya dengan wajah heran penuh kebingungan.


"Kenapa? Kau kaget aku muncul tiba-tiba disini dan memergoki kelakuan kalian yang seperti ini, iya?" Balasnya semakin membentak membuat semua orang menatap ke arah kami.


Dokter Sendi segera bangkit sambil membenarkan jasnya dan segera menyuruh kami semua untuk keluar dari sana sebab takut mengganggu pasien di dalam, terlebih aku juga sudah membuat kekacauan sebelumnya.


"Sudah, jika ada masalah, ayo bicarakan di luar, jangan mengganggu pasien disini." Ucap dokter Sendi sambil pergi ke luar lebih dulu dan aku segera menyusulnya.


Begitu pula dengan Ubay yang mengejarku dari belakang, sambil berteriak memanggil namaku sangat kencang, padahal sudah diberitahu untuk tidak membuat keributan.


"Eh....eh.. kalian mau kemana, hei Tiktik tunggu aku!" teriaknya cukup kencang dan membuat aku sangat risih ketika mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2