
Karena merasa sangat tidak nyaman sebab istrinya bang Arif ini terus memegangi tanganku dan menunduk terus menerus padaku aku pun segera memeluknya dan menepuk punggungnya pelan sambil mengusapnya lembut untuk memberikan ketenangan kepadanya agar dia juga bisa berhenti terus berterimakasih kepadaku dengan berlebihan seperti ini.
"Sudah....sudah..mbak, aku sebenarnya tidak membantu banyak hal padamu, kamu berterimakasih saja kepada tuhan dan dokter Sendi sebagai pelantaranya, aku hanya membantu sedikit saja, kamu jangan terlalu berlebihan seperti ini kepadaku, karena jika tidak ada kehendak tuhan mungkin aku juga sama sekali tidak akan bisa melakukan apapun untukmu dan anakmu itu." Ucapku kepadanya.
"Tiktik, kamu sungguh luar biasa, ternyata kamu memang orang yang sangat baik hati, walaupun penampilanmu mungkin terlihat sangat sangar tapi hatimu begitu baik Tiktik, kamu wanita yang sangat luar biasa, aku sungguh berhutang budi denganmu." Ucap wanita itu padaku lagi.
"Sudahlah, jangan di pikirkan, lagi pula suami mbak kan sekarang sudah kerja dengan saya jadi ini sama saja dengan tanggung jawab saya juga, jadi jangan di anggap sebagai balas budi nantinya, saya tidak pernah mengharapkan balasan dari siapapun, mbak cukup menjaga anak mbak lebih baik lagi kedepannya," balasku kepada dia saat itu.
Hingga tidak lama dokter Sendi terlihat keluar dari ruangan rawat tersebut dan dia mengatakan bahwa keadaan dari anaknya bang Arif sudah sangat membaik hanya saja dia masih membutuhkan perawat di puskesmas setidaknya bisa menginap disana dan di infus hingga besok malam, untuk memiliki energi dan imun di tubuhnya agar bisa lebih kuat lagi dalam menghadapi bakteri penyakit yang sangat mudah sekali menyerang anak-anak dalam usia rentan seperti itu.
"Dokter bagaimana keadaan putri saya, apa dia baik-baik saja?" Tanya bang Arif kepada dokter Sendi yang baru saja selesai memeriksanya untuk ke dua kali saat itu.
"Tenang saja putrimu kan sudah berhasil melewati masa kritis dia sebelumnya sekarang keadaan dia sudah jauh lebih baik dan besok malam sudah bisa dibawa pulang." Balas dokter Sendi saat itu.
Pasangan suami istri tersebut langsung saja terlihat begitu lega dan sangat senang, bang Arif juga segera memeluk istrinya dan menenangkan sang istri sambil segera masuk ke dalam ruang rawat disana untuk melihat secara langsung kondisi putri semata wayang mereka yang ternyata memang sudah jauh membaik saat itu.
__ADS_1
Sedangkan dokter Sendi mulai berjalan mendekati aku yang saat itu tengah membenarkan gantungan kunci di motorku yang tidak sengaja terlepas.
"Sini biar aku bantu pasangkan." Ucap dokter Sendi itu kepadaku.
Aku langsung menatap kepadanya dengan kedua alis yang aku naikkan dan merasa heran dengan apa yang dia ucapkan kepadaku, bahkan saking merasa kaget dan herannya aku terus saja menanyakannya kembali kepada dia karena saat itu aku hanya takut aku salah mendengar apa yang baru saja dia katakan sebenarnya.
"Aah? Apa pak dokter?" Tanyaku lagi untuk memastikan kepadanya saat itu.
"Itu, mari saya bantu kamu memasangnya, sepertinya kamu kesulitan untuk memperbaiki gantungan kuncinya." Balas dia menjelaskan lagi dengan lebih jelas.
"Aaa ...AA...aahhh...iya ini pak dokter," ucapku kepadanya dengan sedikit gugup dan aku merasa seperti orang bodoh setiap kali berhadapan dengan dokter Sendi, padahal aku sudah mempersiapkan diri dengan penampilan dan bahasa yang jauh lebih baik lagi, tapi sepertinya semua itu tidak terlalu penting sekarang.
Dokternya Sendi segera mengambil gantungan kunci itu lalu memperbaikinya dengan segera, dia terlihat begitu serius memperbaiki gantungan kunciku itu dan yang tidak aku duga, ternyata dia benar-benar bisa memperbaiki gantungan kunciku itu dengan waktu yang cukup cepat, bahkan aku sendiri saja sampai terperangah melihat dia sudah bisa memperbaiki gantungan kuncinya seperti semula sejak aku pertama kali membeli gantungan kunci itu sebelumnya.
"Ini." Ucap dokter Sendi sudah berhasil memperbaikinya dan dia hendak mengembalikannya kepadaku saat itu.
__ADS_1
Jujur saja saat itu aku sangat kagum hanya karena melihat dia membenarkan gantungan kunci milikku saja.
"Waahh.. dokter Sendi kau hebat juga, belajar darimana kau bisa memperbaiki gantungan kunci seperti ini?" Ucapku kepadanya sambil sedikit bercanda saja saat itu.
"Aku sering melakukan operasi dan sebenarnya di rumah sakit tempatku di tugaskan sebelumnya, aku adalah dokter spesialis bedah, tapi entah kenapa aku malah tiba-tiba saja di tugaskan kemari, tapi aku senang datang kemari karena setidaknya dengan aku datang kemari aku bisa bertemu dengan seseorang seperti kamu." Ucap dokter Sendi yang hampir saja akan membuat aku salah paham dengan ucapannya tersebut.
Aku sudah hampir membelalak mataku dengan sangat lebar, bahkan sampai kedua bola mataku itu hampir keluar dari dalam mataku sendiri saat itu, untung saja aku masih bisa menahannya.
"Aaahh? Bagaimana dokter?" Tanyaku meminta penjelasan darinya.
"Iya, kamu orang baik, dan kamu mau membantu saya berkeliling disini sampai saya bisa beradaptasi lebih cepat di kampung ini, kamu juga orang yang menunjukkan arah untuk saya sebelumnya, disaat saya sama sekali tidak tahu harus pergi ke mana ketika baru turun dari bus kala itu, kamu sangat berhati baik Tiktik." Ucap dokter Sendi sambil menepuk sebelah pundakku saat itu sambil tersenyum lebar padaku.
Lalu dia segera pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih berdiri mematung dan terus termenung tanpa bisa bergerak sedikitpun saa itu.
Sungguh apa yang baru saja dilakukan oleh dokter Sendi padaku, membuat jantungku kembali merasakan debaran yang sangat kuat juga begitu kencang sampai aku tidak berani untuk bergerak atau mengeluarkan suara sedikitpun, karena aku sungguh takut rasa gugup dan debaran jantungku yang tidak menentu ini akan diketahui oleh dirinya saat itu, jadi untuk saat ini aku hanya berusaha keras untuk bersikap biasa saja seperti sebelumnya ketik bertemu lagi dengan dokter Sendi nantinya.
__ADS_1