Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Motor Baru


__ADS_3

Dia hanya menanggapi ucapanku dengan tawa pelan dan kami segera memesan makanan, menikmati makan siang bersama dan saat sore hari segera pergi ke rumah umi Salma dimana motor itu dia simpan disana, aku segera menerima motor tersebut dari dokter Sendi dan rasanya benar-benar memiliki kesan yang berbeda ketika aku bisa menaiki motor yang sangat besar dan begitu bagus seperti ini.


Aku bahkan masih belum bisa mempercayainya, semua ini terlalu tiba-tiba dan aku merasa seperti mimpi karena bisa mengendarai motor sport seperti ini.


"Wahh..dokter Sendi apa kau benar-benar yakin akan memberikan motor sehebat ini kepada orang sepertiku? Apa kau tidak sayang?" Tanyaku lagi kepadanya.


Aku tidak mau nanti dia tiba-tiba tersadar dan merasa menyesal karena sudah memberikan motor ini padaku, apalagi jika dia sampai mengambil kembali motornya dariku, itu akan jadi membalikkan.


Sama seperti yang biasa aku terima ketika mendapatkan hadiah dari Ubay, dia sering memaksa aku untuk menerima hadiah darinya tetapi jika sesuatu terjadi diantara kami berdua maka dia akan selalu mengungkit semua kebaikan yang pernah dia lakukan kepadaku, bahkan tidak segan meminta kembali barang yang pernah dia berikan untukku.


Jadi sejujurnya aku merasa takut dan sedikit trauma sebab semua orang di kampung rentenir ini memang memiliki karakter yang sama, mereka semua cukup perhitungan sekali, terlebih dengan masalah duniawi, uang, dan semua hal miliknya selalu saja tidak bisa di injak atau di pegang orang lain.


Aku pun mulai bertanya lagi pada dokter Sendi untuk memastikan bahwa dia memang tidak sama dengan penduduk di kampung Rentenir ini, agar aku tidak merasa cemas nantinya.


"Dokter Sendi aku tanya sekali lagi padamu, kau benar-benar tidak membutuhkan motor ini?" Tanyaku lagi memastikannya.

__ADS_1


"Tidak, makanya aku memberikannya kepadamu,"


"Tapi kau tidak akan mengambil kembali motor ini dariku kan, jika suatu saat kau memiliki permasalahan denganku ataupun dalam keadaan yang buruk diantara kita?" Ucapku lagi kepadanya bicara dengan nada pelan dan tatapan yang sangat serius.


Dia malah tertawa menanggapi ucapan dariku da aku terus mengerutkan kedua alisku merasa sangat heran, sebab dia malah terus tertawa dengan sangat lega seperti itu.


"Eehh ...kenapa kamu tersenyum seperti itu, memangnya ada yang salah dalam ucapanku?" Tanyaku kepadanya sangat heran.


"Ahahah...kamu ini ada-ada saja, mana mungkin aku mengambil kembali sesuatu yang sudah aku berikan pada orang lain, bahkan jika kau menjadi musuhku, aku tidak akan mengambilnya, bagaimana apa kamu bisa merasa tenang sekarang?" Ucap dia kepadaku dengan terus menggelengkan kepalanya pelan.


Aku terus mengelap motor itu dengan pakaian yang aku kenakan beberapa kali, hingga memutuskan untuk segera pergi dari sana secepatnya, saat aku kembali ke pasar sore itu, anak-anak tengah berkumpul dan menunggu aku untuk membagikan hasil hari ini, mereka yang melihat aku datang dengan motor sport merah yang besar dan keluaran terbaru, langsung saja membuat heboh semua anak buahku, mereka menatap kagum termasuk dengan Baim yang datang menghampiriku dengan cepat sambil mendekati motorku dan mengusap motorku saat itu.


"Wahh...Tiktik motor darimana ini, mengkilap sekali dan sepertinya ini....aaahh aku pernah melihatnya di tv ini kan motor sport keluaran terbaru yang harganya lebih mahal dari pada sebuah mobil, astaga...Tiktik darimana kau mendapatkannya?" Ucap Baim dengan kedua mata yang terbuka lebar kepadaku saat itu.


Aku juga cukup kaget ketika baru tahu bahwa harga motor ini setinggi itu, awalnya aku hanya berpikir itu motor sport biasa saja yang banyak juga digunakan anak-anak orang kaya di desa sebelah ataupun oleh anak motor lainnya.

__ADS_1


"Baim, apa kau tidak bohong memangnya harga motor ini semahal itu ya?" Tanyaku kepada Baim sambil menarik sebelah pundaknya saat itu.


"Iya Tik, kau yang membawa motor ini kenapa kau sendiri tidak tahu." Balas Baim sambil mengangguk kepadaku.


Sampai bang Arif datang menghampiri aku, dia menatapku dengan serius lalu melontarkan pertanyaan kepadaku yang mana dia malah mengira aku melakukan sesuatu yang buruk di luar sana untuk mendapatkan motor sebagus itu.


"Tiktik...aku tahu kau kehilangan motormu, tapi kau juga tidak boleh mengambil motor orang lain seperti ini, pemiliknya pasti akan sangat frustasi karena motor semahal ini malah hilang." Ucap bang Arif yang membuat aku merasa heran dan sangat tidak terima atas pikirannya yang salah paham terlalu jauh.


"Eeeehh.....bang Arif apa yang kau katakan, ini tidak seperti yang kau kira, siapa juga yang mengambil motor ini dari orang lain, ini adalah motorku, seseorang teman dari kota memberikan hadiah ini padaku, karena aku selalu menolong dia sebelumnya, dan aku biasanya mengantarkan dia kemanapun dengan motorku, karena sekarang motorku hilang dia harus baik ojek lain dengan berbeda-beda, lalu tiba-tiba dia malah memberikan motor ini kepadaku sebab hadiah karena aku menolongnya." Balasku menjelaskan kepada mereka semua.


Mereka pun berhenti memberikan tatapan kaget seperti sebelumnya kepadaku, aku juga lega, karena mereka sudah tidak mencurigai hal apapun lagi denganku, apalagi dengan hal tercela seperti sebelumnya.


Setidaknya sekarang aku tidak perlu merasa cemas lagi dengan hal apapun termasuk prasangka dari orang lain mengenai motor yang tiba-tiba saja aku bawa ini.


"Ohh..begitu ya, maafkan aku Tiktik, ku pikir kamu gelap mata, ahahaha...aku ini memang terlalu kolot, mana mungkin juga orang sepertimu akan melakukan hal seperti itu." Balas bang Arif kepadaku sambil menepuk sebelah pundakku cukup keras.

__ADS_1


Aku membalasnya dengan senyuman sambil terus menatap motorku yang dikerumuni oleh anak-anak yang lainnya, rasanya benar-benar sangat senang bisa melihat aku kembali mengendarai motor, bahkan dengan motor yang lebih bagus lagi, ini sangat memukau bagiku. Hal yang tidak pernah aku sangka ternyata terjadi juga dan aku bisa merasakannya sendiri saat ini.


__ADS_2