
Selagi mengontrol wilayah yang dijaga bang Arif juga beberapa anak buahnya aku kembali bertemu dengan salah satu anak buah bang Arif yang sebelumnya pernah menerima sejumlah uang cukup banyak dari Bu Yati, karena sangat penasaran dan kebetulan aku bertemu dengannya, aku pun segera mendekati bang Arif dan mulai bertanya tentang anak laki-laki tersebut kepadanya.
"Tiktik, da apa kemarin tumben sekali." Ucap bang Arif menyapaku dari kejauhan.
"Iya nih bang, lagi gak ada kerjaan aja, jadi daripada diam di posko nunggu yang lain beres mending aku bantuin di lapangan, iya kan." Balasku sambil tersenyum kecil padanya.
"Kamu ini emang patut di contoh Tik, Abang belum pernah nemu orang sebaik dan serajin kau, semoga kamu bisa sukses dimasa depan ya." Ucap bang Arif sambil menepuk sebelah bahuku.
Aku hanya membalasnya dengan anggukkan cepat dan segera memalingkan pembicaraan, karena sudah tidak tahan ingin mengetahui tentang pria tersebut.
"Bang kalau boleh tahu, dia itu siapa, kayaknya dia gak terlalu dekat sama anak-anak yang lain, selalu ngikut sama Abang, saya jadi penasaran." Ucapku sengaja bertanya demikian agar bang Arif tidak merasa curiga padaku.
Bang Arif menatap ke arah pria yang aku tunjuk sebelumnya dan dia langsung menjawab pertanyaan dariku sembari tertawa pelan.
"Aahh..dia, namanya Omi dia itu anak yatim piatu, sama kayak kamu Tik, usianya juga masih 19 tahun, tapi dia pekerjaan keras, ya hampir sama lah nasibnya kaya kamu, tapi dia mungkin lebih parah, sebab gak punya rumah, biasanya nebeng di rumah anak buahku yang lain atau tidur di pinggiran toko," balas bang Arif memberitahuku tentang anak itu.
Setelah mendengar hal tersebut, aku merasa tidak heran lagi, mengapa sikapnya begitu tertutup dan tidak banyak bicara, hal seperti itu juga pernah aku alami, dulu ketika aku masih sangat mudah aku pernah menjadi orang yang sangat pendiam, aku malu untuk bergaul dengan orang lain, sebab merasa diriku tidak pantas untuk bermain dengan mereka yang hidupnya beruntung, aku juga hanya memiliki sedikit waktu luang saja untuk bermain jadi aku lebih banyak bekerja dan anak perempuan lainnya justru lebih senang mengejek aku.
"Bang aku sudah 20 tahun sekarang, tapi apa aku bisa menjadikan dia adikku saja?" Tanyaku pada bang Arif saat itu.
Bang Arif terlihat membelalakkan matanya dengan heran, aku tahu ucapanku itu pasti sangat membuatnya kaget, tapi aku sungguh ingin memiliki keluarga, setidaknya seorang adik angkat, yang terpenting aku tidak mau seorang diri lagi.
"Tiktik, apa kamu yakin? Dia sudah besar memangnya dia mau untuk jadi adik angkat mu?" Balas bang Arif padaku.
Apa yang dikatakan oleh bang Arif memang ada benarnya, tapi mau bagaimana lagi, aku sungguh merasa kasihan kepadanya, terlebih aku juga butuh keluarga untuk menemani aku, setidaknya jika aku sakit mungkin akan ada orang yang merawat aku, jika aku mati pun akan ada orang yang menangisi jasadku sebagai keluarga, aku sangat ingin memiliki adik, sebab sejak kecil aku adalah anak tunggal.
"Kau benar bang, tapi aku akan berusaha mendekatinya, siapa tahu dia bisa dekat denganku, lalu mau aku angkat jadi adikku, iya kan?" Balasku begitu optimis.
"Ya itu sih terserah kamu aja Tik, kalau memang niatmu baik, untuk membantunya ataupun karena kamu perduli dengannya, Abang sih boleh-boleh aja, itu akan lebih bagus jika kalian bersama-sama nantinya." Balas bang Arif mendukungku.
Sejak ada bang Arif setidaknya aku merasa memiliki seseorang yang lebih tua dariku, layaknya seorang kakak yang selalu menasihati adiknya, aku senang bisa mengenalnya dia juga selalu memberikan dukungan paling pertama kepadaku, begitu pula dengan istrinya, dia sangat baik tak jarang selalu mengirimkan makanan untukku.
Karena sudah memutuskan demikian aku segera berjalan mendekati anak laki-laki bernama Omi tersebut, walau awalnya memang agak sulit mendekati dia tapi aku tidak menyerah, meski Omi terus menjauh dariku aku terus mengikutinya kemanapun dia pergi, sampai akhirnya dia bertanya kepadaku lebih dulu.
"Kak.. kenapa kau mengikutiku, apa ada yang salah dengan pekerjaanku?" Tanya dia padaku sambil menunduk.
"Eehh..tidak tidak, kamu sangat telaten dan kerjaan mu bagus, aku hanya ingin mengikutimu saja, ayo lanjutkan kerjamu, aku cuman mau lihat-lihat saja kok." Balasku kepada dia.
Mungkin dia mulai merasa tidak nyaman jadi dia terus saja menunduk setelah percakapan singkat tersebut terjadi.
"Omi, boleh aku tanya sesuatu kepadamu?" Tanyaku memulai pembicaraan.
__ADS_1
Dia terus fokus memperbaiki salah satu jongko, dimana terdapat beberapa papan yang rusak dan sudah harus diganti saat itu, aku terus saja mengajak dia bicara sambil tengah bekerja, untungnya meski tidak banyak bicara Omi masih mau menjawab pertanyaan dariku saat itu.
"Mau tanya apa kak?" Balas Omi menengok sebentar ke arahku.
"Begini Omi, aku dengar dari bang Arif kamu sebatang kara ya, sama denganku, apa itu benar?" Ungkapku mulai mengatakannya secara langsung.
Tidak aku sangka itu membuat Omi langsung melepaskan palu dan paku yang dia pegang saat itu, dan hampir saja jatuh menimpa kakinya, masih untung aku berhasil menangkap palu itu, tapi malah tanganku yang menjadi sakit karenanya.
"Eehh, Omi awas... Aaahhhh" teriakku kaget dan meringis kesakitan karena menahan palu itu dengan kuat.
"Kak kamu gakpapa? Sini aku lihat tanganmu." Ucap dia terlihat begitu cemas dan langsung menarik tanganku begitu saja.
Ini baru pertama kalinya aku melihat dia memiliki ekspresi di wajahnya, walaupun itu hanya sebuah ekspresi cemas dan hanya sekejap aku melihatnya, dia memeriksa tanganku dan langsung menyuruh aku untuk ikut dengannya.
"Ayo ikut aku kak, kita harus mengompres tanganmu." Ucapnya yang langsung aku anggukan dengan cepat.
Rupanya dia membawaku ke posko, sangat telaten membawa kotak medis yang ada disana lalu dia juga mulai membantuku mengompres sampai mengobati tanganku, aku sama sekali tidak fokus dengan luka di tanganku, aku hanya terus menatap wajah Omi yang begitu tulus mengobati luka di tanganku, hanya dengan perlakuan kecil seperti itu saja, aku sudah bisa merasa yakin jika dia adalah anak yang baik.
Jadi aku tidak mau menunggu waktu terlalu lama lagi, dan segera bicara kepadanya untuk menawarkan diri agar dia menjadi adik angkatku.
"Omi apa kamu mau jika aku menjadi kakak angkat mu?" Tanyaku kepada dia begitu saja.
Omi langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap dengan tatapan aneh kepadaku, dia tidak memiliki ekspresi apapun hanya menatap aku begitu lekat, hingga aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa saat itu.
"Aa..aaa..ahhh..aku, aku hanya mengajak kok, tapi kalau kamu tidak mau yang tidak papa, tadi aku hanya menawarkan saja." Tambahku ku sembari tersenyum penuh kegugupan sendiri.
"Aku mau kak." Balas dia tiba-tiba, membuat aku terperangah dan kembali menatap dengan membuka kedua mataku sangat lebar.
Aku benar-benar tidak menduga Omi yang sangat sulit di dekati oleh semua orang bisa menyetujui, tawaran dariku dengan begitu mudahnya, ada rasa senang sekaligus syok ketika mendengar jawaban dari Omi saat itu.
"Omi apa kamu yakin, kamu sungguh mau jadi adik angkatku?" Tanyaku lagi kepadanya untuk memastikan.
"Iya kak, aku mau, lagi pula aku tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, aku juga tidak ada tempat tinggal, sudah sejak lama aku berharap ada yang mau mengangkat ku menjadi saudaranya atau anaknya, aku juga ingin ke panti tapi mereka tidak menerima orang yang sudah dewasa sepertiku." Balas dia kepadaku saat itu.
Mendengar penuturan kata darinya, aku sungguh merasa terharu dan refleks langsung memeluk dia dengan erat sembari mengusap lembut punggungnya beberapa kali saat itu.
"Sudah... Kamu tidak perlu sedih lagi, sekarang aku menjadi kakakmu, nanti kita ke balai desa ya, kita urus semuanya, aku benar-benar ingin mengangkat kamu jadi adikku, dengan begitu kita berdua bisa memiliki keluarga lagi." Balasku kepadanya saat itu.
Dia mengangguk terlihat senang, tidak pernah aku bayangkan, mengajaknya akan semudah ini, aku pikir akan sulit mengajak Omi untuk jadi adik angkatku, ternyata tidak juga.
Sore itu juga aku pergi ke balai desa menemui umi Salma sekaligus petinggi lainnya disana, mereka mendukungku untuk mengangkat Omi menjadi adik angkatku yang resmi dimana negara dan hukum, sehingga umi Salma akan membantuku pergi ke kota untuk mengurusi semua surat-surat yang bersangkutan, umi Salma bilang untuk mengurusi semuanya hingga selesai mungkin akan membutuhkan waktu satu sampai dua bulan, tergantung penanganannya nanti, aku tida keberatan yang terpenting aku sudah melapor dan mulai sekarang juga, Omi sudah bisa tinggal denganku, dan dia tidak perlu tinggal di jalanan lagi. Dokter Sendi yang mengetahui hal itu dari umi Salma, dia nampak merasa aneh, dan segera datang menemui rumahku jam sebelas malam.
__ADS_1
Aku keluar dan menemuinya, saat itu Omi sudah tidur, karena hanya ada satu kamar di rumah sewaanku, jadi dia tidur di luar sedangkan aku tidak di dalam kamar.
Wajah dokter Sendi terlihat aneh dan dia langsung masuk ke dalam rumahku begitu saja, sebelum aku mempersilahkan dia untuk masuk.
"Aaahh.... syukurlah, ternyata anak ini tidur di sini ya?" Tanya dokter Sendi membuat aku merasa semakin heran dengan tingkahnya tersebut.
"Iya,.namanya Omi, dia adik angkatku, dan dokter sebaiknya kita mengobrol di luar saja ya, Omi terlihat sangat lelah, kita akan mengganggunya jika terus bicara disini." Ajakku sambil menarik tangan dokter Sendi agar segera keluar dari rumah.
Dia pun mengikuti aku dan kak duduk di teras rumah yang terdapat dua kursi disana, aku mempersilahkan dokter Sendi untuk duduk lalau menutup pintu rumah sebentar, dan mulai bertanya mengenai kedatangannya ke rumahku malam-malam seperti ini.
"Pak dokter asal urusan apa malam-malam datang ke rumahku?" Tanyaku kepadanya dengan penasaran.
Dia terlihat aneh dan seperti gugup untuk menjawab pertanyaan dariku.
"Pak dokter?" Tanyaku lagi sambil menaikkan kedua alis menatap ke arahnya.
Aku sudah sangat penasaran, dan tidak bisa terus menunggu seperti itu makanya aku terus mendesak dokter Sendi dan meminta dia agar bicara secepatnya.
"Aaahh....itu aku hanya ingin melihat siapa anak laki-laki yang kamu adopsi untuk jadi adik angkat mu, makanya aku datang kemari setelah aku selesai dengan tugasku di puskesmas, maaf ya jika aku mengganggumu." Balas dia kepadaku.
Sejujurnya aku sedikit kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh dokter Sendi kepadaku, karena aku pikir dia merasa cemas denganku, ataupun merasakan hal yang lainnya, namun nyatanya malah ingin melihat Omi saja.
"Ohh...begitu ya." Balasku hanya bisa diam saja.
"Tapi Tiktik, kenapa kamu mengadopsi anak itu mendadak seperti ini, kenapa tidak membicarakannya dahulu denganku?" Tanya dokter Sendi lagi kepadaku, kali ini wajahnya mulai terlihat serius dan ada raut cemas saat itu.
"Kenapa aku harus membicarakannya kepadamu dulu, ini kan tidak ada hubungannya dengan seorang dokter." Balasku sesuai dengan apa yang aku pikirkan saat itu.
"Iya kau benar, ini tidak ada urusannya dengan seorang dokter tapi ini ada urusannya denganku, bagaimana jika anak itu bukan anak yang baik, apa kamu yakin dia hanya menganggap kamu sebagai kakaknya kalian hanya beda satu tahun, sangat beresiko jika tinggal bersama dalam satu atap." Ucap dokter Sendi kepadaku.
Aku terus saja mengerutkan kedua alisku dan berpikir keras memikirkan semua yang telah diucapkan oleh dokter Sendi denganku barusan, aku sama sekali tidak paham kepada dia bisa berbicara sampai ke arah sana.
"Maksud dokter saya dan Omi, bisa pacaran begitu?" Tanyaku memperjelas semuanya.
Dokter Sendi langsung diam dan dia hanya mengangguk sambil menghembuskan nafas dengan lesu.
Melihat reaksi yang diberikan oleh dokter Sendi, aku sungguh tidak tahan untuk tertawa lebar saat itu, hingga langsung saja aku terbahak-bahak sambil menepuk pegangan kursi yang aku duduki berkali-kali.
"Hei, kenapa kamu tertawa seperti itu, apa ada yang lucu?" Tanya dokter Sendi padaku.
"Dokter tentu saja ada, kau yang lucu kau ini sangat lucu sekali, sampai aku tidak bisa menahan tawa dengan kelakuanmu barusan. Ahaha, dokter ini ada-ada saja," balasku kepadanya sambil segera berusaha untuk berhenti tertawa.
__ADS_1
Agar aku bisa segera menjelaskan kepadanya seperti apa hubungan aku dengan Omi selama ini.