Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Bertarung


__ADS_3

Segera saja aku berteriak kepada dua preman tersebut yang berbuat kekacauan di dalam wilayahku, bahkan sampai merusak salah satu jongko yang ada disana.


"Hei....berhenti, siapa kalian?" Teriakku sambil berjalan menghadapi mereka dalam jarak yang sangat dekat saat itu.


Nampak mereka meremehkan aku dan salah satu dari preman itu berdecak pelan dan terus memberikan tatapan yang sangat sinis kepadaku sambil berjalan beberapa langkah menghampiri aku hingga berani langsung mendorong sebelah pundakku dengan tangannya saat itu.


"CK ...kau yang siapa, mencoba ikut campur dalam urusan kami!" Balas orang tersebut kepadaku.


"Aku adalah orang yang berkuasanya atas pasar ini, dan semua jongko yang ada di pasar ini dalam tanggung jawabku, sedangkan kau, preman gelandangan yang tidak punya tempat atau wilayahnya sendiri sampai tiba-tiba datang membuat kekacauan di wilayah orang lain, pergi kau dari sini!" Ucapku kepadanya saat itu.


Mereka berdua terlihat langsung marah dan tanpa basa basi lagi mereka langsung bertarik denganmu, tapi mereka bertarung melawan aku sekaligus, dimana aku harus melawan dia orang dalam waktu yang bersamaan saat itu, sangat sulit memang untuk melawan mereka berdua karena setelah aku benar-benar bertarung dengan mereka, aku merasa gerakkan mereka seperti seorang ahli bukan hanya preman biasa saja, aku juga terkena satu p*kulan pada perutku yang membuat aku mundur dan hampir jatuh tersungkur ke tanah saat itu.


"Bugh..." Satu p*kulan mengenai perutku cukup kuat.


Rasanya sangat sakit sekali, dan aku bisa merasakan dengan jelas bentuk tinjuan seperti itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang belajar ilmu bela diri secara resmi, bukan hanya para preman jalanan yang hanya mengandalkan keberanian saja.


"Siapa kalian sebenarnya?" Tanyaku merasa sangat curiga dengan mereka berdua saat itu.


Bukannya menjawab pertanyaan dariku, mereka berdua justru malah tertawa dengan sangat kencang dan terus kembali menyerang aku tanpa henti, sampai aku benar-benar merasa terdesak saat itu dan hampir saja aku akan kembali mendapatkan tinjuan dari mereka ke wajahku, namun untungnya Baim datang tepat waktu dia langsung menendang pria yang hampir memberikan tinju tersebut hingga tangannya meleset ke samping dan aku bisa segera menjauh terlebih dahulu darinya.


"Aaaahhh...Baim? Terimakasih banyak." Ucapku menatap dengan cukup kaget saat itu.


Aku juga merasa bersyukur Baik bisa muncul membantuku di waktu yang tepat sehingga aku bisa melawan mereka dengan lawan yang imbang sekarang ini.


"Tiktik apa kamu baik-baik saja?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Aku oke, kau harus hati-hati dalam melawannya aku rasa mereka bukan preman biasa." Ucapku memberitahu Baik dan langsung saja dia anggukan dengan cepat.


Kedua preman tadi benar-benar tidak memberikan sedikit waktu pun untuk aku dan Baim bersiap dan bahkan mereka bisa menyerang kami dalam keadaan kami tengah berbincang saat itu, dan hal seperti itu sangat tidak sopan bagi kami yang tengah dalam pertengkaran seperti ini, seharusnya dia melawan kami atau menyerang kami disaat kami memang tengah berhadapan dengannya bukan tengah mengobrol dan berbincang sejenak seperti ini, karena itu sama saja dengan mereka bertindak licik.


Untungnya aku menyadari hal itu sehingga aku bisa menangkis tangan preman tersebut dan langsung menendang kakinya hingga dia sedikit terjatuh saat itu.


Baim juga merasa kaget saat baru pertama kali menemukan ada preman seperti ini, yangbmasih saja mau melawan lawannya ketika dalam keadaan belum siap.


"Baim....awas..bugh...trak!" Suaraku langsung meluncurkan serangan ku.

__ADS_1


"Astaga...hei... Apa kalian ini tidak tahu aturan bertarung sama sekali, benar-benar manusia licik!" Ucap Baim sambil langsung menyerang mereka, aku terus saja bertarung satu lawan satu dengan preman tersebut hingga akhirnya mereka bisa menyerah dan pergi dari sana secepatnya.


Tadinya aku mau menahan mereka namun sayang sekali mereka justru malah berhasil melarikan diri karena kami sudah sangat lelah bertarung jadi aku dan Baim gagal untuk mengejar kedua itu yang melarikan diri dengan motornya.


"Aishh...sial, Tiktik.... sebetulnya siapa mereka itu, kenapa mereka tiba-tiba datang dan membuat kerusakan seperti ini?" Tanya Baim kepadaku.


"Aku juga tidak tahu, tapi preman itu sama sekali tidak memalak ataupun meminta uang, seperti yang biasanya dilakukan yang lain, mereka hanya datang lalu merusak jongko yang ini sampai rusak lalu langsung bertarung denganku, aku rasa mereka hanya ingin memancing aku saja untuk bertarung dengannya, bukan ingin memakai uang kepada pedagang disini." Balasku mengatakan kecurigaanku kepada Baim saat itu.


Baim juga langsung berpikir keras karena melihat apa yang aku katakan sama dengan bukti yang dia lihat sendiri.


Sebab di hadapannya saat itu terdapat jongko yang sudah rusak dan tidak bisa dipakai untuk berjualan lagi, sehingga itu akan menjadi pekerjaanku untuk memperbaiki jongko nya secepat mungkin.


"Aaahhh....kau benar, semoga saja dia orang gila itu tidak akan datang kemari lagi, itu bisa membuat semua orang takut jika mau menyewa jongko ataupun berbelanja kemari." Balas Baim kepadaku.


"Kau benar, sudahlah sebaiknya kita bereskan dulu semua kekacauan ini, biar si ibunya bisa lanjut dagang." Ucapku yang langsung di anggukan oleh Baim.


Kami segera membereskan sisa-sisa jongkonyang rusak dan aku mulai memperbaikinya memasang kembali semua bagian yang rusak dan menambalnya dengan kayu baru untuk sementara waktu agar ibu yang menyewa jongko itu bisa mulai jualan hari ini.


Hingga selesai aku baru kembali ke posko dan anak-anak yang lain rupanya sudah kumpul disana dan mereka mengumpulkan hasil dari tagihannya kepadaku, aku juga menghitung semua hasil kami hari ini secara transparan di hadapan mereka semua saat itu juga.


Sehingga aku bisa memberikan semua bagiannya ke masing-masing orang di waktu yang sama setelah selesai mengumpulkan dan menghitung, tapi sebelum mereka bubar aku harus memberitahu dahulu mengenai kejadian sebelumnya yang terjadi di pasar ini.


"Apa? Jadi tadi ada yang menyerang kalian, kenapa tidak memberitahu kami, kami kan bisa datang untuk membantumu." Ucap bang Arif saat itu.


Yang tentunya di iya kan oleh semua anak buah yang lain.


Mereka terlihat turut marah dan tersulit emosi saat Baim dan aku mengatakan semua jadian tersebut hingga membuat Baim terlihat seperti saat ini, sebab dia kelelahan harus memperbaiki satu jongko berdua saja denganku sebelumnya.


"Maaf jika aku dan Baim tidak memberitahu kalian ataupun tidak memanggil kalian saat itu, karena mereka langsung menyerang kami secara tiba-tiba, jadi tidak ada waktu untuk aku dan Baim memberitahu semuanya, lagi pula saat itu kalian semua tengah menagih uang pada semua pemilik jongko jadi tidak mungkin aku dan Baim harus mengganggu kalian yang sibuk, lagi pula mereka berdua tetap berhasil kita kalahkan walau pun aku tahu mereka sangat kuat sekali, dan aku rasa mereka bukan preman biasa." Balasku menjawab ucapan bang Arif di hadapan semua teman-teman yang ada disana.


Bang Arif menatap dengan tatapan mata yang begitu dalam dan tajam kepadaku, dia sangat penasaran untuk melihat bagaimana wajah dari kedua preman tersebut, yang bisa membuat Baim sampai mendapatkan sedikit lebam di tangannya termasuk aku yang beberapa kali mendapatkan tinjuan dari orang itu.


Bukan hanya ujung bibirku yang lebam dan mengeluarkan sedikit darah tapi kaki dan pundakku juga terasa nyeri karena sempat terbanting ke jongko akibatnya di dorong olehnya saja.


Padahal dia hanya mendorong aku dan menghempaskan tubuhku, tapi aku mendapatkan banyak rasa sakit hanya karena hal itu, jadi tentu saja level kedua preman yang sebelumnya bertarung denganku juga Baim, mereka pasti orang yang profesional bukan preman biasa saja.

__ADS_1


Aku sangat yakin sekali dengan hal itu, tetapi untuk sementara ini karena aku juga belum bisa membuktikan semuanya secara nyata jadi aku hanya bisa diam saja.


Hingga setelah pasar tutup dan semua anak-anak juga sudah pulang kini giliran aku yang mau pulang tapi aku tentu harus berjalan kaki untuk pertama kalinya pulang ke rumah tanpa membawa motor seperti biasanya, aku berjalan kaki seorang diri.


Dan di tengah jalan aku merasa seperti ada seseorang yang mengikuti aku saat itu, sehingga aku terus saja memperhatikan sebuah bayangan yang cukup tinggi di belakangku saat itu, dari bayangannya aku sudah tahu bahwa dia seorang pria namun aku sengaja tidak menoleh ke belakang dan terus berjalan dengan biasa hingga tidak lama ketika orang itu sudah semakin dekat denganku aku langsung saja berbalik lalu hampir m*hajatnya tapi untung saja aku masih sempat untuk menahan diri saat itu.


"Eeehh....ini aku, aku dokter Sendi...Tiktik jangan p*kul aku!" Ucap dia kepadaku saat itu.


Karena mendengar ucapan dari dokter Sendi aku segera menurunkan tanganku sekaligus melepaskan tangannya dokter Sendi dengan segera.


"Dokter kenapa kau berjalan di belakangku diam-diam seperti itu?" Tanyaku kepadanya.


"Aahh...tadi aku memang mencarimu tapi ternyata kamu sudah jalan lebih dulu, aku tidak enak jika berteriak memanggilmu jadi aku pikir akan menyusul jalanmu saja." Balas dia kepadaku.


Aku pun merasa lega karena sebelumnya aku pikir ada orang jahat yang mengikuti aku secara diam-diam, aku pun berjalan bersama dengan dokter Sendi hingga sambil berjalan beriringan dia bertanya mengenai motorku membuat aku kembali harus mengingatnya dan merasa sedih lagi atas kehilangan motorku itu.


"Ehh ..Tiktik kalau boleh tahu kemana motormu, apa kamu meminjamkannya pada orang lain lagi?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Ah...tidak pak dokter, motorku hilang." Balasku kepadanya.


Dia langsung menghentikan langkahku dengan memegangi tanganku secara tiba-tiba dan menatap aku dengan matanya yang terbuka lebar bak seperti dia saja yang kehilangan motornya saat itu.


"Apa? Kenapa bisa hilang, siapa yang mencurinya?" Tanya dia bertubi-tubi kepadaku.


"Pak dokter kau ini kenapa? Yang hilang motorku bukan motormu kenapa kau harus sekaget ini mendengarnya? Lagian aku juga sudah tidak masalah, aku tidak tahu motorku hilang kemana, dan di curi dengan siapa yang pasti anak buahku sedang mengusahakan untuk mencarinya." Balasku kepadanya saat itu.


"Ohhh...begitu ya, tapi Tiktik, kalau motormu itu tidak ada bagaimana kamu pergi kesana-kemari? Tidak mungkin kamu harus terus berjalan kaki kan?" Balas dia lagi kepadaku.


"Ya memangnya mau bagaimana lagi pak dokter, lagian sebelumnya saya juga selalu jalan kaki kok, jadi tidak terlalu masalah sih." Balasku kepadanya.


Dia terlihat menunduk dan menghembuskan nafas dengan berat saat itu hingga sesampainya di pangkalan ojek dia harus pergi dengan jalur yang berbeda denganku dan aku berpamitan dengan segera padanya, karena aku tahu dia pasti akan naik ojek sama seperti yang biasa dia lakukan sedangkan aku memang sudah dekat dengan rumahku jadi sudah tidak perlu ojek lagi.


"Ya sudah pak dokter aku pamit duluan ya, rumahku sudah dekat." Ucapku kepadanya sambil segera pergi meninggalkan dia lebih dulu.


Sedangkan disisi lain dokternya Sendi sama sekali belum bisa pergi selama dia masih bisa menatap punggung Tiktik yang terlihat begitu lesu seperti itu, hingga dia mulai bisa pergi ketika sudah memastikan Tiktik pergi ke rumahnya dengan aman dan selamat, barulah dia pergi menaiki salah satu ojek disana.

__ADS_1


Bahkan sampai di rumah umi Salma, dokter Sendi langsung saja membuka laptop miliknya dan dia mencari beberapa motor dari online yang bisa dia beli saat itu.


Dia tidak tega melihat Tiktik orang yang sudah sangat baik kepada siapapun justru malah harus kehilangan motornya, secara tiba-tiba seperti ini, sehingga dokter Sendi berniat untuk membelikan Tiktik motor yang baru agar tidak perlu berjalan kaki dalam jarak yang jauh lagi.


__ADS_2