Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Mendengar ucapannya saja sudah membuat aku merinding saat itu, aku tidak tahu harus memilih apa, kali ini aku berdiri di depan jurang, dimana jika Ubay melepaskan pelukannya dariku maka sudah pasti aku akan terjatuh ke dalam jurang itu sebab tubuh, tangan dan kakiku dalam keadaan terikat dan sama sekali tidak bisa aku gerakkan.


Aku terus berpikir keras, tapi tetap saja aku tidak mungkin membohongi Ubay bahwa aku memang tidak mencintai dia bahkan tidak pernah sekalipun.


"Ubay kau lihat mataku baik-baik. Apakah mataku ada rasa cinta saat melihatmu?" Tanyaku kepadanya.


Dia mulai memberikan tatapan tajam kepadaku, dan rasa tidak senang saat itu.


"Di mataku kau adalah sahabat terbaik, kau orang yang selalu berada di sampingku dikala aku susah maupun senang, kau selalu menjadi orang pertama yang aku beritahukan jika sesuatu terjadi padaku, kita selalu bersama-sama setiap saat, tidakkah kamu ingat semua momen menyenangkan dalam persahabatan kita selama ini? Apa yang membuat kamu berpikir jika kamu tidak pernah memiliki aku?" Balasku menjelaskan kepadanya.


"Tetap saja, aku ingin kau menjadi pendampingku, bukan hanya sahabat, sekarang jawab dengan benar kau mau menikah denganku atau mati di dasar jurang ini." Ucap dia yang semakin tegas mengatakannya.


"Aku memilih mati saja Ubay, lagi pula kau sudah berubah, kau bukan Ubay yang aku sayangi lagi, meski sebagai sahabat, rasa sayang dan saling melindungi itu tetap ada, namun sekarang sudah benar-benar hilang, karena kau yang merubahnya, jadi aku lebih baik mati saja." Balasku dengan penuh keberanian saat itu.


Ubay terlihat sangat emosi dan dia terus saja berteriak sangat kencang di depan wajahku, tapi dia sama sekali tidak melepaskan pegangannya pada tubuhku dan dia juga tidak pernah melemparkan aku ke jurang tersebut.


"Aaarrkkk.... Sialan kau! Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, kau harus tetap menikah denganku!" Ucap dia setelah berteriak dengan kencang.


Lalu dia langsung menggendong aku dan membawa masuk ke dalam mobil, Bu Yati terus saja menuruti semua ucapan Ubay, kini aku tahu bahwa yang jahat sebenarnya bukanlah Bu Yati melainkan Ubay, Bu Yati menjadi seperti itu karena dia menuruti semua permintaan Ubay, dan Ubay adalah otak di balik semuanya.

__ADS_1


Aku sama sekali tidak bisa berkutik, mulutku sudah di tutup lagi dengan lakban oleh Ubay dan mereka membawa aku ke sebuah rumah di pinggiran kota yang cukup jauh dari rumah Bu Yati yang ada di kampung Rentenir, dan aku juga baru tahu jika mereka memiliki tempat tinggal lain selain di kampung Rentenir.


Ubay menidurkan aku di ranjang dan dia mulai melepas lakban di mulutku lagi.


"Apa kau masih mati dibandingkan menikah denganku?" Tanya Ubay lagi.


"Aku tidak ingin menjawabnya, aku tidak mau menyakiti kamu dua kali Ubay." Balasku kembali membuat Ubay sangat emosi hingga dia langsung m*mukul ranjang di sana dengan sangat kencang.


"Dasar kau, matilah disini dengan kelaparan, aku tidak akan pernah memberiku makan. Dan kalian, siapapun yang berani memberikannya minuman atau makanan, kalian akan mati!" Teriak Ubay kepada ibu dan beberapa anak buahnya yang ada disana.


Mereka semua kemudian pergi meninggalkan kamar itu, aku terus berusaha untuk melepaskan diri namun semuanya terlalu sulit, entah bagaimana dia mengikat tali itu pada tangan dan kakiku, semua ikatannya terlalu kuat aku bahkan tidak bisa membukanya dan saat aku tengah berusaha keras untuk melepaskan diri tidak sengaja aku melihat sebuah kamera kecil yang terhadap pada pas bunga yang ada diatas tak hias, aku tahu dia pasti mengawasi aku saat itu.


Karena sudah mengetahui ada kamera tersembunyi, aku pun tidak lagi berontak atau berusaha melarikan diri, sebab aku tahu jika aku melakukan itu, bisa saja dia memberikan aku hukuman yang lebih parah lagi dibandingkan sekarang ini, hanya bisa diam dengan tubuh yang lemas dan sama sekali tidak bisa melakukan apapun.


Satu hari sudah berlalu, aku tidak pernah tahu bagaimana kabar Omi ataupun kabar Aldi, entah mereka berdua berhasil kabur dari kejaran dia bodyguard Bu Yati atau tidak, aku hanya bisa berdoa dalam diam dan terus berharap akan ada seseorang yang bisa menolongku saat ini.


Hingga tidak lama Ubay kembali datang kepadaku dia melepaskan lakban di mulutku dan membantuku untuk bangkit terduduk.


"Bagaimana, apakah kau sudah berubah pikiran? Aku membawakan kau makanan Tiktik, meski aku sangat kesal denganmu, tapi lihatlah aku tetap memikirkan makanmu, aku memperdulikan kamu, kenapa kau masih tidak ingin menjadi istriku?" Ucap dia bicara sendiri padaku.

__ADS_1


"Ubay harus berapa kali aku bilang padamu, aku menyayangimu, aku juga perduli padamu, tapi sebagai sahabat yang sudah aku anggap seperti saudara bagiku, kau lebih berharga dibandingkan menjadi suami untukku," balasku kepada dia.


Tapi tetap saja dia memang sudah dibutakan dengan cinta sebelah pihaknya, dia tetap kesal dan tertawa dengan sinis kepadaku, tidak merubah keinginannya dia tetap mengatakan bahwa akan melaksanakan pernikahan itu.


"Ahahaha... terserah padamu, dengan ada atau tidaknya persetujuan itu, kita akan tetap menikah besok." Ucap dia membuat aku sangat kaget.


Aku tidak mungkin menikah dengan Ubay, dia bukan orang yang aku mau, aku tidak pernah menyukainya, meski aku sangat menyayanginya, dia hanya sahabat di hatiku tidak lebih dari itu, aku juga tidak mungkin menikah begitu saja.


"Ubay, kenapa kau harus menjadi sekejam ini?" Tanyaku keluar begitu saja dengan mata yang mulai berkaca-kaca menatapnya.


"Jangan berpura-pura cengeng, aku sama sekali tidak akan tersentuh dengan air matamu, cepat makan kau tetap harus hidup untuk bisa menikah denganku." Ucap dia menaruh piring itu di sampingku.


"Tidak kah kau lihat tangan dan kakiku dia ikat sejak kemarin, aku bahkan sudah kesemutan dan merasa tidak nyaman, bagaimana aku bisa makan jika seperti ini?" Balasku kepadanya.


Ubay melirik ke arah tubuhku yang penuh dengan lilitan tali, dia pun mengambil kembali piring itu dan bukannya melepaskan ikatan dari tubuhku dia malah menyuapi aku.


Itu sangat tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan sebelumnya.


"Buka mulutmu, bukankah kau tidak bisa makan dengan tanganmu?" Ucap dia dengan wajah yang datar dan sinis saat itu.

__ADS_1


__ADS_2