
Meski begitu karena dia yang sudah memberikannya dan aku merasa ini cukup janggal dan heran jadi aku tidak berani untuk menggunakan uang itu, aku ke ih memilih untuk menyimpannya baik-baik, takut sewaktu-waktu nanti dia akan meminta kembali uang itu dariku, atau dia mencatatnya sebagai hutang padaku, aku harus mengantisipasi hal itu sebelum semuanya membesar dan akan menyulitkan diri sendiri, ditambah sekarang ini tanggunganku bukan hanya diriku sendiri tetapi masih ada Omi yang menjadi tanggung jawab besar bagiku, jadi aku tidak ingin menambah kesulitan dalam hidupku sendiri.
"Eehh....aneh sekali dengan Bu Yati ini, tumben memberikan uang tip uang dengan jumlah sebanyak ini, ala dia tidak keliru saat memberikannya padaku?" Gerutuku sambil terus menatap sejumlah uang tiga lembar seratus ribuan tersebut.
"Aku mengantonginya dengan segera dan memisahkannya dari uang milikku, berniat untuk mengembalikannya kepada Bu Yati nanti, setelah beres bekerja dari pasar dan sudah mengantar Omi ke rumah aku berpamitan padanya untuk pergi ke rumah Bu Yati.
"Omi kakak ada urusan dulu sama Bu Yati, kamu jaga rumah ya?" Ucapku kepadanya.
Dia langsung berdiri tegak da menghadang jalanku.
"Untuk apa kakak mau menemuinya, ada urusan apa kak?" Tanya dia kepadaku.
"Tidak ada apa-apa, cuman mau mengembalikan uang tip yang dia berikan pada kakak sebelumnya, uang itu terlalu banyak jadi kakak harus mengembalikan uangnya," balas ku dengan jujur kepadanya.
Setelah aku menjelaskan semua itu Omi malah mau ikut denganku, dan wajahnya seperti mencemaskan aku, bak seperti memiliki perasaan buruk tentangku, meski aku melarangnya untuk ikut tetapi karena dia terus mendesak dan memaksa jadi tidak ada pilihan lain aku pun mengijinkannya untuk ikut.
"Kak kalau gitu aku mau ikut." Ucap dia secar tiba-tiba.
"Loh, untuk apa kamu ikut? Kakak kan hanya sebentar, ini hanya mengembalikan uang Omi, kenapa kamu harus ikut?" Tanyaku dengan keheranan sendiri.
"Tidak papa kak, aku mau ikut saja, bukankah akan lebih aman jika kakak tidak pergi menemui Bu Yati seorang diri." Balas dia lagi padaku.
"Kau ini, ya sudahlah ayo kita pergi." Balasku yang akhirnya mengijinkan dia untuk ikut.
Kami pergi bersama ke rumah Bu Yati malam itu juga, aku mengetuk pintu rumahnya yang besar dan mewah berwarna putih bersih tersebut, menekan tombol bel nya hingga tidak lama kemudian muncul Bu Yati dengan wajah yang terlihat datar dan agak sinis seperti biasanya.
"Untuk apa kau datang kemari?" Tanya Bu Yati kepadaku dengan menaikkan kedua alisnya saat itu.
"Ini aku mau mengembalikan uang tip yang ibu berikan tadi pagi." Balasku kepadanya sambil memberikan uang itu ke hadapan dia.
__ADS_1
Tapi bukannya mengambil uang itu Bu Yati justru malah tertawa keras dan dia bicara sangat aneh yang sama sekali tidak aku mengerti apa yang dia bicarakan sebenarnya.
"Ahahah .....hei Tiktik untuk apa kau mengembalikan uang itu, apa kau tidak membacanya, yang itu sudah berbunga sepuluh kali lipat jika kamu tidak mengembalikannya dalam waktu satu jam, ini sudah berapa jam, uangnya sudah tidak senilai lagi." Balas dia tertawa sangat puas.
Aku dan Omi saling tatap satu sama lain dan merasa keheranan sendiri.
Sampai Bu Yati merampas salah satu uang yang ada di tanganku dan membalikkan uang tersebut lalu menggosoknya pelan dengan tangan hingga sebuah tulisan muncul pada uang tersebut dan dia menyuruh aku untuk membacanya.
"Lihat dan bacalah dengan baik." Ucap dia kepadaku.
Aku merampas uang itu dengan cepat dan terdapat tulisan disana yang mengatakan.
'Ini bukan tip tapi pinjaman jika kau tidak mengembalikannya dalam waktu satu jam maka semua berlaku sepuluh kali lipat jika kau mau mengembalikannya.' isi tulisan tersebut.
Aku dan Omi langsung membelakkan mata dengan sangat lebar, kami jelas sangat tidak terima dengan semua itu sebab kami sama sekali tidak pernah berniat berhutang padanya, dia sudah menipuku dan semua hal yang aku takutkan benar-benar terjadi, bahkan lebih buruk dibandingkan dugaanku sebelumnya.
"Kenapa tidak bisa, saya bisa melakukan apapun karena saya penguasa dan orang nomor satu di kampung Rentenir ini." ucapnya dengan sorot mata tajam yang menusuk kepadaku.
"Terserah kau saja, aku tidak perduli dan tidak akan membayar sepeserpun kepadamu, kau lakukan saja semau mu." balasku segera berbalik dengan cepat.
Dia terlihat sangat kesal sampai tidak lama tiba-tiba saja ketika aku berbalik dengan Omi dan hendak pergi darinya, sebuah tangan membekap mulutku dan ada tidak bisa bernafas, aku mencium sesuatu aroma yang memabukkan dan membuat aku kehilangan kesadaran dalam sekejap saja.
Sedangkan Omi aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya saat itu, aku hanya mendengar teriakkan dia terakhir kali, lalu tangannya terlepas dari genggamanku saat itu.
"Hei..lepaskan kakakku, kak sadar kak...kakak!" Teriakkan Omi saat itu.
Setelahnya aku tidak sadarkan diri dan tidak mengingat apapun.
Hingga setelah beberapa jam dan setelah aku sadar, tiba-tiba saja aku sudah berada di depan jurang yang sangat dekat, dengan tubuh terikat kuat dengan tali, aku tidak bisa bergerak bahkan tubuhku terkapar dengan mulut yang di tutup lakban tabal, tangan dan kaki di ikat sangat kuat termasuk dengan tubuhku yang lainnya, di depan ada Ubay dan Bu Yati, termasuk beberapa anak buahnya saat itu.
__ADS_1
Aku menatap tajam ke arah mereka, penuh dengan dendam dan kekesalan, juga emosi yang menggebu di dalam diriku, sedangkan yang tidak aku sangka ada Aldi, teman terdekatku sebelumnya, dia berdiri di samping Ubay menatap ke arahku juga.
"Eumm...eummm." suaraku yang berontak sambil terus berusaha melepaskan diri.
Namun tenagaku seakan hilang entah kemana aku merasa cukup lemas dan sulit untuk melepaskan diri saat itu.
Ubay berjalan menghampiri aku dan dia memegangi daguku, sambil berbicara kepadaku dengan lembut namun menyebalkan bagiku.
"Tiktik sayang, kenapa kau berontak seperti ini, aku akan menawarkan sebuah penawaran menarik kepadamu, apa kau mau mendengarnya?" Ucap dia padaku saat itu.
Aku terus berontak sekalipun tenagaku tidak sekuat sebelumnya.
Mereka malah tertawa keras melihat aku kesulitan untuk melepaskan diri dan tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukan semua itu.
Sampai Ubay membuka lakban yang membekap mulutku dan barulah saat itu aku bisa bernafas dengan lega termasuk bisa bicara kepada mereka semua.
Dia juga membantu aku untuk terduduk saat itu. Mendekatkan wajahku dan menghadapkan tubuhku ke arah jurang yang terjal dan sangat dalam saat itu.
"Euh ..lepaskan, kenapa kau menyekapku seperti ini Ubay, ada apa denganmu? Lepaskan aku!" Teriakku kepadanya.
"Diamlah Tiktik, jika kau banyak bergerak dan bicara aku akan mendorongku ke depan sana dan sudah bisa dipastikan kau akan mati tanpa ada yang menemukanmu." Ucap dia memberikan ancaman padaku saat itu.
"Ubay kenapa kamu seperti ini? Apa yang membuatmu begini, kenapa kau melakukan ini padaku, apa yang kau inginkan sebenarnya?" Tanyaku dengan mata yang hampir berkaca-kaca saat itu, tetapi aku masih berusaha menguatkan diriku sendiri, walau sebenarnya di dalam hatiku, aku meringis kesakitan dan merasa takut.
"Hahaha....Tiktik... Tiktik... Apa kau pikir aku orang baik? Apa kau pikir aku akan diam saja saat kau terus memberikan penolakan untukku? Tidakkah kau tahu apa yang sebenarnya aku inginkan, hah? Aku menginginkanmu Tiktik, aku sudah membuat segala cara untuk mendapatkan kau dengan baik-baik, tapi apa? Apa yang kau perbuat padaku, kau sangat sombong dan belagu, kau menolak aku berkali-kali dan malah berpacaran dengan dokter yang tidak jelas itu? Kau melunasi semua hutangmu sampai aku dan ibuku tidak bisa mendesakmu lagi, tapi sayangnya kau salah jika berpikir kau sudah bisa terbebas dariku, ahahaha.... Untungnya aku punya Aldi, teman terbaikku sejak kecil yang bisa menjadi mata-mata cukup tajam selama ini." Ujar dia mengatakan semua hal yang sangat membuat aku kaget.
Awalnya ku pikir Ubay berbeda, aku pikir dia tidak seperti ibunya, dia baik dia tidak kasar, tapi nyatanya buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya, Ubay sama saja begitu pula dengan Aldi yang telah mengkhianati aku sangat lama.
Dan bodohnya aku tertipu oleh mereka semua, aku tidak tahu sama sekali bahwa ada begitu banyak orang yang menusukku dari belakang selama ini.
__ADS_1