Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Dibuatkan Bubur


__ADS_3

Aku harus melakukan itu untuk memalingkan pembicaraan dari dokter Sendi, meski saat itu dia terlihat agar kesal denganku, tapi itu sama sekali tidak masalah dan menurutku lebih baik dibandingkan dia yang terus saja mendesak aku untuk bicara kepadanya, jadi aku hanya bisa diam saja dengan penuh rasa gugup tidak menentu selama di perjalanan memboncengnya.


Biasanya aku dan dokter Sendi selalu mengobrol dengan asik bersama-sama namun kali ini, sebab kejadian yang sebelumnya aku dan dia menjadi sedikit canggung, aku tidak berani mengawali pembicaraan, dan tidak tahu apa yang harus aku katakan saat ini, sampai tiba di depan puskesmas, aku langsung berpamitan padanya dan berniat untuk pergi dari sana dengan secepat yang aku bisa, sebab aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi seorang dokter Sendi, namun disaat aku hendak pergi dia malah menarik tanganku dan menahanku cukup kuat, sehingga membuat aku kembali berbalik padanya sambil menatap penuh keheranan dengan kedua alis yang aku naikkan cukup tinggi.


"Eehh. Ada apa menahanku dokter?" Tanyaku kepadanya.


"Ayo ikut aku." Ajaknya sambil menarik tanganku begitu saja.


Padahal saat itu, aku masih berada di atas motorku tetapi dokter Sendi malah terus saja menarik tanganku dengan kuat, aku pun terus saja segera menyetandarkan motor dan turun dengan cepat sambil segera pergi dari sana mengikuti dokter Sendi yang terus menarik tanganku dengan cepat, hingga ternyata dia malah membawa aku ke depan sebuah gerobak bubur yang berada di depan gerbang puskesmas saat itu, dia langsung saja menyuruh aku untuk duduk di kursi panjang yang ada disana.


"Ayo duduk." Ucapnya memerintah begitu saja.


"Hei.... Kenapa pak dokter menyuruh aku untuk duduk disini, memangnya aku mau beli bubur? Aku tidak ada waktu dokter, aku sudah harus bekerja jam segini." Balasku kepadanya sambil hendak pergi dari sana.


Namun dokter Sendi tidak membiarkan aku pergi dari sana begitu mudah, dia terus menarik tanganku dengan kuat lagi dan lagi, lalu dia terus saja mendudukkan aku dengan paksa sampai aku benar-benar terduduk dan hanya bisa menatap dengan wajah mengkerut juga sedikit kesal dengannya.


"Duduk! Kenapa kamu keras kepala sekali, apa susahnya untuk duduk dan sarapan dahulu, bukankah sebelumnya kamu bilang belum sarapan? Bagaimana kamu bisa bekerja jika tidak sarapan otakmu tidak bisa fokus seperti tadi." Balasnya kepadaku.


Aku merasa sangat heran dengan apa yang dikatakan oleh dokter Sendi saat itu, harusnya yang marah disini adalah aku, karena dia terus saja mendesak aku dan memaksaku untuk duduk di tempat tersebut, sedangkan ini malah dia yang marah dengan begitu keras dan memberikan tatapan tajam seperti itu kepadaku.


Benar-benar membuat aku sangat jengkel dan tidak bisa diam saja, meski saat itu dokter Sendi memaksaku, hanya saja aku tidak bisa terus berdiam diri dan menurut dengannya, lagi pula aku memiliki pekerjaan sendiri yang harus aku kerjakan saat itu.


"Astaga ..dokter, tapi aku sudah hampir terlambat, berapa lama tukang bubur itu bisa menyelesaikan pesanannya, lihat banyak sekali orang yang mengantri, aku tidak ada banyak waktu." Balasku kepadanya.


"Siapa bilang kita akan mengantri dan menunggu?" Balas dia dengan wajah yang cukup mencurigai bagiku saat itu.


"Lantas apa lagi?" Tanyaku dengan sedikit malas.

__ADS_1


"Pak bisa saya bikin sendiri saja buburnya?" Tanya dokter Sendi kepada tukang bubur tersebut.


Dan sialnya dia malah diberikan izin dengan begitu mudah, dia terus saja mengambil semuanya sendiri, aku hanya bisa menatap dengan penuh keheranan, melihat seorang dokter dengan jas rapih berwarna putih termasuk stetoskop melingkar di lehernya, tetapi dia malah menyajikan sebuah bubur untukku, dia terlihat sangat keren di mataku saat itu.


"Wahh .. ternyata dia bisa begitu juga? Keren sekali." Gerutuku pelan saat itu.


Aku pikir dia hanya seorang dokter biasa saja, namun ternyata dia juga bisa mengerjakan, pekerjaan seperti itu, aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapi dia, wajahnya sangat lucu saat menyajikan bubur, hingga tak lama segera saja dia menyajikannya kepada mejaku, dia mulai menunjukkan bubur buatannya sendiri.


"Tada...bubur buatan dokter Sendi sudah siap, ayo makan jangan sampai kau hanya menatapnya saja." Ucap dokter Sendi sambil duduk berhadapan denganku.


Aku pun menghembuskan nafas pelan lalu mengambil semangkuk bubur yang sudah dia berikan padaku, bagaimana pun dia sudah bekerja keras untuk menyajikan bubur itu, agar aku bisa sarapan pagi ini, jadi ku pikir aku harus memakannya untuk menghormati kerja keras yang dia lakukan, sebelumnya juga tidak pernah ada orang yang memberikan perhatian sebesar ini kepadaku.


Biasanya mereka hanya acuh tak acuh kepada wanita yang memiliki penampilan seperti laki-laki ini, tapi aku sebenarnya tidak terlalu tomboi, aku tetap seorang wanita, tapi aku suka bela diri, sebab itu adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan agar aku bisa hidup mandiri dan tetap menjaga diriku, melindungi diriku sendiri, sebab tidak memiliki siapapun di dunia ini.


Terlebih pakaian wanita lebih mahal harganya dibandingkan pakaian pria sehingga orang yang kerjanya hanya serabutan seperti aku, tidak sanggup untuk membeli gaun cantik atau pakaian wanita dengan berbagai warna dan mode yang terbaru, setiap kali aku hanya mampu membeli pakaian pria, seperti celana jeans dan kemeja biasa saja, aku tidak pernah merayakan hari raya atau hari-hari besar lainnya, bagiku semua hari sama saja, aku tetap sendiri, makan di waktu yang sama, dan tidak melakukan kegiatan istimewa yang bisa dilakukan orang lain.


Teman-teman dan anak buahku saja jika harus raya mereka akan kembali pada keluarga mereka masing-masing, berkumpul bersama dan menikmati hari itu dengan penuh kebahagiaan, sedangkan aku hanya bisa duduk seorang diri di jembatan antar desa, menatap kembang api yang dinyalakan anak-anak ataupun ikut bermain petasan dengan mereka, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan juga tidak ada saudara yang bisa aku kunjungi, sekarang aku mungkin sudah punya Omi, setidaknya dia bisa bersama denganku, tapi aku tahu tidak lama lagi aku akan mendaftar dia ke kota membawanya pergi ke universitas yang dia inginkan, menuntun dia selangkah lebih maju menuju mimpinya untuk menjadi seorang dokter.


Aku tidak mungkin meninggalkan mereka dan yang lebihnya lagi, aku tidak memiliki cukup uang untuk tinggal berdua di kota, biaya hidup disana jelas akan lebih tinggi dibandingkan biaya hidup di kampung seperti ini, jika aku pergi bersama Omi, aku akan kehilangan pekerjaan termasuk tidak memiliki uang, jadi aku terpaksa harus melepaskan Omi sendiri.


Aku pikir dia juga sudah besar dan sudah cukup dewasa aku hanya perlu mempercayai dia seperti aku mempercayai diriku sendiri.


"Aku terus saja melamun dan tidak bisa fokus meski tengah menikmati bubur buatan dokter Sendi, hingga ketika dokter Sendi memanggilku tetap saja aku tidak menggubrisnya, sebab aku terus saja melamun dan tidak mendengarkan ucapan darinya.


"Tiktik....hei...Tiktik?" Ucap dokter Sendi terus saja memanggilku beberapa kali.


"Aaahh ..iya dokter ada apa?" Ucapku baru tersadar saat itu.

__ADS_1


"Astaga, apa barusan kau melamun lagi ya? Aaahh aku rasa kau tidak fokus bukan karena belum sarapan." Ucapnya dengan wajah yang terlihat kesal denganku.


Aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapannya, tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengakui semua yang dikatakan dokter Sendi barusan, karena memang sejak awal ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranku, dan tidak bisa aku kesampingkan sehingga aku tidak bisa benar-benar fokus.


"Sudah ya dokter, aku masih banyak urusan, kau kabari saja aku jika sudah pulang nanti aku akan menjemputmu." Ucapku sambil bangkit berdiri dan langsung pergi dari sana.


Dokter Sendi hanya terdengar menghembuskan nafas cukup kuat, dan dia tidak bicara apapun saat aku tetap pergi meninggalkan dia, lagi pula ku pikir aku sudah menghabiskan bubur buatannya, jadi tidak ada hal lain yang perlu aku lakukan untuk menghormati kerja kerasnya.


Jika aku lebih lama berhadapan dengannya, yang ada dokter Sendi akan terus mencoba mendesakku dan terus mencari tahu tentang apa yang aku pikirkan, sedangkan aku sama sekali tidak ingin ada siapapun yang mengetahui kesulitan di dalam hidupku ini, aku ingin menyelesaikan semuanya sendiri, karena aku rasa aku cukup mampu untuk melakukan semua hal itu, meski sendirian.


Aku pergi ke pasar dan terus saja mencari informasi mengenai universitas yang bagus dengan biaya yang tidak terlalu mahal untuk Omi, Baim menghampiri aku yang tengah mencari informasi di internet saat itu.


Dia merampas ponselku begitu saja dan membaca pencarian yang tengah aku lakukan saat itu, dia memang sangat jahil sekali dan merepotkan.


"Universitas kedokteran? Hei Tiktik, apa kau mau kuliah ya?" Tanya dia kepadaku sambil memberikan tatapan yang heran.


"Aishh.... Tidak, mana mungkin aku kuliah lagi, sudah lewat dua tahun tidak akan bisa, lagian untuk apa aku kuliah aku sudah tidak minat untuk belajar." Balasku kepadanya.


"Lalu kenapa kau mencari hal seperti itu?" Tanya dia mulai mengerutkan kedua alisnya.


"Aishh..kau ini mau tahu saja, sudah kembalikan ponselku! Beraninya kau merampas ponsel di tanganku begitu saja, aaaahh." Ucapku sambil kembali merampas ponselku dari tangan Baim cukup kasar.


Baim hanya cemberut sedikit karena mendapatkan perlakuan kasar dariku, selain itu dia yang masih sangat penasaran, malah duduk di sampingku dan terus saja menanyakan banyak hal membuat aku sangat emosi di buatnya dan terpaksa aku harus mengatakan semua itu kepadanya.


"Ayolah Tiktik, beritahu aku siapa yang akan kuliah, apa kau mau pindah ke kota, atau apa kau ingin mengunjungi universitas?" Tanya dia terus menerus kepadaku.


Melihat wajahnya dan tangan dia yang terus menarik ujung kemejaku, membuat aku sangat emosi dan kesal dengannya, langsung saja aku menghempaskan tangan dia yang menarik ujung kemeja yang aku pakai saat itu.

__ADS_1


"Hei..lepaskan tanganmu ini! Kau bisa membuat kemeja murahku robek jika terus menariknya begitu, aaahh...kenapa sih kau ini kepo sekali?" Ucapku kepada dia semakin bertambah kesal dan emosi.


"Ya tentu saja aku sangat penasaran, kau ini kan sahabat ku aku ingin tahu semua hal tentang sahabatku dan kau juga tidak boleh menyembunyikan sesuatu apapun dari sahabatmu yang sudah bersama mendukungmu, melindungi kamu dan terus ada di sampingmu selama ini." Ucapnya kepadaku.


__ADS_2