
Terpaksa aku harus menghadapinya dan segera saja mulai tersenyum sambil menampakkan gigiku padanya dan mulai memikirkan cara lain untuk membalas ucapan dari dokter Sendi sebelumnya.
"Tiktik....apa kamu baik-baik saja?" Tanya dia lagi kepadaku.
"Ohhh... Aku baik kok, sangat baik malah hehe, aku ke sini cuman...itu apa...euh...nyasar ahahah. Iya aku tadi nyasar aja gak sengaja gitu lewat sini." Balasku sembarangan kepadaku.
Tidak tahu apa yang sebenarnya aku katakan saat itu, diriku sendiri merasa konyol dengan apa yang aku ungkapkan kepadanya, benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa yang pasti aku sama sekali tidak perlu dengannya, tidak ada cara lain lagi yang bisa aku lakukan jadi aku hanya bisa terdiam setelah menjawab hal itu sambil terus berharap semoga dia bisa mempercayai aku nantinya.
Hingga tidak lama dokter Sendi akhirnya menjawab ucapan dariku dan aku tahu dia pasti tidak se percaya itu dengan ucapanku barusan.
"Ah, begitu ya, tapi kalau kamu memang nyasar, bukannya kamu sudah sering melewati jalanan sini?" Balas dia lagi kepadaku.
Kini aku semakin kesulitan untuk menghadapinya apalagi menjawab ucapan darinya, aku berharap untuk bisa kabur atau mengubur diriku sendiri saja saat itu, agar tidak perlu memberikan jawaban apapun kepadanya, namun tentu aku tidak bisa melakukan semua itu, sehingga aku berusaha memikirkan hal yang lainnya agar bisa membuat alasan yang lebih bagus lagi padanya.
"Eu...EU....anu itu, aku juga sama sekali tidak mengerti kenapa kakiku malah membawa aku kemari tadinya aku mau cari makan kupikir mungkin ada pedagang di sekitar puskesmas bukan? Ehh ternyata tidak ada apapun, ya sudah lah aku mau balik ke pasar aja, permisi dokter." Ucapku segera hendak pergi dari sana
Ku pikir aku sudah bisa terbebas darinya, namun kali ini dugaanku salah besar, bukannya bebas dokter Sendi kembali menarik tanganku dan dia malah mengajak aku untuk pergi makan bersama dengannya, bukan apa-apa aku hanya takut nanti tidak sanggup untuk bayar makan diriku sendiri jika harus pergi makan dengannya.
"Ehh..tunggu, kau mau kemana? Karena kamu terlanjur sudah kemari kenapa harus kembali lagi, ayo kau makan denganku saja, aku juga mau mencari makan." Ucapnya sambil langsung menarik tanganku secara cepat.
Aku sendiri tidak sempat menolak ataupun melepaskan diri darinya, karena dia menarikku terlalu cepat hingga tubuhku langsung terbawa olehnya, aku terus merasa cemas dan tidak tahu harus berbuat apa, hingga sesampainya di warung nasi terdekat, saat dokter Sendi sudah masuk dan dia mempersilahkan aku untuk duduk aku tidak punya pilihan lain lagi selain mengatakan hal sejujurnya kepada dia.
__ADS_1
"Ayo duduk Tiktik." Ucapnya mendorongkan kursi untukku.
"Aahh ..iya terimakasih banyak pak dokter." Balasku kepadanya sudah merasa semakin tidak nyaman.
Saat dokter Sendi hendak memesan makanan aku segera menahan tangannya agar dia tidak memesankan makanan untukku juga saat itu.
"Ehh...tunggu pak dokter!" Ucapku sambil memegangi tangannya yang hendak memanggil pemilik warung nasi itu.
"Ada apa?" Tanya nya kepadaku.
"Begini pak dokter, saya sebaiknya tidak makan disini saja, saya mau pergi kamu jangan menahan saya lagi," ucapku kepadanya mendadak bicara cukup formal.
Wajah dokter Sendi mulai menatap serius dan mungkin dia kebingungan saat itu, karena terus saja menarik sebelah alisnya padaku dan mulai kembali bertanya lebih detail lagi.
"Iya, tapi masalahnya uangku saat ini tidak cukup untuk membayar makan di warung nasi begini, aku juga belum dapat uang hari ini, motorku juga dicuri aku tidak bisa ngojek atau pun menjaga di terminal jika tidak ada motor yang bisa aku gunakan, jadi aku tidak punya uang tambahan seperti sebelumnya, apalagi uang sewa rumahku sudah hampir habis aku harus segera membayar uang sewanya lagi paka Bu Yati bulan depan, jika tidak dia mungkin akan mengusirku dari sana." Balasku yang pada akhirnya harus mengatakan hal yang sebenarnya.
Aku terus tertunduk malu dan merasa sangat tidak enak karena malah memberikan masalah pribadi seperti ini dengan orang lain, terlebih dokter Sendi ini adalah pendatang baru di kampung ini, aku tidak semestinya malah terlalu dekat seperti ini dengannya.
Reaksi yang diberikan dokter Sendi saat aku sudah mengatakan semuanya sangat tidak bisa aku percaya dan tidak dapat ku duga, dia malah tersenyum lebar kepadaku dan malah mau membantu kesulitan yang aku hadapi saat ini.
"Tiktik...apa hanya itu yang membuatmu kesulitan? Aku bisa membantumu menyelesaikan semuanya, aku juga sudah bilang sebaiknya kamu menerima motor yang sebelumnya aku belikan untukmu, bukan tanpa alasan aku memberikan motor itu untukmu, aku tahu kau orang baik kau juga selalu membantu banyak orang dengan motormu sebelumnya, jadi aku pikir sangat di sayangkan jika orang baik sepertimu malah terhambat dengan kendala seperti ini, kamu bisa menyebarkan banyak kebaikan lagi pada semua orang, dengan caramu sendiri, jangan merasa tidak enak hati deganku, aku memang memberikan semua itu ikhlas untukmu." Ucap dokter Sendi kepadaku.
__ADS_1
Tatapannya begitu menyejukkan dan dia terlihat begitu baik sekali, bak seperti malaikat yang bisa menolong aku kapan saja, tidak pernah ku duga bahwa aku akan bertemu dengan sosok pria sebaik ini, namun kebaikannya terlalu banyak untukku, aku malu jika harus terus menerima banyak kebaikan darinya.
Dan aku juga bingung dengan apa aku harus membalas semua yang dia berikan padaku nantinya, untuk makan dan membayar uang sewa rumah saja aku seringkali merasa keberatan dan sulit untukku mencari uang, apalagi harus membalas kebaikan dokter Sendi padaku.
"Dokter aku tahu kamu orang baik, tetapi aku rasa aku tidak bisa menerima semua kebaikan ini darimu, aku takut tidak bisa membalas semua jasa baikmu di masa depan dan itu akan membuat aku merasa tidak tenang." Balasku kepadanya.
"Kamu tidak harus menerima semuanya, ini ambil uang ini, kamu bisa membayarnya padaku jika kamu ada uang, tidak ada bunga dan tidak ada tenggat aku, aku meminjamkannya padamu karena aku percaya padamu, kau tidak mungkin menipuku." Ucap dokter Sendi kepadaku sambil memberikan sejumlah uang yang cukup banyak saat itu.
Aku langsung membelalakkan mataku dengan sangat lebar, melihat uang yang cukup banyak ada di atas meja tepat di samping tanganku saat itu, aku tidak bisa menerimanya, uang itu terlalu banyak untukku jadi aku hanya mengambil beberapa lembar yang memang aku butuhkan.
"Astaga...dokter Sendi ini terlalu banyak aku tidak membutuhkan uang sebanyak itu, aku hanya perlu untuk makanku saja beberapa hari ini, kau tidak perlu memberikan aku pinjaman sebanyak ini, segini sudah cukup untukku, kau ambil lagi sisanya dan terima kasih sudah mau menolongku, aku janji akan segera mengembalikan uangmu." Balasku kepadanya saat itu.
Aku menggeser kan kembali sisa uang yang cukup banyak itu ke dekat tangan dokter Sendi hingga dia pun dapat menerima kembali uangnya dan memasukkan lagi pada tas miliknya.
"Baiklah, kau memang benar-benar berbeda dengan banyak wanita yang aku temui saat ini, tapi Tiktik kamu harus menerima motor itu, jika kamu tidak menerimanya aku tidak tahu harus menyimpan motor itu kemana lagi, tokonya tidak mungkin menerima motor yang sudah aku beli dengan cas, apalagi tanpa alasan yang jelas, mungkin mereka akan mengira aku hanya mempermainkan usahanya saja, jadi aku mohon padamu terima saja motor itu." Ucapnya terlihat cukup serius.
Susah ku telan salivaku sendiri dan pada akhirnya aku pun mengangguk menyetujuinya hingga dokter Sendi langsung tersenyum lebar dan malah dia yang berterimakasih kepadaku, padahal akulah yang di berikan hadiah motor sport yang sudah pasti memiliki harga sangat mahal untuk orang kampung sepertiku.
"Baiklah aku akan menerimanya." Balasku kepadanya saat itu.
"Baguslah, terimakasih banyak Tiktik, nanti setelah makan kamu ikut denganku untuk mengambil motornya." Balas dia kepadaku.
__ADS_1
"Kenapa kau harus sesenang itu dokter Sendi? Kau yang memberikan motor itu padaku, dan seharusnya akulah yang berterima kasih kepadamu, kenapa sekarang malah terbalik seperti ini, aku jadi merasa semakin malu." Gerutuku kepadanya cukup pelan.