Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Dilamar Dokter Sendi


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, sejak kejadian yang sangat besar itu aku telah banyak mendapatkan pelajaran, bahwa tidak semua yang di depan baik, itu akan baik juga di hatinya, Aldi juga sudah berangsur membaik, dia sudah bisa berjalan dan beraktivitas seperti biasanya, dia juga menggantikan aku untuk memimpin pasar, bahkan Omi sudah dibantu pendaftaran kuliahnya dengan umi Salma, hanya dokter Sendi yang masih belum pulih dengan benar, meski dia sudah siuman tetapi tubuhnya masih belum benar-benar sehat, dia masih sangat lemah bahkan masih belum di ijinkan untuk keluar dari rumah sakit dahulu, aku benar-benar merasa sangat bersalah kepadanya, saat tahu dia siuman sejak itu pula aku tidak pernah datang mengunjungi dia lagi, sebab terlalu malu dengan semuanya, aku juga tidak tahu akan bicara apa jika aku bertemu dengannya nanti.


Sehingga aku memilih untuk menyibukkan diri mengurusi semua persyaratan dan urusan Omi untuk mulai kuliah ke kota, hari ini adalah hari keberangkatan Omi, aku membekali banyak makanan dan uang untuknya, dia akan tinggal di kontrakan sadarnya umi Salma yang ada di ibu kota, jaraknya juga dekat dengan kampus tempat Omi menempuh pendidikan barunya, jadi itu tidak akan menyulitkan Omi untuk dia pulang pergi kampus dan kamar kosnya.


Aku pergi mengantarkan Omi ke samping jalan, disana sudah ada umi Salma dan anak buah bang Arif juga Aldi yang rupanya mau ikut mengantarkan Omi juga.


"Kak aku pergi ya, dan teman-teman semua terimakasih sudah mau membantu Omi selama kerja di pasar." Ucap Omi berpamitan kepadaku juga dengan anak-anak yang lainnya.


Aku memeluk dia, sebelum kita benar-benar berpisah dalam jarak yang sangat jauh, aku juga terus memberikan nasihat kepada Omi agar dia bisa menjaga diri disana, agar dia bisa menjadi manusia yang berguna dan sukses di masa depan.


"Omi jaga dirimu baik-baik, jangan terbawa oleh pergaulan bebas di ibu kota, kakak akan menjenguk mu satu bulan sekali, kamu harus rajin belajar ya, tolong jangan kecewakan kami semua yang mendukungmu disini." Ucapku terus mengusap kepala Omi juga bahunya dengan lembut.


"Iya kak, aku akan selalu mengingat nasihatmu, tapi kak, kapan kamu akan menjenguk dokter Sendi, jika kamu menyukainya kamu harus menemui dia bukan?" Ucap Omi mengingatkan aku tentang dokter Sendi.


Aku tidak tahu kenapa Omi tiba-tiba saja membicarakan mengenai orang itu dalam situasi seperti ini, jadi dengan cepat aku mengesampingkan pembicaraan itu secepatnya, agar tidak membahas hal itu lagi.


"Omi sudahlah, jangan membahas itu, ayo masuk dan ingat kabari kakak jika sudah sampai disana." Ucapku kepada dia.


Dan dia hanya membalas ucapanku dengan anggukan yang penuh keyakinan saat itu, hingga pintu mobil di tutup dan aku juga menitipkan dia pada umi Salma.


"Umi aku titip Omi ya, maaf sudah merepotkan kamu, jika dia nakal dan keras kepala beri saja dia pelajaran, jangan sungkan-sungkan." ucapku sedikit berbisik padanya.


"Aku tidak akan nakal kak." balas Omi yang rupanya mendengar bisikanku itu


Umi Salma dan aku tertawa bersama melihat raut wajah Omi yang sangat lucu ketika membalas ucapanku kepada umi Salma sebelumnya. Aku juga tahu dia anak yang baik dan mudah diatur, sebenarnya aku hanya sedikit bercanda dengannya, karena ini terakhir kali aku bisa melihat wajah lucu itu darinya, kedepannya tidak ada yang tahu bukan, apa aku benar-benar bisa menemui dia lagi seperti yang sudah di rencanakan atau tidak sama sekali, jadi aku ingin membuat perpisahan yang manis dengannya.


Mobil mulai melaju dan meninggalkan tempat itu, membawa Omi dan segenap harapanku yang begitu besar padanya, bukan untukku tetapi untuk hidupnya yang lebih baik di masa depan, aku tidak ingin melihat dia gagal sepertiku.

__ADS_1


Hingga saat aku berbalik betapa kagetnya saat melihat sudah ada dokter Sendi berdiri di belakangku dia terlihat berpakaian rapih dengan mengenakan sepatu hitam yang mengkilap, aku melihat ke sekeliling anak-anak yang lain sudah bubar beberapa menit yang lalu, jadi tentu saja aku begitu syok ketika melihat dokter Sendi yang tiba-tiba muncul disana.


"Dokter Sendi? Kenapa kamu bisa ada disini? Bu... Bukannya kamu masih tidak diperbolehkan pulang oleh rumah sakit ya?" Tanyaku dengan wajah penuh keheranan kepadanya.


Dia terus tersenyum cerah kepadaku dan berjalan menghampiri aku dengan perlahan, sampai tiba-tiba saja dia menarik tanganku mengajak aku pergi ke suatu tempat yang aku tidak tahu sama sekali.


"Ayo ikut aku." Ucapnya menarik dengan paksa.


"Eee...eee..eeehh..dokter Sendi, berhenti...hei kamu mau membawa aku kemana, dokter Sendi?" Tanyaku dengan berusaha berontak beberapa kali saat itu.


Dia benar-benar menggenggam tanganku sangat kuat hingga aku tidak sempat melepaskannya dan dia tiba-tiba saja membawa aku ke lapangan di depan puskesmas yang biasa digunakan sebagai parkiran motor dan tempat upacara para petugas disana.


Yang membuat aku kaget sekaligus kagum adalah, lapangan itu kosong melompong, tidak ada satu kendaraan pun yang ada disana, hanya ada taburan bunga mawar merah di tengah lapang yang berbentuk love dengan lilin di sampingnya tepat beberapa saat kemudian hari semakin malam jadi cahaya lilin semakin terlihat cantik, juga ada sebuah balon di tengah-tengah bunga berbentuk love itu, balonnya berwarna putih dan dokter Sendi mengajak aku untuk masuk ke dalam lingkaran tersebut.


"Ayo Tiktik." Ucapnya kepadaku.


Aku terus merasa bingung, tetapi dia terus saja menarik tanganku hingga mau tidak mau aku tetap masuk mengikutinya dan kami berdiri di tengah-tengahnya, tiba-tiba saja dokter Sendi berjongkok di hadapanku tepat saat itu dia langsung membukakan sebuah kota persegi berwarna putih bening yang di dalamnya terdapat sebuah cincin yang indah.


"Maukah kamu menikah denganku?" Tanya dokter Sendi yang melamar aku saat itu.


Mataku langsung terbelalak sangat lebar, aku benar-benar syok dengan menutup mulut yang terbuka dengan kedua tangan secara refleks, aku melihat ke sekeliling lapang tiba-tiba saja orang-orang sudah berdatangan, banyak sekali anak buahku yang dahulu hingga anak buah bang Arif, ada Aldi dan yang lainnya juga disana.


"Terima!....terima!...terima!" Teriak mereka kepadaku dan Aldi adalah orang yang suaranya paling keras saat itu.


Aku benar-benar merasa terharu dan sungguh hampir saja aku gagal untuk menahan air mata supaya tidak jatuh membasahi pipiku saat itu, bahkan untuk menjawab pertanyaan dari dokter Sendi pun aku tidak sanggup berkata-kata lagi, hanya bisa menganggukkan kepala dengan pelan dan langsung saja dokter Sendi tersenyum sambil memasangkan cincin itu di jari manisku.


"Yeah....haha..hore! Tiktik kita sudah tidak jomblo lagi ahaha" sorak Aldi di ikuti dengan riuhnya sorakan dari yang lainnya.

__ADS_1


Dokter Sendi bangkit berdiri dan dia langsung memeluk dengan erat aku pun demikian, menerima pelukan hangat darinya dengan begitu sendu dan penuh rasa bersyukur karena Tuhan sudah mengirimkan manusia luar biasa seperti dirinya untukku.


Rasanya semua ini bagaikan mimpi untuk aku yang hanya seorang preman pasar, namun bisa mendapatkan seorang dokter luar biasa sepertinya untuk menjadi suamiku, aku sangat menyayangi dia begitupun dengan dirinya.


Malam itu benar-benar menjadi malam yang bersejarah dan penuh kebahagiaan untukku, aku tidak akan pernah melupakan malam tersebut, sejak itu aku terus semakin dekat dengan dokter Sendi hingga masa tugasnya di puskesmas kampung Rentenir sudah selesai, dan dia tentu harus pergi ke kota, aku juga terpaksa harus itu dengannya, mengadakan pernikahan kami di ibu kot tempat tinggal dokter Sendi, dan bertemu dengan keluarga dia disana nantinya, meminta restu dari kedua orangtuanya dan memulai hidup baru, meski sebelumnya dokter Sendi sudah memperkenalkan aku lewat panggilan video kepada keluarganya tetapi mereka ingin bertemu denganku secar langsung.


Mereka cukup ramah dan mau menerima aku tanpa memandang status sosial kami yang bagaimana langit dan bumi ini.


Berpisah dengan para sahabat, yang sudah aku anggap seperti saudara memang sangat menyesakkan dada, tapi aku tetap harus pergi memulai hidup baru, dengan pasangan terbaikku dan menemukan lingkungan baru, meski mereka terus menahan aku agar tidak pergi, nyatanya aku memang sudah pergi, mimpiku untuk keluar dari kampung ini bisa terlaksana juga.


"Tiktik.... Kau harus sering-sering berkunjung kemari ya, awas saja jika kau melupakan kami." Ucap Baim kepadaku.


Dia orang yang paling dekat denganku selama ini, mempercayai aku di saat semua orang pergi menjauh, dia yang menolong aku disaat aku di sekap, dia juga yang banyak berkorban untukku selama ini, sangat berat sekali untuk berpisah dengannya.


"Baim sebenarnya aku tidak ingin pisah darimu, kamu sahabat terbaikku, adanya kamu menunjukkan bahwa wanita dan pria benar-benar bisa bersahabat, tanpa adanya rasa cinta satu sama lain, dan kita tetap menjadi sahabat yang luar biasa. Terimakasih banyak Baim." Ucapku langsung memeluknya.


Baim terlihat berkaca-kaca tapi dia terus mendorong tubuhku melarang aku agar tidak memeluknya saat itu, karena ada dokter Sendi yang memberikan tatapan tajam kepadanya sejak awal.


"Aishh... Kenapa kau memelukku, kau jangan cengeng, lepaskan aku, aaahh kau mau aku dibantai dokter Sendi ya, tidak lihat apa calon suamimu itu sudah hampir mengeluarkan bola matanya padaku." Ucap Baim membuat aku langsung menatap ke arah dokter Sendi dan langsung saja tidak bisa menahan tawa lagi ketika melihat ekspresi wajahnya yang sangat lucu bagiku saat itu.


"Fffttt....ayolah, dia sungguh hanya sahabat terbaikku." Ucapku sambil menyenggol lengan dokter Sendi.


"Tenang saja pak dokter, saya mana mungkin suka dengan wanita seperti dia, yang ada mungkin saya akan dijadikan perkedel olehnya aaahh saya tidak mau." Ucap Baim kepadanya sambil mengalengkan tangan pada pundaknya saat itu.


Aku pun pergi dengan melambaikan tangan pada bang Arif, Aldi juga Baim dan anak buahku yang lainnya, begitu pula dengan dokter Sendi, perpisahan yang sangat mengharukan ini akhirnya terjadi juga dan aku merasa lega atas semuanya yang telah tuntas.


"Selamat tinggal kampung Rentenir" ucapku menatap kampung itu semakin jauh dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2