
Setelah mendapatkan bentakkan dan tatapan mata yang tajam menusuk dariku, akhirnya Ubay mau masuk ke dalam rumahnya dengan cepat dan wajahnya terlihat begitu ketakutan kepadaku, dan aku sendiri hanya bisa menahan emosi serta kekesalan dalam menghadapi orang yang sangat menjengkelkan seperti dia itu.
"AA ..AA...aah..iya iya aku masuk sekarang, kenapa kau sangat menakutkan sekali sih." Balas dia kepadaku sambil segera masuk ke dalam rumahnya saat itu juga.
Aku baru bisa menghembuskan nafas dengan kasar setelah dia pergi dari sana, dan dia benar-benar manusia paling menjengkelkan yang aku temui hari ini, sama seperti ibunya yang selalu saja mencari masalah denganku da tidak bisa berdamai walah hanya untuk satu detik saja denganku.
"Huuhh ...membuat semakin emosi saja sih," gerutuku sambil menghembuskan nafas dengan kasar
Sampai tidak lama akhirnya ibu Yati keluar dari rumahnya dengan menatap kami semua dan mengerutkan kedua alisnya dengan kuat, lalu tatapan matanya berhenti padaku dan dia terlihat begitu sinis memberikan tatapannya saat itu, dengan gerak tubuhnya yang sangat menyebalkan untuk di lihat, dia berjalan mendekati aku lalu mulai berbicara padaku saat itu juga.
"Heh...untuk apa kau membawa manusia-manusia miskin ini ke rumahku, dan beraninya kau menginjak lantai rumahku, turun kau!" Bentak dia sambil mendorong bahuku cukup kuat.
Bahkan aku hampir saja terjatuh ke belakang saat itu, namun untungnya Baim berhasil menahan tubuhku sehingga aku tidak sampai terjatuh karena hal itu, aku hanya menginjak sedikit teras rumahnya tetapi dia malah mendorong aku sampai seperti itu, aku rasa semua itu sudah cukup berlebihan dan aku tentu tidak akan diam saja mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Aishh ..Bu Yati bisakah kau menghargai sedikit kepada orang lain, meski aku jauh lebih muda darimu dan lebih miskin dibandingkan kau, tapi kau juga manusia, kita semua sama-sama memakan nasi, kau tidak bisa bersikap semena-mena seperti ini kepadaku ataupun pada teman-temanku!" Bentakku kepadanya dengan keras.
Seperti biasa orang seperti dia memang tidak bisa diajak bicara seperti itu, dia hanya menyepelekan dengan menatap sinis menggunakan ujung matanya dan kedua tangan yang dia lipatkan di depan dadanya.
"CK....jangan banyak bicara, cepat katakan untuk apa kau kemari?" Ucap dia kepadaku.
__ADS_1
"Aku kemari untuk meminta barang-barang temanku dikembalikan, dan kau harus memberikan tambahan waktu untuk mereka membayar hutang!" Ucapku kepadanya dengan tegas.
Dia langsung saja membuka matanya dengan lebar kepadaku lalu langsung tertawa dengan lepas dan berhenti seketika.
"Apa? Tambahan waktu? Ahahaha....konyol sekali kau ini, heh rakyat jelata, memangnya kau ini siapa? Beraninya meminta hal seperti itu padaku, kau juga mantan orang yang menghutang kepadaku, kau tidak bisa mengaturku, semuanya sudah sesuai aturan yang aku berikan pada mereka semua, kalau barang mereka aku ambil itu adalah balasan karena mereka tidak mampu membayarnya, lalu kau menyalahkan aku untuk hal itu haha...jangan konyol kau Tiktik." Balas dia menertawakan aku.
Sudah cukup besar emosi yang ada di dalam diriku saat itu, bahkan kedua tanganku sudah aku kepalkan dengan begitu erat sejak awal, aku berusaha keras untuk menahan emosiku dalam menghadapi manusia menjengkelkan seperti bu Yati ini, tetapi nyatanya orang seperti dia ini, memang tidak bisa diberikan kesabaran oleh siapapun termasuk olehku yang hanya memiliki kesabaran setipis tisyu di belah dua.
"Bu Yati! Aku tahu kau melakukan ini hanya karena mereka adalah anak buahku bukan, katakan saja padaku sekarang juga, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Dan jangan pernah kau membawa-bawa temanku saat kau ada masalah denganku!" Bentakku kepadanya saat itu.
"CK ...itu kau sadar diri, semua ini memang sengaja aku lakukan untuk memberikan peringatan kepadamu, karena kau begitu berani melawanku." Balas ibu Yati yang pada akhirnya sudah aku ketahui semua niat jahatnya sejak awal.
"Aku bisa saja mengembalikan barang-barang mereka dan memberikan luang waktu lagi pada mereka semua, tetapi dengan satu syarat." Ucap dia menatap tajam padaku saat itu.
"Apa syaratnya, cepat katakan saja." Balasku kepadanya dengan gigi yang terus aku kerat kan dengan kuat.
"Mudah saja, mereka semua tidak boleh menjadi anak buahmu lagi dan kau tidak bisa memegangi pasar lagi, bagaimana?" Ucap dia kepadaku.
Aku langsung membelalakkan mataku kepadany, bagaimana bisa dia menyuruh aku untuk tidak memegang pasar lagi sedangkan orang yang memberikan wewenang itu padaku adalah umi Salma, dia sama sekali tidak berhak melakukan semua itu kepadaku, sebab dia tidak ada hubungan apapun dengan pasar.
__ADS_1
"Tidak bisa, jika kau hanya meminta agar mereka tidak menjadi anak buahku lagi aku tidak masalah, karena memang sejak awal kau melakukan semua ini pada mereka, tadi mereka sudah memilih untuk berhenti bekerja dipasar denganku, tetapi untuk aku meninggalkan pasar jangan harap aku akan melakukannya." Balasku kepadanya saat itu.
"Baik... Tapi mereka tidak akan bisa bekerja lagi denganmu, atau pun berteman lagi denganmu, bagaimana?" Balas dia lagi kepadaku saat itu.
Sebenarnya aku sangat berat melepaskan teman-teman yang sudah bersama denganku dalam waktu yang sangat lama, selalu mengurusi pasar bersama dan terus membantuku dalam banyak hal selama ini, tetapi memang tidak ada cara lain lagi, selain dari melepaskan mereka karena memang mereka sendiri yang mau lepas dariku, bukan karena aku benar-benar melepaskan mereka semua dengan sengaja.
"Baik, karena mereka juga memang sudah tidak mau bekerja sama lagi denganku, aku akan membubarkan grup komunitas pasar ini, dan kau harus mengembalikan barang-barang mereka sekarang juga!" Balasku menyetujuinya.
Ibu Yati langsung menyepakatinya dan dia segera saja menyuruh anak buahnya untuk memberikan kembali barang yang sudah mereka ambil dari mereka, semua anak buahku kini terlihat senang, karena mereka bisa mendapatkan kembali hal yang memang seharusnya menjadi milik mereka sejak awal.
Tapi Baim justru malah menolak barangnya ketika anak buah Bu Yati hendak memberikan televisinya kepada dia kembali saat itu.
"Bawa saja televisiku, aku tidak membutuhkan barang mati yang harus ditukarkan dengan sebuah kepercayaan dan persahabatan diantara aku dan Tiktik." Ucap Baim yang membuat aku benar-benar merasa sangat terharu kepadanya.
Aku langsung menatap ke arah Baim dengan membuka mataku cukup lebar saat itu, aku tidak menduga dia akan berpihak kepadaku disaat Aldi saja malah memihak teman-teman yang lain dan memilih untuk berpisah denganku, meninggalkan aku hanya demi barang mati miliknya.
"Baim, apa kamu yakin, bukankah tv ini peninggalan dari kakekmu?" Ucapku bertanya lagi kepada dia untuk memastikannya.
Karena aku tidak ingin dia menyesali apa yang sudah dia putuskan saat ini, terlebih lagi ini berurusan dengan namaku, aku tidak ingin membawa-bawa orang lain dalam urusan pribadiku dengan ibu Yati yang sudah seperti musuh bebuyutan sejak aku kecil hingga sebesar sekarang.
__ADS_1
Sejak dulu aku sangat membencinya karena bu Yati selalu menangih hutang dengan kasar dan secara paksa kepada kedua orangtuaku, dan sekarang aku makin membencinya karena dia juga melakukan hal yang sama pada semua orang di kampung ini, bahkan nama kampung ini saja berubah karena kelakuan dia, benar-benar terasa sangat miris sekali.
Tapi Baim rupanya tetap yakin dengan keputusan awal yang dia katakan, bahwa dia tetap akan menjadi teman sekaligus gruf pemegang pasar bersamaku, dia bahkan merelakan televisi yang sangat dia jaga sejak lama itu, hanya demi memilih aku yang bahkan kami hanya seorang sahabat biasa saja.