
Aku tahu saat itu Ubay pasti tidak akan tega melihat aku harus bertarung seorang diri melawan kedua anak buah ibunya yang sangat kuat dan pandai dalam bertarung, terlebih tubuhku sungguh tidak sepadan dengan dua orang tersebut yang berbadan kekar dan sangat kuat itu, namun disisi lain aku memahami kondisinya yang memang tengah di himpit kesulitan, dimana ibunya yang terus memaksa dia masuk ke dalam mobil dengan cepat, terus saja mendorong Ubay hingga dia sama sekali tidak bisa berkutik apalagi melawan pada ibunya tersebut.
Aku paham kondisi dan keadaan dia jadi aku juga tidak akan berharap banyak untuk dia bisa membantu aku menghentikan kedua orang pria menyebalkan ini, aku hanya bisa berusaha fokus dan melawan mereka dengan segenap kekuatan yang aku miliki sendiri, entah apa yang harus aku lakukan untuk membantu Ubay, yang dimana dia pasti tidak akan diijinkan keluar dengan bebas lagi oleh Bu Yati.
Setiap kali masalah antara aku dan Ubay terjadi sudah pasti Bu Yati akan memberikan hukuman kepada Ubay, entah itu hukuman yang berat ataupun yang ringan namun seringan-ringannya hukuman dari Bu Yati aku tahu Ubay mungkin akan di tahan di rumahnya tidak diizinkan keluar rumah, dan ditahan hingga berhari-hari di dalam kamarnya.
Ku lihat mobil yang ditumpangi Ubay perlahan pergi, karena aku terus menatap mobil itu dan Ubay yang terlihat terus berontak untuk keluar dari sana, aku pun tidak fokus dalam melawan kedua bodyguard ibu Yati sehingga wajahku terkena sebuah p*kulan yang kencang hingga membuat ujung bibirku lebam dan sedikit berdarah.
"Aaahh....kalian, beraninya melawanku disaat aku lengah, rasakan ini." Ucapku kepadanya dan langsung membalas lebih banyak tinjuan kepada kedua orang itu sekaligus.
Hingga berhasil melumpuhkan keduanya dengan cepat, satu terkapar menghantam tembok posko kumpul aku dan anak-anak yang lain sedangkan yang satunya lagi tersungkur di tanah dengan memegangi perutnya yang sudah aku tendang dengan sangat kuat.
Aku sudah cukup puas untuk melawannya dan membalas dendam atas satu tinjuan yang sudah mereka berikan padaku, hingga membuat aku merasakan sakit di ujung bibirku, juga perutku yang sempat terkenan tendangan dari mereka.
Awalnya memang tidak terasa sakit sama sekali, namun ketika sudah beristirahat beberapa menit, baru aku bisa merasakan badanku sakit semua dan ujung bibirku terasa sakit saat itu.
"Ssstt...aaahh..kenapa baru terasa sekarang, aku harus mencari es untuk kompres wajahku." Gerutuku sambil segera bergegas.
Aku sudah mencarinya di warung terdekat yang ada di pasar, tapi sayangnya kebanyakan dari mereka sama sekali tidak menyediakan es batu, sehingga aku terpaksa harus pergi ke warung pinggir jalan raya dimana semua yang di inginkan tersedia lengkap disana.
Aku pergi sambil terus menahan rasa sakit di ujung bibirku, entah nanti akan bisa makan dengan lahap atau tidak, sekarang saja untuk membuka mulut rasanya sangat sulit dan begitu ngilu, sesampainya disana dan sudah membeli es batunya, aku malah bertemu dengan dokter Sendi yang terlihat hendak pergi ke warung dimana aku berada saat itu.
Aku kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba saja sudah dekat, dan aku tidak bisa kabur ataupun sembunyi darinya, sebab sejak awal aku menoleh dan menatapnya mata kami sudah bertemu, dia juga tersenyum kepadaku, hanya saja dengan cepat aku segera menutupi sebagian wajahku dengan rambut, untuk menyembunyikan lebam di ujung bibirku sat itu.
"Astaga...gawat, jangan sampai dokter Sendi melihat wajahku dalam keadaan buruk seperti ini, aku bisa malu nantinya." Gerutuku sambil segera saja menutupi sebagian wajah dengan rambut yang berantakan.
Hingga dokter Sendi sudah ada dihadapanku dan dia mulai menatap aneh dengan menaikkan kedua alisnya kepadaku, kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jas berwarna putih khas seperti seorang dokter juga stetoskop yang melingkar di lehernya, dia benar-benar sangat tampan ketika memakai setelan dokter seperti itu, apalagi tataan rambutnya yang begitu rapih dan selalu terlihat bersih, dia selalu saja membuat aku terkagum dengan penampilannya.
"Tiktik, sedang apa disini?" Tanya dokter Sendi menyapaku saat itu.
Langsung saja aku tersadar dan menggeleng cepat kepalaku untuk menyadarkan diriku dalam lamunan yang aku pikirkan tentang dokter Sendi sebelumnya.
__ADS_1
"Astaga ..aaahh..apa yang baru saja aku pikirkan, jangan membayangkan apapun, otak ini sudah diluar batas." Gerutuku dalam hati.
"Aa ..AA..aahh...itu aku, tadi beli es batu untuk anak-anak." Ucapku berbohong kepadanya.
Sambil terus berjalan menggeser pelan untuk segera menjauh darinya dan bisa melarikan diri secepatnya, supaya dokter Sendi tidak mengetahui lebam di ujung bibirku yang cukup besar.
"Kalau begitu aku permisi pak dokter." Ucapku kepadanya.
Tanpa di duga dokter Sendi yang sedari tadi memberikan tatapan menyelidik dia justru malah menarik rambutku begitu saja dan melihat lebam di ujung bibirku dengan sangat jelas karena rambutku diangkat olehnya.
"Kau ...apa kau menyembunyikan ini dariku sedari tadi, dan es batu itu pasti bukan untuk teman-temanmu bukan?" Balas dokter Sendi menatap tajam.
Aku hanya bisa tersenyum menampakkan setengah gigiku padanya dan sama sekali tidak bisa mengelak karena semuanya sudah terbukti di depan mata dokter Sendi sendiri.
"Ahaha...iya, kenapa kau bisa tahu, tapi tidak semuanya untuk mengompres kok." Balasku masih berusaha untuk meluruskan.
"Kemarilah aku bantu kamu obati, mungpung aku masih senggang sekarang." Balas dia menarik tanganku dan membuat aku tidak bisa menolak bantuan darinya.
"Apa sakit?" Tanya dia kepadaku.
"Tidak, sama sekali tidak sakit, aku sudah terbiasa mendapatkan lebam seperti ini, bahkan aku pernah mendapatkan yang lebih buruk dari ini saat aku kecil, jadi aku tidak manja, rasa sakit sedikit tidak akan mempan untukku." Balasku dengan santai kepadatan.
Dokter Sendi malah menekan lebam itu dan membuat aku meringis kesakitan juga cukup kaget mengetahui apa yang dia lakukan padaku secara tiba-tiba seperti itu.
Tentu aku langsung meringis kesakitan di buatnya.
"Aaawww, dokter kenapa kau melakukan itu?" Ucapku tidak sadar dan langsung saja membentaknya dengan cepat.
"Kenapa? Bukannya kau bilang bahwa kau sudah terbiasa dengan rasa sakit, tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa rasa sakit sedikit tidak akan bisa membuat mu merasakannya. Kenapa sekarang kau kesakitan dan marah denganku?" Balas dokter Sendi malah menyinggungku.
Aku pun hanya bisa menghembuskan nafas dengan pasrah karena apa yang dia katakan memang benar, terlebih cara dia mengatakannya sangat mirip seperti ketika aku bicara dengan dia sebelumnya, padahal aku berkata begitu hanya karena tidak ingin terlihat lemah di hadapannya, aku tidak mau merepotkan dia, dan aku tidak nyaman jika dia terlalu baik seperti ini kepadaku.
__ADS_1
Aku tahu dia seorang dokter yang baik dan orang yang sangat perduli dengan semua hal yang ada di sekitarnya, selalu membantu semua orang tanpa pamrih, tapi aku takut jika dia terus seperti ini padaku, nanti aku akan jatuh hati dengannya, dan aku sadar diri, wanita seperti aku yang hanya seorang preman pasar, tidak punya pekerjaan tetap juga tidak cantik dan tida berpendidikan tinggi, tidak akan pantas disandingkan dengan seorang dokter cerdas juga kaya sepertinya.
Aku tidak ingin memiliki harapan lebih terhadapnya, jadi aku menjaga sejak sekarang agar diriku tidak menyukai dia, dan berhenti untuk terus mengaguminya.
"Aaa..aahh..aku kan hanya mengatakannya rasa sakit sedikit, bukan rasa sakit yang disengaja seperti tadi." Balasku masih saja beralasan kepadanya.
Dokter Sendi hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu dia terus melanjutkan mengobati lebam itu hingga selesai.
"Hei Tiktik. Kamu tidak perlu berpura-pura kuat di hadapanku. Karena kau tetaplah seorang wanita, dan aku tahu hidupmu berat." Ujar dokter Sendi berdiri di hadapanku.
Lalu dia mengusap pucuk kepalaku dengan lembut begitu saja, kemudian pergi dengan cepat tanpa aku tahu harus bersikap bagaimana kepadanya. Hanya bisa terdiam dengan menatap punggungnya yang semakin menjauh dariku, tidak tahu harus berkata apa hanya bisa merasakan degup jantungku yang terus sadar semakin meras dan sulit di kendalikan, aku memegangi dadaku pelan dan berusaha mengatur nafasku berkali-kali saat itu, tapi sampai dokter Sendi pergi dari sana dan sudah tidak bisa aku lihat lagi, jantungku tetap saja berdebat dan wangi khas dari tubuhnya masih bisa tercium olehku, membuat hatiku semakin meleleh dibuatnya.
"Astaga...astaga..aku tidak boleh seperti ini, aaaahh...Tiktik ayolah kau harus sadar, aku tidak boleh membayangkan apapun atau terpesona kepadanya." Gerutuku terus menepuk kencang kedua pipiku sendiri.
Sampai aku lupa kalau sebelah pipiku masih agak sakit dan lebamnya cukup besar di ujung bibirku yang tidak sengaja terkena tepukan oleh tanganku sendiri.
"Adududuh.....ahhh sial, aku lupa kalau masih lebam, astaga...kenapa aku jadi seperti ini, apa aku sudah gila karena dokter itu ya?" Tambahku segera bangkit dan pergi dari sana secepatnya.
Aku kembali ke posko dan otakku masih saja memikirkan mengenai dokter Sendi, melamun sendiri memikirkan bagaimana perasaanku kepadanya.
"Apa jangan-jangan aku menyukainya ya? Tapi tidak mungkin, lagi pula jika aku sungguh menyukainya, ini tida akan berakhir baik bukan?" Tambahku terus bicara dengan diri sendiri tanpa henti.
Aku sangat kebingungan dan dilema sekali saat itu, sampai tidak lama dari belakang datang Baim yang mengagetkan aku sampai dia hampir terkena tinju dariku yang refleks akan aku lakukan ketika ada orang yang muncul memegangi pundakku secara tiba-tiba dari belakang, sama seperti yang Baim lakukan saat ini.
"Hia...aaahh ini aku, Baim, hei ..jangan p*kul!" Teriaknya menahan tanganku.
Untunglah aku masih sempat menahan tanganku sendiri, jika tidak, mungkin meski Baim menahan tanganku dengan kedua tangannya, tinjuan itu tetap akan mengenai wajahnya dengan kuat, dia beruntung kali ini.
"Aishh..kau? Untuk apa mengagetkan aku begitu, hampir saja kau akan terkena tinjuku kan." Ucapku kepadanya sedikit kesal.
"Habisnya kau sih, sedari tadi aku perhatikan terus saja melamun, apa yang kau pikirkan sih, kau kan sudah tidak ada hutang dengan bu Yati Tiktik, aku saja yang masih punya hutang tidak sepertimu, melamun di segala tempat begitu." Balas dia kepadaku.
__ADS_1
"Aaahh.. sudahlah, diceritakan pun kau tidak akan mengerti. Kembali bekerja, aku akan mengontrol wilayah bang Arif dulu." Balasku kepadanya sambil segera pergi.