Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Transfusi Darah


__ADS_3

Di rumah sakit aku terus harus menunggu proses pemeriksaan dokter Sendi dan Aldi yang keduanya sama-sama mendapatkan luka yang cukup parah, terutama dengan dokter Sendi, aku sungguh merasa begitu cemas dan tidak bisa diam selama menunggu mereka, di masukkan ke dalam ruangan gawat darurat yang sama dan aku terus berjalan mondar mandir di depan ruangan tersebut dengan tangan gemetar dan hati yang terus saja tidak menentu.


"Tiktik... Sudah ayo duduk dulu dan tenangkan dirimu, kamu tidak bisa terus seperti ini." Ucap umi Salma kepadaku sambil memegangi kedua pundakku dari samping saat itu.


"Umi, bagaimana aku bisa merasa tenang, sedangkan kita semua tahu mereka sedang berjuang di dalam sana, aku bahkan belum sempat mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepada dokter Sendi, aku tidak ingin menyesali semua ini." Ucapku dengan lesu dan terus saja merasa sakit di bagian hatiku.


Sebelumnya dokter Sendi sudah mengutarakan perasaan dia kepadaku dan aku sama sekali belum sempat menjawab pernyataan cintanya tersebut, bahkan aku hanya mengira itu sebuah candaan semata saja, padahal nyatanya aku sudah merasakan hal yang berbeda disaat aku berada di sampingnya, sekarang ketika dokter Sendi sudah dalam keadaan seperti ini, barulah aku menyadari perasaan cinta itu.


Aku paham dengan diriku dan apa yang sebenarnya aku rasakan tentang dia, nyatanya aku mencintai dia dan tidak ingin kehilangan sosok seperti dirinya.


"Kak... Sudah, jika kakak begini, itu juga tidak akan merubah apapun, sebaiknya kita tenangkan diri dan terus berdoa agar dokter Sendi dan kak Aldi baik-baik saja." Ucap Omi kepadaku.


Aku tidak tahu apakah aku bisa merasa tenang seperti yang Omi harapkan atau tidak, sehingga aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan segera duduk di tempat tersebut.

__ADS_1


Sampai beberapa menit berlalu dokter akhirnya keluar dari ruangan tersebut, dan aku tidak bisa menahan diri, segera aku menghampirinya dan menanyakan langsung mengenai keadaan dokter Sendi dan Aldi di dalam sana.


"Dokter bagaimana keadaan mereka, apa mereka baik-baik saja?" Tanyaku dengan wajah yang penuh dengan kecemasan saat itu.


Dokter terlihat pucat dan dia lama tidak menjawab ucapanku, hingga aku terus mendesak dia dengan cepat, terus saja aku memegangi tangannya dan mengguncang dia dengan kuat, agar dia bisa mengatakan semuanya dengan segera, karena aku sudah tidak tahan lagi untuk mendengar penjelasan darinya mengenai dokter Sendi dan Aldi.


"Dokter ayo jawab! Kenapa kau diam saja?" Bentakku sangat kencang.


Umi Salma langsung memegangi tanganku dan dia terus saja menahan sekaligus menenangkan aku saat itu hingga dokter mau segera angkat bicara.


Aku tau yang dokter maksud pasti dokter Sendi sebab Aldi hanya luka luar biasa dan mengalami patah tulang kecil di bagian tangannya.


Aku sangat kaget mendengar hal tersebut, dan langsung saja aku menawarkan diri untuk mendonorkan darahku kepadanya.

__ADS_1


Meski Omi melarang aku untuk melakukan itu dan menyuruh agar dia saja yang melakukannya tapi aku tidak mau, aku tahu Omi akan kuliah dan dia memerlukan badan yang sehat saat nanti jauh dariku, jadi meski dia melarang aku untuk mendonorkan darahku aku tidak mendengar ucapannya dan langsung pergi bersama dokter untuk mengambil darah tersebut dari tubuhku.


Hingga proses transfusi darah selesai dan aku berbaring tepat di samping dokter Sendi yang saat itu masih tidak sadarkan diri, melihat wajahnya yang begitu pucat pasi aku bisa tahu bahwa dia benar-benar kehilangan banyak darah sebab tusukan tersebut, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga dia harus menerima tusukan seperti itu dari Ubay.


"Dokter Sendi, aku mohon bangunlah, bukankah kau mau mendengar jawaban dariku, aku akan menjawab pertanyaan darimu saat itu jika kau bangun sekarang, aku mohon." Ucapku sambil menoleh ke arah dokter Sendi dan terus menatapnya dengan lekat.


Darah mengalir dari tubuhku masuk ke dalam sebuah selang infus hingga terkumpul dalam sebuah kantung darah yang menggantung diatas kepalaku, sampai darah itu kembali di salurkan melalui selang yang sama menuju dokter Sendi yang ada di sampingku, aku mulai meneteskan air mata, bukan karena sakit sebab di ambil darah, tetapi sakit karena melihat orang yang aku cintai berbaring lemah seperti itu karena menolongku.


Sampai beberapa menit berlalu, semuanya sudah selesai, aku di minta untuk mengistirahatkan diri terlebih dahulu, sebelum keluar dari sana, aku terus berbaring dan salah seorang suster membantu aku melepaskan infus di tanganku, aku merasa sedikit lemas setelah darah di ambil dari tubuhku, dan tidak lama Omi juga umi Salma datang ke dalam ruangan, mereka membawa makanan yang begitu banyak, semua makanan itu bisa menormalkan tekanan darah dengan cepat sehingga mereka terus menyuruh aku untuk segera memakannya saat itu juga.


Karena menghargai usaha mereka, aku mengambil semua makanan itu dan berusaha untuk memakannya walau tidak benar-benar habis semua, dan sisanya aku berikan kepada anak-anak yang lain, sebab aku juga tahu mereka belum makan sejak bertarung dengan Ubay dan semua anak buahnya itu.


Aku menyuruh Omi untuk membubarkan semua anak buah dan menyuruh mereka yang sudah diobati lukanya untuk segera beristirahat kembali ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Termasuk dengan bang Arif yang sudah berperan besar dalam menyelamatkan aku sebelumnya, aku sangat berterimakasih kepada beliau dan dia segera berpamitan pergi setelah memastikan keadaanku dahulu.


Umi Salma juga harus pergi dia masih memiliki banyak urusan lain sebab dia seorang pejabat, aku mengerti kesibukan dirinya dan membiarkan dia untuk pergi, semua biaya rumah sakit sudah di bayarkan lunas oleh umi Salma, dan aku sangat berterima atas bantuannya yang begitu besar.


__ADS_2