Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Baim Yang Mengganggu


__ADS_3

Aku pun mulai menghela nafas sambil menatapnya dengan heran saat itu, aku terus merasa kesal tapi sama sekali tidak bisa melakukan apapun, aku tidak bisa menghindar darinya dan sama sekali tidak bisa berbohong dengan Baim, karena aku sudah tahu bahwa dia akan terus-menerus mendesak aku dan mempertanyakan semua hal sampai aku memberitahunya, jika tidak mungkin dia akan mati penasaran dan meski sudah jadi hantu sekalipun akan terus menakut-nakuti diriku, itu sangat menyebalkan bahkan untuk sekedar menjadi bayangan saja.


"Baim taukah kamu, kalau kau itu sangat menyebalkan untukku." Ucapku dengan tatapan tajam kepadanya dan penuh kekesalan saat itu.


Bukannya berpikir dengan apa yang baru aku katakan dia justru malah cengengesan tidak jelas dan tetap saja menarik tanganku, memaksa aku agar bisa bercerita dan mengatakan semuanya segera kepada dia, aku ingin sekali menghajarnya tapi mungkin semua itu harus aku tahan, aku harus lebih bersabar untuk menghadapi manusia menjengkelkan sepertinya ini.


"Ahaha.... Iya aku tahu kau tidak senang setiap kali aku mendesakku, tapi Tiktik, aku sangat penasaran, kau sendiri kan tahu aku tidak akan bisa merasa tenang sampai kau memberitahu aku apa yang mengganggu pikiranmu, lagi pula nih ya, aku kan sahabatmu satu satunya yang paling bisa di percaya, jadi seharusnya kau tidak perlu cemas dengan masalah kerahasiaan dirimu bukan?" Ucapnya kepadaku sambil tersenyum lebar.


"Huuhh, terserah kau saja lah, aku tidak perduli, tapi ingat jika aku memberitahumu kau jangan memotong ucapanku!" Ucapku memperingatinya dengan tegas.


Dia pun langsung mengangguk dengan cepat, wajahnya terlihat begitu bersungguh-sungguh untuk mendengarkan aku.


Aku menarik nafas dengan dalam dan segera membuangnya perlahan, segera saja aku menatapnya sambil sesekali menoleh ke kana dan kiri untuk memastikan suasananya tepat, hingga setelah sudah aku pastikan tidak ada siapapun disana, aku mulai menceritakan semua hal yang aku pikirkan sedari tadi.


"Jadi aku ingin pergi mendaftarkan Omi dan menguliahkan dia di kota, dia ingin jadi dokter aku juga punya mimpi yang sama dengannya, aku pernah gagal jadi aku rasa dia tidak boleh gagal sepertiku, makanya aku mencari informasi universitas kedokteran yang bagus untuknya." Ucapku menceritakan semuanya hingga membuat Baim terus mengangguk pelan, meski aku tidak tahu apakah dia mengangguk mengerti atau hanya mengangguk tanpa arti yang jelas.


"Ooh, begitu ya." Balas dia kepadaku.


"Iya, apa kau mengerti sekarang?" Tanyaku mengecek dirinya.


"Tidak, aku kan tidak kuliah aku tidak ada niatan untuk kuliah aku benci pelajaran, aku juga tidak mau bekerja banting tulang sepertimu, terlebih aku tidak suka tinggal di kota, lebih senang disini saja dengan anak-anak yang lain dan mengerjakan pekerjaan di pasar seperti biasanya." Ucap dia kepadaku.


Sudah aku duga dia memang tidak akan mengerti meski aku membicarakan semuanya, aku hanya bisa menepuk jidatku pelan karena sangat menyesal sudah mau menanggapi orang konyol seperti Baim ini.

__ADS_1


"Aishh...kalau kau tidak akan mengerti kenapa kau terus mengangguk seakan kau paham hah?" Bentakku cukup keras kepadanya.


"Memangnya semua anggukan itu memiliki arti yang sama? Tidak bukan? Itu terserah aku mau menggelengkan kepala kek, mengangguk kek atau jungkir balik sekalipun." Balas dia sambil tertawa lebar dan langsung kabur dari sana.


Aku mengambil sandal yang aku kenakan dan langsung melemparkannya ke arah Baim sambil berteriak menggerutu keras saat itu.


"Aishh...dasar kau manusia sialan, Baim rasakan ini..eeughh" teriakku sangat kencang sambil melemparkan sandalku itu.


Sayangnya Baik pandai mengelus sehingga sandalku tidak berhasil mengenainya, dan aku yang harus mengambil kembali sandalku tersebut, berjalan pincang karena tidak memakai alas kaki, hingga setengah mendapatkan kembali sandalku, aku masih belum terima pada Baim yang sangat menjengkelkan itu.


"Aaahh..kemana dia lari, dasar Baim! Awas saja kau aku tidak akan memberikan kesempatan apapun untukmu, aku akan menghajarnya nanti!" Gerutuku sambil terus mendengus kesal tanpa henti.


Emosi dalam diriku terus saja menggebu dengan kesal tiada henti, hanya bisa marah tidak jelas dan sama sekali tidak bisa melampiaskannya kepada siapapun sebab tidak ada orang yang bisa aku marahi saat itu, anak-anak yang lain baru sampai di pasar dan mereka sudah langsung menyebar di tempatnya berjaga seperti biasa, aku juga kembali ke posko mencatat semua orang yang hadir dan bekerja hari ini, sambil mengontrol beberapa kios yang sudah meninggal sebelumnya.


Hingga lagi dan lagi aku harus berpapasan dengan Bu Yati yang tengah berbelanja di pasar, rasanya sangat menyebalkan sekali jika harus berpapasan dengan orang sepertinya, dari kejauhan aku sudah melihat dia yang membawa banyak sekali belanjaan di tangannya, namun tidak ada satupun anak buahku atau anak buah bang Arif yang mau membantunya, hingga dia terus menggerutu kesal sebab kesulitan membawa semua barang belanjaannya itu.


"Aaaarrkkkkk...apa kerjanya kalian ini, kenapa diam saja, apa tidak ada satu pun orang yang mau membantuku, aku bisa membayar kalian lebih banyak dari yang diberikan si umi Salma itu!" Teriak Bu Yati sangat kencang dan menunjuk beberapa anak buahku di depan sana.


Mereka langsung bubar dan sama sekali tidak memperdulikan ocehan dari Bu Yati, aku mengerti mengapa mereka semua menjadi seperti itu, sebab semua orang pasti akan benci kepada manusia yang kejam dan selalu menyulitkan manusia lainnya seperti ibu Yati ini, pasalnya sudah berapa rumah yang dia rampas dengan paksa, juga sudah berapa banyak nyawa melayang karena bunuh diri akibat tidak bisa membayar hutang padanya, ada berapa banyak kekacauan yang dia perbuat di desa ini, namun tidak ada siapapun yang berani melawannya ataupun menegur dia, sehingga dia terus saja menjadi semena-mena, tidak tahu diri dan terus saja merasa paling hebat diantara manusia lainnya yang ada disana.


Aku segera menghampiri dia dan segera membantunya membawakan beberapa kantung belanjaan tanpa banyak basa basi lagi.


"Sudah Bu Yati sini biar aku yang bawakan saja." Ucapku membantunya dan segera berjalan lebih dulu keluar dari area pasar dan menyimpangkan semua belanjaan miliknya di samping mobil hitam yang terparkir disana, aku tahu itu mobil bu Yati makanya aku menaruh semua barang belanjaannya disana.

__ADS_1


Sedangkan suara Bu Yati yang berteriak memanggil aku masih bisa aku dengar saat itu.


"Hei...hei ..seenaknya saja kau mengambil barang belanjaan ku, apa kau mau mencurinya ya?" Bentak dia yang malah berperasangka buruk terhadapku.


Aku ingin marah, aku ingin menghajarnya, aku ingin menjadikan dia bubur saat itu, tapi aku masih memiliki sedikit kewarasan di dalam diriku sehingga tahu bahwa aku masih harus bersabar dan tidak boleh mudah tersulut emosi dengan sangkaan yang dia katakan padaku tanpa bukti dan tidak mendasar seperti itu.


"Bu Yati apa kau tidak lihat aku menaruh semua barang belanjaan mu di samping mobil, aku hanya membantumu, aku kan sudah katakan itu sebelumnya padaku, jadi jangan memfitnah aku lagi." Balasku kepadanya dengan tegas.


"Ya siapa tahu saja... Aku tida tahu jika kau mau membantuku, kau pergi mengambilnya begitu saja dan meninggalkan aku sendiri, bukankah itu tidak sopan? Wajar saja aku menduga kau pencuri, lagi pula penampilanmu itu sangat mirip dengan para brandal seperti itu." Balasnya yang masih saja tidak mau kalah.


"Bu Yati aku memang miskin, pakaianku memang jelek dan seperti brandal, tapi hatiku tidak busuk, dan aku bukan pencuri. Terimakasih sudah berbelanja disini, semoga kepalamu berubah menjadi lebih cerah." Ucapku sambil pergi dengan cepat.


Aku sudah mengepalkan kedua tanganku dengan kuat dan berusaha menahan emosi yang terus meledak-ledak di dalam diriku saat itu.


Tapi sayangnya disaat aku hendak pergi dia masih saja menahanku, memanggil namaku dengan keras hingga kembali menghampiri aku, berdiri di hadapanku lalu tiba-tiba saja memberikan aku uang tip yang sangat banyak.


"Hei. Tunggu." Ucapnya menahanku saat itu.


"Aishh...ada apa lagi sih nenek sihir menjengkelkan ini, aaahh aku tidak tahan lagi!" Batinku yang sudah terbakar sejak tadi.


Mau bagaimana lagi, aku tetap tidak bisa pergi begitu saja, sebab dia terus saja berdiri di hadapanku saat itu, menatap dengan wajah yang menyebalkan dan rasanya ingin sekali aku meninju wajahnya itu hingga menyebabkan wajahnya penyok atau berdarah, sangat menjengkelkan sekali rasanya.


"Ini... Uang tip nya." Ucap dia sambil memberikan sejumlah uang ke tanganku.

__ADS_1


Aku menatap dengan wajah yang penuh keheranan dan kedua alis yang aku naikkan dengan tinggi, aku terperangah cukup lama sampai dia pergi melewati aku dan masuk ke dalam mobilnya, bahkan disaat Bu Yati dan mobilnya sudah tidak terlihat, aku masih saja berdiri mematung disana dengan sejumlah uang yang dia berikan sebagai tip kepadaku sebelumnya.


Ini adalah pertama kalinya seorang Bu Yati mau memberikan uang tip kepadaku, sebelumnya meski dibantu oleh siapapun dia tidak akan pernah memberikan uang tip yang imbang, atau bahkan dia hanya memberikan uang tip menggunakan permen saja, tapi kali ini dia justru memberikan aku uang dengan jumlah yang cukup banyak, tentu saja aku merasa sangat kaget menerimanya.


__ADS_2