Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Kesiangan


__ADS_3

Walau aku sudah menolak pemberian dia dokter Sendi berkali-kali tapi dia tetap saja memaksakan uang itu sampai terus menarik tanganku dan menaruhnya pada lenganku dengan paksa saat itu.


"Sudah kamu ambil saja, aku juga ikhlas memberikan ini padamu, anggap saja itu bentuk terimakasih aku kepadamu karena kamu sudah mau membantu aku selama aku tinggal di desa ini." Ucap dia kepadaku saat itu.


"Ehh...tapi dokter Sendi apa kamu beneran tidak apa-apa memberikan ongkosnya sebesar ini, aku jadi merasa tidak enak denganmu kalau begini." Ucapku kepadanya saat itu.


"Tidak masalah dan tidak ada pula yang harus kamu khawatirkan, aku yang memaksa untuk tetap memberikan uang itu padamu dan kamu tidak bisa menolaknya, jadi jangan mencemaskan apapun lagi, kau bisa pulang dan beristirahat sekarang." Balas dia yang malah menyuruhku pergi untuk istirahat saat itu.


Karena dia yang sudah bicara seperti itu, aku rasa akan tidak sopan dan sangat canggung jika aku kembali memberikan uang darinya lagi, jadi aku pun membawa uang itu dan segera pergi ke rumah sakit kembali karena sudah janji untuk membantu tukang ojek sebelumnya yang motornya mogok saat itu.


"Aahh...kalau begitu terimakasih banyak dokter Sendi semoga rejeki mu tuhan mudahkan ya," ucapku kepadanya dan segera pergi dari sana dengan cepat.


Saat aku sampai di depan rumah sakit nampak tukang ojek tadi masih ada disana dan kesulitan mendorong motornya itu, aku segera menghampiri dia dan menyuruh dia untuk segera menaiki motornya dan aku sudah siap untuk mendorong motornya dengan sebelah kakiku sambil berjalan pelan saat itu.


"Bang ayo saya bantu, cepat naik nanti keburu tutup bengkelnya." Ucapku kepadanya saat itu.


"Eh..neng Tiktik, kamu beneran mau bantu?" Tanya dia kepadaku.


"Ya iya lah bang, kalau saya gak niat mau bantu Abang, buat apa saya balik lagi kemari, mending saya ke rumah dan tidur, sudah cepat naik bang." Ucapku kepadanya saat itu.


Dia pun mengangguk patuh dan segera menaiki motornya sedangkan dari samping aku mulai menekankan sebelah kakiku pada kenalpot motonya dan terus mendorong motor itu hingga sampai di bengkel yang ada di pinggiran jalan raya dan untungnya bengkel disana masih buka sehingga tukang ojek itu bisa memasukkan motornya saat itu juga untuk segera di perbaiki, dan bisa segera dia gunakan lagi motornya untuk bekerja esok pagi.

__ADS_1


"Aahh....makasih ya neng, kamu baik sekali mau bantu Abang, kalau gitu ini buatmu jajan," ucap Abang ojek itu yang malah mau memberikan uang kepadaku.


Aku menolaknya dengan cepat, karena aku tahu dia juga pasti akan mengeluarkan uang untuk perbaikan motornya sedangkan hasil dari tarikan ojeknya mungkin tidak akan seberapa, jadi aku merasa kasihan dengannya juga tidak enak untuk menerima uang yang dia berikan padaku saat itu.


"Aduh bang, kau ini seperti dengan siapa saja, aku kan juga sering narik di tempatmu, sudahlah lagian aku sudah dapet dari dokter tadi, lumayan buat mengganti bensinku, kau tidak perlu memberikan uang lagi padaku, mending pakai saja uangnya untuk beberapa motornya, biar besok bisa ngojek lagi." Ucapku kepadanya saat itu.


"Beneran gak mau nih neng?" Tanya Abang itu padaku lagi.


"Ambil aja bang, saya mau pulang dulu." Ucapku kepadanya sambil segera pergi dari sana dengan cepat.


Aku kembali ke rumah sekitar jam dua malam saat itu, karena benar-benar keluyuran sangat lama hari ini, rasanya memang sangat melelahkan tapi aku senang bisa membantu banyak orang dan melakukan kebaikan kepada setiap orang yang membutuhkan bantuanku.


Ditambah aku sudah memiliki anak buah lagi yang bisa membantu menjaga keamanan pasar, setidaknya dengan aku memiliki anak buah dan rekan kerja yang baik seperti bang Arif dan kawan-kawannya, aku sudah tidak perlu mencemaskan mengenai ibu Yati lagi, karena anak buah dari bang Arif semuanya dari desa sebelah dan mereka tidak mungkin punya hutang dengan bu Yati sebab orang-orang di desa sebelah jarang sekali terdengar ada yang meng hutang pada bu Yati.


"Aaahhhh..waktunya tidur dan mengistirahatkan badanku, rasanya sangat pegal sekali." Ucapku sambil merebahkan tubuhku dengan segera dan mulai menarik selimut sampai menutupi hingga dadaku saat itu.


Dan keesokan paginya aku bangun kesiangan karena malamnya tidur sangat larut sekali, untungnya ada Ubay yang mengetuk pintu rumahku cukup keras beberapa kali saat itu, hingga aku langsung saja terbangun karena ketukan pintunya itu.


"Tok....tok....tok....hei Tiktik bangun....Tiktik....apa kau ada di dalam..." Teriak Ubay dengan suaranya yang sangat keras itu.


"Eumm....sangat menyebalkan sekali, ada apa sih bocah itu selalu mengetuk pintu orang selagi ini." Gerutuku sambil mengucek mata yang baru bangun tidur.

__ADS_1


Pada awalnya aku pikir itu masih pagi tapi saat aku melihat ke arah jam di dinding kamarku aku langsung saja membelalakkan mata dengan sangat lebar dan terperanjat dengan kuat langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera saja pergi ke luar dengan cepat.


"Aishh.... ternyata sudah jam sembilan, aahhh aku sangat terlambat untuk ke pasar, benar-benar konyol." Gerutuku sibuk terus berlari ke kamar mandi secepatnya saat itu.


Hingga setelah selesai, aku mengambil jaket kulit warna hitam yang biasa aku pakai, mengambil topiku dan segera saja pergi ke luar dengan segera.


Aku lupa tidak mengikat rambutku saat itu karena terlalu terburu-buru.


Saat aku membuka pintu ternyata si Ubay masih menunggu aku di depan pintu, dengan memakai pakaian rapih dan cukup wangi saat itu.


"Ehh...Tiktik akhirnya kamu keluar juga," ucap dia padaku.


"Heh..Ubay mau kemana kau sudah memakai baju rapih dan wangi seperti ini, kau tidak ngajar ya?" Ucapku bertanya sambil segera memanaskan mesin motorku saat itu.


"Iya aku libur, hari ini ada hajatan di kampung sebelah, aku di undang kesana dan mau mengajakmu untuk pergi denganku, makanya ayo ganti baju aku akan menunggumu disini." Ucap dia kepadaku.


Aku langsung membalikkan badan dengan berkacak pinggang dan menatap ke arahnya dengan wajah yang serius.


"Heh...apa kau bodoh atau idiot? Untuk apa mengajak aku ke hajatan, aku kan harus kerja, aku sudah kesiangan sekali, kau ajak saja si Aldi teman terbaikmu itu, atau kau bisa pergi dengan ibumu yang bermulut pedas itu." Ucapku kepadanya.


Dia pun mulai cemberut dan masih saja memaksa aku untuk ikut dengannya saat itu, padahal aku sudah bilang bahwa aku tidak mau ikut dengannya karena harus pergi ke pasar saat itu.

__ADS_1


"Tiktik....ayolah, lagian ke hajatan kan cuman sebentar, aku sudah menyiapkan mobilku untukmu, aku sudah bisa mengemudikannya sekarang, ayo pergilah denganmu Tiktik." Ucap dia sambil memegangi tanganku dan terus saja memaksa aku saat itu.


"Aishh...apa kau masih belum mengerti juga, aku tidak bisa, kau pergi sana sendiri atau ajak orang lain. Sana pergi, dan lepaskan tanganku!" Bentakku padanya sampai Ubay akhirnya mau melepaskan pegangan tangannya padaku saat itu.


__ADS_2