Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Dibonceng Dokter Sendi


__ADS_3

Saat ini saja setelah beberapa saat kepergian dokter Sendi aku segera menggelengkan kepalaku cukup keras dan terus saja mengedipkan mataku untuk menyadarkan diriku kembali dan berusaha mengembalikan kesadaran di dalam kepalaku saat itu.


"Aaaarrkkkkk....sadar sadar....astaga apa yang aku pikirkan sebenarnya, kenapa aku malah termenung, aishh....apa aku mulai jadi eror ya, aaahhh...aku tidak boleh seperti ini." Gerutuku menyadarkan diri sendiri dan segera pergi dari sana secepatnya.


Aku masuk ke dalam ruang rawat putrinya bang Arif dan berpamitan kepadanya untuk pergi pulang saat itu.


"Bang, mbak saya pulang dulu ya, jika kalian butuh kendaraan atau bantuan apapun hubungi saja aku, aku pasti akan datang dengan secepat yang aku bisa untuk membantu kalian, dan tolong jangan ragu untuk meminta bantuan dariku." Ucapku sambil berpamitan kepada mereka berdua saat itu.


"Iya... terimakasih banyak ya Tiktik, kamu sudah banyak sekali membantu aku dan keluarga kecilku ini, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan dirimu kepadaku sampai kapanpun." Ucap bang Arif kepadaku.


"Santai saja bang, bukannya sesama partner kerja harus saling tolong menolong?" Balasku kepadanya saat itu.


Mereka tersenyum kepadaku dan aku segera saja pergi dari sana secepatnya karena sudah cukup malam sekali saat itu, dan saat aku baru saja keluar dari puskesmas tersebut, aku lihat ada dokter Sendi yang tengah berdiri di depan seorang pria yang terlihat kesulitan menyalakan motornya saat itu.


"Kenapa motormu bang?" Tanyaku kepada tukang ojek tersebut yang sudah aku kenali dia adalah tukang ojek yang sering berada di pangkalan setiap harinya.


"Aahhh..biasa neng, motor ini mah kalau dapet penumpang ganteng mah suka ngadat, gak tau ini kenapa, kali aja akinya udah perlu di cas lagi ini mah." Balas abang itu kepadaku.


"Oh gitu, kalau gitu saya bantu dorong deh, gimana mau gak?" Ucapku menawarkan bantuan kepadanya saat itu.


"Boleh aja neng, tapi masalahnya pak dokter ini mau pulang, tadinya mau ngojek sama Abang tapi motonya malah keburu ngadat gini, gimana kalau neng Tiktik bawa aja pak dokter dulu, nanti baru bantu abang dorong motornya, biar nanti ongkos buat neng Tiktik aja." Ucap tukang ojek itu padaku.

__ADS_1


Aku menatap ke arah dokter Sendi karena aku bersedia saja jika harus mengantarkan dia pulang saat itu.


"Pak dokter gimana? Bapak mau saya yang antarkan saja?" Tanyaku kepadanya saat itu.


"Boleh, lagi pula ini sudah terlalu malam, mungkin tidak ada lagi kendaran yang bisa saya tumpangi, selama kamu mau mengantarkan saya, saya mau saja." Balas dokter Sendi kepadaku.


"Masa iya gak mau, kalo dapet duit semua orang pasti mau, ya gak bang haha." Balasku sedikit bercanda kepada tukang ojek yang masih sibuk mengutak ngatik motornya disana.


"Ahhh..neng Tiktik ini bisa aja, sudah neng sana antarkan dulu pak dokternya." Balas tukang ojek itu padaku.


Aku segera saja pergi ke motorku dengan dokter Sendi dan segera menyalakan motorku saat itu, tapi disaat aku hendak melakukan motornya dokter Sendi malam meminta padaku agar dia yang membonceng ku saat itu.


"Eehhh...harusnya saya yang menyetir, kamu kan perempuan, ayo turun biar saya saja yang menyetirnya, biar kamu yang saya bonceng saja." Ucap dokter Sendi membuat aku merasa aneh.


Sebab sebelumnya tidak ada yang pernah meminta untuk mengemudi sendiri selama aku jadi ojek seumur hidupku, bahkan jika penumpang pria, bapak-bapak, ibu-ibu dan semua kalangan lainnya, mereka semua yang pernah aku bawa semuanya tidak ada yang seperti dokter Sendi ini, maka dari itu aku sangat heran ketika mendengar permintaan darinya saat itu.


"Eehh...pak dokter apa pak dokter ini yakin? Apa pak dokter tidak merasa lelah? Kalau pak dokter menyetir nanti takutnya..." Ucapku kepada dia saat itu.


"Tida masalah, aku masih merasa baik, kau bisa mempercayai aku, sudah cepat mundur aku akan mengemudinya." Ucap dia padaku da segera saja aku turuti.


Aku pun mundur dan dokter Sendi segera duduk di depan sambil mengemudikan mobilnya dengan segera, aku bahkan tidak menduga jika ternyata seseorang seperti dokter Sendi ini saja bisa mengemudikan motor dengan sangat baik seperti ini, padahal aku pikir dokter seperti dia ini, pasti akan mengenakan mobil untuk pergi kemanapun.

__ADS_1


"Wah... Ternyata seorang dokter dari kota seperti anda, jago juga mengendarai motor ya? Aku pikir pak dokter tidak akan terlalu pandai mengendarainya, hehe maaf sudah meragukan kamu dokter Sendi." Ucapku kepadanya saat itu.


"Tidak masalah, tapi aku memang senang mengendarai motor dibandingkan dengan mobil yang biasa di gunakan dokter lain, bagiku mengendarai motor bisa merasakan semua pemandangan indah yang aku lalui selama di perjalanan kemanapun aku pergi, dan lebih leluasa rasanya." Balas dokter Sendi bicara cukup lama denganku.


Aku sungguh semakin kagum dengan sosoknya yang begitu sederhana meski dia seorang dokter spesialis bedah, yang dimana aku tahu dokter seperti beliau ini, sudah bisa dipastikan adalah dokter dengan tingkah yang tinggi, tetapi dia justru mau di pindah tugaskan ke desa terpencil dengan nama yang sangat tidak enak di dengar, juga rakyat di dalamnya yang sangat berbeda dengan kebanyakan orang di kota


.


Sebab semua orang di kampung rentenir ini hobi menggosip dan selalu saja merasa iri dan tidak mau tersaingi satu sama lain.


Itulah yang aku rasakan selama aku tinggal dari kecil hingga sebesar sekarang ini di kampung tersebut.


Hingga sesampainya di depan rumah umi Salma dokter Sendi segera turun dan dia memberikan ongkos dengan uang yang cukup besar kepadaku.


Aku tidak bisa menerima ongkos darinya sebanyak itu, karena aku tahu dia sendiri yang mengemudikan motorku, jadi aku sama sekali tidak merasa tengah menarik penumpang saat itu, justru malah sebaliknya aku merasa akulah yang menjadi penumpangnya.


"Ini ongkosnya, terimakasih sudah mau mengantarkan saya." Ucap dokter Sendi kepadaku.


"Pak dokter, sudah simpan saja uangmu, lagi pula yang mengemudikan motorku kan dirimu, aku yang menjadi penumpangnya jadi kau tidak perlu bayar." Ucapku menolaknya dengan baik-baik saat itu.


"Eh...tidak bisa begitu motormu pakai bensin bukan? Dan aku sudah menggunakan bensinmu untuk di perjalanan sebelumnya, jadi aku tetap harus membayarnya." Balas dokter Sendi lagi kepadaku saat itu.

__ADS_1


__ADS_2