
Meski aku menanggapinya dengan begitu santai dan sedikit candaan kepadanya, tetapi raut wajah dokter Sendi justru malah semakin serius dan aku sama sekali tidak mengerti bagaimana aku harus menanggapi dirinya sekarang ini.
"Ee...ee..ehh, dokter kenapa sangat serius seperti itu, aku kan hanya bercanda saja, sekarang aku merasa canggung dan tidak nyaman mendapatkan tatapan seperti itu darimu." Balasku kepada dia lagi.
Dokter Sendi terlihat menghembuskan nafas dengan pelan dan dia kembali mengubah tatapannya menjadi lebih santai walaupun jika di perhatikan memang perubahannya sama sekali tidak banyak, hampir sama saja dengan sebelumnya, alis yang di kerutkan, mata yang tajam, badan yang membusung ke depan dan terlihat menyipitkan matanya, bak seperti orang yang tengah menyelidiki sesuatu kepadaku saat itu.
"Ya sudah, sekarang ayo jawab, aku kan sudah bertanya denganmu." Balas dia lagi kepadaku.
"Iya dokter, lagian seharusnya jawaban dariku sebelumnya sudah sangat jelas bukan? Aku dan Omi sekarang ini sudah resmi menjadi saudara, walaupun kami tidak memiliki hubungan darah tetapi aku sudah menganggap dia seperti adik kandungku sendiri, jadi tidak mungkin aku dan dia memiliki hubungan yang aneh-aneh, kau harus mempercayai aku, itu tidak akan terjadi padaku dan Omi, dia juga anak yang baik." Balasku menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kepada dia.
Namun selang beberapa saat setelah aku mengatakan semua penjelasan tersebut, dokter Sendi terlihat tersenyum kecil dan wajahnya jauh lebih cerah dibandingkan sebelumnya, tapi aku sendiri menjadi heran mengapa aku harus menjelaskan semua hal yang tidak penting seperti itu kepada dokter Sendi, dia bukan kerabatku, bukan sahabatku dan bukan orang yang dekat denganku, kenapa pula aku harus menjelaskan semuanya kepada seseorang yang sama sekali tidak ada kontribusi apapun dalam hidupku, ketika aku menyadari semua itu, langsung saja aku bertanya balik pada dokter Sendi, sebab sejak awal dialah yang terus terlihat begitu penasaran, bahkan mendesak aku untuk menjelaskan semuanya.
"Eh, tunggu. Kenapa aku harus menjelaskan semua ini kepadamu dokter Sendi, dan kenapa pula kau mendesak aku sampai seperti ini? Memangnya apa urusannya denganmu bila seandainya aku dan Omi benar-benar akan ada hubungan atau saling jatuh cinta sebagai pasangan ke depannya?" Tanyaku dengan heran kepada dokter Sendi.
Wajahnya langsung berubah seperti tidak senang dan dia mulai menatapku dengan malas, tidak tahu apa yang menyebabkan dia seperti itu dalam sekejap saja.
"Apa kau bilang? Jadi kamu memang ada niatan untuk seperti itu kedepannya ya?" Balasnya yang malah salah paham.
"Tidak, bukan begitu maksudku, tetapi seharusnya kau tidak perduli dengan apa yang aku lakukan, mau aku mengadopsi siapapun seharusnya dokter Sendi tidak sampai se penasaran barusan bukan?" Balasku menjelaskan lagi.
Dia pun langsung terdiam dan wajahnya mulai terlihat gugup, aku merasa curiga dengannya dan terus menatap dia dengan lekat mendekatkan pandanganku pada wajahnya sampai aku menyipitkan kedua mataku lalu mulai menyampaikan kecurigaanku terhadap dirinya yang sangat membuatku penasaran.
"Emm, dokter Sendi, atau jangan-jangan kau...." Ucapku semakin menyipitkan mataku.
"Kau apa?" Balasnya sambil menatap ke arahnya hanya dengan ujung matanya saja, sedangkan wajahnya terus menatap lurus ke depan.
"Kau juga mau mengadopsi Omi sebelumnya ya, malah keduluan olehku, iya kan, ayo mengaku saja?" Ucapku kepadanya.
Dokter Sendi langsung merasa lega, karena sebelumnya dia pikir Tiktik akan mengetahui perasaan dia yang sebenarnya, namun dengan begitu baru dia bisa merasa lega dan tidak perlu gugup atau pun merasa cemas lagi dengan sangkaan yang dilontarkan oleh Tiktik.
"Aahaha...kenapa kau bisa tahu?" Balas dokter Sendi menanggapi alurnya.
"CK... Sudah aku duga, saat kau datang ke rumahku, kau malah langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan menanyakan mengenai Omi, bukannya tentangku, jadi tentu saja jika bukan Omi yang kau khawatirkan lantas siapa lagi, tidak mungkin aku kan." Balasku kepadanya.
Aku merasa dugaanku saat itu memang benar, dan wajar sekali jika seorang dokter Sendi ingin mengadopsi anak laki-laki yang baik seperti Omi, dia juga pekerja keras dan sangat cekatan dalam bekerja, dia tidak akan menyusahkan siapapun bila lama diadopsi oleh keluarga mana pun.
Aku justru merasa senang Omi menerima tawaran dariku, setidaknya dengan begitu aku memiliki keluarga, teman sekaligus orang yang bisa diandalkan ketika aku sendirian.
__ADS_1
Dokter Sendi juga segera berpamitan setelah membicarakan mengenai hal itu, aku segera kembali masuk ke dalam dan menikmati malam dengan cepat.
Hingga ke esokan paginya, seperti biasa aku harus pergi lebih awal, menjemput dokter Sendi dan mengantarkannya ke puskesmas dahulu lalu baru aku bisa pergi ke pasar Omi juga sudah bangun aku mengajak dia untuk pergi bersama tapi dia menolak dan mengatakan bahwa dia bisa pergi sendiri, aku pun tidak memaksanya, tapi disaat aku hendak pergi dia menahan tanganku dan mengatakan sesuatu padaku dengan wajah yang sangat serius sekali saat itu.
"Omi mau berangkat bareng?" Ajakku kepadanya.
"Tidak usah kak, Omi bisa pergi sendiri saja, nanti sekalian mau pergi ke rumah bang Arif dulu," balasnya menolak tawaran dariku.
"Oh ya sudah kalau begitu, tapi kalau kamu mau berangkat sendiri, ini kamu tidak boleh jalan kaki, jarak dari sini ke rumah bang Arif cukup jauh kamu naik ojek saja ya, ini ambil uangnya." Ucapku sambil memberikan sejumlah uang untuk Omi.
Dia awalnya menolak pemberian itu dariku, tetapi aku memaksanya karena mulai sekarang aku yang akan membiayai semua kebutuhan hidupnya, biarlah uang yang dia hasilkan dari kerjanya dia pakai untuk kebutuhan dia sendiri yang mungkin belum bisa aku penuhi semuanya, atau dia bisa menabungnya.
"Tapi kak, aku punya uang sendiri, kak Tiktik tidak perlu memberiku uang." Balasnya kepadaku saat itu.
"Kenapa tidak perlu? Kau kan adikku, aku kakakmu, jadi mulai sekarang apapun kebutuhanmu kamu harus mengatakannya padaku, aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu, uang hasil kerjamu kamu simpan saja atau bisa kamu gunakan untuk hal lain yang kamu butuhkan, aku juga akan menguliahkan kamu nanti, aku tahu kamu anak yang cerdas saat di SMA, telat satu tahun itu tidak masalah bukan?" Balasku kepadanya sambil terus memberikan uang itu dengan paksa dan mengepalkan nya pada tangan Omi.
Dia terlihat berkaca-kaca, karena aku tahu dari bang Arif bahwa tujuan Omi bekerja sangat rajin, sebab dia ingin menemukan pendidikan yang lebih tinggi, dia ingin menggapai mimpinya menjadi dokter, dia ingin menuntaskan dendam di dalam dirinya yang belum terbayarkan sebab kedua orangtuanya menjadi bahan praktek yang gagal di rumah sakit kota yang baru dibuka beberapa tahun yang lalu.
"Hei kenapa kamu menangis, jangan begitu Omi, kau ini anak laki-laki, masa dengan ucapanku begitu saja kau menangis sih, malu sama badanmu yang kejar dan kuat ini." Ucapku sambil menepuk kedua pundaknya dua kali.
Aku terus saja menepuk pundaknya untuk menenangkan dia dan terus saja memberikan kekuatan kepadanya, aku tahu bagaimana rasanya ada di posisi Omi, aku pernah merasakannya, dan aku kehilangan masa depanku karena harus bekerja keras untuk hidupku sendiri, aku takut jika Omi bekerja, dia juga malah akan berakhir sepertiku, karena biaya kuliah itu sangat tinggi, dan harus kuliah sambil kerja itu begitu sulit, tidak semua orang mampu melakukannya, bahkan banyak orang yang kuliah sambil kerja namun ujungnya malah gagal sebab kehabisan uang, aku dulu juga ingin melanjutkan kuliah, tapi biayanya tidak mungkin dapat aku penuhi dengan bekerja sendiri, meski aku terus mencari uang siang dan malam, tetap saja semua itu tidak seimbang, sebab pekerjaan yang aku lakukan bukanlah pekerjaan yang memiliki gaji yang tetap, penghasilan setiap harinya tidak pernah bisa di tebak, terkadang banyak dan bisa juga tidak mendapatkan apapun dalam beberapa hari, terlebih dulu aku masih belum menjaga pasar seperti sekarang ini.
Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam, ku pikir jika aku dulu gagal untuk kuliah, maka setidaknya aku harus mewujudkan mimpi Omi yang bernasib sama denganku, sampai dia bisa menggapai mimpinya.
Walaupun aku tahu kuliah jurusan kedokteran memiliki biaya yang sangat tinggi dibandingkan dengan jurusan yang lainnya, uang praktikum dan sebagainya juga selalu muncul mendadak, jadi aku harus bekerja lebih keras lagi untuk Omi.
"Omi ingat kata-kataku, jika suatu saat kita tidak punya cukup uang untuk membayar biaya kuliahmu, kamu jangan pernah menyerah, teruslah pergi kuliah teruslah gapai mimpimu jangan pikirkan masalah biayanya aku yang akan memikirkan itu, kamu hanya perlu fokus belajar, mendapatkan beasiswa itu lebih baik, semuanya pasti akan ada jalan ketika kita yakin dengan tuhan dan percaya pada kerja keras yang akan kita lakukan bersama, kamu mengerti kan?" Ucapku kepadanya.
Dia terus mengangguk sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
Aku memeluk dia sekali lagi, dan berpamitan untuk pergi menjemput dokter Sendi, namun saat aku hendak pergi Omi menahan tanganku dengan cepat.
"Tunggu kak." Ucapnya menarik tanganku lagi.
"Iya, ada apa Omi, apa ada yang mau kamu katakan lagi padaku?" Tanyaku kepada dia saat itu.
"Kamu harus hati-hati, banyak orang yang tidak suka denganmu, semakin kamu baik dan melakukan banyak kebaikan, orang itu akan semakin kejam dan membencimu, dia akan melakukan segala cara untuk menghancurkan mu dan membuatmu menyerah, kamu harus kuat, aku akan menjagamu." Ucap Omi membuat aku merinding sejenak.
__ADS_1
Aku sempat merasa heran dan bingung, dengan ucapan yang dikatakan oleh Omi saat itu, namun saat aku menanyakan kepada dia siapa orang yang dia maksudkan, dia malam menggelengkan kepala dan tidak mau memberitahu aku siapa orang tersebut.
"Eumm..Omi kamu tidak perlu cemas, kakak bisa menjaga diri kakak, apa kamu lupa kakak ini jagoan bela diri, semua orang bisa kakak kalahkan dengan sedikit jurus saja." Balasku sedikit bercanda dengannya agar dia tidak terlalu tegang.
Sebab wajahnya itu begitu serius menatap lekat ke arahku, ketika membicarakan mengenai hal tersebut dan aku sendiri juga terus merasa sedikit cemas dengan ucapan yang dia katakan kepadaku saat itu.
"Tidak kak, aku serius, kamu harus hati-hati, mereka tidak sendiri, mereka bersama-sama ingin menjatuhkan mu," balas dia lagi yang membuat aku semakin cemas.
"Ekm...tapi Omi, siapa orang yang kamu maksud itu, dan kenapa kamu mengetahui hal tersebut, dari mana kamu mengetahuinya?" Tanyaku kepada dia saat itu.
"Aku melihatnya, aku mendengarnya dan aku bisa merasakannya kak, mereka menahanku agar aku tidak bicara kepadamu, aku juga sudah berjanji pada mereka sebelumnya jauh sebelum kita menjadi kenal satu sama lain, aku pikir untuk apa aku mengatakannya padamu, karena saat itu aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali, tapi sekarang kau kakakku, aku akan menjagamu, tapi tetap menempati janjiku pada mereka." Balas dia yang membuat aku semakin bingung.
Tetapi karena Omi tetap tidak mau mengatakan siapa yang tengah dia maksudkan dan bahaya seperti apa yang akan menimpaku, jadi aku tidak bisa memaksa dia lagi, dan memutuskan untuk memikirkan lain kali saja.
"Aaa..aahhh..ya sudahlah, kakak percaya padamu, dan kakak janji kakak akan lebih waspada sekarang, terimakasih sudah mengingatkan kakak ya, kamu juga hati-hati di jalannya." Ucapku kepada dia.
Segera saja aku menaiki motor sport pemberian dari dokter Sendi tersebut, lalu melanjutkannya dengan cepat, meninggalkan Om yang terlihat tersenyum kecil dan melambaikan tangannya padaku, aku terus pergi ke rumah umi Salma dan duduk diatas motor sambil menunggu dokter Sendi keluar dari rumahnya.
Tetapi saat itu aku tidak bisa berhenti memikirkan ucapan dari Omi, terus saja aku melamun sampai lupa dan tidak memperhatikan sekitar, jika ternyata dokter Sendi sudah naik ke atas motorku saat itu.
"Hei...kapan kita akan jalan?" Tanya dokter Sendi sambil menepuk pundakku begitu saja.
Aku terperanjat sedikit dan merasa sangat kaget, sebab tiba-tiba sudah ada seseorang di belakang boncengan motorku dan dia malah menepuk pundakku tanpa aba-aba dahulu.
"Astaga.....aahh, dokter Sendi sejak kapan kau naik ke atas motorku?" Tanyaku dengan heran kepadanya.
"Sejak beberapa menit yang lalu, dan kau malah diam saja, makanya aku menepuk pundakku, kenapa kau se kaget itu, apa kau sedari tadi melamun ya?" Balas dia dengan nada yang sedikit meninggi.
Aku hanya bisa tersenyum kecil dan mengakuinya dengan sedikit rasa malu, karena aku memang melamun sampai tidak menyadari keberadaan dokter Sendi sebelumnya, bahkan aku sama sekali tidak sadar ketika dokter Sendi menaiki motorku saat itu.
Dia pun hanya bisa menggerutu kesal karena aku yang mungkin sudah menghabiskan waktu berharganya di pagi hari.
"Aishh, dasar kau ini, kenapa sih kau melamun sampai seperti itu? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" Tanya dokter Sendi sedikit kesal denganku.
Karena memang itu kesalahan berasal dariku, aku pun terus saja meminta maaf kepadanya, memberikan helm yang biasa dia kenakan dan segera melajukan motorku dengan cepat untuk mengantarkan dia ke puskesmas tepat waktu.
"Ahaha...maafkan aku dokter, aku belum sarapan jadi deh seperti ini, ini helm nya aku akan segera mengantarmu lebih cepat lagi. Ayo bersiap-siap." Balasku kepadanya sambil segera saja pergi melajukan motornya dengan cepat.
__ADS_1