
Namun karena dokter Sendi menahan tanganku aku jadi tidak bisa pergi mengejar Baim lagi saat itu, sehingga aku hanya bisa menatap dengan penuh keheranan dan protes kepada dokter Sandi dengan perasaan yang cukup kesal kepadanya, karena dia sudah membuat aku kehilangan Baik saat itu.
"Dokter apa yang kamu lakukan, lepaskan tanganku, kau mau apa menahan tanganku seperti ini?" Ucapku kepadanya saat itu.
"Kamu tidak bisa mengejar dia dalam kondisi hatinya yang tidak baik seperti ini, kamu harus memberikan ruang waktu untuk dia menenangkan dirinya sendiri, biarkan saja dia pergi dan menenangkan dirinya sendiri, mendinginkan pikiran dan hatinya, nanti kau bisa bicara kembali dengan dia dan membicarakan semuanya lagi dengan hati dan pikiran yang lebih dingin dari pada sekarang ini." Balas dokter Sendi kepadaku.
Apa yang dikatakan olehnya memang ada benarnya, saat ini hati dan pikiran Baim tengah sangat berduka karena dia baru saja kehilangan neneknya, satu-satunya keluarga yang menemani dia dan mengurusi dia sejak dia kecil, wajar saja jika perasannya menjadi sangat sensitif dibandingkan sebelumnya.
Tapi walau begitu aku tetap mencemaskan keadaan dia saat itu, sebab aku tahu dia pasti akan merasa kesepian jika tidak ada siapapun yang menemani dia disampingnya dalam kondisi yang sangat pilu seperti ini, tentu sebagai temannya aku juga ingin membantu dia dan menemani dia walau dalam keadaan sesulit ini.
"Tapi dokter dia akan kesepian aku takut dia akan memutuskan sesuatu yang salah jika dia di tinggalkan seorang diri seperti itu." Ucapku protes kepadanya saat itu.
Namun bukannya melepaskan aku dan membiarkan aku untuk pergi mengejar Baim untuk mencarinya saat itu, tetapi dokter Sendi tiba-tiba saja memegangi kedua pundakku dengan tangannya yang cukup erat saat itu dan dia bicara dengan nada yang cukup tegas padaku.
__ADS_1
"Titik, tidak semua orang bisa kamu hadapi dengan cara yang sama, karena semua orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, termasuk dengan temanmu Bimo, dan setelah saya melihat dia sejak awal, saya rasa dia bukanlah orang yang akan melakukan sesuatu hal tanpa pikir panjang, meskipun dia tengah dalam keadaan yang sulit seperti ini, kamu harus mempercayai temanmu jika kau juga teman baginya." Balas dokter Sendi yang membuat aku langsung menghembuskan nafas dengan lesu.
"Huuhhh....baiklah aku akan menemuinya besok, semoga saja dia sudah menjadi lebih baik dari sekarang, aku juga tidak tega melihat wajahnya terus di tekuk dan sendu seperti itu, di tambah bu Yati sialan itu dia masih saja berani menagih hutang pada orang yang tengah berduka seperti ini." Gerutuku saat itu.
Dokter Sendi pun segera mengajak aku pergi dari sana dan aku juga dibonceng olehnya hendak pergi kembali ke puskesmas untuk mengantarkan dokter Sendi kesana, namun sialnya di perjalanan aku malah bertemu dengan Ubay dan dia yang melihat aku di bonceng oleh seorang pria yang belum dia kenal dengan baik, dia tiba-tiba saja muncul di tengah jalan dan menghadang jalanan kami secara tiba-tiba, sampai membuat dokter Sendi harus mengerem mendadak dan aku tidak sengaja malah memeluknya dari belakang saat itu.
"Aaaahh....Duk," suaraku yang terpenting dan memeluk dokter Sendi secara tidak sengaja saat itu.
"Hei....apa kamu baik-baik saja, aku minta maaf tapi orang itu muncul tiba-tiba dan berdiri di hadapan jalanan kita." Ucap dokter Sendi bertanya mengenai keadaanku dan dia juga menunjuk ke arah Ubay yang berkacak pinggang menatap tajam ke arahku saat itu.
"Aahh ..aku baik-baik pak dokter, dan kau tunggulah disini aku akan menghadapi manusia menjengkelkan itu." Ucapku kepadanya sambil segera saja turun dari motor masih dengan memegangi jidatku yang terasa masih cukup sakit karena terpentok pada helm yang di gunakan oleh dokter Sendi saat itu, sedangkan aku sama sekali tidak memakai helm saat itu, karena aku pikir kita hanya akan kembali ke puskesmas jadi tidak perlu memakai helm sama sekali.
Namun sialnya aku malah mendapatkan kejadian seperti yang tidak aku duga hingga bisa membuat aku terpenting sekencang itu sebelumnya.
__ADS_1
Segera aku turun dari motor dan berteriak membentak Ubay yang masih berdiri mematung menghalangi jalanan kami saat itu.
"Heh, Ubay apa yang kau lakukan, minggir kau menghalangi jalan kami, apa kau sudah bosa hidup ya?" Bentakku kepadanya saat itu.
Dia bukannya menyingkir malah menjawab ucapanku sambil berjalan mendekati aku terus menerus dan mendesak aku saat itu.
"Kau ... kenapa apa kau bisa berboncengan dengan pria itu di belakangku, apa kau sengaja menolak untuk mengantar aku hanya karena ingin pergi dengan pria ini iya?" Ucap dia kepadaku secara tiba-tiba.
Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan saat itu sehingga, langsung saja aku membentak dia dan melawannya dengan keras, karena aku tidak mungkin mengalah dengan orang yang sangat menjengkelkan dan keras kepala tidak ada bandingannya.
"Heh... idiot! Jangan asal bicara kau, lagian kami ini tidak pergi bersama aku baru dari pemakaman begitu juga dengan pak dokter dia sama-sama dari pemakaman dan dia tidak mungkin pergi kembali ke puskesmas dengan jalan kaki sedangkan mobil ambulans sudah pergi lebih dulu, makanya aku mengantarkan dia." Balasku kepadanya.
Tapi tetap saja Ubay terlihat seperti tidak mempercayai apa yang aku katakan kepadanya saat itu, padahal aku sudah mengatakan semua kebenarannya pada dia, hanya dia saja yang pada dasarnya memang tidak bisa mempercayai aku dengan sebaik aku mempercayai dia selama ini.
__ADS_1
"CK....tidak mungkin pulang dari pemakaman dia memakai pakaian seperti itu, kau tidak bisa membohongi aku Tiktik, aku tahu kau habis pergi main dengannya kan?" Ucap dia lagi yang masih saja keras kepala dan terus mengatakan sesuai dengan sangkaan yang dia pikirkan sendiri.