Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Penyamaran Aldi


__ADS_3

Aldi mulai menatap semakin tajam kepada umi Salma dan dia terus saja berusaha untuk menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya terjadi saat itu, mulai sejak awal ibu Yati yang merencanakan untuk penculikan Tiktik hingga sampai detik ini dimana Tiktik masih dalam sekapan Bu Yati juga Ubay, dan Aldi juga mengatakan bahwa Tiktik akan di nikah paksakan oleh Bu Yati dengan putranya Ubay.


Umi Salma yang langsung terperangah sangat lebar dia membelalakkan matanya begitu besar dan terlihat sangat kaget mendengar penuturan kata dari Aldi, sampai tidak lama umi Salma segera menghubungi dokter Sendi, sebab menurutnya ini bukanlah hal yang bisa dirinya tangani sendiri, dimana dia juga membutuhkan bantuan dari banyak orang yang lainnya.


"Baiklah Aldi, sudah, umi sudah mengerti bagaimana posisi kamu, sekarang sebaiknya kamu tenangkan dirimu dahulu, umi akan menghubungi dokter Sendi, kita akan pergi menyelamatkan Tiktik." Balas umi Salma sambil memegangi pundak Aldi.


Meski begitu tetap saja Aldi merasa sangat tidak tenang, sekalipun dokter Sendi akan membantunya dia berpikir jika anak buah Bu Yati begitu banyak, warga juga tidak akan berpihak dengannya karena hampir seluruh warga di kampung ini memilikinya hutang yang sangat besar kepada Bu Yati, dimana jika mereka ikut campur dengan urusan ini, sudah pasti Bu Yati akan memberikan ancaman untuk mereka yang bisa membuat mereka tidak dapat melakukan apapun.


Sampai beberapa menit kemudian akhirnya dokter Sendi tiba di rumah umi Salma dia terlihat datang dengan tergesa-gesa dan wajahnya menampakkan kecemasan yang sangat besar, dia langsung datang menemui umi Salma dan menanyakan kembali apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Tiktik.


"Umi ...Umi apa yang sebenarnya umi maksudkan, apa benar Tiktik di sekap, apa dia sungguh akan di jatuhkan ke jurang?" Tanya dokter Sendi dengan wajahnya yang begitu panik.


Umi Salma segera menyuruhnya untuk duduk dan mengatur nafas terlebih dahulu sebab itu akan membuat keadaan semakin riuh jika dokter Sendi terus mendesak dirinya seperti ini, dokter Sendi menurut dan dia segera duduk di samping Aldi, pria yang sama sekali tidak dia kenali.


"Dokter Sendi, sebaiknya anda tenangkan dulu diri anda, saya sendiri juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada Tiktik dan bagaimana keadaan dia sekarang, semuanya saya tahu dari Aldi, dia yang berhasil meloloskan diri saat itu dan berhasil memberikan kabar pada saya, tetapi lihatlah di luar sana, Aldi masih dalam kejaran para anak buahnya Bu Yati, jadi dia harus tetap di sembunyikan." Ucap umi Saoma menjelaskan semuanya kepada dokter Sendi, sambil menunjuk ke luar jendela dimana memang ada beberapa orang yang berlalu lalang disana.


Dokter Sendi memahami situasi ini tetapi dia tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya yang begitu besar pada Tiktik sehingga dia langsung bertanya kembali terhadap Aldi yang duduk di sampingnya.


"Aldi, aku tidak mengenalmu sebelumnya tapi aku tahu kau pasti berteman dekat dengan Tiktik, apa dia akan baik-baik saja, dia tidak mungkin di jatuhkan ke dalam jurang yang kamu katakan itu, bukan?" Tanya dokter Sendi menatap dengan lekat dan begitu serius.


"Jika Tiktik mau menerima pernikahan dengan Ubay, mungkin dia tidak akan di lempar kesana, tetapi jika Tiktik menolaknya, aku rasa Bu Yati akan.." ucap Aldi yang langsung tertahan sebab dia tidak mau membuat orang lain merasa semakin cemas dan kacau jika memberitahu hal yang sebenarnya.


Sedangkan dokter Sendi yang sudah sangat penasaran dan sedari tadi terus menunggu jawaban dari Aldi, dia semakin gemas dan tidak tahan lagi untuk mendengarkan lanjutan ucapan dari Aldi sebelumnya yang belum selesai itu.


"Apa....cepat katakan padaku Aldi?" Tanya dokter Sendi semakin mendesaknya.


"Dia mungkin...sudah....dia jatuhkan ke jurang itu dokter." Balas Aldi pelan sambil menunduk dengan lesu.


Dokter Sendi dan umi Salma langsung terlihat begitu lemas, wajah pucat mulai terlihat dari raut wajah keduanya dan mereka semakin mencemaskan Tiktik.


"Kalau begitu kita tidak bisa menunggu waktu lama lagi, kita harus mencari keberadaan Tiktik sekarang juga, Aldi kau pasti tahu bukan dimana mereka akan menyekap Tiktik jika seandainya Tiktik masih hidup?" Balas dokter Sendi yang sudah tidak tahan lagi.


Aldi mengangguk dan mereka mulai bersiap untuk pergi ke tempat yang di katakan Aldi sebelumnya, tetapi masih ada satu hal yang harus dilakukan, Aldi harus menyamar agar para bodyguard di luar sana tidak mengenali dirinya, umi Salma terpaksa harus mendandani Aldi menjadi seorang perempuan berhijab, hanya dengan begitu baru tidak akan ketahuan bahwa dia adalah Aldi.


Meski pada awalnya Aldi menolak dengan keras dan dia sangat tidak nyaman mengenakan sebuah gamis yang menyulitkan dia untuk bergerak, tetapi dengan cepat dokter Sendi terus membentak dia dan memberikan ancaman kepadanya, sampai Aldi pun tidak memiliki jalan lain, selain dari pasrah menerima nasibnya yang sangat buruk ini.

__ADS_1


"Aaah umi aku tidak mau, aku ini pria perkasa dan seorang petarung, mana mungkin aku harus menyamar menjadi wanita berhijab, aku sangat tidak mau, ini sama saja dengan melecehkan derajatku!" Bentak Aldi saat itu.


"Ayolah Aldi, ini dalam situasi yang sangat genting, umi juga tidak bisa melakukan hal lain lagi, kecuali jika kamu memang bersedia tertangkap oleh mereka, dan itu akan semakin menyulitkan kami jika harus menyelamatkan dua orang nantinya." Balas umi Salma memberikan pengertian kepada Aldi.


Walau begitu tetap saja Aldi cemberut keras dan dia tetap tidak mau memakai gamis berwarna hitam tersebut.


"Ayolah umi aku tidak mau, aku kan bisa menyamar jadi yang lainnya, tidak perlu jadi wanita begini." Balas Aldi lagi yang masih saja tidak terima.


Karena terus mendengar penolakan dari Aldi, itu membuat dokter Sendi merasa sangat geram dia pun mulai angkat bicara, dan untuk pertama kalinya seorang dokter Sendi bisa marah dengan sangat besar dan begitu keras kepada Aldi di hadapan umum Salma sekalipun. Padahal sebelumnya dia adalah pria yang sangat baik dan memiliki tutur kata yang lembut juga tatak rama yang baik pula.


"Brak!" Suara meja yang di gebrak cukup kencang oleh dokter Sendi, dan membuat umi Salma juga Aldi menoleh ke arah dokter Sendi saat itu juga.


"Aldi... Pakai pakaian itu atau kau aku seret ke penjara atas kasus pencurian motor Tiktik yang kau lakukan sebelumnya!" Bentak dokter Sendi dengan tatapan tajam menusuk dan perkataan yang sangat menakutkan.


Hingga hal itu berhasil menaklukkan seorang Aldi yang terkenal begitu keras kepala dan selalu mudah emosi, tidak ada yang bisa memerintah dia selama ini kecuali dokter Sendi yang sekarang menjadi pengecualiannya.


Aldi yang mendapatkan tatapan setajam itu dan melihat kedua tangan dokter Sendi di kepalkan dengan begitu kuat dia pun bisa merasa takut juga, sehingga dia menelan salivanya susah payah sambil segera memakai pakaian tersebut dengan cepat dan menarik sebuah kerudung berwarna hitam juga yang ada di tangan umi Salma saat itu.


"Baiklah...iya...aku akan melakukannya, kenapa kau begitu sensitif sekali sih dokter." Balas Aldi memakai semuanya dengan cepat.


Mereka pergi menggunakan mobil milik umi Salma yang berwarna hitam dan dokter Sendi yang mengemudikannya keluar dari kawasan kampung Rentenir tersebut, barulah setelah sudah cukup jauh dari sana Aldi melepaskan penutup kepala yang membuat dia sangat gatal juga kepanasan sejak awal.


"Aaahh ... akhirnya ada tempat yang bisa membuat aku melepaskan benda menyebalkan ini, aduh... Umi apa umi tidak merasa kepanasan setiap hari dalam waktu yang panjang terus memakai hijab begitu?" Ucap Aldi bertanya pada umi Salma.


Hanya sebuah senyuman lebar dan terus menahan tawa yang dilakukan oleh umi Salma saat itu, sebab melihat wajah Aldi yang memakai hijab bak dirinya dan mendandani Aldi layaknya seorang gadis yang cantik itu masih terbayangkan terus menerus oleh umi Salma sendiri, dan membuat dia terus saja ingin tertawa setiap kali mengingat hal itu dan setiap kali melihat wajah Aldi yang begitu berantakan dengan make up.


Melihat reaksi umi Salma yang malah terus tersenyum begitu Aldi mulai merasa heran dan menaruh banyak curiga kepadanya.


"Hei... umi, kenapa umi terus begitu, umi menertawakan aku ya?" Ucap dia mulai menyadarinya.


"Tentu saja umi menertawakan kau, kalau bukan kau memangnya siapa lagi, lihat wajahmu di cermin, sudah seperti hantu nakal saja." Balas dokter Sendi yang membalas semua keheranan Aldi saat itu.


Saat dia mulai bercermin di kaca depan yang ada diatas mobil, langsung saja Aldi berteria sangat kencang, saking kagetnya melihat wajah dia yang begitu cantik bak seperti perempuan asli dengan make up tebal di wajahnya dan pewarna bibir yang menyala berwarna merah.


"Aaaarrkkkkk...astaga.. umi kenapa umi tega sekali melakukan ini padaku? Aaahh.. bagaimana cara aku menghapusnya sekarang?" Ucap Aldi langsung saja merasa tidak terima dan terus berusaha menghapus semua make up di wajahnya tersebut.

__ADS_1


Namun sayangnya make up sama sekali tidak terangkat karena anti air dan hanya bisa di bersihkan dengan cairan tertentu yang biasa digunakan oleh umi Salma untuk membersihkan make up nya tersebut.


Buru-buru Aldi mengambil banyak tisyu yang ada disana dan dia terus saja berusaha menggosok wajahnya agar bisa menghilangkan semua make up yang melekat pada wajahnya tersebut yang sudah seperti topeng saking tebalnya riasan tersebut.


"Euhhh...aduh..umi ini bagaimana menghapusnya sih, kenapa tidak hilang juga?" Ucap Aldi yang sudah sangat kesal tetap tidak berhasil menghapus riasan di wajahnya.


"Sudah kamu jangan mencoba menghapusnya, tugas kamu kan belum selesai, nanti kamu masih harus pergi menyelinap selagi umi mengajak ngobrol Bu Yati dan Ubay, jadi wajahmu masih harus seperti itu." Balas umi Salma membuat Aldi semakin frustasi di buatnya.


Bukan apa-apa tetapi dia hanya takut jika semua masalah sudah selesai dan dia masih belum bisa menghapus riasan di wajahnya tersebut, dia tidak mau benar-benar berubah menjadi wanita hanya karena sebuah tiasa di wajahnya dan membayangkan banyak pria yang mendekatinya, itu membuat Aldi semakin kesal dan frustasi terus menerus.


"Aaahh..Tidak!" Teriak Aldi sangat kencang.


Dokter Sendi dan umi Salma lagi dan lagi hanya bisa menanggapi tingkah konyol Aldi yang menurut mereka berlebihan itu hanya dengan sebuah tawa pelan yang kecil, sebab Aldi bisa saja mempercayai apa yang mereka katakan dalam kondisi sulit seperti ini mengenai wajahnya yang tidak bisa berubah seperti dulu lagi.


"Umi.... Apa aku akan terus seperti ini, apa riasanya benar-benar tidak bisa di hilangkan?" Ucap Aldi dengan wajah yang sudah sangat panik sekali.


"Ya tidak bisa lah, itukan riasan permanen, hanya bisa hilang jika sudah beberapa bulan, dan nanti akan hilang sendiri." Balas dokter Sendi menjawabnya dengan asal bicara.


Mendengar itu Aldi langsung menjadi lemas, dia menyandarkan tubuhnya ke belakang dan terus saja menghembuskan nafas dengan lesu, matanya satu dan terlihat tidak ada semangat sedikitpun di dalam dirinya.


"Aaahh...lebih baik aku mati saja, daripada memiliki wajah yang memalukan seperti ini." Ucap Aldi terlihat begitu pasrah dan membuat umi Salma juga dokter Sendi tertawa lebar.


"Ahahaha...Aldi.... Aldi... Kamu tidak boleh mempercayai ucapan dokter Sendi, semua itu tidak benar, saya bisa menghapuskan riasan di wajahmu setelah semua tugasmu selesai, itu sangat mudah bagi saya." Balas umi Salma segera menenangkannya.


Tapi tetap saja Aldi yang sudah termakan omong kosongnya dokter Sendi terlihat tidak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Sendi sebelumnya.


"Tapi umi kalau riasan ini benar-benar bisa dihapuskan kepada sedari tadi saya sudah berusaha keras tetap saja tidak ada yang luntur sedikit pun bahkan ketika saya sudah memakai air dan menggosoknya dengan tisyu, bukankan ini sudah sangat menempel seperti tato?" Balas Aldi merasa heran.


"Tidak Aldi, sudah kamu jangan merasa cemas umi akan bertanggung jawab untuk semuanya, dan kamu lihat umi juga menggunakan riasa yang sama denganmu dan umi tentu selalu menghapus riasa ini ketika malam, jadi kamu tidak perlu khawatir ada beberapa truk dan cara yang benar untuk menghapus riasan seperti ini, umi tahu caranya jadi kamu akan aman." Balas umi Salma kepadanya sambil mengusap pundak Aldi agar dia bisa mempercayai semua ucapan yang dikatakan oleh umi Salma barusan.


"Hmm...aku berharap semoga apa yang umi katakan benar, semoga aku bisa kembali menjadi Aldi yang gagah perkasa seperti sebelumnya bukannya seperti ini." Balas Aldi dengan pelan sambil segera menjauh dari umi Salma saat itu.


Itu adalah pengalaman dan momen paling konyol yang pernah di lalui dokter Sendi, hingga dia tidak bisa berhenti tertawa cekikikan sendiri, dan setidaknya kelakuan Aldi bisa sedikit membuat dokternya Sendi tidak terlalu mencemaskan Tiktik lebih besar seperti sebelumnya, sehingga hal itu dapat membuat keuntungan bagi mereka.


Setidaknya dengan begitu mereka akan fokus tanpa merasakan cemas berlebihan dan terus bekerja keras saling membantu satu sama lain meski Aldi yang terlihat sudah sangat kesal sejak mengetahui wajahnya di pakaikan riasan sangat tebal oleh umi Salma.

__ADS_1


__ADS_2