Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Uang Tip


__ADS_3

Sebab aku tahu kita tidak pernah bisa mengukur karakter atau kepribadian seseorang hanya dari bentuk tubuhnya, parasnya ataupun jabatan yang di miliki seseorang, hakikatnya manusia adalah makhluk yang berubah-ubah, karakter dan sifat manusia terlalu banyak dan begitu dalam untuk kita selami, meski aku tidak berpendidikan tinggi seperti layaknya teman-teman seangkatanku sebelumnya.


Tetapi aku belajar dalam hidup secara mandiri, belajar dengan banyaknya pengalaman dan fakta yang terjadi di lapangan, bukan hanya sekedar teori seperti yang mereka dengarkan di kampus atau sekola, karena meski kita hapal rumus matematika kuadrat atau pun rumah fisika, tetap saja di dalam dunia nyata rumus kehidupan yang di pakai.


Tidak tidak akan tahu bagaimana karakter seseorang hanya menggunakan rumus matematika atau hal perhitungan seperti itu.


Itulah kenapa aku selalu menerima siapapun dengan bentuk wajah bagaimana pun dan karakter seperti apapun untuk masuk ke dalam lingkunganku, bermain denganku, berjuang bersama dan bahu membahu untuk mewujudkan ketentraman bersama dalam mengelola pasar ini, aku terus saja membantu para pengunjung pasar dan semua masyarakat warga kampung Rentenir dengan semampuku.


Sampai tidak lama kemudian Ubay datang membantuku dan dia membawakan dus besar yang tengah berusaha aku angkat saat itu.


"Sini biar aku saja, kamu bawa yang ringan-ringan," ucapnya sambil mengambil alih semua benda itu.


Aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun saat itu, sebab hanya bisa terperangah menatap dengan penuh keheranan dengan sikap Ubay yang tiba-tiba saja berubah begitu besar seperti ini, padahal dia tidak pernah mau mengangkat barang di pasar seperti ini, apalagi sekarang sudah jam sepuluh siang, matahari sudah mulai terik, dia biasanya sangat enggan melakukan semua hal yang membuat dia berkeringat, sehingga dia tidak pernah menemui aku di pasar, tapi kali ini untuk pertama kalinya dia tiba-tiba datang dan langsung membantu aku begitu saja, membuat aku merasa sangat heran dengannya.


"Hei...ada apa denganmu?" Tanyaku sambil terus berjalan dengan membawa dia kresek belanjaan ibu yang ada di sampingku saat itu.


"Nanti aku jelaskan, sekarang aku sedang membantumu, ayo cepat siap-siap atau kau tidak mau ibu itu marah karena kamu malah ngobrol seperti ini denganku bukan?" Balas dia yang membuat aku langsung saja terbungkam, diam membisu tanpa tahu harus melakukan apa padanya.


Untuk saat ini aku hanya bisa memperhatikan Ubay yang bulak balik mengangkat semua barang-barang menuju mobil bak milik salah satu ibu-ibu yang baru saja selesai berbelanja di pasar hingga semuanya selesai dan ibu itu memberikan uang tip yang cukup banyak padaku juga pada Ubay, aku sangat senang sekali karena baru kali ini bisa mendapatkan uang tip sebanyak ini, karena biasanya aku hanya mendapatkan beberapa ribu atau uang receh dari semua orang.


"Wahh....ibu tadi sangat baik sekali, baru kali ini mendapatkan uang tip sebanyak ini, luar biasa." Gerutuku sambil memasukkan uang itu ke dalam saku belakang celanaku saat itu.


Segera aku menghampiri Ubay untuk menanyakan kembali mengenai apa yang membuat dia mau membantuku sebelumnya.

__ADS_1


"Hei.. Ubay kemari kau," ucapku kepadanya hingga dia juga segera mendekat kepadaku saat itu.


"Tiktik ini untukmu." Ujarnya memberikan uang hasil dari tip seorang ibu sebelumnya.


Aku bisa melihat banyak keringat bercucuran di dahi Ubay saat itu dia juga memegangi tangannya yang terlihat agak lecet, karena terus mengangkut banyak barang ke atas mobil bak, aku tahu hal tadi adalah sesuatu yang sulit bagi seorang Ubay karena dia bukanlah orang sepertiku, yang sudah terbiasa mengangkat semua barang seorang diri dan bekerja keras melawan sulitnya hidup di dunia ini, dengan pekerjaan kasar maupun yang biasa saja.


Aku tidak mungkin menerima uang darinya, karena uang itu dia hasilkan dengan keringatnya sendiri, dan aku tahu untuk mendapatkan uang itu sangat sulit baginya.


"Kenapa kau mau memberikan uang ini padaku, itu kan uang hasil dari kerja kerasmu." Ucapku kepada dia dengan mengerutkan kedua alisku sangat kuat.


Dia malah terus tersenyum kepadaku dan menarik tanganku sambil memberikan uang itu dengan paksa saat itu juga.


Lantas aku langsung terperangah dan menolak dia dengan keras sambil memberikan kembali uang itu kepadanya, karena aku sungguh tidak bisa menerima uang seperti ini dari dia begitu saja.


"Hei, apa yang kau lakukan, aku tidak butuh uang ini, aku juga sudah mendapatkan uang tip yang sama, ini milikmu, meski itu job kerjaku tapi kau yang mengerjakannya, kita sama-sama lelah dan mengeluarkan keringat, jadi ini uangmu bukan uangku, dan kau tidak perlu memberikannya padaku, kau simpan saja, itu uang pertama yang kau hasilkan seratus persen dengan jerih payahmu sendiri, tentunya tanpa embel-embel dari ibumu dan bantuan dari siapapun." Balasku kepadanya.


Hingga tidak lama disaat Ubay hendak memberikan uang itu kepadaku lagi, datang Bu Yati yang langsung merampas uang itu dan dia mengambilnya begitu saja dengan kasar, sambil memperingati Ubay agar tidak berhubungan ataupun bicara lagi denganku.


"Heh... Kemarikan, ini adalah uang putraku kau tidak pantas menerima uang dari dia, setelah kau sudah beraninya menolak putra kesayanganku berkali-kali, dasar wanita pemorotan!" Ucapnya membuatku aku sangat kesal.


Dan tentu saja aku sangat tidak terima dengan apa yang dia katakan padaku, aku sama sekali tidak pernah memoroti uang Ubay, bahkan setiap kali dia memberikan apapun kepadaku, aku selalu menolaknya entah dengan cara kasar ataupun dengan yang lembut, sebab aku sudah tahu hal-hal tidak menyenangkan pasti akan terjadi diantara aku dan Ubay sebab keberadaan ibunya yang sangat perhitungan, pelit dan begitu jahat ini.


"Bu Yati apa-apaan kau ini, tiba-tiba datang dan seenaknya bicara seperti itu tentangku, apa buktinya jika aku memoroti Ubay selama ini?" Bentakku melawannya.

__ADS_1


"Hei...apa saya masih perlu bukti, disaat saya sudah sering melihat Ubay memberikan coklat, pakaian, bunga bahkan peralatan wanita lainnya untukmu, di kamarnya banyak sekali barang yang selalu kau tolak setiap kali dia memberikannya untukmu, dan apa saya sendiri yang harus menjualnya kembali." Balas Bu Yati kepadaku.


Aku kaget mendengar pengakuan itu sebab sebelumnya aku sama sekali tidak pernah tahu jika ternyata Ubay selalu menyimpan semua barang yang sudah aku tolak pemberian darinya, padahal sejak awal aku juga selalu menyuruh dia untuk berhenti melakukan semua itu, dan jangan pernah memberikan aku barang, makanan ataupun hal lainnya yang tidak berguna.


Aku langsung menatap penuh keheranan dan meminta penjelasan kepada Ubay saat itu, hingga Ubay dengan cepat menarik tangan ibunya, menjauhkan dia dariku.


"Aduh, Bu sudah Bu, kenapa ibu bicara kasar seperti itu pada Tiktik, dia tidak salah semuanya aku lakukan karena itu keinginanku, itu semua sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Tiktik." Ucap Ubay menahan ibunya, tetapi walaupun sudah seperti itu, tetap saja Bu Yati begitu keras kepala dan memarahi aku seenaknya, ada juga beberapa anak buah bang Arif yang menyaksikan kejadian tersebut, membuat aku malu saja ketika harus meladeni Bu Yati dan Ubay seperti ini.


"Tetap saja, jika bukan karena wanita ini, kamu tidak akan membantah ucapan ibu, kamu tidak akan menolak perjodohan kamu dengan Lala, kamu juga tidak akan membuang-buang uangmu untuk semua barang yang tidak berguna itu!" Bentak ibu Tiktik pada Ubay.


Dan dia terus memberikan tatapan sinis penuh dengan kebencian terhadap aku, rasanya benar-benar sudah sangat malas untuk melihat wajahnya yang menyebalkan dengan bola mata yang terus dirotasikan juga bibirnya yang terangkat sebelah, itu sangat membuat ku frustasi dan jengkel dibuatnya.


Kedua tanganku sudah mengepal dengan kuat sedari tadi, untuk menahan emosi agar tidak sampai meluncurkan sebuah tamparan ataupun kekerasan lainnya kepada dia, karena mau bagaimana pun aku tahu dia adalah orang yang lebih tua dariku, dan aku masih harus menghormati dia sebagai ibu dari temanku sendiri.


"Ubay lepaskan tangan ibu, ibu masih belum selesai dengan wanita ini!" Bentak Bu Yati lagi dengan menghempaskan tangannya dan mendorong Ubay cukup kuat hingga dia bisa melepaskan diri.


"Hei kau, dasar gadis tidak tahu diri, kau dan kedua orangtuamu ternyata sama saja, sama-sama benalu untukku, dan selalu mengganggu hidup keluargaku, apa kau tidak bisa pergi saja dari kampung ini?" Bentak Bu Yati sambil terus saja menunjuk-nunjuk wajahku terus menerus.


Aku sudah berusaha menahan diri untuk sabar dalam menghadapi dia sedari tadi, tapi kali ini aku tidak bisa diam saja, terlebih Bu Yati sudah mulai membawa-bawa nama kedua orangtuaku, aku langsung menahan tangannya yang terus menunjuk ke wajahku, dan menghempaskan tangannya itu dengan kuat, sambil mulai menjawab ucapannya.


"Heh.... Sudah cukup Bu Yati menjelek-jelekkan saya, menunjuk saya dan terus saja menyalahkan saya, tapi jangan pernah sekali-kali ibu menyeret nama kedua orangtua saya, karena saya tidak akan diam saja!" Bentakku membalas dia dengan keras saat itu.


Yang membuat aku kaget, Ubay justru malah membela ibunya dan dia langsung memarahi aku karena aku yang menghempaskan tangan ibunya hingga dia hampir jatuh saat itu.

__ADS_1


__ADS_2