Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Mengaku Sebagai Pacar


__ADS_3

"Bodoh amat denganmu, kau mau percaya atau tidak tapi ibumu sendiri juga tahu aku baru dari pemakaman." balasku kepadanya dengan tidak perduli lagi.


Aku tidak bisa meladeni orang yang tidak mempercayai aku seperti ini, jadi aku sendiri hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan menggelengkan kepala dengan berkali-kali saat itu.


"Kau bohong!" balas dia yang masih saja tidak mempercayai ucapanku.


Hal itu semakin membuat aku kesal dan aku tidak bisa menahan diri lagi untuk menghadapi manusia seperti dia.


"Ish.....ish...ish... benar-benar kau ini, heh kalau aku bilang tidak ya tidak, aku tidak pernah berbohong kepada siapapun apalagi untuk hal tidak penting seperti ini, lagi pula jika memang aku benar-benar pergi dengan dokter Sendi, apa urusannya denganmu, dan kau juga tetap tidak berhak menahan aku seperti ini, apalagi malah menghalangi jalanku sampai hampir membuatku sebuah kecelakaan terjadi saat ini." Balasku kepadanya sambil menatapnya dengan kesal.


Wajahnya terus saja menatap aku dengan tatapan yang tajam dan terus saja terlihat kesal saat itu, aku sendiri sangat tidak nyaman dengan tatapan yang dia berikan kepadaku, rasanya aku sudah sangat bosan untuk melihat wajahnya, aku ingin segera pergi dari sana secepatnya.


"Tetap saja Tiktik, kau tidak boleh pergi dengan pria lain disaat kau menolak ajakan dariku!" Ucap dia membentak aku saat itu.


"Kenapa aku harus melakukan hal itu? Memangnya kau siapa hah?" Bentakku lagi dengan menatap dia sinis dan membuka mataku sangat lebar saat itu.

__ADS_1


"Aku kan sahabatmu, aku temanmu yang sudah sangat lama bersama denganmu, jadi pantas saja aku harus melarang kau untuk pergi dengan pria lain, intinya kau hanya boleh dekat denganku, pergi denganku, dan membonceng aku di motormu, orang lain tidak boleh ada yang melakukan hal itu T..I..T..I..K titik!" Ucap dia bicara dengan begitu keras kepadaku.


Aku terus saja merasa semakin muak dalam menghadapi kelakuan Ubay yang semakin kesini malah semakin menyebalkan, dia hampir sama dengan ibunya yang senang mengatur hidup orang lain, bahkan sekarang saja dia sudah berani menahan-nahan aku seperti ini.


Saat aku mau membalas ucapannya lagi justru dengan cepat tiba-tiba saja dokter Sendi datang menghampiri aku dengan menggandeng tanganku dengan erat dan dia berkata kepada Ubay bahwa dia adalah pacarku saat itu. Padahal aku dengan dia sama sekali tidak memiliki hubungan apapun sebelumnya.


"Kau tidak bisa menahan ataupun mengatur Tiktik, karena kau hanya sahabatnya, kau hanya teman yang bersama dia sedangkan aku adalah kekasihnya, jadi dia lebih pantas untuk pergi dan diatur olehku bukan dirimu." Ucap dokter Sendi sambil mengangkat tanganku yang dia genggam di depan wajah Ubay.


Ubay yang melihat hal itu dia langsung saja terlihat marah besar dan hendak melepaskan genggaman tangan diantar aku dan dokter Sendi namun entah punya keberanian dari mana dokter Sendi menahan tangan Ubay dengan kuat lalu menghempaskan nya sembari memberikan peringatan kepada Ubay saat itu, agar dia tidak menggangu aku lagi di kemudian hari.


"Kau....eeugh..lepaskan tanganku!" Berontak Ubay sambil terus saja berusaha melepaskan tangannya yang di genggam dengan erat oleh dokter Sendi saat itu.


Bahkan aku sendiri terperangah menatap ke arah dokter Sendi dengan tatapan yang kaget sebab sebelumnya dia sama sekali tidak pernah terlihat bicara dengan nada setegas ini apalagi memberikan tatapan yang begitu tajam kepada siapapun ketika di hadapanku selama dia pindah dan selama aku bertemu dengannya sejak awal hingga saat ini.


Ubay juga terlihat gemetar dan dokter Sendi langsung menghempaskan tangannya cukup kuat hingga membuat Ubay meringis lalu pergi dari sana meninggalkan aku secepatnya.

__ADS_1


"Kau....awas saja ya, aku akan melaporkan kau pada ibu dan anak buahku, kau akan menerima balasannya karena berani berlaku seperti ini padaku!" Ucap Ubay yang memberikan ancaman balik pada dokter Sendi.


Kini aku mulai cemas dan takut, aku tahu bagaimana Ubay karena sudah berteman dalam waktu yang sangat lama dengannya, dan dia adalah anak yang selalu mengadu pada ibunya, jadi aku tahu bahwa saat itu dia pasti akan benar-benar melaporkan kejadian saat itu kepada bu Yati sedangkan aku juga tahu dengan benar bahwa Bu Yati pasti tidak akan tinggal diam, dia dan anak buahnya terkenal sangat kejam dan tidak pernah pandang bulu pada siapapun yang berani mengusik keluarganya.


Saat Ubay sudah pergi aku langsung saja menarik tangan dokter Sendi dan meminta penjelasan pada dia saat itu juga.


"Dokter Sendi apa yang kau katakan padanya, aaahhh...dia pasti akan benar-benar melaporkan kamu pada ibunya, kau akan dalam bahaya sekarang." Ucapku mencemaskan dia dan terus saja tidak bisa diam saja saat itu.


Bahkan aku sendiri terus saja berjalan mondar mandir sambil berkacak pinggang memikirkan cara yang bagus agar dokter Sendi bisa tetap aman dan bu Yati tidak sampai berbuat kasar apalagi mencelakai dokter Sendi seperti yang biasa dilakukan oleh bu Yati kepada orang lain yang sebelumnya berani mengusik keluarganya, terlebih lagi yang dibuat kesal saat ini adalah Ubay anak kesayangan semata wayang dari ibu Yati yang selalu di banggakan oleh kedua orangtuanya tersebut.


Dan selalu di turuti semua kemauannya selama ini, bahkan aku terkadang juga dibantu oleh Ubay ketika ibu Yati sering berlaku kasar ketika menagih hutang padaku saat aku masih memiliki tunggakan cicilan kepadanya, namun sekarang aku sudah tidak lagi mengandalkan Ubay karena aku tidak mau terlalu banyak berhutang budi kepada orang seperti dia.


Aku tahu dia tidak sejahat ibunya tetapi dia tidak bisa memahami jika bila dia mengadu kepada ibunya maka nasib seseorang akan benar-benar dalam bahaya, itulah yang membuat aku terus merasa cemas dan panik tidak karuan saat ini.


Namun anehnya dokter Sendi sama sekali tidak panik sedikit pun dan dia justru malah bersikap sangat santai dengan kembali ke motorku dan segera mengajak aku untuk segera kembali naik saat itu.

__ADS_1


"Sudah untuk apa memikirkan hal yang belum tentu terjadi, aku kita harus segera pulang sebelum semakin larut malam." Ucapnya kepadaku.


Sikap santainya itu justru malah membuat aku semakin tidak tenang, dokter Sendi mungkin saja bisa melawan putranya karena kemampuan dan keberanian Ubay di bawah dia, tetapi bagaimana dengan ibu Yati ataupun suaminya yang sama keras kepalanya dengan dia dan selalu membela istri juga anaknya meskin mereka sebenarnya adalah orang yang salah dan penyebab dari sakit hatinya orang lain dalam jangka waktu yang lama.


__ADS_2