
Dokter Sendi terus saja mendengarkan semua cerita yang aku katakan kepadanya saat itu, aku memberitahu dia tentang asal usul nama kampung rentenir ini yang cukup rumit dan panjang, aku juga memberitahukan kepadanya mengenai ibu Yati yang merupakan rajanya rentenir dan termasuk orang yang sangat kaya raya di kampung ini, bahkan bisa dikatakan dia adalah orang terkaya di desa kami, semua orang meminjam uang kepadanya, putranya bisa menjadi seorang guru, dan suaminya pekerja kantoran di kota, dia juga sering kali membawa masyarakat di sini untuk ikut bekerja dengannya ke kota tetapi syaratnya mereka harus memberikan kompensasi kepada Bu Yati dan suaminya karena sudah memberikan mereka pekerjaan.
Bahkan dokter Sendi saja sampai mengerutkan kedua alisnya dengan kuat, dan dia merasa tidak menyangka dengan apa yang aku katakan pada dia barusan, padahal aku memang menjelaskan yang sebenarnya saat itu.
"Apa dia sejahat itu, tapi sepertinya wajah dia memang terlihat agak kejam ya?" Ucap dokter Sendi yang membuat aku ingin tertawa ketika mendengarnya.
"Ahahaha...pak dokter asal bapak tahu ya, bukan hanya wajahnya saja yang menyeramkan dan terlihat kejam, ucapannya sangat pedas bahkan lebih pedas dari cabai, dia juga tidak memiliki belas kasih, entah pada anak kecil, orang tua atau bahkan pada pengemis sekalipun, entah bagaimana dia akan mengakhiri hidupnya, dia seperti orang yang tidak akan mati saja," balasku kepada pak dokter Sendi.
Sampai tidak lama ketika aku tengah terus tertawa membicarakan kekonyolan aku dan semua hal yang aku usahakan untuk membayar hutang pada bu Yati sebelumnya, muncul Baim dan beberapa temanku saat itu, mereka langsung berteriak memanggil aku dan wajah mereka terlihat sedih saat itu.
"Tiktik.... Hah...hah..hah.. rupanya kamu disini, aku mencarimu kemana-mana sedari tadi." Ucap Baim kepadaku.
"Im kenapa kau ngos-ngosan begitu, apa kamu habis di kejar anjing ya?" Tanyaku kepadanya dengan heran.
"Bukan Tik, aku bukan habis dikejar anjing, tapi ini ada masalah gawat Tik." Ucap dia bicara kepadaku.
Saat Baim mengatakan itu aku langsung bangkit berdiri dan segera menghadap pada dia dengan tegak, lalu mulai berbicara dengannya dan meninggalkan dokter Sendi sebenarnya karena aku tahu baim mungkin tidak akan berani mengatakan masalah yang mau dia ucapkan padaku di hadapan orang lain.
"Pak dokter tunggu sebentar ya, balap makan saja baksonya lebih dulu, nanti saya balik lagi kemari." Ucapku kepadanya yang langsung dianggukkan oleh dokter Sendi dengan cepat saat itu.
Aku pun segera mengajak Baim untuk pergi sedikit menjauh dari tempat dokter Sendi duduk saat itu.
"Ayo ikut aku Baim." Ucapku sambil menarik tangannya dengan cepat.
Setelah aku rasa kami sudah cukup jauh dan pembicaraan kami tidak akan terdengar siapapun aku mulai bertanya dan menyuruh Baim untuk mengatakannya, ditambah dia tidak datang sendirian saat itu, melainkan dengan beberapa anak buahku yang lain.
"Ayo katakan sebenarnya ada apa kalian mencari aku?" Tanyaku kepadanya dengan langsung saat itu juga.
Wajah mereka langsung tertunduk dan terlihat begitu lesu, aku semakin merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka hingga aku terpaksa harus mendesak dan meninggikan suaraku dahulu agar mereka mau angkat bicara kepadaku saat itu.
"Heh....Baim, ada apa sebenarnya, kenapa mereka semua tertunduk begitu? Ada masanya apa sebenarnya? Ayo katakan padaku!" Ucapku membentak mereka cukup keras saat itu.
Sampai tidak lama akhirnya Baim dan yang lain mau angkat bicara setelah melihat aku hampir marah dan sudah membentak mereka beberapa kali saat itu.
"Begini Tiktik kamu tahu kan kita semua memiliki hutang yang cukup besar pada ibu Yati, dan dia hari ini datang mengobrak abrik rumah kami semua, bahkan dia juga mengambil tv ku, dan beberapa barang milik teman-teman yang lainnya, dia menyuruh kami untuk mengadu kepadaku dan dia bilang semua ini terjadi karena ulahmu, kami tidak menyalahkan mu Tiktik, tapi bisakah kamu membujuk ibu Yati agar dia bisa memberikan tenggat waktu setidaknya satu bulan lagi untuk kami melunasi hutang kami padanya." Ucap Baim kepadaku.
Aku terus mengerutkan kedua alisku dengan kuat, aku berpikir keras dengan apa yang tengah ibu Yati rencana untuk menyulitkan hidupku lagi kali, ini sebab sangat jelas hutang mereka sama sekali tidak ada hubungannya denganku, tetapi dia seperti sengaja menyeret aku agar teman-temanku menganggap semua ini disebabkan olehku, yang membuat ibu Yati menagih hutang mereka hari ini, padahal dengan ada atau tidaknya masalah antara aku dan ibu Yati, aku sangat yakin dia akan tetap menagih hutang pada mereka semua, karena memang setiap hari dia akan berkeliling menagih hutang pada semua orang sesuai dengan jadwal pinjamannya masing-masing dan sekarang adalah tanggal penagihannya.
__ADS_1
Sehingga aku mulai memberikan pengertian kepada mereka semua dan berusaha untuk menjelaskan bahwa semua itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku.
"Baim, teman-teman semua, apa kalian bisa percaya kepada jebakannya ibu Yati dengan semudah ini?" Ucapku kepada mereka pertama-tama.
Mereka langsung terlihat berpikir.
"Apa maksudmu Tiktik?" Tanya Baim kepadaku mewakili mereka semua yang juga nampak kebingungan saat itu.
"Begini temen-temen, Baim. Coba kalian pikirkan, ini hari apa, dan tanggal berapa, meski aku melakukan masalah pada ibu Yati ataupun tidak ini memanggil tanggal dan tenggat waktu kalian harus membayar hutang kepadanya, jadi dia akan tetap menagih hutang pada kalian semua pada waktu yang sudah di tentukan, dia hanya menakut-nakuti kalian saja, dia sebetulnya hanya ingin menjebak aku, dan membuat kalian melakukan hal seperti yang kalian lakukan padaku saat ini." Balasku kepada mereka saat itu.
Aku pikir mereka akan mengerti dengan apa yang aku katakan saat itu, namun sayangnya memang tidak semua orang bisa memahami ucapanku atau bisa mengerti dengan pola pikir yang aku gunakan, sehingga tetap saja mereka tidak mempercayai aku dan hanya beberapa saja yang mengerti.
"Tiktik...sudah jelas semua ini karenamu, jika saja kamu tidak membuat masalah dengan ibu Yati sebelumnya, paling tidak dia mungkin bisa memberikan waktu tambahan bagi kami semua, dan tidak akan mengambil barang milik kami yang ada di rumah!" Teriak Aldi kepadaku saat itu.
Aku tidak mengerti mengapa dia terlihat begitu marah daripada yang lainnya saat itu, dia terlihat sangat kesal dan begitu gemas kepadaku, terlebih saat dia bicara seperti itu, lalu langsung saja teman-teman yang lain menimpali dan seketika mereka memiliki pemikiran yang sama dengan Aldi, aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di otak mereka semua saat itu, tetapi karena mereka sudah mendesak aku seperti ini, tidak ada pilihan lain lagi padaku, sehingga aku mulai menuruti apa yang mereka inginkan saat itu.
"Iya...apa yang dikatakan oleh Aldi benar, semua ini karenamu Tiktik, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, dan jangan pernah membawa-bawa nama kami lagi, mulai sekarang aku tidak akan jadi anak buahmu lagi, aku keluar dari pasar." Ucap temanku yang lainnya.
Dan tidak aku sangka rupanya mereka semua benar-benar memilih untuk meninggalkan aku hanya karena masalah seperti ini saja, yang padahal mau bagaimana pun mereka tetap harus membayar hutang mereka mau itu cepat ataupun lambat, sebab ibu Yati memang rentenir yang sangat kejam.
Tetapi orang seperti aku tentu tidak bisa melakukan apapun selain pasrah menerimanya, lagi pula sejak awal, aku juga tidak pernah meminta ataupun memaksa mereka agar bekerja denganku di pasar, tetapi mereka sendiri yang mau melakukannya.
"Apa kamu benar-benar akan datang kesana, bagaimana jika nanti kamu tidak datang? Siapa yang bisa menjaminnya?" Ucap Aldi kepadaku.
"Aldi sejak kapan kau menjadi seperti ini padaku, tidak mungkin kau tidak mempercayai aku, aku ini kan teman sekelas mu sejak kita SD, seharusnya kau tahu dengan jelas bagaimana aku, sejak dulu aku tidak pernah mengingkari janjiku ataupun perkataan yang keluar dari mulutku." Balasku kepadanya.
Entah kenapa saat itu aku merasa Aldi tidak sama seperti Aldi yang dulu aku kenal dia terlihat lebih marah dan menggebu-gebu kepadaku, seakan dia sangat tidak menyukai aku dan seperti musuh padaku, padahal selama ini hubungan aku dengannya baik-baik saja, kami selalu bekerja bersama di pasar dan aku dengan dia cukup dekat, sebab kami berteman sejak kecil bersama-sama dengan aku, Baim dan Ubay putranya ibu Yati.
Hanya saja memang Aldi lebih dekat dengan Ubay dibandingkan denganku tapi dia bukan orang jahat aku yakin dengan hal itu.
Baim juga langsung membelaku dan dia mau menjadi jaminan bagiku.
"Sudah-sudah aku bersedia untuk menjadi jaminannya, aku yakin Tiktik akan datang, dia tidak mungkin mengingkari ucapannya sendiri, karena aku sudah mengenalnya sangat lama dan tidak pernah sekalipun dia mengingkari ucapannya, kalian bisa melakukan apapun terhadapku atau Tiktik jika dia tidak datang nanti." Ucap Baim yang membuat aku sedikit terharu dengan kebaikannya.
Dia juga mendapatkan hal yang sama dari ibu Yati, tetapi dia berbeda dengan yang lainnya, disaat semua orang mendesak aku dan terus menyalahkan aku atas terjadi semua ini, tetapi dia justru mau menjamin diriku dan membantu aku untuk menenangkan teman-teman yang lainnya hingga mereka mau mendengarkan ucapan darinya.
"Baiklah kami akan pergi, awas saja jika kamu tidak datang!" Ucap mereka kepadaku.
__ADS_1
"Tenang saja aku pasti datang." Balasku kepada mereka.
Baim ikut dengan mereka sedangkan aku segera saja kembali menghampiri dokter Sendi secepatnya, aku juga segera menghembuskan nafas dengan lesu untuk menghapuskan emosi yang ada di dalam diriku saat itu.
"Tiktik kenapa wajahmu kusut sekali? Apa ada masalah?" Tanya dokter Sendi padaku saat itu.
"Tidak ada, tapi pak dokter jika bapak makannya sudah selesai, mati saya antar pak dokter pulang, saya ada urusan dengan teman-teman yang tadi soalnya." Ucapku kepada dia saat itu.
"Ya sudah ayo kita pergi, saya juga sudah selesai kok." Balas dokter Sendi padaku.
Aku segera mengantarnya pulang ke rumah umi Salma, dan segera pergi ke rumah ibu Yati, bahkan saking terburu-burunya aku tidak sempat membalas ucapan dari dokter Sendi yang mengucapkan hati-hati kepadaku saat itu.
"Eehhh...hati hati Tiktik..." Ucap dokter Sendi yang tidak sempat aku balas karena aku sudah terlanjur melakukan motorku dengan cepat saat itu.
Aku tidak bisa membuat orang-orang itu menunggu terlalu lama karena aku takut mereka akan mengira aku tidak datang, padahal memang jarak dari tempat sebelumnya ke rumah umi Salma lebih jauh dibandingkan ke rumah ibu Yati sendiri.
Aku terus merasa cemas selama di perjalanan hingga sesampainya disana aku datang berbarengan dengan Ubay dan dia juga mengerutkan kedua alisnya melihat ada banyak orang di depan rumahnya seperti itu.
"Eehhh ....sedang apa kalian disini?" Tanya Ubay yang baru saja pulang dari sekolah saat itu.
"Kita mau bertemu ibumu. Bay, kau tolong panggilkan dia keluar ya." Ucapku kepadanya dan membuat mereka semua langsung berbalik melirik ke arahku yang berjalan mendekati Ubay saat itu.
"Untuk apa kalian menemui ibuku beramai-ramai seperti ini, apa kalian mau demo ya?" Tanya Ubay lagi padaku saat itu.
Aku tahu pertanyaan dia kepadaku saat itu hanyalah sebuah candaan biasa tetapi dia salah tempat dan waktu saat bertanya seperti itu kepadaku, karena saat ini semua orang tengah tegang disana dan mereka mungkin tidak bisa diajak bercanda seperti itu olehnya.
"Iya..kami datang untuk mendemo ibumu, cepat kau masuk dan suruh dia keluar menghadapi secara langsung!" Balasku kepada dia dengan tegas dan sedikit emosi saat itu.
Saat mendengar jawaban dariku, wajah Ubay langsung saja terbelalak dengan sangat lebar, dan dia terlihat begitu kaget mendengarnya, sampai hal itu membuat aku semakin gemas karena dia malah terus terperangah diam di tempat tanpa melakukan apapun, bukannya dia pergi dari sana, dia malah terus saja menatap dengan wajah konyol kepadaku saat itu, membuat aku merasa kesal dengan kelakuannya itu dan aku harus kembali membentak dia lagi untuk menyadarkannya.
"Heh..cepat kau masuk atau aku akan menendangmu!" ucapku mengancam dia dengan tatapan yang tajam dan sinis padanya.
"Ta...ta..tapi Tiktik untuk apa kau mendemo ibuku?" tanya dia kembali padaku.
Dia benar-benar manusia yang paling cerewet yang pernah aku kenal selama aku hidup, memang semua itu menurun dari kedua orangtuanya yang sama-sama cerewet dan menjengkelkan sekali.
Aku sudah mengepalkan kedua tanganku dengan kuat untuk menahan emosi saat itu, sampai setelah aku menahan emosiku aku baru bisa bicara dengannya dan menyuruh dia untuk segera masuk ke dalam dan memanggil ibunya yang sangat meresahkan semua orang di kampung ini, termasuk sudah menyeret diriku juga ke dalam permasalahan seperti ini.
__ADS_1
"Heh. Cepat kau masuk ke dalam, atau aku benar-benar akan mendorongmu!" teriakku sangat kencang kepadanya saat itu.