Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Dibantu Dokter Sendi


__ADS_3

"Tiktik, perawat di rumah sakit dan aku bisa membantu proses pemakannya, kamu jangan cemas saya akan minta mereka membawa ambulans ke rumah temanmu itu." Ucap dokter Sendi sambil memegangi pundakku.


Aku benar-benar merasa sangat terbantu dan begitu senang dengannya, aku pun langsung berterimakasih kepada dokter Sendi saat itu juga karena dia sudah mau membantuku dalam hal seperti ini.


"Benarkah? Dokter kamu tidak bercanda kan?" Tanyaku kepada dia.


"Mana mungkin aku bercanda dalam situasi seperti ini, mari kita jemput jenazahnya, aku akan meminta supir ambulance untuk menjemputnya, kamu bisa ikut dengannya." Balas dia kepadaku saat itu.


"Tidak tahu lagi bagaimana aku berterima kasih kepadamu pak dokter, tapi aku pasti akan membalas semua kebaikan yang sudah kamu berikan untukku dan Baim, aku benar-benar berterima kasih padamu." Ucapku sambil memegangi kedua tangannya dengan erat.


Setelah itu aku segera pergi dan kami mulai melakukan semua proses pemakamannya dengan begitu lancar, berkat bantuan dari pak dokter Sendi dan semua rekan-rekan lainnya yang sangat baik mau membantu aku dan Baim bahkan tanpa kami membayar sepeserpun uang pada pihak puskesmas dan para perawat yang membantu kami menyelesaikan semua proses pemakamannya hingga selesai.


Baim dan aku berjongkok di samping makan neneknya, sedangkan semua orang sudah pergi saat itu, karena memang hanya ada beberapa orang saja yang menghadiri pemakaman neneknya, Baim terlihat begitu pucat dia sangat sedih dengan kepergian sang nenek, sebab dia hanya memiliki neneknya seorang dan sekarang harus kehilangannya juga, meninggalkan dia seorang diri di dunia ini.


Aku juga pernah berada di posisi Baim jadi aku bisa memahami dan merasakan dengan jelas bagaimana perasaan dia saat ini.


"Baim...kamu tenang saja, aku masih ada, jika kamu butuh bantuan apapun kamu bisa menghubungi aku, jangan ragu untuk bicara padaku." Ucapku kepadanya.

__ADS_1


Disana juga masih ada dokter Sendi dia juga turut mengucapkan bela sungkawa kepada Baim dan Baim segera berterima kasih kepada dokter Sendi di hadapanku saat itu juga.


"Kamu juga tidak perlu sungkan untuk menemui saya jika membutuhkan bantuan." Tambah dokter Sendi saat itu.


"Terimakasih banyak Tiktik, pak dokter, kalian ini orang yang sangat baik dan berhati lapang, saya sudah banyak merepotkan kalian berdua, saya benar-benar berterima kasih atas semua bantuan yang sudah kalian berikan," balas Baim kepadaku dan dokter Sendi.


Baru saja aku mau mengajak Baim untuk pulang ke rumahnya namun kami malah di hadang oleh dua anak buah ibu Yati beserta dengan bu Yati nya sendiri saat itu, padahal kami masih berada di dalam area pemakaman tapi bu Yati dengan dua anak buahnya itu masih berani masuk kemari dan mendatangi Baim untuk menagih hutang neneknya.


"Heh Baim sudah cukup kau menangis seperti itu, cepat bayar hutang nenekmu, dia sudah mati jadi aku akan menagihnya padamu, hutangnya masih banyak padaku tapi dia malah mati, dasar sialan!" Ucap Bu Yati yang sangat membuatku emosi.


Aku ingin memarahi dia dan melawannya saat itu juga, tetapi Baim menahanku dan dia mulai berbicara membalas ucapan dari ibu Yati saat itu.


"Bu... Saya akan membayarnya besok tapi hari ini saya masih dalam keadaan berduka, tolong jangan membicarakan mengenai hal ini, saya janji akan membayarnya sesuai dengan aturan yang ibu berikan, membayar hutang mendiang nenek saya satu bulan sekali dengan jumlah yang sama dan tidak kurang suatu apapun." Ucap Baim kepadanya.


"Tidak bisa! Ini sudah tenggat waktunya, kamu sudah menunggak sebanyak tiga bulan, berapa banyak lagi uangku yang harus tertahan pada kau. Cepat bayar sekarang, tidak mungkin kau tidak punya uang setelah nenekmu mati kan? Mana berikan uangnya padaku!" Bentak Bu Yati kepada Baim saat itu.


Aku tidak bisa tinggal diam apalagi bu Yati yang menagih Baim dengan cara mendesaknya seperti itu, jadi aku suda tidak bisa menahan diriku lagi dan mulai turun tangan sendiri untuk melawan bu Yati saat itu.

__ADS_1


"Heh. Bu Yati apa ibu tidak punya hati dan mata? Lihat kuburan neneknya Baim baru saja di tumbuh tanah, ibu berani menagihnya seperti ini, tenang saja bu, Baim akan membayar semua hutangnya, ibu jangan mengkhawatirkan hal itu, saya juga akan membantu dia membayarnya ini ambil uang ini untuk hari ini dan pergi dari sini!" Bentakku kepada bu Yati sambil memberikan uang tiga ratus ribu milikku kepadanya.


Wajah bu Yati terlihat kesal kepadaku tapi dia tetap mengambil uangnya dan masih berani mengancam kepadaku saat itu termasuk kedua anak buahnya yang terus memberikan tatapan tajam padaku saat itu.


"CK.... Aku ambil uang ini tapi hutangmu harus terus kau bayar, dan kau Tiktik awas saja kau aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang setelah beraninya selalu ikut campur dengan urusanku!" Ucap bu Yati kepadaku dan Baim saat itu.


"Silahkan lakukan apapun yang kau bisa padaku, aku tidak takut denganmu!" Bentakku kepadanya.


Dia pergi dengan anak buahnya setelah mendapatkan uang dariku, dia benar-benar sangat menjengkelkan sedangkan Baim dia justru malah merajuk kepadaku dan dia meminta aku agar tidak mengikuti dirinya saat itu.


"Tiktik kenapa kau malah memberikan uangmu padanya, aku kan sudah bilang aku bisa membayarnya sendiri, kenapa kau tetap membantuku, aku terlihat lemah jika kau terus membantuku!" Bentak Baim yang tiba-tiba saja marah denganku dan dia pergi dari sana dengan menghempaskan tanganku cukup kuat.


"Eh ... Baim, Baim tunggu ada apa denganmu, kenapa kau marah padaku, aku kan temanmu tentu aku akan membantumu sebanyak apapun yang aku bisa." Balasku kepadanya saat itu.


"Tapi aku tidak butuh bantuanmu dan uang yang kamu berikan pada bu Yati tadi aku akan mengembalikannya." Balas dia lalu pergi meninggalkan aku.


Aku hendak berlari mengejar Baim namun tanganku di tahan oleh dokter Sendi saat itu.

__ADS_1


"Baim...tunggu aku Baim...." Teriakku kepadanya saat itu.


Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di pikirannya, karena dia yang malah tiba-tiba marah kepadaku disaat aku menolongnya dengan baik, dan dia malah menghempaskan tanganku seperti tadi.


__ADS_2