Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Memutuskan Pertemanan


__ADS_3

Padahal aku juga tidak mungkin melakukan hal seperti itu, jika bukan ibunya yang memulai dari awal, membawa nama kedua orangtuaku dan terus menunjuk wajahku berkali-kali, memberikan penghinaan terhadapku dan terus menyalahkan aku atas sesuatu yang dilakukan putranya yang bahkan aku sama sekali tidak mengetahui semua itu, ataupun tentang semua barang yang di simpan oleh Ubay selama ini.


"Tiktik. Cukup! Kenapa kamu berani mendorong ibuku seperti itu, jangan pernah kamu melakukan hal itu pada ibuku!" Bentak dia padaku.


"Hei, Ubay aku tahu, dia ibumu, tapi apa kamu buta? Apa yang sudah ibumu lakukan padaku sedari tadi bahkan sejak kedua orangtuaku masih hidup dia selalu menyulitkan ku, tapi aku tidak pernah membeda bedakan kau dengan temanku yang lainnya, aku tetap menerimamu, bahkan disaat ibuku selalu saja berbuat jahat padaku, aku tetap menganggap kau temanku, sekarang karena hal seperti itu kau berani membentak aku? Sedangkan yang salah disini adalah ibumu, bukan aku?" Balasku kepadanya.


Baim yang baru tiba disana, dia segera mendekati aku dan mulai menahan tanganku sambil terus berusaha menenangkan aku.


"Tiktik? Sudah Tik sudah, mereka bukan lawanmu, tidak akan ada habisnya jika kamu berhadapan dengan mereka." Ucap Baik kepadaku.


Sayangnya aku tidak bisa terus lemah ataupun mengalah, apalagi jika harus terus memaafkan mereka, orang yang sudah terlalu sering menginjak-injak harga diriku selama ini, aku tentu tidak bisa diam saja seperti wanita lemah yang biasanya ada dalam drama, aku Tiktik ketua preman pasar yang sangat ditakuti banyak orang dan menguasai beberapa macam ilmu bela diri, tentu saku tidak akan mengalah ataupun membuatkan mereka lagi.


"Hei....aku sudah capek, aku tidak akan membiarkan kedua orang ini kembali merusak hidupku lagi Baim, aku tidak perduli apapun aku harus memberinya pelajaran." Ucapku kepada Baim sambil menarik tanganku dengan cepat dari tangan Baim.


"Dasar kau wanita tidak tahu diri, apa kau lupa rumah yang kau tempati sudah bukan rumahmu, itu adalah rumahku, kau hanya menyewa rumah itu, aku sudah memberikan kau tempat tinggal dan Ubay yang memohon padaku, jika bukan karena permohonan darinya aku tidak akan memberikan tempat itu untuk gadis urakkan yang tidak tahu malu sepertimu!" Bentak Bu Yati yang malah menyangkut pautkan semua hal dengan rumah sewaan yang aku tempati.


"Hah....jadi karena itu, kau berpikir anakmu sudah melakukan banyak hal untukku? Aku tidak pernah meminta dia untuk membantuku, ataupun memberikan banyak hal tidak berguna untukku, aku juga sama sekali tidak pernah menerima semua hal yang dia berikan termasuk uang dari hasil kerjanya barusan, kau bisa melihatnya dengan jelas Bu Yati, aku tidak pernah menyukai putramu, kau ataupun semua harta milikmu dan aku bukan wanita yang memoroti harta seorang pria!" Balasku dengan keras kepadanya.


Dia terlihat semakin marah, meski Ubay sudah menahan tangan Bu Yati, dia tetap saja berusaha berontak dan malam memerintahkan kedua anak buahnya untuk m*nghajarku saat itu, sehingga perkelahian diantara kami tidak bisa di hentikan.


Meski anak buahku yang lain hendak menolongku dan membantu aku untuk melawan kedua anak buah Bu Yati, tetapi aku menghentikannya dan sengaja melarang mereka untuk tidak ikut campur dengan masalahku.

__ADS_1


"Kalian berdua, beri wanita itu pelajaran, sekarang!" Bentak Bu Yati memerintahkan kedua anak buahnya itu.


"Bu, apa yang ibu lakukan, hei hentikan jangan berani-beraninya kalian melakukan itu pada Tiktik!" Teriak Ubay berusaha menahannya.


Namun aku sudah tahu kedua anak buah Bu Yati tidak akan mendengarkan ucapan dari siapapun, karena merasa sangat patuh juga begitu setiap terhadap bosnya, hingga mereka mulai hendak menyerangku dan di hadang oleh Baim berserta anak buah bang Arif saat itu, bang Arif sendiri juga ada disana dan dia membelaku.


"Jika kalian berani menyerang Tiktik, maka hadapi kita semua dahulu!" Ucap Baik saat itu.


Bang Arif berdiri di paling depan dan dia terlihat sudah melipatkan pakaiannya, bersiap untuk melawan kedua nak buah yang memiliki tubuh tinggi juga badan yang kekar tersebut.


"Aishh sudah cukup, kalian kenapa ikut campur begini? Sudah jangan buat keributan dan jangan membantuku, aku terimakasih kalian sangat perduli kepadaku, tapi aku tidak mau kalian membantu dalam hal ini, sudahlah aku bisa membereskan mereka sendiri, dengan kedua tanganku." Ucapku kepada mereka semua.


Walaupun pada awalnya mereka semua terlihat sulit untuk di tenangkan namun lama kelamaan mereka pun menuruti ucapanku, agar tidak ikut campur lagi dalam masalahku dengan bua Yati, sebab aku hanya takut mereka akan merasakan dampak yang besar jika ikut campur dengan masalahku, sama seperti yang terjadi dengan Aldi juga anak buahku yang sebelumnya.


Hingga mereka semua kembali bubar dan pergi melanjutkan kerjaannya kembali.


Aku menatap tajam ke arah dua pria anak buah Bu Yati yang sudah mengepalkan tangannya masing-masing dan memasang kuda-kuda untuk menyerangku saat itu, sedangkan aku masih saja bersikap santai dan menatap tajam pada Ubay juga Bu Yati saat itu.


"Bu Yati aku benci kekerasan seperti ini, jadi aku lebih baik kehilangan teman seperti Ubay, daripada harus terus berhubungan dengan keluargamu. Mulai sekarang jangan pernah anggap aku temanmu lagi, jangan datang ke rumahku, atau pun memberikan sesuatu kepadaku, jangan muncul di hadapanku dan jangan mengenal aku, anggap saja bahkan kita orang asing." Ucapku kepadanya.


Walau sebenarnya sangat berat untuk aku melakukan hal seperti ini, karena mau bagaimana pun Ubay tetaplah salah satu teman baik yang aku miliki, namun hanya karena ibunya, aku tidak bisa mempertahankan dia untuk tetap menjadi temanku, apalagi jadi pacarku, aku tidak ingin memicu pertengkaran dan masalah yang lebih besar lagi nantinya.

__ADS_1


Namun yang tidak aku duga, rupanya Ubay tidak bisa menerima semua keputusanku, meskipun ibunya terlihat begitu senang dan Bu Yati langsung saja mengusir aku dengan keras.


"Sudahlah Tiktik, tolong jangan begitu, jangan mempermasalahkan ini lagi, ibuku hanya asal bicara dan anak buahnya juga tidak benar-benar menyerangmu bukan? Jadi aku mohon padamu, jangan berkata seperti itu, aku masih ingin menjadi temanmu." Ucap Ubay menatap dengan matanya yang bulat dan terlihat begitu serius padaku.


Bahkan dia langsung saja mendekati aku memegangi kedua pundakku dan terus saja berusaha menjelaskan kepadaku tentang semua yang dia inginkan, dia juga terus saja berusaha meyakinkan aku, agar aku bisa menarik kembali semua ucapan yang aku katakan kepadanya.


Sayangnya aku tidak bisa menarik kembali semua ucapan yang sudah aku katakan sebelumnya, aku sudah memutuskan semuanya dengan jelas dan keputusanku itu sudah sangat bulat, aku tidak bisa terus berteman dengannya dan membuat Bu Yati yang terus saja mempermasalahkan banyak hal, menyulitkan hidupku dan terus saja seperti bayangan yang menyebalkan untukku selama ini.


"Tiktik, ayolah aku mohon padamu, tolong bicara, tolong tarik kembali semua ucapanmu tadi, ibuku tidak sungguh-sungguh untuk melakukan hal itu, kau harus memaafkan aku dan ibuku, aku minta maaf Tiktik, sebelumnya aku tidak bermaksud membela ibuku hanya saja kau tahu bukan dia ibuku dan bagaimana sikapnya, aku mohon tolong jangan seperti ini." Ujarnya kepadaku.


"Maafkan aku Ubay, tapi aku tidak bisa, semua hal yang sudah aku putuskan tidak bisa aku tarik kembali, aku sudah mengatakan semuanya dengan begitu jelas dan tegas padamu bahkan di hadapan ibumu sendiri, aku rasa ibumu juga setuju padaku, lihatlah dia tersenyum padaku, dia mungkin senang aku melakukan semua itu, kau tidak perlu mengenal aku lagi." Ucapku sambil melepaskan kedua tangan Ubay yang terus memegang pundakku saat itu.


Ubay langsung saja terlihat lemas dan dia tertunduk dengan lesu, Bu Yati langsung menarik tangannya dan terlihat begitu senang ketika tahu bahwa aku sudah memutuskan hubungan pertemanan ku dengan Ubay.


"Sudah Ubay, untuk apa kamu menangisi dan merasa sedih dengan wanita seperti dia, ibu akan carikan kamu gadis yang lebih cantik dan lebih baik dibandingkan dia, banyak wanita di luar sana yang mengejarmu, kau tidak perlu mempertahankan wanita tidak berguna sepertinya, ayo kita pergi, ayo Ubay!" Ucap Bu Yati sambil terus menarik tangan Ubay dengan keras.


Sedangkan kedua bodyguardnya masih berada disana dan menatap ke arahku, aku pikir mereka tidak akan menyerang aku lagi, sebab semua masalah sudah diperjelas, namun disaat aku membalikkan badan dan hendak pergi dari sana, mereka menyerangku secara tiba-tiba dari belakang, untunglah aku sigap dan menyadari hal itu dengan cepat, sehingga bisa langsung melawan mereka, dan Ubay juga mengetahui hal itu karena dia belum berjalan terlalu jauh dari tempatku bertarung dengan kedua bodyguard ibunya tersebut.


"Bu, apa yang ibu lakukan? Kenapa mereka masih menyerang Tiktik? Ayo hentikan mereka Bu?, Apa lagi yang kau tunggu? Ibu apa kau mendengarkan aku?" Ucap Ubay terus mendesak pada ibunya.


Namun ibu Yati sama sekali tidak menggubris hal itu, dia terus menarik Ubay dan mendorongnya agar masuk ke dalam mobil dengan cepat.

__ADS_1


"Sudah jangan mempermasalah dia lagi, kalian kan sudah bukan siapa-siapa lagi, ayo cepat masuk, biarkan kedua anak buah itu bekerja." Ucap Bu Yati kepada Ubay.


__ADS_2