Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Berdebat


__ADS_3

Saat sudah berada di luar, Ubay terus saja menarik tanganku dengan keras, dia terus menjauhkan aku yang saat itu berdiri di samping dokter Sendi, meski aku sudah berontak dia tetap saja menarik tanganku dengan paksa dan menahan aku untuk tetap di sampingnya saat itu.


"Hei...Ubay, lepaskan tanganku, apa yang sudah kau lakukan apa kau gila ya?" Bentakku padanya sambil segera menghempaskan tangan dengan kuat.


Aku benar-benar merasa sangat emosi dan begitu kesal dengannya karena dia terus saja membuat aku emosi, aku segera menjauh darinya dan melipatkan kedua tanganku di depan dada agar dia tidak bisa meraih tanganku lagi saat itu.


"Tiktik, kenapa kau masih berhubungan dengan dokter ini, apa kau sama sekali tidak bisa melihatnya, dia hanya dokter dari kota yang di tugaskan ke kampung kita, dengan dia di pindahkan kemari harusnya kau tahu dia dokter yang tidak bagus, kenapa kau masih mau dengannya." Ucap Ubay kepadaku.


Aku jelas tidak terima dengan apa yang dia lontarkan, walaupun saat itu dokter Sendi sendiri malah terus terlihat santai, tapi aku sama sekali tidak bisa se sabar dia, sehingga langsung saja aku balik membentak Ubay sekeras yang aku bisa saat itu.


"Heh. Ubay jaga ucapanmu baik-baik, beraninya kau bicara meremehkan orang lain seperti itu, aku mau dekat atau berhubungan dengan siapapun, itu tidak ada hubungannya denganmu, dan kau tidak berhak ikut campur atas hidupku, kenapa kau terus risih padaku." Balasku kepadanya.


"Tiktik...aku ini kan sahabatmu sejak kecil, aku juga sangat menyukaimu, kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku, apa kamu sudah dibutakan olehnya?" Balas dia yang masih saja berperasangka buruk pada dokter Sendi saat itu.


Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk menghadapi kelakuan Ubay yang sangat keras kepala dan selalu merasa benar sekaligus bicara seenaknya. Ku langkahkan kaki mendekatinya lebih dekat lagi dan terus mendesak dia tanpa henti.


"Kau....jangan pernah, berani-beraninya bicara seperti itu lagi pada dokter Sendi, dia pacarku aku bahagia dengannya dan aku sangat mencintai dia, sebaiknya kau jangan pernah ikut campur lagi dengan hubunganku dan dokter Sendi, Baim saja yang lebih lama berteman denganku, dia sama sekali tidak seribet kau, jika kau terus begini lebih baik aku tidak usah jadi temanmu lagi, kau hanya menggangguku saja." Balasku dengan tegas kepadanya.


Ubay terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan aku tahu dia pasti sangat emosi saat itu, tapi yang membuat aku kaget, dia tiba-tiba saja meluncurkan sebuah p*kulan pada wajah dokter Sendi secara tiba-tiba, hingga aku tidak sempat menahannya ataupun menangkis serangan yang dia lakukan saat itu.


"Sialan kau, buk..." Satu p*kulan mengenai pipi kanan dokter Sendi hingga dia terperosok ke samping dan hampir saja jatuh tersungkur ke tanah.


Dengan cepat aku membantunya dan masih begitu syok dengan apa yang dilakukan oleh Ubay terhadap dokter Sendi saat itu.

__ADS_1


"Ubay? Sejak kapan kau menjadi kasar seperti ini? Kau seperti bukan Ubay yang aku kenal lagi, aku sangat kecewa padamu." Ucapku dengan wajah yang penuh kekecewaan kepadanya.


Langsung ku bantu dokter Sendi untuk berdiri dan mengalengkan tangannya ke pundakku, aku harus membawa dia segera pergi dari tempat itu dan menjauhi Ubay sebelum urusan ini semakin panjang dan melebar.


Tidak aku pedulikan lagi teriakkan Ubay yang terus memanggilku dan berusaha menahan aku saat itu, terus saja aku membawa dokter Sendi ke dekat motorku sambil menyuruhnya agar segera naik dengan cepat.


"Tiktik. Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku Tik, aku tidak sengaja melakukan itu, aku terbawa emosi, aku sungguh mencintaimu, Tiktik tolong jangan begini, beri aku kesempatan untuk mengejarmu lagi Tik." Ucap Ubay yang terus saja menahan tanganku.


Padahal aku sudah naik ke atas motor san sudah menyalakan motorku saat itu, tapi Ubay masih saja belum menyerah padaku, aku terpaksa harus menghempaskan tangannya dengan keras dan kembali membentak dia agar dia mau menjauh dariku.


"Pak dokter, ayo cepat naik, untuk apa kita berlama-lama disini." Ucapku kepada dokter Sendi.


Dia segera naik ke belakang boncengan dan aku segera menyuruh Ubay untuk pergi menjauh dariku saat itu.


Aku sebenarnya sangat tidak tega mengatakan semua itu kepada sosok Ubay yang begitu baik denganku selama ini, selalu membela aku dan memberikan kemudahan dalam segara urusan yang aku hadapi jauh sebelum dokter Sendi muncul di kampung ini, namun melihat sikap Ubay yang semakin hari malah semakin sensitif dan terus mengekang aku, itu membuat diriku tidak nyaman dan bertambah risih hingga timbul rasa kesal dari hatiku kepadanya.


Selama di perjalanan tanpa aku sadari air mataku mengalir dan aku sama sekali tidak tahu harus kemana melajukan motorku saat itu, aku hanya terus saja menyusuri jalanan disana hingga dokter Sendi yang aku bonceng mulai menepuk pundakku dan menyadarkan aku segera.


"Tiktik sebenarnya kita mau kemana?" Tanya dokter Sendi kepadaku.


Saat mendapatkan pertanyaan seperti itu, barulah aku tersadar kalau aku sudah melewati jalanan kampung dan hampir saja pergi ke jalan besar menuju kota, aku hampir melewati batas kesadaranku sebelumnya, tapi untuk aku bersama dokter Sendi sehingga masih ada yang bisa mengingatkanku sebelum aku benar-benar pergi ke arah kota besar tanpa sadar.


"Astaga... Maafkan aku pak dokter, tadi aku melamun sedikit aku tidak sadar kalau ternyata salah jalan dan malah terus sampai kesini." Ucapku segera meminta maaf kepadanya sambil menghentikan laju motorku saat itu.

__ADS_1


"Aahh...tidak apa, mungkin kamu banyak pikiran dan sebaiknya kamu kesampingkan dulu semua masalah itu ketika kamu berkendara, atau kita gantian saja, ayo kamu turun biar aku yang mengendarai motornya, tidak akan aman jika kau terus seperti ini dan memaksakan diri untuk tetap mengendarai motormu, nanti yang ada kita akan nyasar ke tempat lain." Balas dokter Sendi padaku saat itu.


Aku pun hanya bisa tersenyum kecil dan segera bergantian tempat dengannya, dokter Sendi begitu baik dan sangat perhatian padaku, bahkan sejak dia pertama kali datang ke kampung ini, dia sudah memperlakukan aku dengan sangat baik dan dia dikenal begitu ramah oleh semua orang, hampir seluruh penduduk di kampung Rentenir ini menyukainya dan dia juga dokter yang handal, semua orang senang berobat dengannya karena sudah terbukti semua resep obat yang dia berikan sesuai dengan penyakit yang mereka rasakan dan dapat menyembuhkan penyakit para masyarakat kampung ini dengan cepat dan efektif. Aku tidak bisa berhenti merasa kagum dengan sosok dokter Sendi dikala berada di belakang boncengannya saat itu.


"Dokter, apa yang dikatakan oleh Ubay benar? Kau di bukan dokter yang ahli itulah kenapa kau di pindahkan ke desa kecil seperti ini?" Tanyaku kepada dia secara refleks.


Aku langsung terpikirkan dengan ucapan Ubay sebelumnya dan entah kenapa mulutku ini benar-benar tidak bisa di rem, sebab bertanya mengenai hal itu disaat aku dan dia masih berada di perjalanan pulang.


Untungnya dokter Sendi sama sekali tidak marah ataupun tersinggung saat aku bertanya demikian dengannya.


"Aaa...aahh..maafkan aku dokter Sendi, sebenarnya aku tidak bermaksud begitu aku hanya..." Ucapku tertahan karena dia sudah langsung menjawab pertanyaanku barusan.


"Tidak papa, aku bisa menjawabnya, dan seharunya kamu sudah tahu, hanya kamu satu-satunya orang yang saya beritahu sebelumnya, jika saya sengaja ingin datang melakukan penyuluhan ke dewa kecil dan jauh dari kota seperti ini, agar bisa lebih banyak belajarnya dengan lingkungan masyarakat dan ada istiadat yang jelas sangat berbeda dengan anak kota, saya juga masih dalam tahap ujian untuk menjadi kepala rumah sakit pusat yang di dirikan oleh ayah saya, jadi saya lebih suka di tugaskan di tempat ini agar bisa memberikan bukti pada semua orang bahwa saya tidak mendapatkan semua keberhasilan berkat papa saya ataupun berkat uang, saya akan mencapai semuanya sesuai dengan aturan yang berlaku dan dengan kekuatan serta kemampuan diri saya sendiri." Balas dokter Sendi yang membuat aku semakin bersalah sebab sudah berpikir yang tidak-tidak degannya.


Dan malah menjadi ragu dengan beliau sebab ucapan dan gosip semua orang di luar sana saat itu.


"Aahh...begitu ya, seperti aku sudah lupa, maafkan aku dokter Sendi aku sudah berpikiran yang tidak-tidak padamu, aku sangat merasa beda, kau bisa melakukan apapun untuk memberikan aku sedikit hukuman sebab kesalahanku kepadamu barusan." Balasku segera meminta maaf dengannya.


Aku takut dokternya Sendi tidak akan memaafkan aku, jadi aku mengatakan hal seperti itu kepadanya, karena agar aku bisa mencoba membujuk dia dahulu, tapi semua dugaanku itu salah besar, dokter Sendi justru terlihat begitu santai dan sama sekali tidak marah, dia hanya tersenyum lebar dan menyetujui untuk memberikan aku hukuman.


"Ahaha...kau ini ada-ada saja, tapi jika memang keinginanmu begitu, aku akan memberikan hukuman sesuai dengan yang kamu katakan." Balasnya membuat aku syok.


Aku pikir dia tidak akan melakukan semua itu, karena sebelumnya aku cuman kaya basa basi dan menyemangati diri sendiri, tapi ujungnya malah menjadi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2