
Terlihat Ubay mengerutkan kedua alisnya dan dia menatapku terus menerus sampai aku pergi dari sana dan masih bisa aku dengar teriakkan kesalnya kepadaku saat itu, tapi aku juga memang tidak bisa mengantarnya karena memiliki urusanku sendiri terlebih aku juga mana berani pergi dengan anak rentenir kejam seperti dia, nanti yang ada ibunya akan datang menghadap aku ataupun membentak aku dan mengancam aku agar tidak dekat lagi dengan putra semata wayangnya itu.
Jadi bagiku lebih baik aku dibenci oleh Ubay daripada aku harus berurusan panjang dengan ibunya yang sangat menyebalkan itu, makanya akhir-akhir ini aku menjaga jarak dari Ubay, bukan karena aku benar-benar benci atau tidak menyukai dia ataupun hal lainnya, tetapi aku lebih menjaga jarak agar kami tidak terlalu dekat dan ibunya juga tidak banyak menyulitkan aku dalam pekerjaanku ke depannya.
"Hei...Tiktik.....tunggu....Tik" teriak Ubay memanggilku dengan keras namun aku abaikan saja saat itu.
"Maafkan aku Ubay, aku sebenarnya tidak tega terus menghindari kamu begini, membiarkan kamu menunggu di depan rumah sangat lama dan saat bertemu aku malah pergi, aku bukan tidak mau tapi aku hanya tidak ingin ibumu menyulitkan aku ataupun anak buahku lagi nantinya." Batinku memikirkan saat itu.
Aku pun pergi ke pasar dan melihat anak buahku sudah berjaga disana, ada bang Arif juga yang memimpin mereka aku sangat terbantu dengan adanya bang Arif bahkan disaat putrinya masih di rumah sakit bang Arif tetap mau datang ke pasar untuk membantuku saat itu.
"Ehh...bang, kenapa kemari? Bukannya anak Abang masih sakit ya?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Iya, tapi nanti malam sudah bisa kembali ke rumah, dia juga sudah jauh lebih baik, abang juga masih butuh duit untuk biaya mereka jadi tetap harus masuk kerja." Balas dia kepadaku saat itu.
Aku pun hanya menanggapinya dengan tawa pelan saat itu, lalu segera masuk ke posko dan mulai mengerjakan pekerjaan yang biasa aku lakukan, mengecek jumlah pedagang keseluruhan yang hadir hari ini dan melihat perkembangan pasar dengan baik, aku juga berkeliling untuk memastikan keadaan disana semuanya aman terkendali, tidak ada hal-hal yang dapat menggangu para pembeli maupun pemilik jongko di pasar ini.
Sampai tidak lama aku mendapatkan panggilan dari Baim, sudah dua hari ini dia tidak ada kabar dan tidak datang ke pasar juga, padahal dia sudah mengatakan akan tetap denganku, namun kali ini tiba-tiba saja aku mendapatkan panggilan telpon darinya.
"Eh... Baim, tumben nih anak mau nelpon, ada apa ya, dia juga sudah tidak ke pasar beberapa hari ini." Gerutuku sambil segera mengangkat panggilan telponnya.
__ADS_1
"Halo ada apa Baim?" Tanyaku kepadanya saat itu.
"Tiktik... Bisa kamu ke rumahku sekarang, nenekku sakit parah aku butuh bantuanmu." Ucap Baim di dalam panggilan itu padaku.
Aku pun segara bergegas ke rumahnya dan sesampainya disana aku melihat Baim yang tengah menangis tersedu-sedu sambil memegangi tangan neneknya yang sudah terkapar di ranjang.
"Baim .... Ada apa dengan nenekmu, ayo kita bawa ke puskesmas atau ke rumah sakit sekalian." Ucapku kepadanya dengan panik saat itu.
"Hiks....hiks...tidak perlu Tik, nenekku sudah meninggal dunia barusan." Ucap dia dengan wajah yang sendu.
"Innalilahi....Baim kamu yang sabar ya, nenekmu pasti sudah tenang di alam sana, kau tunggu disini aku akan mengabari pak RT dan umi Salma dulu." Ucapku yang di balas anggukkan olehnya.
"Tok...tok...tok...Umi assalamualaikum Umi..." Teriakku sambil mengetuk pintu umi Salma saat itu.
Namun sepertinya umi Salma tengah tidak berada di rumah, aku merasa bingung kemana lagi aku harus mencarinya, hingga aku mulai teringat dengan dokter Sendi yang tinggal di rumah umi Salma, aku pikir dia mungkin akan tahu dimana umi Salma sekarang jadi aku segera menemuinya di puskesmas.
"Pak dokter...hah...hah..hah.." ucapku yang menerobos masuk ke dalam ruang pribadinya dokter Sendi saat itu.
Dia terlihat menatap aku dengan mata yang terbuka lebar dan sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Eh....Tiktik, ada apa kamu datang kemari dengan terburu-buru seperti itu?" Tanya dokter Sendi padaku.
"Ini mendesak dokter, aku mau tanya apa dokter Sendi tahu dimana umi Salma sekarang, atau bisakah pak dokter bantu aku untuk menghubungi umi Salma, soalnya aku gak punya pulsa." Balasku kepadanya.
"Baiklah, tunggu sebentar aku coba telpon dulu ya, kamu duduk saja dan tenangkan dirimu dulu." Ucap dokter Sendi yang segera melakukan panggilan telpon pada umi Salma saat itu.
Hingga akhirnya panggilan tersambung dia langsung memberikannya kepadaku saat itu juga, dan aku segera mengambilnya.
"Halo umi, iya wa'alaikumsalam. Ini disini ada Tiktik katanya dia mau bicara dengan umi." Ucap dokter Sendi lalu memberikan ponselnya padaku dengan segera.
"Umi halo, umi neneknya Baim meninggal dunia barusan pak RT sudah melakukan pengumuman tolong umi datang dan bantu kami melakukan semua proses pemakamannya ya umi." Ucapku kepada umi Salma saat itu.
"Innalilahi umi turut berdukacita, tapi Tiktik umi juga mohon maaf, sekarang ini umi sedang di luar kota melakukan rapat penting jadi umi tidakmbisa mendadak pulang ke kampung, kamu bisa meminta pak dokter Sendi saja ya, untuk membantu semua prosesnya, dia seorang dokter pasti dia bisa membantu kamu dan Baim. Sekali lagi umi mohon maaf." Ucap umi kepadaku.
Aku langsung merasa lemas sebab aku tahu jika dalam acara pemakaman seperti ini, dan umi Salma tidak ada maka akan sulit untuk mencari orang-orang yang mau membantu proses pemakannya, karena warga di kampung ini sama sekali tidak perduli pada orang miskin seperti aku dan Baim, kebanyakan mereka mau membantu jika mendapatkan bayaran dan hal itu yang membuat kampung ini terlihat begitu kejam bagi orang miskin seperti aku.
Terlebih belakangan ini aku dan Baim masih terlibat masalah dengan ibu Yati, orang-orang juga pasti akan lebih mendengar ucapan dari bu Yati sedangkan dia juga pasti tidak mau membantu Baim karena dia malah memilih untuk tetap denganku dibandingkan melepaskan aku sebelumnya.
Aku mengembalikan ponsel dokter Sendi kembali dengan wajah yang begitu lesu dan terus tertunduk penuh kebingungan, hingga dokter Sendi mulai bicara kepadaku dan dia menawarkan bantuan padaku sendirinya saat itu, tanpa aku harus meminta terlebih dahulu kepadanya.
__ADS_1