
Para preman itu terlihat terus berpikir keras dan terus saja menatapku dengan tajam bahkan uluran tanganku saja sama sekali tidak mereka terima saat itu, dia hanya menatap wajahku dengan tatapan yang sangat aneh sekali, dan terus memperhatikan tubuhku dari atas hingga bawah dengan seksama saat itu.
"Tidak perlu cemas, aku sungguh akan bertanggung jawab atas kalian nantinya, aku mengajak kalian semua dengan baik-baik, kalau kalian tidak mau aku juga tidak masalah, hanya saja aku rasa kalian tidak akan pernah mendapatkan kesempatan sebaik ini lagi kedepannya." Balasku kepadanya sambil hampir menarik kembali tanganku saat itu.
Namun saat aku baru saja hendak menarik kembali tanganku, dengan cepat ketua preman itu langsung menerima uluran tangan dariku dan dia langsung memperkenalkan dirinya kepadaku saat itu, dan menyetujui semua yang aku tawarkan kepada dia.
"Aku Arif ketua preman di desa sebelah, aku punya banyak anak buah, jika kau bisa menggaji mereka semua, aku akan setuju dengan tawaran darimu barusan." Ucap dia kepadaku.
Tentu saja aku merasa sangat senang, apalagi saat dia mengatakan bahwa dia memiliki anak buah yang banyak, itu hal yang bagus untukku karena aku memang membutuhkan banyak orang agar bisa membantu menjaga pasar dengan lebih aman dan bisa menagih uang sewa jongko lebih cepat lagi.
"Oh ..tentu ada berapa anak buahmu, kita bisa membagi semuanya dengan rata." Balasku kepadanya saat itu.
Ketua preman yang terlihat lebih tua dariku itu dia terlihat langsung mengerutkan kedua alisnya kepada seakan menatap penuh keheranan saat itu, padahal aku memang mengatakan yang sebenarnya dan bertanya dengan baik-baik kepada dia.
__ADS_1
"Eumm ..apa kau baik-baik saja, kenapa malah diam, aku bertanya padamu ada berapa anak buahmu itu?" Tanyaku lagi kepadanya.
Dia pun langsung menjawab ucapanku dan memang ternyata anak buahnya itu cukup banyak bahkan lebih banyak dari jumlah anak buahku yang hanya ada sepuluh orang saja sebelumnya.
"Anak buahku ada dua puluh lima orang, apa kau sanggup membayarnya?" Balas dia kepadaku saat itu.
"Tentu, aku akan sanggup membayar mereka semua dengan adil, dan kau dan aku akan mendapatkan bagian yang sama dengan anak buahmu, bagaimana?" Balasku membuat kesepakatan kepadanya saat itu.
"Hei. Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?" Tanya dia yang masih saja terlihat sulit untuk mempercayai ucapanku.
"Bang kau tidak percaya denganku, kau tenang saja aku tidak seperti preman lainnya, kau bisa tanyakan pada semua orang di kampung rentenir ini, bagaimana aku memperlakukan anak buahku sebelumnya, aku bahkan tidak pernah memaksa siapapun untuk bergabung denganku, jika kalian mau ayo, aku menerima kalian dengan senang hati dan jika bang Arif mau, Abang bisa menjadi pemimpinnya." Ucapku kepada dia saat itu.
"Oh...tidak aku menghargai mu, kau saja yang tetap jadi pemimpin di pasar ini, biar aku hanya menjadi anak buahmu dan aku tetap memimpin anak buahku sebelumnya." Balas dia kepadaku.
__ADS_1
Aku pun menyetujuinya dan aku rasa bang Arif ini bukan preman sembarangan, meski dia terlihat kasar dan asal-asalan dalam melabrak pedagang di pasar sini, tapi cara dia mau menghargai posisiku, itu cukup membuat aku memandangnya dengan sudut pandang yang lebih bagus, dia sepertinya memang preman sejati yang masih bisa di rubah untuk menuju ke jalan yang lebih baik di bandingkan sebelumnya.
"Baiklah bang, tapi aku ingin menegaskannya lagi, ini semua atas dasar keinginanmu bukan paksaan dariku, dan abang dan teman-teman yang lain bisa mulai bekerja hari ini, nanti malam kita akan bagi hasil, biasanya aku memberikan gaji dari hasil sewa lima puluh ribu rupiah untuk satu orang dalam setiap harinya." Balasku kepada mereka saat itu.
Mendengar ucapan dariku mereka semua langsung terlihat kaget dan membelalakkan matanya dengan cukup lebar, sebab aku juga tahu gaji sebesar itu sudah ternilai cukup besar untuk pekerjaan yang santai dan hanya menagih saja seperti ini.
"Wah ...Tiktik apa kamu yakin bisa memberikan kami gaji sebesar itu, aku sudah jadi tukang palak di parkiran dan terminal selama lima tahun, paling besar sehari aku hanya bisa dapat tiga puluh lima ribu dari hasil pembagian dengan anak buahku, dan mereka mendapatkan tiga puluh ribu, sedangkan kau mengatakan lima puluh ribu? Apa kau tidak berbohong?" Ucap bang Arif padaku saat itu.
Aku hanya tersenyum saja menanggapi ucapannya karena jelas hal ini sudah pasti akan terjadi, tapi aku sudah mempersiapkan diri untuk menjawab ucapannya tersebut.
"Aku yakin bang, hanya saja mungkin tidak bisa aku janjikan jika setiap hari akan memberikan sebanyak itu, bisa terkadang kurang atau lebih, karena sesuai dengan hasil yang kita dapatkan dari para pedagang disini," balasku kepada mereka saat itu.
"Tidak masalah, aku sudah setuju, daripada aku memberikan nafkah yang haram untuk anak istriku, lebih baik aku bekerja sama dengan kau saja." Balas dia kepadaku.
__ADS_1
Kami pun sudah menyepakati semuanya dan mulai saat itu aku sudah kembali memiliki anak buah yang sangat banyak bahkan jauh lebih banyak dibandingkan anak buahku yang sebelumnya.
Dengan adanya kejadian seperti ini, dan cara bu Yati memperlakukan aku serta menghasut anak buahku sampai mereka malah memilih uang dan benda yang tidak seberapa itu, di bandingkan kesetiaan padaku, meski aku terus merasa sedih dengan kehilangan anak buahku yang sudah menemani aku sejak aku masih sekolah di bangku SMA, aku juga sedih bahkan Aldi yang selalu denganku selama ini, dia juga turut terhasut oleh ucapan ibu Yati yang aku tidak ketahui apa saja yang sudah bu Yati ucapkan kepada mereka sampai mereka dengan mudahnya terhasut oleh ucapannya itu.