
Sedangkan disisi lain Omi dan bang Arif sudah mengumpulkan anak buahnya dan mereka bersiap menyebar dan mengepung rumah Bu Yati karena pada terakhir kali yang Omi ketahui kakaknya di culik di rumah itu, sayangnya sesampainya disana dia tidak menemukan apapun tidak ada seorang pun yang ada di rumah itu hanya ada beberapa orang penjaganya saja, dan mereka sama sekali tidak tahu dimana keberadaan Bu Yati saat ini.
Bang Arif mulai kehabisan kesabaran, dia mengamuk dan m*nghajar para anak buah Bu Yati dengan brutal, hingga dapat melumpuhkan mereka dalam beberapa detik saj, anak buahnya di dorong masuk untuk menggeledah isi rumah Bu Yati saat itu juga.
Omi dan yang lain langsung bergerak dengan cepat dan mereka telah memeriksa semua ruangan yang ada di dalam rumah megah dua lantai tersebut, sayangnya semuanya tetap nihil, sungguh tidak ada siapapun yang bisa mereka temukan di dalam rumah itu, sehingga hal tersebut membuat bang Arif kesal dan dia sempat menggerutu keras, hingga terus berpikir dan beberapa kali bertanya kepada Omi.
"Aish... Sial, mereka pasti membawa Tiktik ke tempat yang tidak kita ketahui, Omi apa kau tahu satu tempat yang jauh dari sini dan milik Bu Yati?" Ucap bang Arif kepadanya.
Omi menggeleng kepala karena dia memang tidak mengetahui Bu Yati dengan pasti, dia mulai mengenalnya hanya karena tidak sengaja melihat Aldi yang di suruh Bu Yati untuk mencuri motor milik Tiktik, sehingga Bu Yati memberikan uang tutup mulut kepada saat di pasar kala itu, yang sempat memicu kecurigaan pada Tiktik, tetapi dengan begitu Omi bisa tahu bahwa Bu Yati memang tengah merencanakan hal yang buruk kepada Tiktik sehingga dia mulai perduli sebab telah diangkat menjadi adik oleh Tiktik, meski sebelumnya dia sama sekali tidak perduli dan sudah menerima uang tutup mulut dari Bu Yati tetapi pikirannya seketika berubah ketika dia sudah mengenal Tiktik lebih banyak.
Bang Arif seakan tengah menemukan jalan buntu, tidak ada yang tahu kemana Bu Yati membawa Tiktik sebenarnya, hingga tidak lama ada salah satu anak buah yang memberikan kabar kepadanya.
"Bang... Bagaimana jika kita tangkap salah satu anak buahnya saja dan desak dia sampai dia mau memberitahu kita dimana Bu Yati membawa Tiktik, mereka pasti tahu tentang itu, mustahil mereka mengejar Omi sebelumnya jika mereka tidak tahu dimana Tiktik dibawa oleh Bu Yati dan si Ubay itu." Ucap Baim memberikan solusi kepadanya.
Bang Arif mengangguk dengan cepat, dia merasa apa yang dikatakan oleh Baim ada benarnya, dia pun mula menyuruh anak buahnya untuk menangkap anak buah Bu Yati tersebut, hingga setelah mereka berhasil melumpuhkan semua orang yang ada disana, bang Arif mengikat semua bagian lengan dan kakinya dan mendudukkan salah satu bodyguard Bu Yati tersebut di atas sebuah kursi lalu kembali mengikatnya dengan kuat.
"Hei... Beri tahu kami dimana Bu Yati membawa Tiktik?" Bentak bang Arif langsung pada intinya, karena dia merasa waktunya sudah sangat mendesak.
Ini sudah satu hari lebih sejak Tiktik dinyatakan hilang diculik Bu Yati, jadi pantas saja bang Arif, Baim dan Omi sangat cemas tentang kondisinya tersebut.
Anak buah itu memang begitu setia kepada wanita kejam dan jahat sepertinya, dia tetap tidak mau angkat bicara, bahkan saat mendapatkan p*kulan keras dari bang Arif beberapa kali saat itu, wajahnya sudah tidak berbentuk karena dipenuhi dengan darah mengalir dari hidung dan ujung bibirnya, tetapi dia masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya, hingga hal itu kembali membuat semua orang menjadi frustasi dan kesal dibuatnya, sampai Omi mulai mengetahui sesuatu dia mengancam bodyguard tersebut menggunakan keluarganya, sebab hanya itu satu-satunya cara agar anak buah Bu Yati mau angkat bicara.
"Hei... Katakan pada kami atau aku sendiri yang akan menculik anakmu, aku tahu siapa putramu, dia sekolah di desa ini dan baru berusia sepuluh tahun, aku bisa menculiknya dan melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan karena sudah melindungi penjahat seperti si Yati sialan itu." Ucap Omi terlihat membelalak matanya sangat lebar dan bicara dengan sinis.
Dugaan Omi benar, seketika pria kekar yang sedari tadi begitu kera kepala dan rela di h*jar habis-habisan, kini mulai angkat bicara dan dia mengatakan keberadaan Bu Yati dan tempat dimana Tiktik di sekap oleh Ubay.
"Oke...oke...saya akan memberitahu kalian, tapi tolong jangan lakukan apapun pada anak dan istri saya, saya mohon, saya hanya bekerja pada Bu Yati sesuai kontrak yang sudah di tanda tangani, tolong jangan libatkan anak dan istri saya, mereka tidak bersalah dan tidak tahu apapun." Ucap pria tersebut mulai memohon dengan sendu.
"Katakan dimana mereka membawa Tiktik!" Bentak Baim dengan tegas.
__ADS_1
"Disana di ujung desa, rumah hantu yang tidak ada penghuninya, di tengah hutan yang ada di pinggiran jalan, kalian butuh waktu satu jam lebih untuk sampai ke sana menggunakan jalan raya yang hendak ke kota, dia ada disana dan akan di nikahkan hari ini dengan Ubay." Ucap pria itu mengatakan semua dengan sangat jujur.
Langsung saja Baim, bang Arif dan Omi sangat ketat hingga refleks bersamaan membelalak mata mereka begitu lebar pada pria tersebut.
"APA? MENIKAH? Aishh... Ini pasti paksaan dari Ubay, bang kita harus segera menahan pernikahan ini, jika tidak mungkin kita akan terlambat untuk menolong Tiktik." Ucap Baim yang sudah semakin khawatir kepada Tiktik.
Baim adalah salah satu orang terdekat Tiktik, dan dia tahu dengan jelas bahwa sejak dulu Ubay selalu menghalalkan cara untuk dekat dengan Tiktik dan selalu ingin Tiktik menjadi pacarnya, sehingga dia sudah tidak heran lagi jika sekarangpun Ubay akan memaksa Tiktik untuk menikmati dengannya menggunakan segala cara.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, langsung saja bang Arif dan yang lainnya pergi ke tempat tersebut, mereka melajukan motornya dengan sangat cepat hingga sesampainya di tempat tersebut, mereka bisa melihat dengan jelas ada banyak anak buah Bu Yati bahkan di pinggiran jalan sekalipun, mereka harus melumpuhkan semua orang itu tanpa suara agar tidak memicu yang lainnya untuk datang ke tempat itu.
Namun sayangnya hal tersebut mungkin akan memakan waktu lagi, sedangkan Baim sudah tidak bisa menunggu, dia langsung turun lebih dulu dan menyerang para penjaga disana satu persatu menggunakan teknik bela dirinya yang mematikan dan bisa melumpuhkan lawan hanya dalam satu gerakan saja.
Hingga semua para bodyguard Bu Yati di jalanan berhasil mereka lumpuhkan dan mereka bisa menerobos masuk ke wilayah rumah mewah yang ada di pinggiran hutan tersebut.
"Ayo kita pergi, kau lewat jalan belakang aku akan menghadapi di depan dan mengalihkan pandangan Bu Yati, dan kau urus si Ubay sialan itu." Ucap bang Arif menunjuk ke arah Omi dan Baim untuk membagi tugas.
Mereka semua langsung mengangguk dan mulai melaksanakan semua rencananya, Baim berteriak memanggil Ubay yang saat itu terlihat berjalan memakai pakaian pengantin hendak masuk ke dalam rumahnya, dia berhasil menghentikan Ubay dan mulai bertengkar dengannya, sedangkan bang Arif juga beberapa anak buahnya harus menghadapi Bu Yati juga serangan dari para anak buahnya yang begitu banyak berdatangan lagi dan lagi dari beberapa wilayah yang ada di sekitar sana.
Omi mengira itu pasti adalah kakaknya Tiktik sehingga dia langsung bergegas pergi ke kamar tersebut, namun saat dia membukanya ternyata itu adalah Aldi yang menyamar menjadi perempuan untuk merias Tiktik dan dia salah masuk kamar hingga menjatuhkan sebuah pot bunga yang ada di kamar tersebut.
Omi sempat kaget melihat wajah Aldi yang cemong dengan make up dan dia sama sekali tidak mengenali wajahnya.
"Aaarrkkk....siapa kau?" Teriak Omi cukup kencang, hingga teriakkan itu dapat terdengar oleh Bu Yati dan membuat wanita tersebut menaruh curiga.
Dia langsung masuk ke dalam dan bang Arif sama sekali tidak mampu menahannya lagi sebab dia sudah di desak dengan banyaknya anak buah Bu Yati yang harus dia lawan saat itu.
Di sisi lain Aldi langsung mengangkat kedua tangannya dan dia terus saja meminta ampun kepada Omi sambil mengatakan namanya dan tujuan dia datang menyusup ke dalam rumah ini.
"Aaah...ampun ampun, kau jangan m*nghajarku, ini aku Aldi, aku sedang menyamar dan sengaja menyusup ke dalam rumah ini sebagai perias Tiktik, kau jangan begitu, aku tahu kau Omi adiknya Tiktik kan, tujuan kita sama untuk menolong kakakmu jadi ayo bekerja sama oke?" Ucap Aldi kepada Omi saat itu.
__ADS_1
Omi awalnya masih belum bisa mempercayai Aldi sebab dia tahu bahwa Aldi adalah orang yang juga membenci kakaknya sehingga dia tidak bisa mempercayai orang seperti itu dengan mudah, walaupun penampilannya cukup meyakinkan.
Hingga tidak lama Bu Yati mulai mengetuk pintu kamar tersebut dan memanggil Aldi dengan sebutan perias itu.
"Mbak..... Apa kau di dalam? Kamar pengantin wanitanya bukan disini." Teriak Bu Yati di balik pintu ruangan tersebut.
Langsung saja Aldi dan Omi saling tatap dengan wajah yang tegang, akan bahaya jika keberadaan Omi di ketahui oleh Bu Yati, sehingga dengan cepat Aldi langsung menyuruh Omi untuk bersembunyi di dalam sebuah lemari pakaian yang ada disana.
"Astaga... Nenek lampir itu, ayo cepat kau sembunyi." Ucap Aldi sambil terus mendorong tubuh Omi bahkan dia menendangnya hingga Omi berhasil masuk ke dalam sebuah lemari pakaian yang ada disana.
Dengan kemampuan aktingnya Aldi langsung menyuruh Bu Yati untuk masuk dan dengan mudahnya dia beralasan bahwa dia tengah mencari pakaian yang cocok untuk pengantin wanita di kamar tersebut.
"Sedang apa kamu disini, aku kan sudah bilang pengantin wanita ada di kamar rahasianya itu ada di balik rak buku disana kenapa kau malah di sini?" Ucap Bu Yati dengan wajah yang menaruh banyak kecurigaan kepada Aldi saat itu.
Aldi juga sangat gugup sebenarnya, tetapi dia masih bisa menahan diri dan terus saja berbincang dengan suara yang sangat aneh dan terdengar mirip seorang perempuan pada umumnya, hal itu hampir saja membuat Omi tertawa mendengar suara Aldi yang menirukan suara perempuan lebay.
"Ahaha...saya disini untuk mencari gaunnya, bukankan ibu bilang gaunnya ada di tempat lain tapi saat saya mencari gaunnya saya kaget sekali mendengar keributan di luar jadi tidak sengaja membuat pas bungnya jatuh, tapi ibu tenang saja, ini gaun untuk pengantin wanitanya sudah saya temukan, mari kita mulai meriasnya." Ucap Aldi dengan wajah yang sangat meyakinkan pada Bu Yati dan dia terus memasang tangannya dengan lembek bak seperti seorang banci pada umumnya.
Omi yang menyaksikan secara diam-diam kelakuan Aldi di balik lemari pakaian yang ada di samping dinding ruangan itu, dia terus saja membekap mulutnya sendiri untuk menahan tawa melihat kelakuan Aldi yang benar-benar tengah menyamar menjadi seorang wanita perias pengantin yang alay dan dia memakai hijab layaknya seorang wanita sungguhan.
"Ahahaha...dia konyol sekali, tapi ternyata dia juga ingin menyelamatkan kakak, apa aku sudah salah paham kepadanya?" Batin Omi memikirkan saat itu.
Dia pun menghembuskan nafas dengan lega saat sudah melihat Aldi dan Bu Yati pergi dari ruangan itu, dia segera mencari rak buku yang dimaksud oleh Bu Yati sebelumnya hingga sesampainya disana dia benar-benar melihat sebuah rak buku di ujung ruangan tiba-tiba saja terbuka dan Bu Yati keluar dari sana dengan beberapa bodyguard yang berbadan kekar sekali.
Karena itu Omi pun sangat yakin bahwa rak buku yang di maksud Bu Yati adalah rak buku barusan, dia sudah berdiri di depan rak buku itu cukup lama untuk mencari tombol dan sesuatu yang bisa mendorongnya dan membuat rak buku itu terbuka, sayangnya dia sama sekali tidak bisa melakukan itu.
Sedangkan di dalam ruangan tersebut sudah ada dokter Sendi yang lebih dulu sudah menemukanku, saat itu ketika aku tengah merontak dan berusaha memotong tali yang mengikat kakiku pada ujung ranjang disana, tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam ruangan dan aku segera berpura-pura tidur karena aku pikir itu anak buah Bu Yati dan orang-orangnya yang lain, namun ternyata itu adalah dokter Sendi.
"Hei... Bangun sampai kapan kau mau pura-pura tidur seperti ini?" Ucap dokter Sendi yang membuat aku sangat kaget dan langsung saja membelalakkan mata sangat lebar ketika melihat keberadaan dokter Sendi disana.
__ADS_1
Dia langsung membantu aku untuk melepaskan semua ikatan di seluruh tubuhku, hingga tidak lama tiba-tiba saja suara pintu terdengar lagi dan ternyata itu adalah Bu Yati beserta beberapa bodyguardnya, mereka tidak mencurigai aku karena mereka pikir tukang rias yang melepaskan ikatan di tubuhku, tapi sayangnya dia tetap mencurigai aku hingga meninggalkan beberapa orang anak buahnya untuk menjaga aku di depan pintu, sehingga dokter Sendi tidak bisa melakukan apapun dan dia hanya bisa bersembunyi di bawah ranjang selama itu.