Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Menolak Ubay


__ADS_3

Aku sedikit tersentak mendengar dia sungguh akan memberikan hukuman padaku, hingga kami tiba di depan rumah umi Salma dan dia segera turun dari motor.


"Kenapa kamu masih ada disini, ini sudah larut kamu tidak mau pulang?" Tanya dokter Sendi yang kembali berbalik kepadaku disaat dia hendak masuk ke dalam rumah sebelumnya.


"Bukan begitu dokter, tapi aku sangat penasaran.." ucapku tertahan karena sangat gugup untuk mengatakannya secara langsung.


"Penasaran apa?" Tanyanya lagi sambil terus saja menyipitkan matanya penuh dengan keheranan kepadaku.


"Itu, aku penasaran dengan hukuman yang kau maksud, apa pak dokter benar-benar mau memberikan hukuman kepadaku?" Tanya ku yang pada akhirnya angkat bicara juga.


Dia pun malah tertawa menanggapi ucapan dariku dan terus saja terbahak-bahak dengan sangat keras saat itu, aku sendiri merasa heran dengan mata terbuka lebar dan terus saja merasa aneh sebab melihat dokter Sendi yang tertawa menanggapi ucapan dariku, padahal aku sungguh serius bicara mengenai hal itu kepadanya.


"Dokter ada apa denganmu, kenapa kau malah tertawa seperti itu, memangnya ada yang lucu apa?" Balasku agak kesal dengannya.


"Aaahh..tidak, tapi kami ini memang sangat lucu ketika bertanya itu padaku, aku pikir kamu tidak akan mempercayai ucapanku itu, karena aku hanya bergurau saja, dan hukumannya juga tidak seperti yang ada dalam bayanganmu." Balas dia menjelaskan kepadaku.


Aku pun bisa sedikit lebih tenang, walau dalam hati sebenarnya masih sedikit was was dan kebingungan terus menerus.


"Kalau begitu apa hukumannya?" Tanyaku lagi dengannya.


"Hukumannya kau harus jadi pacar sungguhan ku." Balasnya membuat aku semakin kaget hingga membelalakkan kedua mata dengan sangat lebar.


Siapa juga yang tidak akan kaget ketika mendengarnya ucapan seperti itu dari lawan jenis ditambah dokter Sendi mengatakannya dengan tubuh dia yang condong mendekat ke wajahku, aku sangat kaget mendengarnya sampai tidak bisa berkata-kata lagi, semua ini karena dia, benar-benar tidak bisa aku bayangkan apa yang harus aku katakan saat itu, hanya diam mematung dengan kedua alis yang dinaikkan juga mata yang terbuka lebar.


"Kenapa kau diam? Apa kamu tidak mau ya?" Tanya dokter Sendi lagi kepadaku.


"Dokter sepertinya kamu sakit ya, atau mungkin kau salah makan, sebaiknya kau segera beristirahat, aku juga akan pulang, permisi." Ucapku segera pergi meninggalkan dia dan kembali naik ke atas motor sambil melakukan motor dengan cepat dari sana.


Rasanya benar-benar sangat gugup dan tidak menentu, selama di perjalanan aku bahkan tidak tahu apakah aku fokus menyetir atau tidak, pikiranku benar-benar terus melayang tanpa henti, memikirkan semua hal yang dikatakan oleh dokter Sendi kepadaku sebelumnya, sudah bisa sampai di rumah dengan selamat itu sangat baik untukku, aku segera memasukkan motorku ke dalam rumah meski itu akan membuat aku sulit bergerak di dalam, tapi itu lebih baik daripada aku menaruhnya di teras dan takut hilang lagi seperti yang sebelumnya.


Aku terburu-buru masuk ke dalam kamar hingga lupa untuk membuka pintunya dengan benar dan malah keningku yang terhantuk mengenai pintu cukup kencang saat itu.


"Duk!" Suara keningku yang mengenai pintu cukup keras.


Aku meringis kesakitan sendiri dan menyadari kekonyolanku yang masih saja merasa panik tidak karuan.

__ADS_1


Padahal aku sudah berada di dalam rumahku sendiri, seharusnya aku bisa merasa lebih tenang, karena tidak ada orang lain apalagi dokter Sendi disini, namun jantungku terus berdetak sangat kencang dan sulit untuk aku kendalikan, meski aku sudah mencoba mengatur nafasku dengan berhati-hati dan terus saja melakukannya.


Tapi semua itu sama sekali tidak membuahkan hasil apapun untukku.


"Aaarrghhhh... Apa yang sebenarnya terjadi denganku, kenapa aku malah seperti ini, sial." Gerutuku saat itu.


Aku sangat emosi sekali dibuatnya, dia benar-benar sangat menjengkelkan dan aku tidak bisa berkata-kata apapun lagi, meski sudah tinggal seorang diri di dalam kamar.


Langsung aku jatuhkan tubuhku ke kasur lantai yang tipis dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut, aku harus segera tidur untuk melupakan semua kejadian sebelumnya yang aku alami.


"Aaahh ..tidak aku harus melupakannya, paling aku hanya salah dengar, iya, atau mungkin saja dokter Sendi itu sedang bercanda, aku yang terlalu menganggapnya serius, astaga...kenapa jantungku malah terus berdetak kencang begini sih, sialan!" Gerutuku lagi sesaat sebelum benar-benar tertidur malam ini.


Sampai ke esokan paginya, saat aku baru membuka pintu berniat untuk mengeluarkan motorku, aku dibuat kaget dengan kemunculan Ubay yang sudah berada di depan pintu rumahku, dia juga membawa buket bunga yang berukuran besar dengan pakaian rapih dan tiba-tiba saja berjongkok di hadapanku sambil membuka sebuah kotak cincin yang cantik.


"Maukah kamu menikah denganku?" Ucap dia yang melamar aku secara tiba-tiba seperti ini.


Tentu aku sangat kaget, sampai refleks berjalan mundur untuk menjauh darinya, tapi aku tidak bisa benar-benar menghindari Ubay, seperti yang biasa aku lakukan.


"Astaga....Ubay apa kau sehat? Untuk apa kau melakukan semua ini?" Ucapku kepadanya dengan kedua alis yang aku kerutkan sangat kuat.


"Tiktik, aku sangat menyayangimu, sangat mencintai kamu sejak dulu, aku mau kau menerima cintaku yang tulus." Ucapnya dengan wajah yang terlihat sungguh-sungguh.


Entah kenapa saat itu aku merasa dia tidak seperti Ubay yang biasa menggangguku, kali ini dia terlihat sangat serius sekali, aku juga merasa bingung untuk menjawab ucapan darinya, aku pun segera menarik tanganku dan membantu dia agar segera berdiri saat itu juga, hingga setelah kami sudah berhadapan aku mulai menarik nafas dan mulai memberanikan diri untuk bicara dengannya lebih tegas lagi.


"Ubay, sudah cukup. Aku sebenarnya suda sangat lelah dalam menghadapi kelakuanmu, sekarang kau tiba-tiba datang dan melamar aku seperti ini, kau kan sudah tahu aku sudah punya pacar, kenapa kau terus nekat melamar aku? Dan ibuku, dia akan sangat marah denganmu jika sampai dia tahu kau melakukan semua ini padaku." Ucapku dengan wajah yang sangat serius dan bicara menggunakan intonasi yang lebih tinggi padanya.


Ubay terlihat menatap aku dengan lekat dan dia malah kembali memberikan bunga yang dia pada padaku, sampai memaksakan aku untuk memegangi bunganya tersebut.


"Tiktik, jika kamu tidak mau menerima aku, setidaknya tolong terima bunga dariku, aku tidak perduli kau mau membuangnya atau menyimpannya, aku hanya ingin kamu tahu, bahwa cintaku ini tulus untukmu, aku juga tidak pernah bohong setiap kali aku bilang, bahwa aku begitu menyayangimu." Balas dia kepadaku saat itu.


Sebenarnya aku sangat tidak tega untuk bicara seperti itu kepada Ubay, bagaimana pun dia juga orang yang sangat baik padaku, dia selalu membantuku di masa-masa sulit ketika aku bersekolah dahulu, dia memberikan aku uang tambahan, membantuku mengerjakan tugas dan selalu saja membujuk ibunya agar aku bisa membayar hutang di waktu yang lebih lama di bandingkan yang sudah di tentukan.


Kini melihat Ubay yang dulu selalu ceria dan selalu bermain bersama denganku dalam kondisi seperti itu, aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan menerima bunga darinya.


"Baiklah Ubay, aku menerima bungamu, tapi ini hanya karena aku menghormati dirimu, kau tetap temanku Ubay, aku tidak bisa menjadi pasangan untukmu, kau bisa menemukan pasangan lain yang lebih baik dibandingkan aku, dan aku harap kamu tidak membenci dokter Sendi maupun aku lagi." Balasku sambil menerima bunga yang dia berikan.

__ADS_1


Ubay pun terlihat lebih ceria dibandingkan sebelumnya dia sudah bisa kembali tersenyum dan terlihat mengangguk menerima ucapan dariku.


"Iya...aku sudah tidak membenci atau pun kesal denganmu lagi, tapi untuk pacarmu si dokter itu, aku tetap tidak menyukainya karena dia sudah merebut kau dariku, jika saja dia tidak muncul di kampung ini, aku yakin kau akan menjadi kekasihku bukannya kekasih dia." Balas Ubay yang masih saja seperti itu.


"Ubay aku sebenarnya tetap tidak akan menerima mu meski aku tidak pacaran dengan dokter Sendi." Balasku berbisik pelan di samping telinganya.


Kemudian aku langsung pergi mengambil motor dari rumah sembari terus membawa bunga pemberian dari Ubay sebelumnya.


"Eehh...Tiktik...tunggu Tik kau mau kemana, aku mau ikut Tiktik..." Teriak Ubay yang membuat aku segera menghentikan motorku.


"Apa lagi, tidak mungkin kau mau ikut ke pasar denganku kan?" Ucapku padanya.


Dia baru saja sampai karena sebelumnya berlari mengejar motorku.


"Aahh...hah..hah...aku mau ikut denganmu, hari ini aku libur ngajar, aku ingin pergi ke pasar aku mau bermain lagi denganmu seperti dulu Tik, aku juga mau bertemu Baim dan yang lainnya." Balas dia kepadaku saat itu.


Aku langsung mengerutkan kedua alisku sangat kuat dan menatapnya lebih dekat lagi, rasanya semua ini seperti mimpi ketika mendengar seorang Ubay untuk pertama kalinya mau pergi ke pasar dan mau menemui Baim, padahal dia selalu bertengkar dan tidak pernah aku dengan Baim selama ini.


"Heh, apa kau yakin mau bertemu, Baim kalian ini kan musuh bebuyutan, sebaiknya kau jangan ikut, nanti ibumu pasti akan datang ke pasar juga untuk nagih, jika dia melihat keberadaan kau, aku juga yang akan kena imbasnya." Balasku melarang Ubay untuk ikut denganku.


Dia tetap saja keras kepala dan memaksa aku untuk membawanya, tapi aku tetap tidak mau ikut jadi, langsung saja aku melajukan motorku secepatnya agar dia tidak bisa menahan aku lagi, sekalipun dia berteriak sangat kencang untuk menghentikanku, aku terus saja mengabaikan dia, karena benar-benar tidak bisa membiarkan dia bertemu dengan Baim.


Disisi lain tanpa Tiktik dan Ubay sadari, sebenarnya bu Yati mengetahui apa yang baru saja Ubay lakukan saat itu, karena dia sudah tahu bahwa putranya tersebut sangat menyukai Tiktik bahkan sejak dia kecil, melihat putra kesayangannya di tolak oleh wanita da di tinggalkan begitu saja, itu membuat Bu Yati sangat geram dan semakin membenci Tiktik, dia langsung menghubungi anak buahnya dan mengatakan agar sesuatu kepada mereka, agar memberikan pelajaran bagi Tiktik.


"Beraninya dia menolak putra kesayanganku dan malah meninggalkannya seperti itu, awas saja kau." Batin Bu Yati dengan penuh dendam di dalam hatinya.


Di sisi lain sesampainya di pasar seperti biasa aku membereskan dulu posko tempat kumpul anak-anak, sembari menunggu mereka tiba, dan sudah menyiapkan beberapa catatan jongko yang belum sempat membayar biaya sewanya, sehingga ketika mereka datang nanti, aku sudah bisa menyerahkan semuanya agar mereka juga bisa mudah menemukan tempat mana saja yang harus mereka tagih hari ini.


Pasar nampak lengang karena masih sangat pagi, hanya para pedagang bubur, sayur dan yang lainnya yang sudah membuka toko jam sepagi ini, sedangkan penjual yang lainnya seperti barang elektronik, peralatan rumah tangga, pakaian, kosmetik dan lainnya sering datang dan membuka warung di jam delapan atau jam tujuh pagi, anak buahku juga sering membantu para pemilik jongko untuk membuka kedai jongko mereka, atau merapihkan barang dagangannya, selain itu aku juga sering menjadi kuli angkat barang di pasar. Seperti sekarang ini disaat tidak akan anak-anak yang datang aku memilih untuk menjadi kuli dahulu.


Membawa ibu-ibu yang berbelanja untuk warung mereka membawakan dus makanan yang besar atau dua minuman yang berat menuju ke dekat kendaraan mereka masing-masing. Dengan begitu baru aku bisa dapat uang sampingan dan bisa untuk membiayai renovasi rumahku yang dulu, agar aku bisa secepatnya pindah rumah dan tidak perlu menyewa rumah kos pada ibu Yati lagi.


Aku terus bersemangat untuk membantu semua orang, meski terkadang sering ada orang yang hanya memberikan tip dua ribu atau seribu rupiah saja padaku, padahal barang bawaannya sangat banyak, tapi mau bagaimana lagi, aku sama sekali tidak bisa melawan karena memang mereka memberikan tip padaku seikhlasnya, tidak bisa aku menentukan uang yang harus mereka berikan padaku ataupun yang lainnya.


Aku hanya bisa pasrah saja dan lebih memilih untuk terus bersemangat mencari orang yang membutuhkan jasaku lagi saat ini.

__ADS_1


Itu juga salah satu alasan kenapa aku begitu dikenal oleh banyak orang hampir oleh semua orang di kampung Rentenir, karena memang keseharian ku di pasar, bertemu dengan banyak orang dan bisa berkomunikasi dengan baik dengan semua orang, aku tidak pernah memandang, ras, fisik, agama ataupun jabatan seseorang, semuanya akan aku bantu dan akan aku hormati sebagai mestinya.


__ADS_2