
Nina berjalan masuk ke apartemen milik Diana, nampak wanita itu tengah membereskan semua barang-barang nya.
"Kau jadi meninggalkan pria itu?" Tanya Nina yang mengingat rencana awal sahabatnya.
"Iya," Jawab Diana.
Nina hanya diam, lalu tangannya mulai membantu mengemasi semua barang-barang milik Diana karena hari ini Diana akan pergi dari apartemen itu.
Diana nampak diam seraya melihat ke arah Nina, untuk kehamilannya kali ini Diana tak ingin memberitahu kepada Nina.
Setelah selesai membereskan semua barang-barang nya, Diana nampak melihat ke arah cermin yang pecah dan masih ada sisa-sisa darah milik Leon.
Lalu Diana langsung melepaskan cincin dan semua perhiasan yang ada di tubuh nya karena semua perhiasan itu adalah milik Leon.
"Ayo.." Ajak Nina seraya membawa barang-barang milik Diana.
Kemudian Diana langsung mengikuti langkah Nina dengan satu koper di tangannya.
Sesampainya di rumah lama nya, Diana langsung membereskan kembali barang-barang miliknya.
"Kau yakin akan tinggal di sini?" Tanya Nina.
"Tidak, aku akan tinggal di villa pemberian orang tua ku." Jawab Diana.
"Kau akan tinggal di sana? Tapi bukan kah villa itu letaknya cukup jauh dari pemukiman warga." Ucap Nina.
"Iya, lagi pula aku suka ketenangan." Jawab Diana.
"Tapi bukankah Villa itu juga menyimpan kenangan buruk untuk mu?" Ucap Nina yang mengingat jika Villa itu pernah di pakai oleh Danu dan juga Karmila.
Dan lagi Villa itu adalah tempat dimana Diana dan Danu bertengkar hebat.
"Emm.. Itu hanya masa lalu, lagi pula sekarang aku sudah berhasil menghancurkan rumah tangga Karmila. Jadi menurut ku, semuanya impas." Jawab Diana.
"Baiklah, hari ini aku akan menginap di sini untuk menemani mu. Dan besok aku akan memanggil Kak Reyhan untuk membantu mu pergi ke Villa." Ucap Nina.
"Emm.. Terimakasih." Jawab Diana.
Kemudian Diana pergi ke dapur seraya membawa plastik berisikan bahan makanan, nampak Nina membereskan barang-barang milik Diana.
Dan Nina tak sengaja menjatuhkan tas milik Diana, lalu mata Nina tertuju pada benda kecil yang ikut terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Ini...." Gumam Nina seraya memungut benda tersebut.
Lalu Nina langsung bergegas pergi menemui Diana yang sedang berada di dapur.
"Diana, kau hamil?" Tanya Nina.
Pertanyaan Nina langsung membuat Diana terdiam dan tak bisa mengatakan sepatah kata pun.
"Kau tahu dari mana?" Tanya Diana.
"Ini.." Tunjuk Nina. "Apa kau sudah mengatakan ini kepada Leon." Ucap Nina.
"Tidak, aku tidak mengatakan hal ini kepada pria itu." Jawab Diana.
"Lalu, bagaimana dengan anak ini nanti? Kau tidak mungkin membesarkan nya sendirian." Ucap Nina.
"Aku bisa membesarkan sendirian, lagi pula aku tak menginginkan kehamilan ini." Ucap Diana.
"Jika kau tak menginginkan nya, kenapa kau tidak memakan pil KB." Ucap Nina.
"Kau tak menyangka jika.. aku akan hamil, kau tahu selama menikah dengan Danu, aku sama sekali belum hamil bahkan orang-orang menyebut ku mandul. Dan aku sudah meyakini jika aku mandul.." Ucap Diana menjelaskan.
"Lalu bagaimana sekarang? Dan kau tahu kan Diana, anak itu nanti akan kesulitan masuk ke sekolah karena dia tidak punya ayah." Ucap Nina menjelaskan kepada Diana.
"Kau gila yah..." Maki Nina.
"Iya terus bagaimana? Aku tak mau masa depan anak ku menjadi suram, dia tak akan bisa masuk sekolah." Ucap Diana.
"Kau jangan gugur kan anak itu, mau bagaimana pun dia adalah anak mu. Urusan sekolah, itu urusan nanti. Tapi aku tanya kepada mu.. Apa kau bisa membesarkan sendiri?" Tanya Nina yang mengingat jika Diana belum pernah berpengalaman dalam mengurus anak.
"Iya.. Aku memang ingin membesarkan nya sendirian dan aku yakin aku bisa membesarkan nya sendirian." Jawab Diana.
"Terserah kau saja Diana, tapi kau tenang saja. Jika anak itu lahir, aku pasti akan membantu mu dalam membesarkan nya." Ucap Nina.
"Terimakasih, Nin. Kau memang Sabahat terbaik ku."
Keesokan harinya...
Diana tengah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil milik Reyhan, pria itu dengan lembut membantu pemindahan barang-barang milik Diana.
"Kak Reyhan maaf aku telah merepotkan mu." Ucap Diana.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, aku tak merasa di repot kan oleh mu." Jawab Reyhan.
Mendengar perkataan Reyhan, Diana hanya tersenyum. Setelah semua barang-barang di masukkan ke dalam mobil, Reyhan dan Diana pun segera pergi menuju ke Villa milik Diana.
Sesampainya di sana...
Diana langsung turun dari dalam mobil, matanya melihat ke arah Villa yang sudah sangat lama dan tak terawat.
"Villa nya sangat kotor." Ucap Reyhan saat melihat kondisi villa milik Diana.
"Iya, aku sudah lama tidak datang ke sini. Dan di sini juga tidak ada penjaga nya." Jawab Diana.
"Baiklah, aku akan membantu mu untuk bersih-bersih." Jawab Reyhan.
Kemudian Reyhan langsung menurunkan barang-barang milik Diana dan membawanya ke dalam Villa.
Barang-barang di dalam Villa masih tersimpan rapih bahkan foto-foto pernikahan Diana dan juga Danu masih terpajang di dinding.
Hari itu pun menjadi hari yang melelahkan karena Diana dan Reyhan harus membersihkan semua Villa, bukan hanya itu Reyhan juga membantu membenarkan aliran listrik dan mesin pompa air di Villa itu.
Tak terasa hari sudah menjelang malam, Reyhan pun dengan terpaksa menginap di rumah Diana.
"Kak Reyhan, terimakasih yah." Ucap Diana seraya tersenyum.
"Sama-sama Diana," Jawab Reyhan.
Kemudian Diana langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam, nampak Reyhan melihat isi dapur yang masih cukup bagus.
"Apa kau serius akan tinggal sendirian di sini?" Tanya Reyhan.
"Iya, memang nya kenapa?" Tanya Diana.
"Tidak, kau tahu di sini cukup jauh dari pemukiman warga dan bagaimana nanti kau membeli bahan makanan?" Tanya Reyhan.
"Aku bisa jalan kaki, lagi pula sejak kecil aku sudah tinggal di sini bersama keluarga ku. Dan dulu aku juga sering jalan kaki melewati hutan untuk pergi belanja." Jawab Diana.
"Tidak-tidak, itu tidak bagus. Bagaimana jika kau pakai saja mobil ku," Ucap Reyhan.
"Tidak, aku tak ingin menyusahkan mu. Lagi pula kau sudah sering menolong ku." Ucap Diana.
"Jangan seperti itu, anggap saja ini hadiah untuk mu. Meski aku tak bisa memberikan mobil baru, tapi setidaknya mobil itu masih bagus." Jawab Reyhan.
__ADS_1
"Terimakasih Kak Reyhan, kau memang yang terbaik." Ucap Diana senang.
Reyhan yang melihat hal itu pun tersenyum, setidaknya dia ingin bisa menjadi orang yang ada di saat Diana tengah mengalami kesulitan.