
Diana tengah berjalan pelan menuju ke ruang dokter, hari ini tes lab milik Luis telah keluar.
"Silahkan duduk," Ujar Dokter.
"Baik, dok."
"Jadi begini setelah hasil tes, anak anda menginap Leukimia." Jelas nya.
Mendengar penjelasan Dokter, Diana langsung terkejut.
"Leukimia? Apa itu penyakit serius?" Tanya Diana.
"Iya penyakit ini bisa menyebabkan kematian jika tidak segera di obati dan anda anak menginap Leukimia agresif yang biasanya harus menjalankan transparansi tulang sumsum."
"Apa? Tapi apa anak saya akan benar-benar sembuh jika melakukan transparansi tulang sumsum?" Tanya Diana.
"Kemungkinan sembuhnya cukup besar,"
"Lantas lakukan, mau berapa pun biaya nya saya akan bayar."
"Ini tidak semudah itu, anda harus mencari orang yang mau mendonorkan tulang sumsum miliknya kepada anak anda. Dan tulang sumsum pendonor dengan anak anda pun harus cocok. Saya hanya menyarankan, anda bisa meminta ayah dari anak anda untuk mendonorkan tulang sumsum nya kepada putra anda."
"Apa? Ayah dari anak saya?"
"Iya, karena ayah dan anak akan memiliki tulang sumsum yang sama."
Mendengar perkataan dokter, Diana langsung lemas.
Kemudian Diana langsung bergegas keluar dari ruang dokter, tatapan nya nampak sendu dan juga bingung.
Diana bingung harus melakukan apa, dia tak ingin hal buruk terjadi kepada putranya tapi Diana juga tidak mungkin memohon kepada Leon.
"Apa yang harus ku lakukan, pasti akan butuh waktu lama untuk mencari orang yang memiliki tulang sumsum sama dengan Luis. Satu-satunya cara hanya meminta kepada Leon, tapi bagaimana?"
Lalu langkah Diana terhenti tepat di ruang rawat putranya, nampak putranya tengah terbaring di rumah sakit.
Ada rasa sakit di hatinya saat melihat kondisi putra nya seperti itu.
"Diana.." Panggil Reyhan seraya menepuk pundak wanita itu.
"Ah.. Kak Reyhan, kau mengagetkan ku." Jawab Diana.
"Ada apa? Apa kau ada masalah?"
"Tidak ada kok."
"Sungguh? Tapi wajah mu mengatakan hal lain, katakan ada apa?"
Mendengar perkataan Reyhan, Diana pun hanya bisa berkata jujur kepada pria itu.
__ADS_1
"Sekarang aku bingung..."
"Jadi Luis menderita Leukemia, dan dia perlu mendapatkan transplantasi sumsum dari Leon."
"Iya, tapi bagaimana aku mengatakan hal itu kepada Leon dan mungkin Leon pasti tak akan mau."
"Jika seperti itu, aku akan mencoba mencari orang yang tulang sumsum nya cocok dengan Luis. Kau tenang saja,"
"Terimakasih Kak, kau selalu membantu ku di saat aku sedang kesulitan. Terimakasih.."
"Sama-sama,"
Setelah perbincangan singkat itu, Reyhan langsung berpamitan kepada Diana.
Kini Diana hanya bisa terdiam seraya menatap ke arah putranya yang tengah terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
Kondisi Luis semakin hari semakin parah, wajahnya semakin pucat. Dian tak sanggup melihat kondisi putra nya.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" Gumam Diana bingung.
Lalu mata Diana melihat jam tangan di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Lalu Diana melihat ke luar jendela, langit-langit sudah mulai mendung. Mungkin sebentar lagi akan hujan.
Diana memejamkan matanya, kini dia sudah memutuskan semua.
Demi Luis, Diana akan membuang harga dirinya untuk meminta bantuan kepada Leon.
Setelah mengatakan itu, Diana langsung mengambil tas miliknya dan segera pergi ke rumah Leon dengan menggunakan taksi.
Sesampainya di depan gerbang rumah Leon, Diana menekan bel, lalu tak beberapa lama datang seorang pelayan rumah.
"Maaf Nona, anda cari siapa?" Tanya Pelayan tua itu.
"Saya cari Pak Leon, apa beliau ada di rumah?" Tanya Diana.
"Apa anda sudah membuat janji sebelum nya?" Tanya Pelayan tersebut.
"Belum, tapi bisa kah saya bertemu dengan Pak Leon."
"Sebenar saya tanyakan dulu, maaf atas nama siapa?"
"Emm... Diana, nama saya Diana."
"Baik, tunggu sebentar."
Lalu pelayan itu pun pergi meninggalkan Diana yang tengah menunggu di depan pintu gerbang.
Di dalam rumah..
__ADS_1
Pelayan itu berjalan ke pintu kamar Leon.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar pun terbuka, menampilkan sosok Leon yang tetap gagah meski sudah dua tahun berlalu.
"Ada apa?" Tanya Leon dengan tatapan dingin.
"Ada orang yang ingin bertemu dengan anda, Tuan."
"Siapa?" Tanya Leon seraya mengerutkan keningnya.
"Dia seorang wanita cantik, namanya Diana."
Mendengar nama Diana, Leon langsung menatap tajam ke arah pelayan tua itu.
"Diana, apa kau tak salah?"
"Tidak Tuan, nama nya Diana."
"Beri tahu dia, aku tak ingin bertemu dengan nya. Suruh di pergi..."
"Baik Tuan."
Kemudian Pelayan tua itu langsung pergi untuk menemui Diana.
Leon yang berada di kamar pun langsung membuka laptop miliknya untuk melihat kamera cctv yang berada di gerbang rumah nya.
Kini Leon bisa melihat dengan jelas, wanita yang dulu pernah meninggalkan nya.
Sekarang wanita itu berada di depan rumah nya.
"Apa yang ingin wanita itu lakukan?" Gumam Leon dengan tatapan tajam.
Sementara itu.
Diana tengah berdiri seraya menunggu pelayan tua itu kembali.
"Maaf Nona, Tuan sedang sibu dan dia menyuruh Anda untuk pulang saja."
"Sampai kapan dia sibu? Saya akan menunggu nya sampai dia ada waktu.".
"Maaf Nona, sebaiknya anda segera pulang." Usir pelayan itu.
Kemudian Pelayan itu hendak menutup gerbang, "Katakan kepada Leon, aku akan menunggu nya di sini, sampai pria itu datang."
"Terserah anda, nona." Ucap Pelayan tersebut seraya menutup pintu gerbang.
Diana hanya bisa diam, lalu dia mulai jongkok seraya bersandar di gerbang rumah Leon.
__ADS_1
Dan semua yang di lakukan oleh Diana, telah di lihat oleh Leon.