
Seperti biasa Diana berangkat bekerja ke rumah Leon, tapi untuk hari ini Diana tidak bertemu Leon sama sekali.
Lalu tiba-tiba Diana memikirkan kondisi Luis, Diana masih belum mendapatkan orang yang mau mendonorkan tulang sumsum nya untuk Luis. Jika saja Leon ingin mendonorkan nya, pasti sekarang Luis sudah sembuh.
"Hey.. Apa yang sedang kau lakukan, cepat bekerja. Bengong terus.." maki Lala.
"Iya."
"Jangan mentang-mentang Tuan membela mu, jadi kau besar kepala yah."
"Maksud mu apa?" Tanya Diana tak mengerti dengan apa yang di katakan Lala.
"Alah.. Jangan pura-pura polos deh, aku ingetin yah. Jangan merasa menjadi nyonya di rumah ini karena kau di istimewa kan oleh Tuan, aku yakin. Kau pasti menggoda nya dengan tubuh dan wajah mu itu."
"Jaga ucapan mu itu yah." Jawab Diana kesal.
"Tapi memang benar kan, dasar wanita murahan.."
Mendengar penghinaan dari Lala, Diana pun seketika naik darah.
"Iya setidaknya, Tuan tertarik kepada ku dan itu sudah membuktikan jika aku lebih cantik dan lebih menarik dari pada kamu.." Ucap Diana sengaja agar Lala semakin marah.
Mendengar perkataan Diana yang tengah menyombongkan dirinya, Lala pun langsung marah dan memaki Diana.
"Dasar wanita murahan..."
"Kau bilang aku murahan? Mungkin itu ucapan dari orang yang jelek.." Ucap Diana.
Kemudian Lala langsung menjambak rambut Diana, tapi Diana segera menendang kedua kaki Lala.
Lalu Diana langsung menampar pipi wanita itu, pertengkaran itu pun langsung selesai saat melihat Kepala pelayan yang baru pulang.
Setelah itu Diana kembali melakukan pekerjaan nya, tapi dia masih tidak melihat keberadaan Leon.
Atau mungkin pria itu sedang pergi ke kantor, dan tidak pulang ke rumah.
Tak terasa hari hari pun sudah mulai menjelang malam, Diana nampak tengah membereskan barang-barang miliknya untuk segera pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Karena sudah beberapa hari Diana belum sempat untuk melihat keadaan Luis.
Tapi sesampainya di rumah sakit, Diana tidak bisa menemui Luis karena hari sudah malam dan pintu rumah sakit pun sudah di kunci.
Dengan terpaksa Diana kembali pulang ke rumah, mungkin besok dia akan pergi untuk bertemu dengan Luis.
Sementara itu...
Leon nampak tengah berbaring di atas ranjang, kepalanya masih terasa pusing dan tubuhnya juga masih terasa sakit dan kaku.
Kini operasi transplantasi sumsum tulang belakang pun sudah berjalan dengan lancar, mungkin masih membutuhkan beberapa hari untuk memastikan kondisi Luis baik-baik saja.
Tapi untuk saat ini Leon tidak akan mengatakan tentang operasi Luis kepada Diana, biarkan hal ini menjadi rahasia nya.
Keesokan harinya...
Diana pergi ke rumah sakit untuk menemui Luis, dan sebelum nya dia sudah meminta izin kepada kepala pelayan untuk datang sedikit terlambat karena ingin menemui putranya.
Tapi sesampainya di sana, Diana nampak terdiam dengan kondisi Luis yang tidak terlalu pucat seperti terakhir mereka bertemu.
Lalu tiba-tiba mata Luis terbuka, anak itu langsung tersenyum dan ingin memeluk Diana.
Tapi Luis hanya tertawa-tawa, lalu Diana ingin mengangkat tubuh Luis.
Tiba-tiba seorang suster datang dan menghentikan aksi Diana.
"Maaf Bu, sebaiknya anda jangan dulu memangku pasien."
"Hah? Kenapa?" Tanya Diana.
"Karena pasien baru saja menjalankan operasi dan bisa saja jahitan operasi nya masih belum kering dan itu bisa mengakibatkan rasa sakit kepada pasien."
"Apa? Operasi? Maksudnya operasi apa?" Tanya Diana yang tidak mengerti.
"Pasien sudah menjalankan operasi transplantasi sumsum tulang belakang."
Mendengar perkataan Suster, Diana langsung tercengang seketika. Bagaimana bisa Luis menjalankan Operasi, bahkan pihak rumah sakit tidak mengatakan hal ini kepada nya.
__ADS_1
"Tapi saya tidak pernah menyetujui hal ini."
"Tapi ayah pasien sudah menyetujui nya Bu, dan beliau juga yang mendonorkan sumsum tulang belakang nya kepada pasien."
"Ayah?"
Diana terdiam seribu bahasa, siapa ayah yang sister itu maksud. Apa ayah yang dia maksud adalah Leon, tapi tidak mungkin pria itu mau mendonorkan sumsum tulang belakang nya kepada Luis. Bukankah Leon mengatakan jika dia tidak percaya jika Luis adalah anaknya.
"Lalu dimana orang yang mendonorkan sumsum tulang belakang nya kepada putra saya, apa dia masih di rumah sakit ini."
"Iya Bu, beliau ada di ruangan yang berada di ujung."
Mendengar hal itu, Diana langsung bergegas pergi. Dia ingin memastikan jika yang melakukan hal itu bukan Leon karena Diana tidak percaya jika Leon bisa melakukan hal seperti itu.
Setibanya di depan ruang rawat, Diana pun langsung memegang gagang pintu. Detak jantung nya tiba-tiba berdetak sangat kencang, lalu perlahan Diana mulai membuka pintu.
Nampak sosok pria tengah berbaring di ranjang rumah sakit, dan saat Diana mendekat.
Matanya mulai menatap tak percaya, benar saja orang yang mendonorkan sumsum tulang belakang nya kepada Luis adalah Leon.
"Sudah ku bilang jangan ganggu aku..." Ucap Leon tapi perkataan langsung terhenti saat melihat Diana berada di depan matanya.
"Kenapa?" Tanya Diana.
Leon pun langsung terdiam, tapi dia segera mengelak dan tidak mengakuinya.
"Apa maksud mu?"
"Kenapa kau melakukan hal itu, bukan kah kau tidak percaya jika Luis itu anak mu?"
"Melakukan apa? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud?"
"Kau jangan bohong... Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Leon terdiam saat melihat Diana menangis di depannya, sedetik kemudian Diana langsung memeluk Leon seraya terus menangis.
Nampak Leon sangat terkejut dengan apa yang Diana lakukan kepada nya.
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Hiks.. Terimakasih... Terimakasih sudah menyelematkan nyawa Luis... Terimakasih..."