
2 tahun berlalu...
Kini Diana hidup bahagia bersama dengan kedua putranya di Villa milik mendiang orang tuanya.
Hati-hati Diana di selimuti oleh suara tangis dan tertawaan bayi, waktu berlalu begitu cepat.
Kedua anaknya sudah menginjak 2 tahun, Diana bahagia karena dia bisa melihat pertumbuhan kedua putranya.
Lucas dan Luis nama kedua anak Diana, keduanya baru bisa berjalan tapi mereka masih belum bisa berbicara, mungkin baru beberapa kata yang bisa mereka ucapkan.
Dalam pengasuhan kedua anaknya, Diana kadang di bantu oleh Nina dan juga Reyhan.
Dan hari ini Reyhan lah yang datang berkunjung untuk menemani Lucas dan juga Luis.
"Kak Reyhan, kau ingin makan apa?" Tanya Diana kepada Reyhan yang sedang bermain dengan kedua anak Diana.
"Aku apa saja boleh, lagi pula semua yang kau masak pasti enak kok."
"Baiklah."
Diana pun dengan telaten langsung memasak makanan untuk mereka berdua, tak lupa Diana juga sudah menyiapkan makanan untuk kedua anak nya.
Cukup lama berada di dapur, suara panggilan Diana langsung membuat Reyhan melihat ke arah wanita itu.
"Ayo." Ajak nya dengan senyum manis seraya melihat ke dua putra kecilnya.
Kedua anak itu dengan langkah pelan berjalan ke arah Diana.
Reyhan yang melihat kelembutan wanita itu hanya bisa tersenyum tipis, Diana sangat lah baik terutama kepada kedua anak nya.
"Kak kenapa diam? Gak suka sama makanan nya?"
"Suka kok." Reyhan mulai memakan makanan buatan Diana, sementara wanita itu nampak tengah menyuapi kedua putranya.
"Arg...."
Reyhan yang sedang makan langsung di kaget kan dengan suara teriakan Diana.
"Ada apa?"
"Luis.. dia panas."
"Panas? Tapi tadi dia baik-baik saja."
"Aku tak tahu, tapi sebaiknya aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang. Kak Reyhan, aku titip Lucas kepada mu. Sebentar saja," Pinta Diana.
"Aku akan mengantar mu, Lucas nanti di titipkan ke Nina."
__ADS_1
"Baik."
Diana dan Reyhan langsung buru-buru pergi ke rumah sakit, tak lupa mereka menitipkan Lucas ke Nina.
"Aduh... Sayang, kamu kenapa kok tiba-tiba demam sih."
Diana terus memeluk Luis, anak itu nampak menangis.
"Tenang yah, sebentar lagi kita sampai.."
Melihat Diana yang tengah khawatir dengan keadaan anaknya, Reyhan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
Kini mereka sampai di rumah sakit, Diana hanya bisa duduk seraya menunggu pemerikasaan dokter tentang kondisi Luis.
Tak beberapa lama dokter pun selesai melakukan pengobatan untuk Luis.
"Bagaimana kondisi anak saya, dok?"
"Emm.. Untuk saat ini anak Ibu harus di rawat di rumah sakit dan kita akan melakukan beberapa tes lab untuk melihat penyakit anak anda."
"Apakah separah itu penyakit anak saya?"
"Saya belum bisa memastikan nya, tapi anda tunggu saja hasil tes nya."
"Baik terimakasih."
"Kamu yang sabar yah, mungkin Luis hanya demam biasa."
"Tapi entah kenapa perasaan ku tak enak, Kak. Aku takut hal buruk akan terjadi kepada Luis," Lirih Diana dengan tatapan sendu.
"Aku yakin tidak akan ada yang terjadi kepada Luis, anak itu sangat kuat karena dia adalah anak mu."
"Iya semoga saja."
"Baiklah, kau tunggu di sini. Aku akan membereskan urusan administrasi."
"Baik kak, terimakasih."
"Sama-sama."
Kini Diana hanya bisa duduk seraya menundukkan kepalanya, hatinya sangat tidak enak. Dia saat ini sangat gelisah akan kesehatan Luis.
Tapi Diana yakin jika putranya akan baik-baik saja, lagi pula sekarang Luis sudah di tangani oleh dokter profesional.
Untuk saat ini Luis harus di rawat di rumah sakit, Diana sangat bingung karena di satu sisi di harus menjaga Luis tapi di sisi lain dia juga harus menjaga Lucas karena Diana merasa tak enak jika harus terus menitipkan Lucas kepada Nina.
Sementara itu.
__ADS_1
Nina tengah mengajak bermain Lucas, anak itu hanya tertawa-tawa seraya memainkan robot-robotan milik nya.
"Emm.. Bagaimana keadaan Luis, apa dia baik-baik saja?"
Lalu Nina melihat ke arah Lucas, anak itu nampak tenang.
"Hey.. Lucas, apa kau tak khawatir dengan Luis?" Tanya Nina kepada Lucas.
Tapi bukannya menjawab Lucas hanya tertawa-tawa seraya melempar mainan nya ke berbagai arah.
"Aduh... Dasar bayi," Gumam Nina.
Kemudian Lucas berdiri dan berlari mengambil mainan nya tapi tiba-tiba dia terjatuh dan langsung menangis.
Nina pun langsung menenangkan anak dari sahabatnya itu.
"Cup... Cup.. Cup... Jangan menangis yah," Tapi bukannya berhenti Lucas malah menangis dengan sangat keras.
Nina hanya bisa tersenyum pasrah, dari dulu sampai sekarang dia paling tidak bisa menangani kedua anak Diana yang sedang menangis.
Kemudian Nina memiliki ide untuk menelpon Diana lewat Video call, "Sebentar yah Lucas, kita telpon ibu mu itu." Ucap Nina.
Tak beberapa lama panggilan pun di angkat, Lucas yang tengah menangis dan melihat wajah Ibunya pun langsung berhenti menangis.
"Apa kau menangis lagi, sayang?"
"Biasa anak mu, bagaimana keadaan Luis?"
"Keadaan lumayan membaik, hanya dia harus di rawat inap dan lagi aku sedang menunggu hasil pemeriksaan lab milik Luis."
"Baiklah, ku harap Luis baik-baik saja."
"Iya, maaf yah.. Sudah merepotkan mu untuk menjaga Lucas."
"Tidak masalah."
"Lucas, kamu jangan nakal yah. Jangan sampai merepotkan Tante Nina dan ingat jangan sering menangis."
Mendengar perkataan Diana, Lucas hanya tertawa seraya mengatakan kalimat yang tidak di pahami oleh orang dewasa.
"Baiklah, aku tutup dulu yah."
"Baik."
Kemudian panggilan pun tertutup, "Sekarang kau dengar apa yang di katakan ibu mu, jangan rewel."
Tapi mendengar ucapan Nina, Lucas hanya acuh dan terus memainkan mainan miliknya.
__ADS_1