
Diana berjalan dengan wajah senang, hari ini dia sudah merindukan Luis.
Tapi ketika Diana masuk ke ruang rawat Luis, ruangan itu kosong dan nampak seorang suster tengah membereskan kamar tersebut.
"Maaf Sus, pasien yang di ruangan ini mana yah?" Tanya Diana.
"Pasien yang di ruangan ini sudah di pindahkan ke ruang VVIP." Jawabnya.
"Hah? Ke ruang VVIP, maaf seperti nya kalian salah orang. Saya tidak pernah meminta anak saya di pindahkan ke ruangan itu." Ucap Diana yang kaget karena dia tahu berapa mahalnya harga ruangan VVIP.
"Maaf Nona, saya kurang tahu. Tapi saya bisa mengantar anda untuk ke sana."
"Baik, sus."
Lalu Diana di bawa ke ruang rawat VVIP, sesampainya di sana. Diana terdiam dengan keadaan ruang rawat putranya yang sangat mewah.
Tapi di sisi lain Diana cemas, bagaimana bisa putranya di pindahkan ke ruang VVIP. Di tambah lagi Diana tidak sanggup untuk membayar harga sewa kamar rawat VVIP yang sangat mahal.
"Bagaimana ini?" Gumam Diana.
Dia yakin jika pihak rumah sakit telah salah memindahkan pasien, lalu Diana melihat putranya yang tengah tertidur.
Tapi tatapan mata Diana langsung berubah menjadi sendu saat banyaknya alat yang terpasang di tubuh putra kecilnya.
Perlahan air mata Diana mulai menetes tapi dia segera menghapus air matanya, "Jangan menangis, Diana. Kau harus kuat, demi Luis.." Ucap Diana.
Lalu Diana pun segera pergi untuk menemui pihak rumah sakit, tapi sebelum itu dia tak lupa untuk berpamitan kepada Luis.
Kini Diana berada di depan tempat administrasi rumah sakit.
"Maaf sus, saya ingin bertanya."
"Silahkan Bu, ada masalah apa?"
"Seperti nya kalian salah memindahkan pasien, saya tidak pernah meminta anak saya yang bernama Luis untuk di pindahkan ke ruang rawat VVIP."
"Maaf Bu, ini sudah ketentuan rumah sakit karena penyakit anak anda parah dan harus di pindahkan."
__ADS_1
"Tapi sus.." sebelum Diana menyelesaikan perkataannya, pegawai rumah sakit langsung memotongnya.
"Maaf Bu, silahkan..." Ucapnya seraya menyuruh Diana untuk pergi, sebenarnya Leon sengaja tidak memberitahukan hal ini kepada Diana.
Dan dia pun menyuruh kepada pihak rumah sakit untuk tidak mengatakan apapun tentang pemindahan Luis ke ruang rawat VVIP.
Nampak Diana hanya bisa berjalan dengan lesu, dia bingung tentang pembayaran biaya rumah sakit Luis.
Karena tidak mungkin jika Diana meminta bantuan kepada Reyhan dan Nina, kedua temannya sudah banyak membantunya dan Diana tidak ingin kembali merepotkan mereka berdua.
Kemudian Diana langsung berangkat pergi untuk mencari pekerjaan tambahan, tapi di saat dia tengah berjalan. Tiba-tiba Diana menabrak seorang laki-laki.
"Maafkan saya.." Ucap Diana.
Lalu Diana melihat ke arah laki-laki itu, nampak matanya sedikit terkejut saat melihat pria itu adalah Leon.
Dengan wajah kesal, Diana langsung bergegas pergi meninggalkan Leon begitu saja. Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu Leon kembali melanjutkan perjalanannya menuju ruang rawat Luis.
Nampak Leon menatap anak yang berada di depan matanya, wajahnya sangat mirip dengannya tapi kini wajah itu nampak sangat pucat.
"Dok, kapan operasi nya bisa di lakukan?" Tanya Leon kepada dokter yang berada di sampingnya.
"Baiklah, lakukan secepatnya."
"Baik Pak, tapi kami harus mendapat persetujuan dari orang tua pasien."
"Saya ayah nya." Jawab Leon.
"Baik, Pak Leon."
Setelah itu dokter pun langsung pergi meninggalkan Leon sendirian, ada perasaan terluka di saat Leon melihat putranya seperti ini.
"Jika saja dulu Diana menjelaskan bahwa dia hamil, aku bisa memaafkannya dan anak ku tak akan pernah menderita seperti ini." Gumam Leon.
Meski Leon membenci Diana tapi di lubuk hati nya yang paling kecil, Leon sangat mencintai Diana.
Yang Leon inginkan hanyalah kata maaf yang tulus dari mulut Diana, kata maaf dan ucapan jika Diana sangat mencintainya.
__ADS_1
Tapi hal itu seperti sebuah kalimat yang sangat sulit untuk Diana ucapkan, Diana lebih memilih untuk pergi daripada meminta maaf kepada nya.
"Tuan.." Panggil bawahan Leon.
"Ada apa?"
"Anak buah kita mengatakan jika Nona Diana sedang berjalan ke sini."
"Baik."
Setelah mendengar itu, Leon langsung bergegas pergi meninggalkan ruang rawat Luis.
Leon tidak ingin jika Diana tahu bahwa dialah yang meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Luis ke ruang rawat VVIP.
Sesampainya Diana di ruang rawat Luis, Diana langsung tersenyum dan mengambil tas miliknya yang ketinggalan.
Tapi Diana sedikit terdiam saat melihat posisi kursi yang berubah, "Apa ada orang yang masuk ke sini?" Gumam Diana.
Tapi Diana berpikir mungkin itu dokter yang memeriksa keadaan Luis, "Maaf yah sayang, Mama harus ninggalin kamu dulu." Ucap Diana seraya mengelus rambut Luis.
Setelah berpamitan dengan Luis, Diana langsung bergegas pergi untuk mencari pekerjaan tambahan.
Diana terus berjalan menyusuri trotoar kota, matanya menatap ke sana ke mari. Tatapan sendu terlihat jelas di matanya, Diana tengah bingung mencari pekerjaan untuk membayar biaya ruang rawat dan pengobatan Luis.
Lalu Diana melihat sebuah koran yang tergeletak di pinggir trotoar tapi tatapan mata Diana tertuju pada lowongan pekerjaan yang tertulis di koran itu.
Dengan cepat Diana langsung mengambil kotak tersebut dan melihat lowongan pekerjaan sebagai pelayan di salah satu rumah yang berada di kawasan elit.
"Apa masih ada yah lowongan nya?" Gumam Diana.
Lalu Diana melihat gaji yang tertera di koran itu, mata Diana langsung tertuju. "Apa? 7 Juta perbulan? Gaji apaan tuh.." Ucap Diana kaget karena biasanya gaji seorang pembantu tidak sebesar itu.
Dengan cepat Diana langsung mengambil ponsel miliknya, dia segera menelpon nomor yang tertera di koran.
Tak beberapa lama panggilan pun langsung tersambung, Diana segera menanyakan perihal lowongan pekerjaan yang ada di koran.
Setelah mendapatkan informasi, Diana langsung di suruh untuk datang ke alamat yang ada di koran.
__ADS_1
Lalu panggilan pun langsung terputus, dengan rasa senang Diana hanya bisa tersenyum ringan. Meski menjadi pembantu yang penting gajinya besar dan bisa meringankan biaya pengobatan Luis.
"Semangat...."