
Leon tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit, kaki nya mulai menuju ke salah satu ruang rawat.
"Kau sudah datang?" Tanya Natalia yang melihat Leon baru datang.
"Iya." Jawab nya.
"Apa kau mengantarkan Tunangan mu sampai ke depan rumah nya?" Tanya Natalia.
"Iya sudah." Jawab Leon.
Kemudian mata Leon tertuju pada sosok wanita tua yang tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Nenek?" Tanya Leon.
"Keadaan nya sudah membaik, emm... Penyakit jantung Nenek sudah sering kumat." Ucap Natalia seraya memandang sendu wanita tua di depannya itu.
"Emm.. Lagi pula Nenek sudah tua, jadi wajar jika dia sering sakit seperti itu." Ucap Leon.
Mendengar perkataan Leon, Natalia tak ingin berkomentar sama sekali.
Lalu Leon berpamitan kepada Natalia, Leon mulai melangkah keluar dari ruang rawat Yenita.
Kemudian Leon mulai menekan tombol lift, di saat lift terbuka dia langsung masuk ke dalam lift tapi tiba-tiba ada beberapa perawat tengah membawa ranjang seorang pasien.
Dengan terpaksa Leon harus mundur ke belakang, lalu Leon bisa melihat jelas pasien yang tengah terbaring di atas ranjang.
Matanya nampak memancarkan rasa keterkejutan tapi Leon tetap tenang dan berusaha acuh.
"Diana? Kenapa Wanita itu?" Pikir Leon.
Tapi Leon hanya diam seraya sesekali melihat wanita yang pernah mengisi hatinya di masa lalu, kini wanita itu nampak tengah tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit dengan alat bantu pernafasan dan selang infus yang terpasang di tubuh Diana.
Ting...
Pintu lift pun mulai terbuka para perawat pun langsung keluar dan membawa ranjang berisikan Diana pergi ke sebuah ruang rawat.
Leon hanya diam seraya melihat lalu dia langsung berbalik bergegas untuk pergi.
"Emm.. Aku tak peduli dengan nya, meski dia mati sekalipun.." Pikir Leon.
__ADS_1
Kini tak ada perasaan cinta lagi seperti dulu untuk Diana, yang ada hanya perasaan benci Leon untuk wanita itu.
Di saat Leon tengah berjalan, dia tak sengaja bertemu dengan pria yang pernah di sebut Kakak oleh Diana.
Tapi Leon sudah tak peduli sama sekali dengan Diana, baginya Diana hanyalah masa lalu seperti kebanyakan wanita yang pernah dekat dengannya.
Tring.. Tring...
Ponsel milik Leon mulai berbunyi, kemudian tangannya langsung mengambil ponsel miliknya dan mengangkat panggilan dari Tunangan nya.
"Ada apa, Yumna?"
"Kau dimana Sayang? Aku merindukan mu, bisakah kau segera datang ke sini?"
"Bukan kah aku baru saja mengantar mu pulang? Dan tadi kita juga baru bertemu."
"Kau ini bagaimana sih, itu namanya karena aku mencintaimu dan sekarang aku sedang sangat-sangat merindukan mu. Jadi kau harus datang ke sini. Please.."
"Akan ku pikirkan nanti, lagi pula sekarang aku masih banyak urusan yang belum di selesaikan."
"Tapi.. Aku merindukan mu, ku mohon. Datang yah."
"Yumna, sudah berapa kali ku katakan kepada mu. Berhenti lah bersikap kekanak-kanakan, dan ingat jangan sampai membuat kesabaran ku habis."
Tanpa menjawab perkataan Yumna, Leon langsung mematikan panggilan dari Tunangan nya itu.
"Dasar wanita yang menyebalkan." Ucap Leon seraya terus berjalan menuju ke pintu keluar.
Sementara itu
"Bagaimana keadaan Diana saat ini?" Tanya Nina yang baru datang.
"Ku dengar sekarang di sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat." Ucap Reyhan.
"Syukurlah, sudah beberapa hari dia berada di ruang ICU. Dan mungkin kondisi nya sekarang sudah mulai membaik." Ucap Nina berharap.
"Iya seperti nya begitu, tapi kata dokter. Diana masih belum sadarkan diri." Ucap Reyhan.
"Emm.. Aku harap, Diana bisa segera sadarkan diri. Dia pasti akan sangat senang melihat kedua putranya." Ucap Nina.
__ADS_1
"Iya.. Aku juga berharap seperti itu." Jawab Reyhan.
Lalu Reyhan dan Nina segera pergi ke ruang rawat Diana.
Nampak mata mereka menatap penuh kesedihan, wanita yang selalu ceria kini harus terbaring di ranjang rumah sakit.
"Diana, kamu datang." Ucap Nina seraya duduk di samping ranjang Diana.
Lalu Nina menatap sahabatnya, air mata mulai menetes dan membasahi kedua pipi Nina.
"Hiks.. Hiks.. Hiks... Diana cepatlah sadar, kedua putra mu sedang menunggu mu.. Hiks.. Hiks.. Mereka pasti senang melihat ibunya yang sangat cantik.. Hiks..."
Mendengar tangisan Nina, Reyhan pun langsung menenangkan saudara nya itu.
"Aku dan Kak Reyhan pun sangat merindukanmu, cepatlah sadar.. Ku mohon." Ucap Nina seraya menggenggam tangan Diana.
Tapi tak ada respon dari wanita itu, Diana masih dalam keadaan koma dan belum bisa sadarkan diri untuk saat ini.
"Aku tahu kau sangat merindukan Diana, tapi percuma saja menangis. Itu semua tak akan membuat Diana tersadar," Ucap Reyhan.
"Lalu kita harus bagaimana?" Tanya Nina.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, mungkin kita hanya bisa menunggu." Ucap Reyhan.
"Iya kak." Jawab Nina.
Kemudian Nina mendapatkan panggilan dari rekan kerja nya untuk segera kembali ke kantor karena ada urusan kantor yang harus di selesaikan.
"Maaf Kak, aku harus pergi ada urusan kantor yang sangat mendadak. Aku titip Diana kepada mu," Ucap Nina.
"Baik, kau hati-hati di jalan." Ucap Reyhan.
Setelah berpamitan dengan Reyhan, Nina pun segera pergi meninggalkan Reyhan dan juga Diana.
Kini di dalam ruangan hanya ada Reyhan, pria itu mulai duduk di samping ranjang milik Diana.
"Diana.. Bagaimana keadaan di sana? Apa kau bisa mendengar perkataan ku? Atau tidak, jika kau bisa mendengar perkataan ku.. Aku sangat merindukanmu, bukan hanya aku.. Semua orang juga merindukan mu." Ucap Reyhan seraya tersenyum kecut.
Lalu mata Reyhan langsung tertuju pada wajah Diana, pria itu pun mulai bangkit.
__ADS_1
"Aku mencintaimu.. Ku harap suara ku bisa kau dengar saat ini." Ucap Reyhan seraya mencium kening Diana.
"Maafkan aku yang tidak pernah memberitahukan mu tentang perasaan ku ini, aku tak ingin persahabatan kita hancur hanya karena perasaan ku.. Dan aku pun tak sanggup mendengar kalimat penolakan dari mulut mu.. Maafkan aku.."