
Diana kini sampai di sebuah rumah besar, nampak masih banyak barang-barang yang berada di luar.
"Apa mereka baru pindahan?" Gumam Diana.
Lalu Diana mendekati penjaga rumah dan menanyakan tentang lowongan menjadi pelayan di rumah ini, kemudian panjang rumah langsung menyuruh Diana untuk masuk dan menemui wanita tua yang menjadi kepala pelayan di sini.
"Selamat siang." Sapa Diana.
Nampak wanita tua itu melihat Diana dari atas sampai bawah.
"Siang, jadi kau wanita yang ingin melamar menjadi pelayan di sini?" Tanya nya.
"Iya.."
"Bu Erin, kau bisa memanggilku itu."
"Iya Bu Erin."
"Baik, tugas mu di sini hanyalah bersih-bersih. Karena 3 hari lagi Tuan muda akan pindah ke rumah ini, dan kau bersama dengan 9 pelayan lain harus membersihkan rumah ini dengan sangat teliti."
"Baik."
"Dan satu lagi, Tuan muda tidak menyukai rumah yang kotor dan jika ada debu sedikit pun. Kau akan di pecat," Ucap Erin.
"Baik."
"Tugas kalian hanyalah menjaga rumah ini agar tetap bersih dan urusan memasak, kalian tidak perlu memikirkan karena sudah ada koki yang menjalankan tugas itu."
"Baik."
"Lalu kenapa kau diam saja? Cepat ganti baju mu dan bekerja." Ucap Erin dengan nada tinggi.
"Baik." Jawab Diana kaget karena wanita tua di depannya sangatlah tegas dan disiplin.
Kemudian Diana di beri pakaian pelayan berwarna hitam dengan rok di atas lutut, layaknya pakaian pelayan pada umumnya.
Setelah berganti pakaian, Diana segera bergabung dengan pelayan yang lain untuk membersihkan seluruh bagian rumah.
Dan rupanya 9 pelayan lain pun merupakan pelayan baru, yang baru di terima tak lama.
Setelah Diana mendengar penjelasan dari teman-temannya, bahwa rumah ini baru saja di bangun oleh majikan mereka dan masih belum di tempati.
Diana yang mendengar hal itu hanya bisa mengangguk kepalanya sebagai jawaban, Diana sangat penasaran pada sosok majikannya yang nampak sangat kaya raya.
Hal itu terlihat dari gaji pelayan yang sangat besar dan juga rumah mewah yang seperti istana.
"Ku dengar majikan kita itu adalah pria tampan, dan ku dengar jika dia seorang duda." Bisik seorang pelayan dengan pelayan yang lain.
Diana hanya bisa melanjutkan pekerjaannya, meskipun sesekali dia menguping pembicaraan pelayan lain tentang majikan barunya.
__ADS_1
"Diana.." Panggil Irna pelayan yang memiliki kulit sawo matang dengan perawakan cukup gemuk.
"Iya?" Tanya Diana.
"Kau bersihkan semua ruang tamu ini, dan jangan lupa kau langsung pindahkan semua barang-barang yang ada di dalam kardus ke tempatnya. Dan ingat susun serapih mungkin." Ucap Irna.
"Lalu jika aku mengerjakan pekerjaan ini, tugas mu apa?" Tanya Diana yang kesal.
"Iya tugas ku mengawasi mu agar kau mengerjakan pekerjaan ini dengan benar."
"Mengawasi ku? Memang nya kau siapa?"
"Heh.. Jangan mulut mu yah, aku ini senior di sini. Dan kau jangan melawan," Ucap Irna seraya menunjuk-nunjuk Diana.
"Apa senior? Heh, apa kau kira aku bodoh. Semua pelayan di sini itu baru di rekrut dan kau juga baru di pekerjakan kemarin. Dan kau bilang senior, dan di sini yang hanya bisa mengawasi pekerjaan ku hanyalah kepala pelayan buka kau.." Jawab Diana kesal karena dia tidak suka dengan orang yang bersikap semena-mena seperti itu.
Irna hanya bisa diam dengan wajah yang kesal, lalu Diana langsung pergi untuk menyelesaikan pekerjaan miliknya.
Tak beberapa lama semua pelayan baru langsung di panggil oleh Kepala pelayan untuk datang ke ruangannya satu persatu, kini giliran Diana.
"Ini uang muka untuk mu bulan ini, dan sisanya akan kami bayar di akhir bulan." Ucap nya.
"Terimakasih, Bu Erin."
"Iya dan lagi, ini ada kesepakatan kontrak yang harus di tanda tangani."
"Baik."
Setelah itu, Diana langsung keluar dan nampak semua pelayan melihat isi amplop mereka masing-masing.
"Wih.. 3 juta." Ucap salah seorang pelayan yang sedang menghitung uang muka miliknya.
"Iya, banyak banget."
Lalu Diana pun ikut menghitung uang nya, nampak Diana sangat senang karena setidaknya dia bisa meringankan beban biaya pengobatan Luis.
"Tapi kenapa yah, kita harus menandatangani kontrak perjanjian pekerjaan?" Tanya Diana yang heran.
"Oh.. itu, ku dengar karena banyak pelayan yang tidak betah bekerja dan untuk meminimalisir kerugian, maka kepala pelayan melakukan sistem kontrak. Jadi jika ada pelayan yang ingin berhenti sebelum masa kontraknya berakhir, maka dia harus membayar ganti rugi." Jelas salah seorang pelayan.
"Kok bisa yah orang-orang gak betah kerja di sini?" Tanya Ina heran.
"Mungkin itu karena majikannya galak?" Ucap Diana menebak.
"Bisa juga sih."
Setelah perbincangan singkat itu, Diana dan pelayan yang lain langsung bergegas pergi untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
Nampak beberapa pelayan kurang suka dengan Diana, karena wanita itu memiliki wajah yang cantik dengan kulit putih bersih.
__ADS_1
Bahkan Diana sama sekali tidak cocok bekerja sebagai pelayan.
Setelah pekerjaan selesai, Diana segera pergi pulang untuk menjemput Lucas yang dia titipkan di rumah Nina.
Nampak Diana berjalan lesu, hari ini dia sangat lelah karena banyak sekali bagian rumah yang harus di bersihkan.
Karena tiba-tiba kepala Pelayan menyuruh mereka untuk membersihkan rumah secepatnya karena majikan mereka akan datang besok.
Pada awalnya majikannya akan datang 3 hari lagi tapi tiba-tiba dia mempercepat waktu kedatangan, sehingga membuat para pelayan harus bekerja sangat keras untuk membersihkan semua bagian rumah.
Lalu Diana kembali terdiam, mengingat dia harus datang ke rumah majikannya pagi-pagi buta.
Sebenarnya Diana tidak masalah harus datang pagi sekali pun tapi jarak dari rumahnya ke tempat dia bekerja cukup jauh.
"Apa aku cari kontrakan aja kali yah?" Gumam Diana.
Tak ingin berlama-lama memikirkan hal itu, Diana langsung memesan Go-Jek untuk pergi ke rumah Nina.
Sesampainya di sana, Diana langsung di sambut hangat oleh Nina.
"Kau seperti sangat kelelahan?" Tanya Nina heran.
"Iya, sekarang aku bekerja sebagai pembantu dan tadi pekerjaan nya sangat banyak." Ucap Diana seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Pembantu? Dimana?" Tanya Nina.
"Di kawasan rumah elit."
"Sungguh? Tapi bukan kah jaraknya jauh dari tempat mu tinggal?"
"Iya sangat jauh tapi bagaimana lagi."
"Bagaimana jika kau tinggal saja di rumah ku, lagi pula rumah ku masih ada kamar kosong."
"Enggak usah, aku gak mau ngerepotin kamu lagi."
"Apaan sih? Kita teman, Din. Lagi pula aku juga kesepian tinggal di sini, kan kalau ada kamu. Aku ada temen nya."
"Emm.. Tapi bagaimana jika aku membayar uang sewa tiap bulan."
"Enggak usah."
"Aku gak mau tinggal secara gratis di rumah kamu."
"Ya udah,"
"Makasih banyak yah, kamu selalu bantuin aku.."
"Iya sama-sama."
__ADS_1