
"Andra, kita perlu bicara sepulang sekolah." Namira mendatangi meja Andra dan menatap tajam.
Maheswari melihat kejadian itu hingga akhirnya mulai membuka suara di hadapan Namira ketika ia telah duduk di kursinya semula.
"Namira, maaf, bukannya mau ikut campur. Sepertinya aku paham apa yang sebenarnya terjadi. Tumbuhan dan penghuni lainnya di rumah Ulan, termasuk juga di sekolah ini menganggap kamu tidak berperasaan. Entah benar atau tidak, kamu yang tanpa ekspresi itu dengan mudah membuat orang-orang yang mereka sayangi sakit hati. Jadi kemarin Andra diprovokasi seolah kamu pada akhirnya juga akan menyakiti Andra dan menganggap Andra tidak baik."
"Semudah itu Andra terprovokasi?" tanya Namira terheran-heran.
"Dia kan memang seperti itu. Aku tau dari kelas satu. Makanya dia gampang terpancing untuk jadi berondong." terang Maheswari.
Rosi menguping pembicaraan tersebut dan tersenyum sinis. Namira menangkap senyuman itu.
"Kenapa? Seharusnya kamu merasa bersalah sudah menuduh Andra seperti itu. Dia tidak semesum yang makhluk-makhluk astral itu sampaikan kan?" dengan tegas ia menegur Rosi.
"Aku tidak tau juga. Tapi dia terlalu tampan buatmu." Rosi tertawa seakan kembali kerasukan. Namira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sungguh tidak menyangka berada di sekolah campuran seperti ini membuatnya nyaris gila. Sebelum-sebelumnya ia selalu masuk di sekolah khusus suku Ismi dan tidak bersinggungan dengan suku Astral. Hanya saja kali ini demi mendapat sekolah lanjutan yang terbaik dan bisa diterima di berbagai pulau, ia harus masuk sekolah dengan reputasi nasional yang mencampur semua suku.
__ADS_1
Hingga pelajaran berakhir, Andra masih dengan sikap dinginnya. Justru ia sibuk berbincang dengan Uli seorang wanita di kelas yang pandai bermain bulu tangkis. Uli dengan banyaknya teman di kelas lain langsung menyebarkan kedekatannya yang baru sehari dengan Andra itu ke teman-teman satu tim nya. Sontak pada hari itu juga banyak anak-anak yang menyatakan bahwa Uli dan Andra adalah pasangan serasi karena sama-sama tinggi.
Namira tidak peduli. Ia tetap menunggu kelas sepi saat teman-teman lain satu per satu meninggalkan kelas. Andra pun hendak pergi dan mengabaikan Namira.
"Andra! kita perlu bicara!" Namira meraih tangan Andra dan memasang ekspresi serius.
Andra meletakkan kembali tasnya dan duduk di samping Namira. Sepasang mata tanpa sengaja melewati pintu kelas yang terbuka. Ia terdiam dan menatap tajam ke arah mereka. Namira pun dengan sinis balas menatap mata itu hingga si pemilik mata menjadi risih dan pergi.
"Apa sebenarnya yang mau kamu bicarakan di rumah Ulan? Kamu paham kan saat itu hujan. Jarak rumahku kesana juga cukup jauh. Kenapa kamu bertingkah seperti anak kecil?" Namira menatap Andra yang saat ini menatap Namira tanpa ekspresi sedikitpun.
"Sudah? hanya ini yang mau kamu sampaikan? aku pulang." Andra berdiri dan mengambil tasnya.
"Apa kamu juga berpikir aku mesum?" tanya Andra memaksa Namira akhirnya mengadahkan kepalanya dan menatap mata lelaki itu.
"Tidak. Maksudku, aku tidak tau." Namira kembali menunduk.
__ADS_1
Andra menabrakkan tangannya ke pundak Namira dan pergi. Semua terasa membingungkan. Terdengar suara teriakan dari luar. Andra tersungkur. Siapa yang melakukan ini pada Andra?
Namira bergegas berlari menghampiri dan menolongnya.
"Andra, kamu kenapa?" tanyanya cemas.
Ia menyeka darah di ujung bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Ada yang melihat kita bicara. Ada yang mendengarkan dan membuat peraduan." Andra memegang pundak Namira dan beberapa detik setelahnya ia memeluk wanita itu. Namira kebingungan dengan situasi ini. Ia bahkan tidak tau harus bersikap apa.
"Hati-hati. Aku mohon hati-hati." Andra masih memeluk Namira dengan erat seraya berkata demikian.
Namira membantu Andra berdiri. Ia masih tidak paham apa yang terjadi. Setibanya di parkiran motor, Andra meminta Namira untuk pulang duluan. Sekolah semakin sepi dan senja. Pemandangan ini memberi suasana mencekam tersendiri.
"Dulu mungkin aku pernah menyakiti seseorang. Dia gadis yang lugu. Aku tidak menyangka dia dapat membuat peraduan sehingga aku terkena karma nya. Menjadi brondong tapi lebih tepatnya brondong dari makhluk Astral. Aku butuh uang juga saat itu dan mereka memberiku segalanya. Ah tidak. Sebenarnya aku tidak mau. Tapi jika tidak kulewati, karma itu tidak akan hilang." Andra menjatuhkan pandangannya ke tanah. Entah bahasanya yang terlalu tinggi atau Namira yang memang sulit memahami, ia memilih menepuk-nepuk pundak Andra yang tinggi.
__ADS_1
"Hati-hati. Seseorang membuat peraduan tentangmu." tatapan Andra yang hangat menghangatkan hati Namira.
"Entah aku harus percaya atau tidak, aku tidak menyakiti siapa-siapa." Terang Namira. Ia pun pamit dan nampaklah Andra yang kecewa karena kekhawatirannya tidak bermakna apa-apa bagi Namira.