Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Bani


__ADS_3

Namira menjalani hari-harinya dengan damai. Ia dan Andra sudah berbaikan walaupun pada akhirnya mereka tidak bisa dekat seperti dulu. Bulan baru segera tiba. Berbagai perlombaan khusus untuk suku Ismi pun akan diselenggarakan. Tentunya perlombaan itu bertaraf lokal dan bersaing dengan sekolah-sekolah lain di pukau tersebut.


Sekolah pun akan mengalami libur panjang di puncak perayaan Bulan Baru. Akhirnya semua permasalahan kemarin dapat dihindari sejenak bersama kesibukan latihan perlombaan hingga libur panjang yang akan menghampiri. Sebelum berlatih, saatnya memilih ketua perkumpulan suku Ismi di sekolah ini. Beberapa nama telah ditunjuk. Tentu saja berasal dari anak-anak kelas dua. Salah satu nama tersebut adalah Bani. Namira masih kurang yakin apakah itu Bani yang diceritakan Aldi beberapa waktu lalu yang mana pria itu adalah yang ia temui saat jalan santai bersama Agustina.


Bel pulang sekolah berbunyi. Waktunya menghadiri pemilihan ketua suku Ismi. Namira tidak menghiraukan visi dan misi yang disampaikan. Ia berniat memilih Bani kemudian pulang. Di teras kelas 2IKMH3 telah berdiri sosok seorang pria yang kemarin mengintip pembicaraan Andra dan Namira. Pria hitam manis dan berpostur tinggi tegap itu menatap Namira sambil malu-malu. Tentu saja yang ditatap tidak peduli. Namira memilih mengabaikan pria itu. Setelah bergiliran memilih calon ketua suku Ismi di sekolah, Namira keluar dari kelas dan hendak menuju parkir motor.


Sosok pria itu merasa diabaikan. Terlebih ketika Andra menyusul Namira.


"Kamu masih di sekolah?" tanya Namira pada Andra yang muncul tiba-tiba di sebelahnya.


"Iya, aku ada urusan. Bagaimana pemilihannya? Sepertinya kandidat-kandidatnya berasal dari OSIS semua." Andra bertanya sambil memperhatikan langkah Namira.


"Sepertinya iya. Aku kurang hafal dengan wajah-wajah anggota OSIS di sekolah ini."


Mereka berjalan lurus hingga Andra seketika berhenti.


"Ada apa? Kamu tertinggal sesuatu?" tanya Namira. Andra mengabaikannya dan tetap berdiri mematung.


Muncullah sosok Bani di hadapan Namira.


"Hai kak. Bagaimana pemilihannya? Jika ada program-program yang ingin diajukan, silahkan mengajukannya melalui saya. Terima kasih atas partisipasinya. Saya siap menjalankan tugas." Ujar lelaki itu ramah.


"Sudah ada hasilnya kah? Tadi aku langsung pulang." Komentar Namira.

__ADS_1


"Oh maaf, aku terlalu percaya diri di depan kakak. Perkenalkan, aku ketua suku Ismi yang baru." Pria itu mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalannya.


Namira menyambutnya. Tak disangka pria ini sungguh ramah.


"Baik kak, saya lanjut pergi. Saya kurang nyaman pacar kakak menatap saya seperti itu." Ujarnya


Namira menoleh ke belakang. Nampak Andra masih berdiri mematung. Tanpa sempat menjawab komentar Bani, ia menghampiri Andra. Ia juga bingung harus membalas apa terhadap komentar Bani. Sementara pria tersebut telah jauh pergi ke ruangan OSIS.


"Hati-hati. Dia bukan orang baik." Ujar Andra tiba-tiba.


"Maksudmu? Sudahlah! Jangan langsung menilai. Jika dia OSIS bukankah berarti dia anak yang cerdas dan baik? OSIS di sekolah kita terkenal dengan jiwa kemanusiaannya. Mereka sering membantu sesama, cerdas, dan dapat diandalkan. Bukankah begitu?" Namira tersenyum senang dan berjalan mendahului Andra.


Hari ini berlalu dengan damai. Angin bertiup sepoi-sepoi. Beberapa anak sedang bermain basket di halaman bagian depan sekolah. Selain ruang OSIS, kondisi kelas sudah nampak sepi. Begitulah kondisi sekolah saat aktivitas belajar mengajar usai. Sunyi senyap dan hanya dihuni peopohonan dan hewan-hewan yang saling berkomunikasi. Jangan pula melupakan makhluk Astral yang telah menghuni bangunan itu selama lebih dari puluhan tahun.


***


"Pagi! Temanmu yang berambut panjang itu tidak ada niat berkunjung lagi?" tanya Mama tiba-tiba.


"Ada apa memangnya?" Namira mengambil sepotong roti dan memakannya.


"Kamar mandi di lantai bawah semakin ramai. Kalau dia mampu mengusir, suruh dia mengusir." Jawab mama santai.


Namira terdiam. Dia tidak menyangka mamanya sehebat ini dalam berhadapan dengan makhluk Astral. Mama memang dulunya suku Astral jadi masih cukup sensitif terhadap hal-hal yang dapat dilihat dan didengar oleh suku tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, terpasang garis polisi di depan kamar mandi pria yang terletak di samping kelas Namira. Kamar mandi itu benar-benar sangat dekat dengan kelasnya. Ia bingung dengan apa yang sudah terjadi. Andra menghampiri Namira dan berusaha memeganginya ketika hendak berdesakan dengan anak-anak kelas lain yang mencari tau akan kondisi tersebut. Berkat bantuan Andra, Namira bisa sampai di dalam kelas dengan selamat.


"Ada apa itu?" tanya Namira pada Andra yang berdiri di samping mejanya.


"Penjaga sekolah minum racun disana." Jelas Andra.


Rosi yang tepat duduk di belakang Namira membolak-balik buku pelajarannya dengan santai dan berusaha menjawab soal-soal yang terlampir di sana.


"Santai sekali. Di luar padahal sedang heboh." Namira membalikkan badannya menghadap Rosi.


"Dia mati keinginannya sendiri. Dia ingin menemui anaknya. Lalu apa yang harus dihebohkan?" Jawab Rosi tanpa menatap Namira.


Kondisi ini tentu membingungkan hingga Maheswari berlari-lari menuju tempat duduknya.


"Andra, kamu harus hati-hati." Ujarnya.


Kening Andra berkerut. Ia tidak paham maksud Maheswari.


"Kamu kan gampang terprovokasi. Penjaga sekolah juga pasti terprovokasi hingga bunuh diri."Jelas Maheswari. Andra tidak memperdulikannya. Ia seakan sedang sibuk berfikir.


"Kemarin pemilihan ketua suku Ismi. Anak-anak bermain basket di halaman depan, dan OSIS berkumpul di ruangannya. Siapa saksi pertama?" Andra bergumam.


"Anak yang bermain basket saksinya. Herannya di dekat aula ada kamar mandi tapi ia memilih pergi ke kamar mandi di halaman belakang dekat kelas kita ini." Rezta menjawab gumaman Andra.

__ADS_1


Kini suasana sekolah semakin mencekam. Sekalipun aktivitas belajar mengajar tetap dilanjutkan, hampir semua anak tidak mau menghabiskan waktu lebih lama di sekolah ketika bel tanda pulamg berbunyi.


"Ini semakin aneh. Maheswari, berhenti menyapu kelas dan pulang. Besok kita buat aturan dilarang membuang sampah sekecil apapun di kelas. Aturan piket harus diberlakukan. Jangan pulang terakhir." Andra menegaskan. Seketika itu parkiran motor sangatlah ramai. Terlihat jelas tidak ada yang ingin menghabiskan waktu lebih lama di sekolah. OSIS tampak sibuk ditemani kepala sekolah. Kepolisian datang dan masih menelaah kasus ini. Asumsi sementara adalah bunuh diri. Apakah benar tumbuhan dan hewan dapat memprovokasi? ataukah semua ini ulah makhluk Astral?


__ADS_2