Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Rezta


__ADS_3

Tiga hari berlalu setelah acara ulang tahun sekolah. Para siswa kembali pada kenyataan bahwa sekolah adalah tempat belajar. Apa yang terjadi kemarin ternyata perlu diganti dengan pembelajaran berlipat. Tugas demi tugas, materi yang harus dikejar membuat para siswa di tahun terakhir tak dapat beristirahat di akhir pekan. Kalender akademik pun menunjukkan sebulan lagi akan ada libur panjang sekitar dua minggu dikarenakan upacara bulan baru suku Ismi. Tak heran jika para guru mempercepat langkah dan akhirnya hanya berfokus pada materi yang dianggap susah. Para siswa harus membuat kelompok-kelompok belajar sesuai nomor urut presensi.


"Minta waktunya sebentar ya teman-teman." Sela Andra tepat setelah pak Awan pergi meninggalkan kelas usai mengajar kalkulus.


"Sepertinya tidak efektif kalau kita membuat kelompok sesuai presensi. Satu kelompok belum tentu mahir semua bidang begitu pula kelompok lain. Bagaimana kalau kita belajar bersama saja satu kelas? kita menunjuk beberapa master lalu bergiliran menuju rumah mereka beramai-ramai. Setuju tidak?" Tanya Andra dengan lantang di depan kelas.


"Kalau rumahnya jauh bagaimana?" tanya Arini. Rumah Arini ada di kaki gunung. Ia menempuh hampir satu jam dengan motornya untuk menuju ke sekolah karena sekolah kami berlokasi di pusat kota.


"Itu mungkin bisa menginap di rumah master. Atau bagaimana ya? kita tidak mau memaksakan. Semisal mata pelajaran itu sudah cukup dipahami boleh saja tidak ikut." Lanjut Andra.


Arini mengangguk. Ini saatnya membentuk master.


"Master anatomi makhluk hidup adalah Anggre. Master Kalkulus Ulan, master kimia Namira, Master tata bahasa Kinan, master fisika Indi, master bahasa asing Agustina. Untuk mata pelajaran lain saya rasa tidak perlu master ya teman-teman." kini saatnya teman-teman memikirkan penjelasan Andra.

__ADS_1


"Usul pak ketua. Jika master rumahnya sangat jauh, tolong bertemu di tempat yang tidak saling menyusahkan." cetus Mika. Andra pun setuju dan menyerahkan semuanya kepada Master-master yang telah ditunjuk.


Namira berusaha menyela namun pertanyaan dan diskusi lainnya dari teman-teman kepada Andra membuatnya terdiam dan hanya menerima keputusan ini.


"Hari ini kita mulai di rumah Ulan. Kalkulus kita mulai sepulang sekolah membahas tugas dan materi selanjutnya. Pelajaran tambahan selesai jam 3 sore. Kita lanjutkan ke rumah Ulan maksimal jam 4 sudah tiba disana. Jangan buang waktu. Usahakan sebelum gelap kita sudah pulang." jelas Andra.


Semua mengangguk mantap. Hanya saja akankah semangat ini berlangsung lama?


Jam menunjukkan jam 1 siang. Artinya pelajaran utama telah usai. Kini waktunya menanti pelajaran tambahan. Setelah makan siang para siswa kelas 3 Ilmu kesehatan makhluk hidup atau 3IKMH1 mencoba melihat keadaan kelas lain. Di sekolah ini terdapat 3 jurusan. Ilmu Kesehatan Makhluk hidup terdiri atas 6 kelas, ilmu sosialisasi makhluk hidup 3 kelas, dan ilmu tata bahasa satu kelas. Kelas 1 belum memiliki penjurusan dan terdiri atas 10 kelas. Nampak kelas ilmu sosial kosong. Artinya mereka pergi membolos di jam pelajaran tambahan.


Para siswa 3IKMH1 bergegas mengambil motor menuju rumah Ulan. Mereka beriringan sambil menikmati angin sore. Cuaca cukup bersahabat. Seperempat jam kemudian mereka tiba di rumah Ulan. Namira merasa rumah itu sangat aneh. Terasa begitu gelap dan memberi kesan menakutkan. Langit tidak mendung, tapi suasana di rumah itu sangatlah aneh. Ulan mulai terbatuk-batuk. Ia menggunakan jaketnya. Sebuah pemandangan tidak biasa. Kami bergegas masuk dan nampak Arini yang masih berdiam di samping motornya. Maheswari menghampirinya dan mengajaknya masuk. Ia sudah sangat hafal dengan rumah Ulan karena kerap bermain kemari. Sebelum masuk, Maheswari membagikan permen di depan pintu masuk dan tersenyum pada tanaman-tanaman di sekitar halaman rumah Ulan. Namira mengamati itu walaupun tanaman itu dimatanya hanya diam tanpa ada gerakan yang berarti.


Ibu Ulan memberikan minuman kemasan dan beberapa camilan. Tentu rumah itu kurang cukup untuk menampung 30 anak lebih. Beberapa tak nampak, salah satunya Rosi. Sepertinya ia malas bertemu yang tak nampak atau justru merasa sudah mampu belajar sendiri? Anggre juga tidak ada.

__ADS_1


"Wah kami jadi merepotkan tante." ucap Rezta. Ia dengan semangat membaranya berusaha mendapatkan peringkat teratas. Rezta cukup pandai berbicara. Ia juga terkadang menjadi objek ejekan. Namun seolah tak tau sakit hati, Rezta memilih cuek. Satu-satunya yang hanya mengamati keadaan hanya Namira. Setaunya Rezta menyukai Indi si master fisika.


"Lan, gimana kalau bab yang ini dilewatkan saja? guru les kita kan sudah membahasnya." celetuk Rezta. Terbongkarlah sudah rahasia para master. Mereka pandai karena mengikuti les di suatu lembaga. Namira dan Ulan saling bertatapan.


"Wah, jadi kalau ikut les di lembaga bisa pintar ya? Rezta juga ikut tapi belum cukup bisa jadi master ya?" Ejek Uli.


Sebenarnya istilah master adalah ditujukan bagi mereka yang kerap mengikuti olimpiade di bidang tertentu sekalipun tidak menang. Semua didasarkan pada pilihan sekolah dan setiap kelas mempunyai master di setiap bidang pelajaran yang kerap diolimpiadekan.


"Apa nama lembaganya?" tanya Tami.


"Gsmart." jawab Ulan.


Selanjutnya kegiatan ini menjadi hening hingga sore menyambut.

__ADS_1



__ADS_2