Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
cemburu?


__ADS_3

Jam pulang sekolah tiba. Sebelum adanya pelajaran tambahan bagi murid-murid angkatan akhir yang hendak lulus, Bani dengan sigap langsung menemui Namira.


"Berikan ponselmu." Ucapnya kasar.


Ia mulai menekan angka-angka dan muncullah nama Rezta di sana.


"Oh, jadi ini temanmu? primadona ya rupanya" Sindir Bani. Namira hanya terdiam.


"Yang mana orangnya?" tanya Bani lagi.


Di saat hampir bersamaan Andra dan Rezta muncul.


"Kita belum selesai bicara." Ucap Andra sambil menatap Bani tajam.


"Hei, kamu belum menepati janjimu mendengarkan presentasiku." lanjut Rezta. Namira menghela napas. Ia menatap pada kedua temannya itu untuk berhenti mencari masalah tambahan.


"Oke, kamu pilih lanjutkan bicara sama aku atau dengan mereka?" tanya Bani kembali. Ia menatap Namira sangat tajam seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Sama kamu aja. Aku bisa bicara dengan mereka di kelas dan mendengarkan presentasi Rezta sepulang pelajaran tambahan." Jawab Namira datar. Ia berusaha menekan ekspresinya seperti biasanya sebagai wanita yang dikenal tanpa ekspresi.


"Oh, jadi setiap pulang pelajaran tambahan kamu masih di sekolah? Jam 4 sore belum pulang?" Bani menarik kesimpulan sesuka hatinya.


Andra dan Rezta menghela nafas.


"Nasibmu sial sekali ya Namira. Pacaran harusnya dengan yang seumuran atau lebih dewasa. Bukan dengan bayi. Setiap hari kalian ribut tidak bermutu seperti sekarang." Tegas Andra. Ia kemudian menarik Rezta agar menjauh bersama dengannya.


"Siapa maksud dia bayi? aku?" tanya Bani pada Namira yang masih menatapnya datar.


"Sudahlah. Kita mau bicara apa sebenarnya?" tanya Namira mengakhiri perdebatan tak berujung ini.


"Aku harap kamu tidak tergoda dengan rezta itu ya. Siapapun dia lebih ganteng atau tidak pokoknya jangan tergoda." pinta Bani.


Namira hanya mengangkat bahu.


"Aku sudah menduga karena kata-kataku kemarin pasti hubungan kita tidak bisa seperti dulu." Bani duduk dan menatap sepatunya. Namira sedikit luluh. Ia ingin sekali lagi percaya tapi tetap kecurigaannya pada Bani masih sulit dihilangkan. Ia menepuk pundak Bani.


"Sudah.. hal-hal yang tidak menyenangkan sebaiknya berhenti diingat." nasihatnya. Tak berapa lama kemudian ia memasuki kelas dan berpamitan pada pacarnya yang masih kekanak-kanakan itu.


Saat pelajaran tambahan, tempat duduk pun bebas. Andra memilih menagih penjelasan dari Namira. Ia tertegun dan merasa kasihan pada wanita ini.

__ADS_1


"Polos boleh, bodoh jangan!" itulah nasihat Andra pada Namira.


"Sebaiknya kita mencari tau ada apa dengan ruang OSIS. Bisakah kamu menanyakan pada pacarmu itu apa saja kegiatan OSIS?" Andra seakan mengalihkan topik.


"Hm.. apa ya? Aku kurang paham. Coba besok aku tanyakan ya." Jawabnya.


Inilah saatnya membuka teka-teki OSIS. Andra pernah menjadi korban dan mungkin saat ini Namira juga salah satunya. Bani kemungkinan adalah prosecutor yang banyak digaungkan makhluk-makhluk astral. Saatnya meyakinkan Namira jika itu benar.


***


"Kita ke pantai lagi dan aku akan memberi kenangan indah. Aku akan menghapus kenangan buruk kemarin." Ujar Bani.


Sekolah hari ini hanya setengah hari saja. Perkumpulan suku Ismi akan bersantai ria di pantai bersama para OSIS.


"Boleh. Tapi aku naik motor sendiri ya. Kalau kita ada masalah aku bisa langsung pulang." Ucap Namira datar.


Bani terdiam tak bisa menanggapi. Jelas-jelas ia merasa bersalah tapi ia pun tidak paham bagaimana harus meminta maaf.


Mereka pergi ke pantai. Namira hanya diam dan mengamati. Teman-temannya suku Ismi dan para OSIS bermain air.


"Mau kubelikan jajanan? Sebentar aku panggilkan pedagang lumpia di sana." Ucap Bani. Setelah pedagang tersebut menghampiri dan memberikan lumpia tersebut, Bani hendak mengeluarkan dompetnya. Di sana terdapat beberapa foto wanita. Pemandangan ini membuat Namira jengah.


"Hm.. yang ini aku lupa apa kesannya." Jawabnya lagi sambil tertawa.


Namira tetap diam.


"Senyum dong Namira. Kamu sangat manis kalau tersenyum." rayu Bani.


Wanita itu tetap diam.


"Aku tidak akan memberimu foto. Aku akan membuat kamu menyimpanku dalam kenangan." Namira berkata santai sambil menyantap lumpianya.


"Kenangan? Berarti kamu sudah berpikir akan pergi?" tanya Bani.


Hal ini bukan seperti yang dipikirkan Namira. Ia pun mengelak dengan menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu maksudku." Jawabnya cepat.


Bani tertawa.

__ADS_1


"Artinya kamu tetap sama aku kan? Aku senang. Sudahlah tidak usah marah dan gengsi lagi." Canda Bani.


Mereka pun tertawa bersama. Seorang anggota OSIS melihat pemandangan itu dan tersenyum sinis.


Namira melaporkan apa yang terjadi pada Andra. Di sisi lain Andra dan Kinan masih terus mencari puzzle-puzzle yang terpotong mengenai OSIS.


"Apa rencana OSIS dalam waktu dekat?" tanya Andra.


"Mereka akan menjenguk salah satu suku Ismi yang sakit." jawab Kinan.


"Kenapa mereka selalu membuntuti suku Ismi akhir-akhir ini?" Andra masih nampak berpikir.


"Entahlah. Kita tunggu saja apa yang akan terjadi. Mungkin suku Astral tidak banyak berkasus akhir-akhir ini." terang Kinan berasumsi.


Namira hanya geleng-geleng kepala melihat aksi teman-temannya yang seperti detektif.


***


Satu bulan lagi ujian akhir dimulai. Bulan ini diisi dengan banyak pelajaran tambahan dan pengisian formulir-formulir untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Banyak yang sibuk memilih jurusan, tingkat pendidikan, hingga pulau yang ingin dituju. Namira berharap bisa tetap di pulau ini karena kisah cintanya dengan Bani.


Kinan memilih di pulau Ka. Tetapi karena ia terbilang pintar, ia tidak akan kesulitan mengatur berkas-berkas sambil tetap meneliti kasus OSIS. Sementara Andra fokus pada pulau ini demikian pula dengan Rezta.


Hubungan Namira dan Bani masih baik-baik saja. Setiap kegiatan yang berhubungan dengan suku Ismi dan OSIS, Namira selalu dilibatkan. Mereka kerap pergi bahkan pernah satu waktu Bani mengantarkan Namira pulang.


"Siapa dia?" tanya ayah Namira.


"Teman yah. Dia antar Namira pulang." Jawab Namira ketika Bani sudah pergi. Memang Bani tidak menyapa ayah. Ia hanya menurunkan Namira dan melihat ayah tanpa berkata apapun.


"Dia tidak tau sopan santun. Sudah besok-besok jangan bawa dia kesini." Tegas ayah.


Namira menghela nafas.


***


Kinan memiliki akal untuk memasuki ruang OSIS. Ia memberi perhatian, merayu, mencoba mencari pacar anggota OSIS. Hanya dalam waktu satu minggu ia berhasil dekat dengan Arman, seorang adik kelas yang sekelas dengan bani.


"Tetap hati-hati ya Kinan. Dulu aku pacaran juga dengan anggota OSIS." p


nasihat Andra.

__ADS_1


Kinan mengangguk tanda paham. Sedikit demi sedikit mulai terkuak.


__ADS_2