Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Menyerah


__ADS_3

Mempertahankan sesuatu yang salah. Itulah yang kini ada di benak Namira. Ia bergegas mencari Kinan tapi ternyata teman baiknya itu sudah pulang. Namira segera menyusul ke rumah Kinan dan menumpahkan segala perasaannya yang campur aduk itu sambil menangis.


"Bani, ada yang aneh dengan dia." Gumam Kinan. Sambil berusaha terus menerus menenangkan Namira, ia memaksa temannya itu untuk tegar dan mencari tau lebih dalam siapakah Bani. Yang jelas ketika saat ini Bani telah menyadari kesalahannya, inilah waktunya melihat perubahan dari sikap Bani. Apakah pria itu masih saja seenaknya?


Bani mengirim pesan menanyakan apakah Namira telah sampai di rumah dengan baik. Gadis yang menerima pesan tersebut berusaha acuh.


"Ketika hati sudah dirusak, akan sulit untuk diperbaiki." Namira tersenyum sinis. Kinan merasa senang dengan ketegaran hati Namira.


***


Andra tidak berhasil memasuki ruang OSIS akan tetapi ia berhasil memasuki ruang kepala sekolah. Hawa mistis muncul di ruangan tersebut. Entah apa yang terjadi namun di sana terdapat banyak sesaji dan mantra-mantra yang tak jelas. Ada beberapa tumpukan file berisikan foto-foto anggota OSIS. Andra semakin penasaran.


"Hei, untuk apa kamu disini?" tanya dedaunan di meja tulis kepala sekolah.


Andra yang tadinya cuek berusaha mendalami suara tersebut dan menganggap hal itu sebagai bala bantuan. Sifat-sifat suku Astral yang ia miliki saat ini dapat memberikan bantuan tak ternilai.


"Aku mencari info tentang OSIS." Ucapnya.


"Apa kamu tidak takut masuk ke ruang kepala sekolah? Bisa saja ia mengetahui tujuanmu." Balas dedaunan tadi.


"Aku tidak takut. Ada begitu banyak hal yang misterius dari OSIS." Balas Andra.


"Baiklah. Ketika aku jelaskan bisakah kamu membantuku?" tawar daun tersebut.


"Apa permintaanmu?" respon Andra.


"Keluarkan aku dari sini. Aku tidak bisa berfotosintesis di sini. Aku tidak bisa berbunga dan melakukan penyerbukan. Si tua itu sudah tau tapi selalu beralasan lupa membawaku keluar." Jelasnya. Andra menyanggupi. Ia akan mencabut tanaman itu dan menggantikannya dengan tanaman plastik.


"Terima kasih kawan. Jadi anggota OSIS itu bukanlah manusia. Mereka prosecutor. Kalau kamu tidak tahu prosecutor, maka sebaiknya mencari tau itu dulu sebelum mencari hal detail lainnya." Terangnya.


Andra hanya mengangguk-angguk. Hari sudah semakin sore. Sebaiknya ia pulang dan memikirkan kembali esok. Ia harus berdiskusi dengan orang-orang pintar dan mungkin Kinan adalah jawabannya.


***


Hari minggu ini merupakan hari bersejarah bagi Namira. Ia jengkel dan kesal dengan segala perkataan Bani tadi siang. Apakah cara berkomunikasi pacarnya itu memang aneh? Mengapa ia bisa menyatakan cinta dengan sadar tapi malah berkata terpaksa? siapa yang memaksanya? apakah Namira bahan taruhan? ataukah Bani sedang mengetesnya? apa arti tangisan Bani? Semua terasa membingungkan. Ia benar-benar tidak bisa tidur.


Ia mencoba menghubungi Rezta. Baginya hanya teman cerewetnya itulah yang penuh ide. Banyak pesan dari Bani tidak ia gubris.

__ADS_1


Apakah benar kita bisa tetap baik-baik saja?


Akhirnya pesan inilah yang dikirim Bani. Sepertinya pria itu mulai putus asa karena Namira tidak membalas pesannya sejak siang.


Ada keraguan di hati Namira, akankah Bani benar-benar menyadari kesalahannya dan berusaha berubah? Namira tidak mau hubungan ini berakhir tanpa titik terang apalagi Namira lah yang diputuskan. Keputusannya menghubungi Rezta mungkin sudah tepat.


"Hai Namira. Tumben menelpon. Ada apa?"


"Aku ingin minta tolong. Aku ingin kamu mengetes Bani, pacarku." Ujarnya.


"Oke, katakan saja." Timpal Rezta.


"Aku ingin tau apa dia benar-benar menyukaiku atau mempermainkanku." Terang Namira.


"Wah, ini drama? Asik!! Baiklah, aku ada ide! besok saat istirahat kita lakukan."


Namira pun menyetujui usul Rezta.


Di sisi lain, Andra masih mencoba menerka semua misteri mengenai OSIS. Ia berkompromi dengan Kinan ditelpon. Mereka akan berusaha keras memperoleh data yang tersimpan di ruang OSIS. Sekalipun itu hanya selembar, mereka harus mempelajari isi data-data tersebut.


***


Ketika bel istirahat berbunyi, Namira enggan ke kantin. Ia menuju tempat duduk Rezta dan mulai mendengar arahan dari pria itu.


"Berapa nomor ponsel Bani?" tanyanya.


"Mau ngapain?" tanya Namira.


"Aku bakal bilang kalo aku bakal rebut kamu dari dia." tegas Rezta.


"Aduh, kenapa terlalu drama begitu?" tanya Namira yang tidak setuju dengan ide Rezta.


"Lagipula kisah cintamu memang sudah sama dengan drama." Balas Rezta. Akhirnya nomor ponsel Bani pun diberikan oleh Namira.


Setelah mengetikkan pesan yang isinya adalah pengakuan bahwa si pemilik ponsel menyukai Namira dan tidak segan-segan merebutnya, Bani langsung membalas pesan itu dengan cepat.


Ini siapa?

__ADS_1


Begitulah pesan balasan darinya. Rezta nampak berpikir dan mencoba mencari ide.


Aku penggemar rahasia Namira. Aku tau kalian bermasalah. Ijinkan aku datang sebagai penghibur hati Namira dan merebutnya.


Isi pesan balasan Rezta itu membuat Namira merasa malu. Kata-kata yang tertulis itu sudah pasti terasa sangat aneh. Melihat ekspresi Namira yang kurang puas, Rezta menghiburnya. Andra melihat pemandangan itu dan menghampiri.


"Ada masalah apa? dia ganggu kamu dengan presentasi MLM nya?" tanyanya.


Namira nampak bingung.


"Duh, kamu ini! aku belum presentasi apa-apa. Tapi terima kasih sudah mengingatkan. Pulang sekolah sebagai balasan bantuanku hari ini, kamu harus dengerin presentasiku. Syukur-syukur kalau mau bergabung juga." pinta Rezta. Namira hanya mengangguk. Ia pun tidak yakin apakah bantuan temannya itu membuahkan hasil.


"Namira!! Kita bicara sebentar!" tiba-tiba Bani muncul dan menarik tangan Namira. Andra spontan menahan tangan tersebut.


"Bicarakan dengan sopan dan baik-baik." Ujar Andra.


"Tidak usah ikut campur!" tegas Bani dengan membusungkan dada ke arah Andra. Tinggi badannya yang lebih pendek dari Andra membuatnya harus mendongakkan kepala.


"Kamu sadar ini dimana? ini kelas seniormu. Jaga sikapmu!" Tegas Andra dengan intonasi tenangnya.


Bani menatap pria tinggi itu tajam. Ia lantas mengajak Namira keluar.


"Siapa ini yang mengirimkan pesan ke aku?" Tanyanya marah.


"Kamu tekan nomornya dan aku mau melihat apakah dia salah satu orang di kontakmu?" Bani melanjutkan kemarahannya.


Namira panik. Tentu saja nomor kontak itu ada di ponselnya. Untunglah bel masuk kelas berbunyi. Namira pamit untuk masuk ke kelas. Ia meninggalkan Bani yang merasa jengkel dengan kondisi ini.


Namira langsung menuju bangku Rezta. Ia menceritakan semuanya.


"Benar kan prediksiku. Dia pasti penasaran sekaligus murka. Tidak masalah kalau dia tau itu aku. Biarkan saja. Kita lihat seberapa berani kah dia." Rezta semakin percaya diri.


Namira ketar ketir ketakutan. Ia kembali ke mejanya.


"Kamu ada masalah sama dia?" Andra duduk di bangku Namira dan menyuruh Maheswari duduk di bangku Andra.


Namira pun menceritakan semua yang terjadi. Belum sempat Andra memberi komentar, ibu guru sudah datang untuk memberikan pelajaran Bahasa Asing.

__ADS_1


__ADS_2