Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Ulan


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 2 siang. Sebentar lagi waktunya pelajaran tambahan yang akan berlangsung sampai pukul 4 sore. Setelah kejadia Rosi pingsan, semua teman-teman memilih bungkam. Langit mendung seolah menjadi pertanda bahwa hari ini sedang tidak baik.


Sepulang sekolah hanya Maheswari dan Andra yang masih memiliki minat ke rumah Master. Mereka menuju rumah Ulan untuk membahas Kalkulus. Tidak ada tugas yang diberikan pak Awan, namun mereka masih bersikeras memperdalam materi bab selanjutnya. Setibanya di rumah Ulan, hujan mulai turun. Suasana rumah yang gelap menjadi semakin gelap. Pepohonan rindang di sekitar melambai-lambai terguyur hujan. Tiba-tiba Maheswari mulai merasakan sesuatu yang datang. Ulan pun merasa meriang luar biasa sehingga harus segera menelan obat. Ia meminta ibunya membuatkan teh panas untuk mereka bertiga. Andra mencoba fokus dengan soal kalkulus di depannya. Trigonometri memaksanya merapalkan rumus-rumus dan meminta Ulan mengecek jawabannya. Berbeda dengan Andra yang masih berusaha fokus, Maheswari terus menatap jendela yang terbasuh hujan.


"Eh aku membawa makanan ringan di motor. Mungkin terkena hujan." Andra bergegas menuju keluar rumah dan memeriksa kantong plastik yang tergantung di motornya. Ketika ia masuk kembali, tiba-tiba suasana hatinya memburuk. Ia merasa gelisah, kecewa, cemas, dan tidak menentu.


"Aku pinjam telepon ya Ulan." ucap Andra tergesa-gesa.


Ulan hanya mengangguk dan kembali menyeruput teh panasnya. Kepalanya terasa semakin berat.


"Halo, kamu bisa kesini sekarang? Ini penting. Aku mau bicara penting dan bertatap muka." ucap Andra kepada orang diseberang telepon. Tak lama kemudian ia menutup telepon dan menghembuskan napas.


Ulan maupun Maheswari tidak menanyakan apapun. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ketika langit hampir gelap, Maheswari pamit sedangkan Andra nampak masih akan menunggu seseorang. Hari itu berlalu begitu saja tanpa ada seorang pun yang datang kembali ke rumah Ulan.


Langit kembali cerah dan ini saatnya memulai suasana hati yang lebih baik. Sesaimpainya di sekolah, Namira merasa kurang nyaman dengan tatapan Andra. Ia yakin lelaki itu sedang marah karena tidak tersenyum atau menyapa seperti biasanya. Namira mencoba tidak mempedulikan tatapan itu dan memilih bertanya pada Maheswari.


"Kemarin siapa saja yang belajar di rumah Ulan?" tanyanya masih melirik ke arah Andra yang sedang menatapnya tajam.

__ADS_1


"Aku sama Andra saja. Baguslah kamu tidak datang. Suasananya sedikit aneh." Jelas Maheswari. Tak lama kemudian Ulan datang menggunakan jaket tebal. Ia nampak kurang sehat.


"Aih, pagi-pagi sudah banyak yang menempel." Sela Rosi. Ia memberi senyum mengejek ke arah Ulan. "Hari ini sepertinya akan banyak makhluk lain yang ikut sekolah ya. Mereka ingin pintar sepertinya ya." Tawa Rosi. Maheswari menatapnya keheranan sementara Namira masih merasakan tatapan menusuk dari Andra. Lelaki itu lantas berdiri dan menggebrak meja Namira.


"Kenapa kamu tidak datang?" tanyanya serius.


Seisi kelas menatap Andra yang terkesan ramah itu dan mulai hening.


"Oh, jadi kamu nelepon Namira kemarin?" sela Maheswari yang sepertinya memahami sesuatu.


"Hujan Andra.. kalau ada yang penting, ucapkan saja di telepon. Kamu tau kan rumahku lumayan jauh?" terang Namira.


"Tidak usah dijawab. Itu bukan Andra. Sudah biarkan saja. Dia mau menggunakan kamu untuk mempermainkan Andra." Rosi memberi penjelasan pada Namira yang nampak ketakutan.


"Hahaha. Dasar dukun." Andra tertawa kemudian pergi.


Semua teman-teman bertanya-tanya apa yang terjadi. Maheswari menceritakannya jika kemarin Andra mengambil sesuatu di motor yaitu camilan. Sekembalinya ia nampak aneh dan meminjam telepon di rumah Ulan. Ulan pun saat ini juga nampak lemah seolah semua tenaganya habis.

__ADS_1


"Andra cuek ketika iblis itu kelaparan. Ulan cuek ketika iblis-iblis disana kedinginan. Tumbuhan dan hewan di sekitarnya kelaparan dan dia tidak peduli. Satu lagi, Andra dulunya berbuat mesum di kelas ini." Papar Rosi.


Andra berbuat mesum? Namira hampir tak bisa membayangkan sosok sebaik Andra berbuat mesum dan merusak kesucian sekolah.


"Tidak. Dia bukan mesum. Dia dikerjai oleh kakak-kakak kelas dulu. Mereka tergila-gila dengan Andra dan menjebaknya." Bela Maheswari yang sepertinya cukup paham dengan kondisi Andra.


"Ya, dia memang pria yang mudah terprovokasi. Bahkan sekarang pun demikian. Dia seolah membuat taruhan dengan iblis. Kalau kamu kemarin datang, maka Andra menang dan bisa lepas dari iblis itu. Mungkin dia mengatakan dia suka kamu dan tidak perbah bermaksud berbuat kotor di sekolah atau entahlah." Rosi mencoba menganalisa. Penjelasan demi penjelasan membuat Rezta ikut ambil suara.


"Tidak penting penjelasan itu semua. Bisakah kita membuat Ulan dan Andra terlepas dari iblis? menakutkan rasanya melihat mereka seperti itu."


Akhirnya Maheswari memanggil guru astronomi dan ia mencoba berkomunikasi dengan para makhluk tak kasat mata itu. Rosi pun tertawa-tawa dan seketika Andra dan Ulan sadar. Lain halnya dengan kedua orang itu, kini Rosi dirasuki sang ratu iblis.


"Kalian berbuat kotor! kalian berisik! kalian tidak menghargai kami!" Teriaknya.


Guru Astronomi mencoba berkomunikasi. Intinya adalah makhluk-makhluk tersebut terhina dengan pembalut yang dibuang sembarangan tanpa dibersihkan. Andra juga kerap bercumbu sepulang sekolah di kelas. Ulan dengan cueknya tidak permisi baik di rumah dan di sekolah. Ia bahkan tak pernah membagi makanannya sedikitpun pada hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Setelah melakukan beberapa perjanjian, Rosi kembali sadar. Tatapan demi tatapan memandang Andra. Gosip itu benar. Ia menjadi berondong muda kakak-kakak kelas dan mungkin demi uang.


"Terserah kalian menganggap aku apa. Ini tahun terakhirku di sekolah ini dan aku mau berubah. Apa yang aku lakukan dulu juga tidak pernah melewati batas." Tegas Andra. Sayangnya, hal itu telah membuat pandangan Namira soal dirinya berubah banyak.

__ADS_1



__ADS_2