Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Andra vs Bani


__ADS_3

Perbincangan antara Anggre dan Bani berlanjut. Bani nampak takut-takut menjawab pertanyaan Anggre.


"Iya. Lelaki tinggi tegap yang selalu bersama dia."


"Siapa sih? Kelasku juga?" Anggre bertanya dengan tatapan bingung.


"Iya kak." Jawab Bani mantap.


"Hm.. Andra kah maksudmu? Bukannya Andra gebetannya Uli?" Anggre mengetuk-ngetukkan tangannya di kursi.


"Jadi bukan pacarnya kak Namira ya?" Mata Bani berbinar.


"Setauku bukan." Anggre nampak masih berpikir.


***


"Jadi sekarang aku mau tanya, kamu ada apa sama Andra?" tanya Anggre.


"Tidak ada apa-apa. Kirim pesan aja tidak pernah. Sudah jelas lebih akrab aku sama Bani. Paling tidak kita pernah berkirim pesan." Jawab Namira bangga. Jam menunjukkan jam setengah 9 malam. Ini sudah cukup larut. Paling tidak ia akan tiba di rumah jam 9. Namira bergegas pamit. Komplek perumahan Anggre sangat sepi. Angin semilir seolah berteriak di telinga Namira. Ia mulai ketakutan dan mempercepat gas motornya. Setibanya di jalanan yang ramai, ia mulai bernapas lega.


Namira segera berganti baju setibanya di rumah. Ia masih tidak percaya dengan aoa yang terjadi hari ini. Saatnya menyiapkan buku-buku pelajaran untuk besok sambil menunggu Bani mengiriminya pesan. Jam 10 malam. Tak ada tanda-tanda kiriman pesan dari Bani. Ia pun tertidur sambil menggenggam ponselnya.


***


Pagi menyapa dengan mendungnya. Namira mengecek ponselnya. Tidak ada pesan dari Bani.


"Semalam bukan mimpi kan? Kami benar-benar pacaran kan?" ia bergumam sendiri. Namira mulai melangkah mandi dengan gontai. Rasanya ia sangat tidak bersemangat padahal tadi malam ia nyaris pingsan akibat kegirangan.


Sesampainya di sekolah, ia mencari sosok Bani untuk memastikan apa yang terjadi semalam adalah nyata. Namun belum saja hendak memutar pandangannya untuk mencari sosok yang dimaksud, ia berpapasan dengan Andra.

__ADS_1


"Hal ***** apa yang terjadi semalam?" Andra bertanya dengan ekspresi menakutkan.


"Maksudmu? Aku jadian dengan Bani itu hal ***** atau bagian yang mana?" Namira masih sulit mencerna maksud Andra.


"Aku sudah peringatkan. Dia bukan orang baik." Lanjut Andra geram. Ini kedua kalinya Namira melihat Andra marah. Pertama karena ia tidak datang saat disuruh ke rumah Ulan, dan kedua adalah hari ini.


"Andra, jangan menilai atas perasaanmu. Setidaknya aku tidak pernah lihat dia marah-marah seperti kamu. Sejauh ini tidak pernah." Ucap Namira cuek. Andra menghela nafas frustasi dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Jangan cari aku sambil menangis. Ingat itu." Andra pun pergi sementara Namira masih tetap berdiri di tempatnya.


"Namira!" seseorang memanggil dari belakang membuat Namira menoleh seketika.


"Tadi malam tidur jam berapa? Aku mau kirim pesan tapi takut mengganggu waktu tidurmu." Ucap Bani sambil tersenyum ke arah Namira.


"Oh, aku tidur jam berapa ya? Haha, mana ada orang tidur yang lihat jam? Kamu pulang jam berapa semalam?" Namira bertanya kembali.


Dengan langkah semangat Namira memberitahu dirinya sendiri bahwa ia tidak boleh asal berburuk sangka dengan Bani.


"Ada hal baik apa?" Rosi mengejutkannya.


"Bahagia. Intinya aku bahagia." Jawab Namira tersenyum.


"Jangan terlalu bahagia. Nanti akan jadi terlalu menyedihkan." Rosi berlalu.


Sungguh tidak ada satupun yang dapat memperbaiki perasaan Namira kecuali teman-temannya dari suku Ismi.


Pelajaran berlangsung seperti biasa dan Bani mengunjunginya saat jam istirahat. Andra menutup tatapan Namira dari Bani menggunakan badannya dan tiba-tiba memasang headset ke telinganya. Bani yang melihat pemandangan itu seketika pergi dan membatalkan kunjungannya. Tak lama kemudian ponsel Namira menerima pesan masuk.


Aku tidak suka pacarku dekat dengan pria lain. Tidak ada pria dan wanita yang bersahabat. Salah satu dari mereka pasti memendam rasa. Atau kamu sengaja menguji aku agar tau seberapa aku cemburu?

__ADS_1


Namira bingung. Apa yang dimaksud Bani? Apakah ini soal dia dan Andra yang saat ini duduk berdua? Namira menatap Andra seakan ingin mengorek informasi darinya. Belum juga mendapatkan informasi, Aldi muncul.


"Baru jadian, hari ini kupastikan perang." Ucapnya.


Namira yang masih bingung menoleh ke arah Maheswari.


"Adik kelas itu kemari. Lalu pergi lagi." Ucap Maheswari setengah ketakutan. Namira menghela napas. Ia memang benar-benar harus minta maaf kali ini. Bicara pada Andra akan percuma karena ia lebih mudah terprovokasi dan emosi. Oleh sebab itu ia akan mencoba bicara pada Bani. Takdir berpihak padanya. Praktek di laboratorium mempertemukannya dengan Bani karena kelasnya juga sedang praktek. Mereka saling berpandangan dan Namira melempar senyum. Bani membalas senyumnya dan ini memberi keyakinan pada Namira bahwa lelaki itu sudah tidak marah. Namira mendekat. "Aku minta maaf." ucapnya. Bani pun langsung memegang puncak kepala Namira dan mengelus rambutnya. Pemandangan itu menarik perhatian banyak orang. Tatapan lembut Bani seolah mencerminkan ketulusannya. Namira pun tidak merasa ia lebih tua dari Bani karena Bani terkesan lebih dewasa.


Risih karena merasa diperhatikan, Namira menundukkan pandangannya dan menggeser kepalanya agar Bani menghentikan sentuhannya di rambut Namira. Ia pun lantas pergi sambil tersipu malu menuju teman-teman sekelasnya. Jauh di sudut meja praktikum, Andra menatap Bani dengan tajam. Mereka bertatapan cukup lama hingga guru praktikum tiba dan praktik dimulai. Kelas Bani menuju laboratorium komputer sedangkan Namira ke laboratorium anatomi makhluk hidup.


***


Maheswari memberi makan ikan-ikan dan menyapa tumbuhan-tumbuhan. Sepertinya ia mendapatkan informasi penting dari makhluk-makhluk itu. Bergegas ia menghampiri Namira dan mengorek segala hal yang perlu ia ketahui.


"Namira, maaf aku mau cerita sedikit. Mungkin saja ini bisa menjadi gambaran buatmu." Ia berkata saat pelajaran tambahan belum dimulai. Murid-murid selain kelas 3 sudah diperbolehkan pulang, sementara kelas 3 melanjutkan pelajaran tambahan.


"Ada apa? Sini bertukar tempat duduk. Aku khawatir Bani muncul lagi di pintu dan aku tidak menyadarinya." Mereka pun bertukar tempat duduk. Kini Namira dapat melihat ke arah pintu kelas.


"Aku dulu punya pacar. Aku tidak tau dia sesayang itu padaku. Aku minta putus karena saat itu aku sakit. Hatiku tidak dapat bermetabolisme dengan baik. Aku tidak mau dia bertahan dengan aku yang sakit. Kemudian baru-baru ini aku pacaran dengan orang lain dan aku diselingkuhi." Ucapnya.


"Jadi lalu intinya apa?" Namira ingin segera mengetahui maksud cerita Maheswari.


"Itu karma. Tidak tau bagaimana alurnya, tapi itulah yang terjadi." Ucapnya.


"Katanya kamu sakit. Sekarang sudah sembuh? Apa yang mendasari kamu pacaran dengan yang terakhir?" tanya Namira.


"Iya aku sudah sembuh setelah setahun berobat. Aku suka dengannya makanya aku pacaran."


"Kenapa tidak menghubungi pacarmu yang dulu? atau kamu memang tidak sesayang itu dengan dia?" Namira mendesak Maheswari. Ia terdiam.

__ADS_1


__ADS_2