Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Geram


__ADS_3

Namira menjadi semakin jengah. Ia berusaha bertemu dengan Yana saat bimbingan belajar. Tepat saat itu pula seorang temannya dari kelas lain memanggilnya. Namira cukup akrab dengan wanita itu. Namanya adalah Nisa.


"Namira, aku ada berita!" ucap Nisa.


"Ada apa? Ayo kita sambil jajan saja di warung sana!" Ajak Namira.


Walaupun berbeda kelas di bimbingan belajar, mereka berdua cukup akrab. Istirahat hanya 15 menit namun mereka selalu menyempatkan mengobrol saat jam bimbingan usai. Tak hanya itu, terkadang hingga kelas Yana yang dilaksanakan malam hari hendak mulai.


"Bani itu mantan kamu?" tanya Nisa.


"Kenapa kenal Bani?" Namira balik bertanya.


"Iya atau tidak?" Nisa mempertegas pertanyaannya. Wanita berpostur berisi tersebut membenarkan kacamatanya dan itu membuat rambut pendek bergelombangnya ikut bergerak-gerak.


"Iya. Ada apa?" Namira menjawab.


"Aku, dia, dan Meila anak sekolah sebelah tergabung di organisasi pecinta alam kota Denpa. Nah, Meila kemarin-kemarin uring-uringan soal Bani dan Namira. Kupikir Namir siapa, ternyata kamu. Jadi sudah putus dengan Bani?" Nisa kembali mengintrogasi.


"Sudah. Aku tidak paham. Banyak sekali organisasi yang dia ikuti." Ujarnya.


"Kapan putusnya? Seminggu lalu?"


"Kurang lebih iya. Langsung intinya saja." Namira geram.


"Minggu lalu saat kami menjelajah hutan bakau, dia uring-uringan. Kemudian Meila pingsan dan dia tidak peduli. Saat Meila sadar tiba-tiba dia memintanya menjadi pacaranya. Sungguh aneh. Tapi Meila sangat menyukai dia. Jadi ajakan ini benar-benar membuat dia bahagia. Tapi mereka aneh." Terang Nisa.


"Aneh dalam artian tidak ada komunikasi yang intens?" Namira bertanya dengan nada enteng.


"Kok tau?" Nisa merasa heran.


" Ya taulah! sama aku juga gitu. Dia intens di awal-awal. Lama-lama bosan, nyuekin, tidak jelas." Namira sewot.


"Oh. Kasian Meila." Ia menatap sendu ke arah lantai.

__ADS_1


"Ngapain kasian? Mungkin dulu dia pernah memperlakukan orang seperti itu atau menyakiti hati orang." Namira masih menjawab dengan entengnya.


"Kamu kejam sekali Namira." Nisa menggoda ucapan Namira.


"Ya terkadang kita harus kejam memberitahukan orang lain bahwa yang dia sedihkan sekarang itu tidak ada gunanya."


Kali ini Namira merasa seharusnya Andra memberitahunya dari dulu. Walaupun dengan cara yang kasar mungkin Namira tidak akan semarah sekarang. Ia masih dapat mempersiapkan hatinya.


Sepulangnya bimbingan, ia berpapasan dengan Yana.


"Yana, aku mau bicara!" Namira berkata dengan tegas.


"Hai Namira! Bagaimana kabarmu dengan Bani?" Yana bertanya dengan penuh rasa gugup.


"Bukan urusanmu. Yana, aku merasa banyak sekali dosa padamu. Entah aku benar-benar salah atau hanya persepsimu saja yang mengatakan aku salah, aku benar-benar minta maaf." Ujar Namira.


"Tidak. Kamu tidak pernah salah. Aku yang salah karena terlalu memaksakan kehendak waktu dulu kita masih pacaran." Jawabnya tersenyum.


"Bisakah sekarang kamu anggap aku orang asing dan jangan pernah lagi bicara padaku? Bisakah juga kamu hapus semua yang ada hubungannya denganku dihidupmu? Aku benar-benar minta maaf untuk semuanya." Jelas Namira tegas.


"Wah sekarang makin nampak siapa sebenarnya yang menjadi iblis!" Ucap Namira sinis.


Amarahnya memuncah. Baik Namira maupun Yana keduanya masih berbalut emosi.


"Kamu laki-laki paling pengecut yang pernah aku temui! Menggunakan jasa karma prosecutor untuk urusan sepele yang seharusnya bisa kamu atasi sendiri!" Namira meninggalkan Yana. Dalam hatinya ia terus bergumam bahwa sebaiknya ia tidak menjadi pacar pertama bagi siapapun.


Keesokan harinya, ujian masih berlangsung. Kali ini semangat Namira sangat menggebu-gebu. Ia tidak mau semua hal bodoh yang ia alami menghambat masa depannya. Sekalipun harus berpapasan dengan Bani, ia tidak peduli. Hal ini cukup membuat lelaki tersebut terusik.


"Apa dia sudah punya pacar baru?" tanyanya pada Dayat.


"Namira? Memangnya kenapa? bukannya kamu juga sudah punya Meila? Nikmati saja tugasmu." Ujar Dayat.


"Coba selidiki." Pinta Bani.

__ADS_1


Dayat hanya terdiam.


Sepulang sekolah, Namira dicegat oleh Yana.


"Perempuan brengsek!" Ia hendak menyentuh Namira. Untung saja Namira dengan sigap menghindar.


"Aku tidak akan ikut-ikutan menjadi iblis seperti kamu." Tegas Namira.


"Hukumanmu belum selesai. Dua tahun! ingat itu!" Yana menuding wajah Namira dan seketika jemarinya diremas oleh Andra.


"Kemungkinan besar hanya kamu yang merasa puas dengan hukuman itu. Padahal Namira sama sekali tidak merasa menderita." Ucap Andra yang ikut bersitegang.


Yana langsung memukul pipi Andra. Tapi pria itu tidak limbung sama sekali ataupun berniat membalas. Beberapa siswa melihat kejadian itu dan berkerumun. Tentu saja hal itu menarik perhatian Bani. Ia pun ikut mendekat.


"Tidak mungkin kamu tidak menderita! berpura-puralah tertawa seterusnya!" celoteh Yana pada Namira. Ia juga melirik Bani dan merasa tugas lelaki itu gagal.


Di sisi lain, mata Namira dan Bani bertemu. Pemandangan yang semakin membuat Namira geram.


"Andra, ayo pergi. Aku obati nanti." Ajak Namira.


"Jadi begini kelakuanmu?" Bani memulai percakapan ketika Namira hendak membelakanginya bersama Andra.


"Maaf, apa aku kenal kamu?" tanya Namira sinis.


Tentu saja Bani merasa dipermalukan di depan umum.


"Cepat cari tau apa benar Namira sudah berpaling? Tugasku masih satu tahun lagi." Ucap Bani geram kepada Dayat. Akhirnya mau tidak mau Dayat pun mengangguk.


Di kantin, Namira membelikan Andra minuman botol dingin untuk ditempelkan pada pipinya.


"Namira, ini bukan apa-apa. Santai saja." Ucapnya.


"Aku benar-benar minta maaf. Seharusnya kamu tenang saja, aku bisa mengatasinya sendiri."

__ADS_1


"Aku hanya prihatin karena aku pernah berada di posisimu." Lanjut Andra.


"Aku paham." Jawab Namira singkat. Mereka pun hanya saling diam.


__ADS_2