
Mereka sampai di sekolah lebih cepat. Jam baru menunjukkan jam 8.15. Masih ada 30 menit lagi sebelum pelajaran dimulai. Ini saatnya Namira kabur dari Rosi. Maheswari sudah berada di kelas terlebih dahulu. Seperti biasa, ia selalu datang paling awal dan pulang paling akhir demi membersihkan kelas.
"Kenapa kamu nyapu kelas lagi? Kemarin kan sebelum pulang sudah disapu. Artinya sekarang masih bersih." Ucap Namira sambil meletakkan tasnya di meja. Rosi pun menyusul meletakkan tas nya di meja belakang Namira.
"Tidak apa-apa, supaya lebih bersih dan kita lebih nyaman belajar." Jawab Maheswari.
"Kamu OCD? terlalu gila kebersihan?" tanya Namira.
"Dia membuat kita semua terlindungi dari amukan para penghuni kelas yang tidak kasat mata." Sambung Rosi.
"Okelah kalau memang begitu. Tapi kan bisa suruh anak-anak yang piket?" sela Namira. Ia masih tidak habis pikir dengan kebaikan Maheswari menggantikan piket kawan-kawan yang lain.
"Mereka melakukan sambil menggerutu. Itu hanya akan membuat mereka marah." lagi-lagi Rosi menimpali ucapan Namira.
"Sudahlah. Aku tidak bisa merasakan mereka seperti Rosi. Aku suku Astral yang tidak sepeka dia. Tapi aku berusaha menjaga supaya Rosi tidak dirasuki atau teman-teman lain terkena masalah." Maheswari mencoba menjelaskan.
Namira memutar bola matanya merasa sedikit konyol dengan kelakuan Maheswari. Walaupun dalam hatinya yang paling dalam ia merasakan ketulusan Maheswari, namun tetap saja itu berlebihan.
Tidak lama kemudian teman-teman yang lain datang. Perbincangan mereka yaitu mencari tempat les tambahan di dekat rumah mereka masing-masing dan soal biaya nantinya mereka akan menggabungkan teman-teman yang rumahnya dekat untuk mengikuti les bersama mereka. Program belajar ke rumah master pun terancam gagal.
__ADS_1
"Terserah kalian saja. Kalau aku masih ingin melanjutkan program master." Ucap Andra. Hingga pulang sekolah akhirnya beberapa teman ke rumah Namira. Tentu saja para master tidak ikut.
Sore hari tentu ayah Namira ada di rumah. Melihat ada satu laki-laki diantara teman-teman wanita, ayah menaruh kecurigaan. Ayah pun mengajak Andra berbicara di teras ketika teman-teman lainnya masih berbincang dengan Namira. Entah apa yang mereka obrolkan hingga Andra memilih pamit duluan. Setelah semua teman-teman Namira pamit, ayah menghampiri Namira.
"Ingat, tidak boleh pacaran. Terutama dengan yang tadi. Suku Astral sekalipun tampan tetaplah suku Astral. Berbahaya." nasihat ayah.
Namira hanya terdiam. Andra memang baik dan tampan. Apa salahnya jika ia suku Astral? Namira masih tidak habis pikir.
Pagi menyapa. Aktivitas ke sekolah masih terjadi seperti biasa. Seperti biasa Maheswari adalah penghuni pertama di kelas.
"Kenapa kemarin tidak ikut ke rumahku?" tanya Namira.
"Apa itu?" tanya Namira
Ia melihat gambar seorang anak kecil berambut pendek dan berwajah datar.
"Ini yang selalu mengikuti kamu." Ucap Rosi sambil terus menggambar.
"Kenapa dia mengikuti aku?" tanya Namira lagi.
__ADS_1
"Entahlah. Dia tidak mengganggu kok. Dia hanya nyaman di dekatmu. Seolah kamu adalah kakaknya atau justru adalah ibunya." terang Rosi.
Pembicaraan ini membuat Namira tidak nyaman. Itu sebabnya ia memutuskan berhenti bertanya lebih lanjut. Guru Astronomi datang. Saatnya melanjutkan pelajaran meramal jodoh. Memang pelajaran ini hanya berlangsung 45 menit tapi semua siswa menyenanginya. Di jurusan Ilmu Kesehatan Makhluk Hidup, dapat dianggap bahwa pelajaran Astronomi adalah penghilang stress.
Setelah masing-masing siswa mendapatkan tabel, saatnya mereka mencari hari dan tahun lahir mereka untuk mendapatkan weton.
"Namira, tanggal dan tahun lahirmu berapa?" tanya Andra.
Namira tidak menjawab. Ia malas dengan sesuatu yang kurang logis ini. Andra pun tersenyum ketika Namira memutuskan tidak menjawabnya. Ia memilih tidak memaksakan pertanyaannya pada wanita itu.
Berbeda halnya dengan Maheswari dan Rosi yang juga tidak tertarik, siswa lain justru antusias dengan ramalan ini.
"Nanti sore ke rumah Ulan lagi tidak?" Maheswari berbisik pada Namira.
"Aku sepertinya tidak ikut. Aku ada acara keluarga." Jawab Namira.
"Kalau begitu sepertinya hanya aku dan Andra yang kesana." Maheswari melanjutkan ucapannya. Guru Astronomi yang terkesan mampu membaca pikiran tersebut melirik ke arah Maheswari. Ia juga nampak segan dengan Rosi. Entah apa yang ada di pikiran guru tersebut. Mungkin karena kekuatan yang dimiliki Rosi. Tiba-tiba ia pingsan dan guru tersebut membawa Rosi ke UKS.
"Baiklah, dia datang. Kalian sekelas sebaiknya pulang sekolah tidak kemana-mana. Kalian akan diikuti oleh arwah yang berkeliaran. Rosi menarik arwah-arwah tersebut kemari. Berhati-hatilah. Mereka menginginkan pesta." Guru tersebut kembali menjelaskan. Maheswari terdiam dan dalam hatinya berkata tidak mungkin. Ia selalu menyenangkan hati arwah-arwah tersebut sekalipun tidak dapat berkomunikasi langsung dengan mereka.
__ADS_1