
Sekolah masih mencekam. Kepala sekolah memanggil dukun untuk membereskan arwah penjaga sekolah. Tidak ada yang tau kenyataan di balik proses bunuh diri yang terjadi. Kenyataannya anggota OSIS pun menutup rapat-rapat masalah ini. Kegiatan belajar mengajar dilakukan seperti biasa. Kepala sekolah meyakini bahwa arwah penjaga sekolah telah damai dan tenang. Ia tidak akan mengganggu dan justru akan menjaga sekolah. Murid-murid terutama suku Ismi dianjurkan untuk fokus pada perlombaan antar sekolah. Namira kembali ditunjuk mengikuti lomba bernyanyi sementara Anggre, Iwan, dan Dayat ditunjuk untuk mengikuti lomba cerdas cermat. Selebihnya peserta lomba adalah murid-murid kelas dua.
Bani sibuk memberikan undangan lomba kepada masing-masing peserta. Anggre menatap manis ke arah Bani dan mengucapkan selamat atas terpilihnya dia sebagai ketua suku Ismi. Tak lupa Bani juga memberikan undangan makan malam di akhir perlombaan. Namira cukup antusias dengan perlombaan kali ini mengingat ini kemungkinan akan menjadi sepak terjang terakhirnya mengharumkan nama sekolah.
"Anggre, apa tidak sebaiknya kelompok cerdas cermat kita diubah? setiap sekolah mengirimkan 2 kelompok. Aku rasa sebaiknya ada kelas satu atau dua di kelompok kita." Dayat berkunjung ke kelas kami untuk membahas teknis perlombaannya bersama Anggre.
"Tidak usah. Aku tidak suka bergabung dengan orang-orang yang tidak kukenal." Jawab Anggre cuek. Ia dengan pesonanya dapat membuat siapapun akhirnya menurut.
"Gini saja, materi kelas 3 aku yang mempelajari. Kamu materi kelas 2 dan Iwan materi kelas 1. Beres kan?" Anggre menutup diskusinya bersama Dayat dan tersenyum ramah. Siapapun yang melihat pasti merasa yakin jika Dayat pada akhirnya akan menyukai wanita itu.
Tidak banyak hal yang terjadi di sekolah terutama ketika Andra memberi kebijakan soal sampah. Siapapun yang membuang sampah sembarangan di dalam kelas akan didenda. Tak hanya itu, jadwal piket pun diberlakukan dan harus saling tunggu ketika hendak masuk kelas. Jangan sampai ada yang tertinggal di kelas seorang diri.
Hai berganti hari dan tibalah jadwal perlombaan. Namira melaluinya dengan tenang. Ketika menunggu gilirannya tampil, ia melihat Anggre dan Bani sedang mendengarkan lagu menggunakan headset bersama di sebuah bangku di luar gedung perlombaan.
"Ya ampun.. Tebar pesona terus dia ya.." Gumam Namira.
Ternyata Dayat mendengar gumaman tersebut.
"Tidak perlu cemburu. Aku akan panggil Anggre karena sebentar lagi giliran kami."
Ia lantas memanggil Anggre dan tinggallah Bani seorang diri. Namira menatapnya hingga mata mereka bertemu. Bani pun menghampirinya.
"Hai kak. Belum giliran kakak ya?" tanyanya lembut dan ramah.
"Hai. Belum.. Oiya, kenapa aku tidak pernah lihat kamu sebelumnya ya?"
__ADS_1
"Iya kak, aku murid pindahan." Jawabnya sambil tersenyum.
Senyum itu begitu ramah. Hingga membuat Namira sedikit canggung.
"Wah, hebat. Murid pindahan langsung menjadi anggota OSIS." Celetuk Namira. Bani hanya tersenyum dan menawarkan headsetnya. Awalnya Namira ragu untuk mendengarkan musik bersama hingga akhirnya ia setuju. Tak lama kemudian Namira tampil dan tentu saja Bani melihat penampilannya.
"Kenapa senyumnya dan tatapan matanya begitu teduh?" Batin Namira.
Di sisi lain lomba cerdas cermat tidak berhasil memasuki babak final. Teori yang diutarakan Dayat ternyata memang terjadi bahwa sebaiknya mereka mencampur anggota mereka dengan adik kelas.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku memang tidak cocok bekerja sama dengan tim. Aku lebih suka berlomba secara individu." Terang Anggre.
Dayat dan Iwan hanya bisa diam dan mereka pun segera menuju lokasi makan malam sesuai undangan Bani.
Permainan demi permainan diberikan pada pembawa acara untuk mengisi waktu sebelum akhirnya makan malam dipersilahkan. Setiap kali permainan, mata Bani selalu tertuju ke arah Namira. Akan tetapi, Namira seakan tidak mau terlalu percaya diri. Ia merasa Bani sedang mengamati Anggre.
"Manis banget senyumnya si Bani." Ujar Anggre.
Ketika permainan usai dan makan malam telah disiapkan, setiap sekolah bergegas menuju meja mereka masing-masing. Bani telah melakukan tugasnya dengan baik. Ia memastikan semua teman-temannya mendapatkan meja dan kursi serta makanan.
"Hei Bani. Sini makan bersama-sama!" Anggre menawarkan pada Bani namun Bani menolak. Ia sepertinya masih harus memantau keadaan.
"Aku ke toilet dulu." Ujar Namira.
"Hati-hati lho.. Seram banget di gedung tua ini." Celetuk Anggre. Sebenarnya Namira cukup kesal dengan kata-kata itu namun ia tidak menunjukkannya di depan Anggre.
__ADS_1
Lorong menuju toilet cukup sunyi. Entah mengapa Namira mengutuki sistem pencernaannya yang memaksa ingin buang air kecil.
"Kak, perlu aku temani?" tiba-tiba Bani muncul di belakang Namira.
"Kamu tidak makan?" tanyanya.
"Habis ini aku makan setelah memastikan kakak kembali dengan selamat." jawabnya sambil setengah tertawa.
Namira masuk ke dalam toilet dan Bani menunggu di depan toilet. Tak lama kemudian ia keluar dan mengucapkan terima kasih pada Bani.
"Tidak apa. Aku pasti menunggu kok. Seharusnya kakak tadi tidak usah terburu-buru." ucapnya hangat.
"Sebaiknya tidak perlu panggil aku kakak. Panggil saja Namira."
Bani sekilas menoleh dan tanpa menjawabnya mereka sama-sama bungkam hingga sampai di meja makan.
"Kok kalian bisa bareng?" tanya Anggre.
"Aku.." Sebelum Bani selesai bicara, Namira memutus ucapannya.
"Kita tidak sengaja bertemu di dekat sini." Namira sedikit panik.
Bani menatapnya bingung dan Namira menundukkan pandangannya. Ia tidak akan mampu bersaing dengan Anggre sehingga sebaiknya ia diam dan menganggap perhatian Bani hanyalah kebetulan.
__ADS_1