
Acara dimulai jam 6 sore tetapi Namira dan Anggre baru tiba jam 7 malam. Memang acara selalu tidak tepat waktu, namun ketika mereka datang, kepala sekolah sudah selesai memberi sambutan. Kini giliran Bani dengan kemeja abu-abu nya yang memberi sambutan. Bani terlihat sangat tampan terutama saat ia tersenyum. Ketika ia melihat Namira baru saja tiba, ia mengamati wanita itu dan tersenyum. Namira cukup salah tingkah karena telat hadir. Terutama ketika Bani menyebutkan namanya sebagai pengharum nama sekolah di perlombaan suku Ismi kemarin.
Acara makan malam pun dimulai. Tidak ada yang spesial. Hanya saja ini menjadi wadah bagi suku Ismi untuk berkumpul bersama. Bani masih sibuk menemani kepala sekolah dan guru pembimbing suku Ismi. Ketika Namira hendak menyantap makanan, namun Dayat menghampirinya.
"Hei Namira! Bisa pergi ke lantai bawah dan menunggu di depan ruang guru?"
"Ada apa? Di depan ruang guru sana?" tanyanya memastikan sambil menunjuk lokasi yang dimaksud. Tempat itu nampak agak gelap. Namun jendela aula tempat makan malam ini mampu melihat aktivitas yang terjadi di sana.
"Iya disana. Bani menunggumu." Dayat menjelaskan.
Akhirnya Namira menuju ke tempat itu walaupun sebenarnya ia tidak yakin apakah tempat itu aman atau tidak. Apalagi semua teman-temannya sedang sibuk menyantap makan malamnya.
Dinginnya hembusan angin ditambah suara dedauan tertiup angin memberi kesan 'angker'. Ia pun tiba-tiba teringat tentang penjaga sekolah yang meninggal baru-baru ini. Untung saja lokasi toilet itu cukup jauh dari tempat Namira saat ini. Bahkan bangunannya saja terhalang oleh kantor guru. Beberapa anggota OSIS membawa kantung sampah dan menuju ke belakang ruang guru. Namira berguman dalam hati apakah mereka tidak punya rasa takut?
Setelah menunggu sekitar 5 menit, Bani nampak menuruni tangga dengan tergesa-gesa dan menuju tempat Namira duduk.
"Maaf, aku terlambat. Kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan nafas sedikit berat dan raut wajah yang sulit diartikan.
"Aku tidak apa-apa. Ada apa kita disini?" tanya Namira menahan lapar dan dingin. Bani pun duduk di sebelah Namira. Seketika Namira merasa kurang nyaman hingga akhirnya memilih menggeser tempat duduknya.
"Aku mau bicara. Haruskah aku bicara sambil teriak jika kamu duduk sejauh itu?" Bani menatapnya tajam.
Namira pun kembali menggeser tempat duduknya di bangku itu untuk mendekat ke arah Bani.
"Maaf kalau mendadak dan tidak mempersiapkan apapun. Jadi begini, bolehkah aku lebih dekat dengan kamu?" tanyanya.
Namira masih tidak paham dengan inti pertanyaan Bani.
"Maksudnya? Dekat seperti saudara? atau kamu menganggapku kakakmu? Silahkan ceritakan apa saja yang mengganjal, aku siap membantu." Jawab Namira dengan ekspresi datar.
"Bukan. Coba kamu tebak selain itu apa." Lanjut Bani sambil menutup wajahnya degan kedua tangannya.
"Apa iya pacar?" tanya Namira ragu.
"Ya betul. Jadi bagaimana jawabanmu?" tanya Bani dengan tatapan serius dimana postur tubuhnya saat ini entah mengapa membuat Namira merasa bahwa ia sangatlah keren.
"Aku harus mencerna dulu. Ini terlalu tiba-tiba." ucapnya.
"Berapa lama? Aku ingin kamu memberi jawaban hari ini. Jangan lama-lama, aku lapar. Apa kamu tidak lapar?" Canda Bani sambil tersenyum. Ketika Namira nampak bingung, dari jendela aula terdengar sorakan-sorakan.
"Terima! terima!" disertai tepuk tangan yang riuh.
__ADS_1
Namira pun terkejut dan merasa sangat kikuk. Ia tidak pernah menyangka akan menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Namira pun mengangguk mengiyakan.
"Aku terima." Ia menatap tanah menutupi rasa malunya. Bani pun menggodanya.
"Terima apa nih? Terima jadi saudara, jadi kakak, atau jadi pacar?"
"Oke-oke. Aku mau jadi pacarmu." Terang Namira tepat di depan kedua mata Bani. Lelaki itu tersenyum begitu pula dengan teman-teman di aula yang berteriak-teriak kegirangan. Namira bingung dengan perasaannya tapi di sisi lain ia lega karena rasa sukanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Ayo kita makan." Bani menggenggam tangan Namira. Mereka menuju aula sambil bergandengan tangan. Namun ketika tiba, Namira melepaskannya.
"Maaf, aku belum terbiasa." Ucapnya sambil menunduk. Bani pun hanya tersenyum.
"Kamu makan duluan ya. Aku mau mengurus sesuatu dulu." Ia pun meninggalkan Namira yang sudah duduk di meja makan. Sontak teman-temannya baik seangkatan maupun tidak memberinya selamat, begitu pula Dayat dan Anggre.
"Kalian udah tau ya dari awal?" tanya Namira.
Anggre dan Dayat hanya tersenyum.
***
Di suatu tempat yang berbeda.
"Peraduan sudah dievaluasi. Saat ini proses karma sedang dilangsungkan. Terdakwa akan menjalani karma nya sesuai tuntutan proecutor." Ucap seseorang.
***
"Sudah selesai makan?" tanya Bani tiba-tiba di belakang kursi makan Namira.
"Iya. Kamu tidak jadi makan?" tanya Namira gugup.
"Aku bungkus saja supaya bisa makan banyak." Ia tertawa.
"Cie cie... Mesranya yang baru jadian." Goda Aldi. Namira terus berusaha menutup wajahnya yang memerah karena malu.
"Anggre, kita pulang yuk. Sudah selesai kan acaranya?" Namia berbisik.
Seakan paham dengan kondisi Namira, Anggre pun mengiyakan.
"Pamit dulu sana sama yayangmu." Canda Anggre.
"Bani, aku pulang dulu ya. Jangan pulang terlalu malam dan nanti kabari aku." Namira mendekati Bani dan berpamitan dengan wajah gugup.
__ADS_1
"Jangan pulang malem-malem yaang. Gitu dong kak." Ejek Riyan. Bani pun nampak tersipu malu dan berucap hati-hati pada Namira.
***
Namira mengantar Anggre pulang terlebih dahulu.
"Mampir? Percuma kan pulang sekarang toh sampai rumah dijamin tidak akan bisa tidur saking girangnya. Lagipula ini baru jam 8 malam." Jelas Anggre.
Merasa ucapan Anggre ada benarnya, ditambah ada beberapa hal yang ia ingin cari tau kebenarannya, Namira memutuskan mampir.
Anggre mengajak Namira ke kamarnya.
"Gimana rasanya jadi artis?" Anggre tertawa.
"Kamu sukses membuat aku nampak bodoh selama ini. Kupikir dia itu suka sama kamu dan kamu suka sama dia." Namira berucap jujur.
"Hahaha! Aduh, aku ga suka anak kecil. Lagian dari awal dia memang sudah suka sama kamu." lanjut Anggre.
***
Flashback lomba suku Ismi tingkat pulau Dewa.
"Halo kak!
"Hei. Lagi dengar lagu apa?" tanya Anggre kepada laki-laki tersebut.
Lelaki itu nampak duduk di sebuah bangku depan gedung perlombaan.
"Bilang saja dari grup T3 kak." Ucapnya.
"Aku juga suka lagu itu." Balas Anggre.
"Kalau kakak mau dengar, boleh kok pakai headsetku." tawar lelaki itu.
Tak lama kemudian ketika lagu berakhir, lelaki itu mengajak Anggre berbicara.
"Kak, sekelas dengan kakak yang ikut lomba bernyanyi itu ya?" tanyanya dan Anggre mengangguk.
"Namira? Kamu naksir dia?" Anggre berusaha menggodanya.
Lelaki itu adalah Bani. Ia tidak menjawab Anggre dan hanya menunduk.
__ADS_1
"Dia kan sudah punya pacar, kak!" jawab Bani.
"Pacar? Namira punya pacar?" Anggre bertanya bingung.