Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
percobaan bunuh diri


__ADS_3

"Aku tidak bisa. Aku minta maaf. Buanglah impian masa depanmu. Aku minta maaf tidak bisa mengakhiri apa yang kumulai dengan baik." Ucap Namira dan kemudian beranjak pergi. Yana menyusulnya.


"Aku akan berubah! Aku memulai sesuatu dengan baik dan harus mengakhiri dengan baik. Aku sangat perfeksionis. Aku harus mengakhirinya dengan sangat baik!" Ujar Yana.


"Sudah cukup! Aku bilang aku TIDAK BISA! aku tidak menyukaimu lagi. Semua rasa hilang! apa kamu masih mau bertahan dengan orang yang sudah tidak menyukaimu?" Namira menjadi geram dan berteriak.


Yana pun terdiam. Ia nampak memikirkan sesuatu. Di tengah diamnya Yana, kesempatan bagi Namira untuk pergi. Itulah akhirnya. Namira dan Yana berpisah.


Keesokan harinya di sekolah, kelas 2IKMH3 sangat ramai. Yana mulai mengamuk lagi dan teman-teman di kelas tersebut menatap Namira tajam. Namira hanya bisa diam berusaha cuek. Yana nampak mengambil tasnya dan pergi. Bel sekolah belum berdering dan ia memutuskan pulang. Kinan memegang pundak Namira.


"Kamu yakin dia baik-baik saja setelah kalian putus? Dia bisa lebih nekat. Aku tidak mau temanku jadi pembunuh. Setelah ini ayo kita ke rumahnya." Ajak Kinan. Namira nampak ketakutan.


"Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya. Dia monster." Ucap Namira.


"Kita akhiri baik-baik Namira. Kembalikan semia barang-barangnya." Balas Kinan. Namira pun mengangguk setuju.


Sesampainya di rumah Yana tepat sepulang sekolah, rumah yang terakhir kali dikunjungi Namira dalam keadaan sepi itu kini ramai. Nampak Yana bertelanjang dada menggunakan celana pendek terbaring pucat. Namira dan Kinan sontak terkejut.


"Ada apa ini?" tanya Kinan.


"Dia mencoba bunuh diri. Om dan tante sampai harus pulang kerja lebih awal. Ditanya pun dia diam. Bisakah kalian mencoba bicara dengannya?" Ucap pria yang diduga Ayah Yana.


Namira diam mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi dan Kinan mencoba mendekati Yana. Lelaki itu terbaring dengan mata terbuka menerawang.


"Yana, aku kesini bersama Namira." Ucap Kinan. Yana langsung berada di posisi duduk.


"Namira, ada apa kamu ke sini?" ia tersenyum senang.


Kinan menyikut siku Namira seolah memberi kode agar Namira tidak salah bicara.


"Aku hanya khawatir." Jawab Namira.


"Kamu tadi ngapain?" Tanya Kinan memecah keheningan.


"Aku tidak tau harus apa lagi meyakinkan Namira kalau aku bisa berubah dan dia bisa bahagia denganku. Masa depanku seakan suram. Jadi lebih baik mati." Ucapnya nanar.


Namira ketakutan.


"Kita mulai dari awal. Itu maumu kan?" tanya Namira lagi. Ia tidak yakin dengan keputusannya, tapi sepertinya ia harus memberikan ketenangan pada Yana.


"Terima kasih Namira. Aku senang, bahkan sangat senang!" ucapnya.

__ADS_1


Kinan menghela nafas. Di tengah perjalanan pulang dari rumah Yana, baik Kinan maupun Namira berhenti di sebuah warung makan.


"Kita harus menyusun strategi. Aku tidak percaya dia seposesif ini. Dia gila karena kamu Namira! ini salahku. Aku yang mendukung kalian pacaran." Ucap Kinan penuh penyesalan.


"Dia tidak berpikir terbuka. Dia menganggap aku dunianya. Sekarang saja begini, besok kalau menikah apa tidak setiap hari dia melempar barang dan mencoba bunuh diri?" Gumam Namira.


"Coba ubah sikapmu. Berusaha lebih cuek." Ujar Kinan.


"Akan aku coba. Aku coba bicara baik-baik dengannya." Jawab Namira.


Dua hari berlalu. Yana masih dengan sikap protektifnya. Akhirnya di jam sepulang sekolah, Namira mengajaknya bertemu di aula yang sunyi.


"Yana, aku rasa kamu tidak akan berubah. Dua hari ini kamu masih protektif. Kamu juga terus-terusan berkhayal tentang masa depan. Kita belum lulus jenjang ini, belum ke perguruan tinggi, belum bekerja. Tolonglah lebih realistis. Bagaimana kalau kita bertemu lagi di masa depan? Kita putus saat ini. Kamu setuju kan? Saat sukses kita bertemu lagi." Namira mencoba memberi penawaran.


"Apa sebaiknya begitu?" tanya Yana lagi. Namira pun mengangguk mantap. Yana akhirnya setuju. Itulah akhir yang benar-benar akhir. Namira terbebas dan Yana masih dapat bersikap sebagaimana mestinya. Ia memiliki harapan hidup.


flashback off


Hubungan Namira dan Bani yang baru seumur jagung membuat keduanya berbunga-bunga. Setelah insiden Yana menghubunginya dan membuat Namira panik, baik Bani maupun Namira menjadi semakin akrab. Dunia milik berdua, walaupun mereka belum pernah berkencan di luar sekolah.


"Bani, aku tunggu di depan ruang guru ya? Kita ngobrol di kantin atau di teras depan kelas?" Tanya Namira.


"Rapat terus! Tiap hari rapat! pacaran aja sama si rapat!" Umpat Namira kesal. Bani hanya tersenyum dan menaiki tangga menuju ruang OSIS. Ia seakan gemas dengan wajah imut Namira.


Sekitar 5 menit kemudian Bani turun dari ruang OSIS menuju tempat yang diduduki Namira. Wanita itu nampak sedang mengerjakan soal-soal.


"Hei!! Belajar terus! pacaran sana sama si buku!" Bani mengejutkan Namira dan memegang pundaknya.


"Lho? rapatnya sudah selesai?" Namira mengangkat kepalanya menatap Bani.


"Aku kabur dari rapat. Mana bisa aku rapat tapi memikirkan kamu yang cemberut?" Candanya.


Namira hanya senyum sumringah. Tiba-tiba Riyan keluar dari ruang OSIS.


"Hei, katanya cari angin sebentar taunya malah pacaran." Tegur Riyan sedikit sinis.


Bani hanya tersenyum.


"Iri? Cari pacar sana!" Candanya.


Sampai rapat selesai, Bani tetap di posisinya menemani Namira.

__ADS_1


"Sebentar lagi libur Bulan Baru. Sepertinya sekitar 3 minggu ya." Ucap Namira.


Bani menghembuskan napas panjangnya.


"Tenang. Kita bisa tetap kirim pesan ataupun telpon." Ucapnya sambil mengusap pundak Namira. Mereka akhirnya pulang karena senja sebentar lagi datang.


"Namira!" Andra memanggilnya di gerbang sekolah.


Saat itu Bani sudah pulang. Namira masih hendak menyebrangkan motornya di gerbang sekolah.


"Hei. Ada apa?" tanya Namira ramah.


"Kamu kenapa jam segini masih di sekolah?" tanya Andra sambil mengerutkan dahi.


"Kamu sendiri ada apa?" Namira balik bertanya.


"Aku pinjak komik di rental. Tadi juga numpang baca di sana. Jadi jawab pertanyaanku." Tanyanya santai.


"Aku mengerjakan soal-soal. Sambil berbincang dengan pacar." Jawabnya santai pula.


"Besok kita semua mau ke rumah pak Awan. Tinggal dulu pacarmu ya." Ucapnya.


Namira hanya mengangguk. Andra membantu Namira menyebrang namun ia terus menatap punggung Namira yang beranjak menghilang. Ada rasa khawatir dalam hatinya. Ia pun memutuskan masuk kembali ke sekolah dan menuju ke ruang OSIS.


"Itu terhalang!" ucap salah satu tanaman di depan ruang OSIS.


"Kenapa terlarang?" Andra menantang.


"Jika kamu masuk, aku laporkan!" ucapnya.


Andra tetap menerobos masuk. Di dalam ruangan itu terdapat banyak berkas.Salah satunya terdapat namanya. Ia membukanya.


Andra Chandrana


Tuntutan : 1 tahun


kasus selesai


Ia sedikit bingung dengan maksud tulisan itu. Dibelakang halaman tersebut masih ada beberapa halaman lagi. Ketika hendak membaliknya, seseorang datang.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu bukan prosecutor. Pergi atau menghilang selamanya dari dunia!" Ucap orang tersebut. Andra panik dan menjatuhkan berkasnya. Orang itu kemudian memasang kunci gembok di ruang OSIS tersebut. Andra mengingat-ingat lagi. Ia melihat nama Namira. Ya, Namira ada di berkas itu.

__ADS_1


__ADS_2