Karma Prosecutor

Karma Prosecutor
Teka-Teki


__ADS_3

Kejadian satu keluarga yang terbakar di swalayan R sudah tuntas di tangan Rossi. Namira pun menagih bayarannya keesokan hari. Namira dengan suasana hati yang sedang baik, dengan mudahnya menunjukkan ekspresi senangnya, terutama di depan Andra.


"Kenapa kamu? menang lotre?" tanya Andra tersenyum sambil meletakkan tasnya di meja.


"Ya begitulah." Jawab Namira tersenyum.


"Dengarkan musik yang menarik pasti akan membuatmu semakin senang." Andra mengajaknya berbagi headset. Muncullah dua orang yang cukup ia kenal di depan pintu sedang menatapnya. Namira yang kebetulan berposisi di menghadap pintu kelas, tiba-tiba terkejut. Ia melepas headsetnya dan bertanya melalui mimik mulutnya.


"Ada apa?"


Dua orang tersebut adalah Dayat dan Bani. Mereka ternyata mencari Anggre. Entah apa yang mereka obrolkan seakan bersemangat. Namun ada satu hal yang mengusik Namira, mengapa Bani menunjukkan wajah tidak suka padanya?


Andra pun menoleh ke arah mata Namira.


"Oh, dia datang. Cuekin saja." Ujar Andra.


Namira pun menurut. Lagipula ia sudah tidak ada harapan. Berkali-kali mereka saling berkirim pesan namun dalam sehari tidak pernah lebih dari tiga kali. Jika alasannya tidak ada pulsa, Namira kerap mengirimkan pulsa diam-diam. Seketika itu Bani langsung membalas pesannya tapi jumlah pembelian pulsa dengan harga kirim pesan yang dibayar masih jauh lebih mahal. Tiba-tiba Dayat mendekati meja Namira.


"Jangan lupa dandan yang cantik di pesta makan malam besok."

__ADS_1


Namira hanya terdiam tanda tidak mengerti. Anggre pun ikut menghampiri meja Namira.


"Besok jemput aku ya? Kita berangkat bersama." Ajaknya dengan senyum termanisnya. Sementara Bani memilih keluar kelas dan berjalan menuju kelasnya.


"Andra, permisi ya. Ini kursiku dengan Namira. Sebentar lagi bel berbunyi." Sindir Maheswari yang terpaksa duduk di meja belakang Namira bersama Rossi.


Andra hanya tertawa dan pindah ke kursinya.


"Ada hal aneh lagi tidak di sekolah?" tanya Namira.


"Anak Ilmu Sosial kemarin ada yang ulang tahun. Lalu dia mabuk dan menyuruh temannya melindasnya dengan mobil. Aneh-aneh saja. Semua berhubungan dengan karma. Hanya saja karma yang seperti apa?" Maheswari cukup bingung menjelaskannya.


***


Sore ini pengumuman pemenang lomba tingkat suku Ismi yang diikuti hampir seluruh sekolah di Pulau Dewa. Namira sudah rapi dan hendak menuju gedung Bhakti. Anggre tidak ikut dalam acara pengumuman pemenang karena ia tidak menang di perlombaan cerdas cermat saat itu. Dengan kegelisahan Namira berangkat dan berharap yang terbaik.


"Selamat ya. Aku tanya juri katanya kamu juara pertama lomba bernyanyi." Dayat langsung mengajak Namira bersalaman ketika ia memasuki gedung Bhakti. Namia tidak membalas jabatan tangannya karena belum yakin.


"Kita tunggu saja pengumumannya." Ucap Namira datar.

__ADS_1


"Mau taruhan? Wah Bani pasti makin suka nih. Mungkin orang tua Bani juga langsung melamar kamu untuk anaknya." Dayat teryawa-tawa. Pipi Namira bersemu merah. Apakah itu benar? Jika ia bisa bersanding dengan Bani, rasanya tidak ada yang perlu dicari lagi. Ia sosok sempurna yang cerdas, tipikal baik hati, dan cuek terhadap perempuan-perempuan disekitarnya, kecuali Anggre. Dari kejauhan Namira mengamati Bani. Andai saja semua itu benar, ayahnya pasti juga mengijinkan karena sama-sama suku Ismi. Ah, lupakan! ia hanya seonggok abu yang harus dibuang ke lautan.


Pengumuman pemenang dibacakan. Benar saja Namira meraih juara pertama. Ia sungguh senang karena tahun terakhirnya di sekolah ini mempu memberi kesan yang baik. "Selamat ya kak!" Ucap Riyan. Dayat dan Iwan pun ikut serta memberi ucapan selamat. Bani menghampirinya terakhir kali.


"Selamat ya. Hebat sekali! aku salut!" Ucap Bani tersenyum dengan tulus. Mereka berjabat tangan. Ini akan menjadi momen ak terlupakan bagi Namira. Ia pun melupakan sikap Bani yang kerap mengabaikan pesannya.


Namira pulang dengan bangga. Ia pun semakin bersemangat menyiapkan acara makan malam besok di sekolahnya. Kini para suku Ismi di sekolahnya semakin mengakui kemampuan bernyanyinya dan ia pastinya mejadi semakin terkenal. Ia berharap besok ia dapat hadir dengan bangga dan percaya diri akibat kemenangannya hari ini.


***


Sore hari di keesokan harinya. Sepulang sekolah Namira telah sangat bersemangat. Ia mandi dan berdandan dengan riang. Baju nuansa putih membuatnya anggun. Segera setelah berpamitan dengan orang tuanya, ia menuju rumah Anggre. Namira pikir setibanya di sana Anggre sudah siap. Ternyata ia baru selesai mandi. Menunggu membuat Namira kesal dan khawatir riasannya akan pudar.


"Ayo Nggre, cepetan!" Desak Namira.


Saking kesalnya melihat Anggre yang berdandan dengan penuh penghayatan, ia pun keceplosan mengatakan, "Kamu ada gebetan ya di acara ini? Bani?"


Anggre menghentikan aktivitasnya.


"Bani? Hahaha! Aku kan memang selalu berpenampilan paripurna. Ya ampun Bani. Dia memang lucu, tapi bukannya bintangnya hari ini kamu? Sini aku tambah dandananmu dan datanglah agak akhir. Dimana-mana artis utama selalu datang belakangan kan?" Ucapnya tersenyum.

__ADS_1


Namira tidak paham maksudnya. Ada apa ini?


__ADS_2